Rabu, 24 Desember 2014


Pejuang sejati boleh lelah, boleh lemah, tapi tidak dengan menyerah, kalaupun ia kalah, setidaknya menempuh cara yang terhormat, walau dia salah, setidaknya ada hikmah yang dipetik untuk masa depan. 2014 adalah tahun roller coaster, seketika berada dalam posisi paling bawah, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghitung rupiah demi rupiah, dan tak lama dari itu ada diantara world class leader. Seketika dihina dina dalam kesendirian, dan seketika dielu-elukan.  This is the real world ! bahwa tidak semua individu putih dengan ketulusan hati, namun juga tidak semua hitam tanpa nurani. Inilah kenyataan, sebuah ujian keimanan dari Yang Maha Kuasa. 

Teman datang dan pergi, materi datang dan hilang, tapi Ia tetap setia mendengar setiap keluhan dari hamba yang hina, setiap amarah yang membuncah, hingga perlahan Kau ajarkan aku membaca hikmah untuk sebuah kesyukuran yang mendalam, sungguh ditanganmu tiada yang tidak mungkin. Engkaulah satu-satunya alasan untuk berjuang.  

1. Malam Solidaritas Berbagi


This is a new way to start a new year, petcaaah !! malam solidaritas berbagi, kampanye diet kantong plastik, kampanye sadar gizi, and give a high appreciation for Bandar Lampung social workers in one night ! 
thank u gengs :) This is the first time when my father allow me to go out in new year night, because he knows "how impactfull what we did !"

2. Sumatera Peace Summit


Do you remember when we start to discuss about this place ? Yap ! a long converciation accompany our journey from kak Rasim weeding's to Bandar Lampung. Finally we realize it, how we learn about conflict resolution and working in pluralism society. How to create diplomacy words and actions togather with 50 youth peace ambassadors from all around the nation. A great momment in Balinuraga with "Sumatera Peace Summit".

3. Dukung Jilbab untuk Pelajar Bali


Thank you for big family of Pelajar Islam Indonesia who allow me to take a part in this campaign. This is nice to work togather with u all and ur media circle. 
see u later ! kagum dengan keberanian Anita :)

4. Bedah Kampus Goes to Lampung Timur



Thanks a bunch for Deni and friends who help us create an amazing Bedah Kampus roadshow in East Lampung. This momment meke three of us have a strong commitment to run Bedah Kampus professionally. We are the founder !

5. A Long Journey Start From the First Step



At the very first time i come to English Club, i never imagine this day. A day when two English Clubs which improve me a lot got general winner togather. Speechless :) Proud of u !

6. The Momment When Youth Land Born !



Minggu, 22 Juni 2014




Setiap manusia memiliki mimpi, tapi tidak semuanya benar-benar percaya pada apa yang diimpikannya. Setidaknya itulah kesimpulan sementara yang bisa saya simpulkan hari ini setelah 9 bulan perjalanan Bedah Kampus mendampingi adik - adik untuk memetakan hidup mereka. Betapa saya menyadari bahwa anak muda kita sangat membutuhkan pertolongan dari tsunami kegalauan menghadapi masa depan. Karena jika fenomena ini tidak segera diakhiri maka lambat laun generasi optimis akan punah dan bangsa ini kembali mengualang era sejarah masa lampau, kita akan kalah oleh bangsa lain dengan etos kerja yang jauh lebih baik !

Saya tidak ingin ikut-ikutan memberi motivasi dengan mengatakan 'ayolah..... semua itu mungkin.... toh perjalanan ke bulan juga berawal dari mimpi...' karena saya juga menyadari, bagi anak-anak yang tumbuh di lapisan masyarakat bawah, kata-kata itu sangat terdengar teoritis dan klise. Berikut adalah hasil pengamatan saya dari proses mentoring online dengan adik-adik SMA yang hendak ke PT, atau teman-taman yang sudah S1 yang berkeinginan untuk hendak S2 : 

Peta langkah yang mengawang.

Impian adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan khayalan buta. Impian memiliki target yang pasti dan terukur dalam menggapainya, sementara khayalan hanya angan-angan yang mengawang tanpa tindakan yang jelas. Bukan berarti mimpi yang realistis adalah sesuatu yang kecil. Misal bisa saja sekolah ke Harvard bagi seorang anak yang hidup di jalanan adalah hal yang realistis dan menjadi seorang pengusaha nasi goreng bagi lulusan Pasca Sarjana FE UI adalah khayalan. Setinggi apapun mimpi kita, ketika kita mampu memetakannya dengan jelas dan menurunkannya pada serentetan langkah nyata yang akan mengantarkan kita kesana itu realistis, dan sebaliknya, walau hal itu sederhana, jika tidak pernah direncanakan maka semua itu hanya sebuah khayalan besar. 

Pertanyaan yang hadir adalah bagaimana merencanakannya ? Kenali dulu Passion dan Purpose kita. Passion adalah hal yang kita sukai dan membuat kita bersemangat ketika melakukannya, bahkan saking besarnya rasa suka dan energi kita untuk hal tersebut kita rela untuk tidak dibayar. Cara menemukan passion ini juga tidak sederhana, kita bisa kontemplasi terhadap kejadian-kejadian besar dan kecil dimasa lalu dan mengingat bagaimana perasaan kita kala itu. 

Lalu apa itu purpose ? saya sedikit sulit menjelaskan hal abstrak yang juga baru saya pahami ini. Contoh sederhananya seperti ini, banyak orang mengenal komputer dan ahli dalam bidang tersebut, namun mengapa Bill Gates yang berjaya dengan microsoft ? atau Steve Jobs dengan Apple ?. Karena mereka tidak sekedar memandang komputer sebagai komputer, tapi komputer adalah alat elektronik luar biasa yang bisa dilakukan untuk melakukan perubahan besar, menolong banyak orang, memudahkan komunikasi, keamanan, mendorong kemajuan bisnis dan pertumbuhan ekonomi, bahka wajah dunia berubah 180 derajat dari era sebelum ada komputer. Itulah yang saya maksud dengan purpose. Memang sulit menentukannya, karena kita perlu energi yang besar dari dalam diri untuk menemukan hal tersebut. Itulah sebabnya ketika diawal saya menyarankan untuk menemukan passion terlebih dahulu, karena passion akan memudahkan kita untuk menemukan purpose yang realistis. 

Lalu yang terakhir buatlah sebuah kerangka logika yang akan kita ta'ati dengan disiplin kedepannya. Apakah itu kerangka logika ? secara sederhana itu adalah tahapan langkah yang harus kita lakukan untuk mengembangkan passion yang kita miliki menuju perpose yang kita inginkan. Kita bisa menuliskan poin-poin utama, lalu diturunkan mejadi langkah tahunan, bulanan, hingga mingguan, kalau perlu buat juga target harian. Sehingga semuanya jelas dan terukur. Selain itu, keseharian kita juga akan dipadati dengan aktivitas untuk melakukan kerangka logika yang sudah kia buat, hal ini memiliki peranan besar dalam mengurangi kegalauan, karena menurut saya, salah satu penyebab galau adalah kita bingung hendak melangkah kemana. 

Masuk ke dalam komunitas yang benar.

Di dalam islam, kita akan disarankan untuk berkumpul dengan orang-orang sholeh agar keimanan kita senantiasa terjaga. Begitu juga dalam menggapai impian, jika kita ingin menjadi pengusaha yang bergaul dengan pengusaha, jika kita ingin terjun ke dunia pendidikan yang bergabunglah dengan pakar di bidangnya. Hal ini akan menjaga motivasi kita sekaligus menjaga kefokusan langkah dan konsistensi terhadap kerangka logika yang sudah kita buat.

Suatu hal yang aneh menurut saya adalah ketika kita memiliki mimpi yang besar, namun kita bergaul dengan teman-teman yang memandang hidup hanya hari ini saja, yang penting nongkrong di mal, engga jomblo, dan punya BB untuk gaya-gaya'an. Menyesuaikan pergaulan menjadi sangat penting, jika kamu merasa tidak ada komunitas yang kamu inginkan di lingkungan tempat tinggalmu, jangan segan-segan mencari di dunia maya, karena sekarang banyak sekali komunitas yang mampu mengakomodir mimpi-mimpimu. Jangan pernah merasa takut untuk mengirimkan e-mail atau message ke seseorang atau komunitas yang kamu harapkan mampu menjadi lingkaran penjangan semangat juangmu. Takut ditolak ? kalau ditolak berterimakasihlan pada Allah, karen Ia menunjukkan bahwa orang atau komunitas yang ingin kamu jadikan sebagai lingkaran penjaga semangat adalah orang/komunitas yang salah. Saatnya mencari yang lain yang lebih tepat. Karena komunitas ini juga yang akan membukakan pintu link dan akses untuk langkah yang lebih baik dan maksimal kedepannya nanti. 

Budaya apresiasi dari pendidik.

Hal ini juga biasanya menjadi faktor penggugur semangat yang pertama, ketika kita sudah semangat empat lima, melakukan banyak hal, dan bermandikan peluh namun orang-orang disekitar kita seperti guru, orang tua, ataupun keluarga tidak pernah mengapresiasi apa yang kita kerjakan. Yang terjadi mereka justru memajokkan, memandang sebelah mata, memberikan tawaran yang menurut mereka realistis namun sama sekali bukan kita. Contohnya ketika kita merasa gerah dengan sistim pendidikan hari ini dan bercita-cita ingin merintis sekolah dengan kurikulum alternatif, kita memulainya dengan sesuatu yang sederhana dari merintis sebuah rumah belajar mungkin, namun orang tua kita bilang, sudahlah untuk apa repot-repot, kamu masih idealis sekarang... tapi bagaimana nanti... sudahlah PNS saja, dll. 

Bukan masalah yang besar ketika PNS adalah kesadaran dari hati kamu, namun akan sangat bermasalah ketika hal itu menjadi alasan untuk kamu menyerah. Semua orang berani bermimpi, tapi hanya sedikit yang benar-benar yakin dengan apa yang diimpikannya. Pada akhirnya mereka yang jumlahnya sedikit itulah yang berhasil menorehkan tinta sejarah, sebut saja Alva Edison yang udah gagal ratusan kali. Yang kedua ini adalah hidupmu, kamu harus berani mengambil keputusan dan bertanggungjawab atas keputusan tersebut, jika hal itu sudah di lalui, saat itulah kamu layak disebut dewasa.

Pada akhirnya semua keputusan kembali ke kita, ingin menyelesaikan hidup di dunia dengan cerita biasa atau sejarah yang mempesona. Karena sejatinya orang tua, guru, keluarga, teman-teman, bukan tidak mengapresiasi kita, namun mereka hanya tidak ingin melihat kita susah, percayalah ketika kita sudah berhasil mereka juga agar tersenyum dan berkata pada kita "kami bangga !"

Ada Allah yang Maha Segalanya.

Terkadang lelah akan melanda dan membuat apa yang akan kita tuju menjadi semakin jauh. Tapi ingatkah kita, saat baru terlahir dari rahim seorang ibu, apa yang kita bisa ? dan sekarang kamu sudah berdiri kokoh, cerdas, potensial, penuh energi dan bisa melakukan banyak hal. Lalu apalagi selain kita harus tawaqal... bersabar atas apa yang kita perjuangkan, just do it ! jangan bayangkan bagian sulitnya, dan tanpa terasa semua itu akan tercapai.

Apa yang terjadi ketika seorang bayi sudah membayangkan ujian masuk perguruan tinggi negeri, lowongan pekerjaan, tata ekonomi, manajemen bisnis, rumusan masalah suatu penelitian, sudah pasti mereka akan stress, karena berkata lapar saja mereka tidak bisa. Namun Allah membimbing bayi-bayi mungil untuk tawaqal, belajar setahap demi tahap, tengkurap, merangkak, duduk, berdiri, berjalan, berlari, hingga menjadi kamu yang sekarang. Sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan ketika bayi telah terjadi hari ini akibat kebesaran Allah. 

Bagaimana dengan hari ini ketika kamu lelah ? akankah putus asa ? sebaiknya jangan ! karena putus asa adalah milik mereka yang tidak peduli dengan kebesaran Allah, mereka lupa bahwa Allah mampu menciptakanmu dari setetes mani dan sel telur menjadi kamu yang sekarang. Halangan untuk meraih mimpimu jauh lebih tidak mustahil untuk Allah, hanya saja masalah waktu, kapan kamu layak menerima amanah itu, seperti kapan kamu layak bisa berjalan. Karena apapun itu, akan Allah mintai pertanggungjawaban di kemudian hari. Just do it ! do it ! do it ! do the best ! n Allah will cover the rest. Bissmillah. 


Minggu, 23 Maret 2014


Memang benar jika ada yang mengatakan bahwa, apa yang kita katakan hari ini pada akhirnya akan diuji. Seperti diriku yang begitu menyukai rumput, sebuah tanaman kecil yang sering diinjak, seolah tanpa nama, ada dan tiada namun memiliki peranan yang besar. Setidaknya rumput bisa sangat membantu dalam meredam laju respirasi ataupu sangat merusak dan menjadi gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman-tanaman besar. Rumput yang akarnya kemana-manapun akan semakin susah dicabut. 

Dua tahun yang lalu dengan gagahnya saya bilang, akan menjadi rumput yang tulus, akan berfikir seberapa besar kebermanfaatan, bersembunyi dan seolah tak ada untuk menjaga ketulusan itu. Hari ini aku benar-benar diuji. 

Setelah proses pembelajaran kepemimpinan yang saya lalui, dengan imu yang secuil dan sering merasa paling tahu, saya sampai pada proses refleksi bahwa Allah telah melimpahkan rizki pada setiap jengkal bumi-Nya. saya sadar betul bahwa New York memiliki nilai, namun pedalaman Sendang juga memiliki nilai khasnya tersendiri, tentang kesederhanaan, kesabaran, ketabahan, kesyukuran, dll. 

Namun dipungkiri atau tidak, New York dengan nilai'nya sebagai kota megapolitan yang sibuk, penuh tantangan, modern, mampu membranding dirinya dengan lebih baik. Saya khawatir sangat jika pada akhirnya harus terjebak pada arus itu. Saat prinsip itu semakin diuji, mata mulai melirik kemewahan dan ketenaran, dengan dalih akupun ingin hidup dengan nyaman bersama keluarga, bisa berbuat banyak, dll.

Ya Rabb.... ilmu dan skill yang engkau titipkan ini pada akhirnya juga akan engkau mintai pertanggungjawaban, jagalah tekad kuatku agar tak runtuh oleh ranjau-ranjau branding yang tak tau pada titik mana akan melumpuhkanku. Ajari aku agar tetap hidup dalam kesederhanaan dan kesabaran, mampu memandang sebuah nilai dengan lebih tulus, tapa kemasan manis bernama "branding".

  

#sebuah renungan kecil dari lingkaran proses kehidupan, bertemu dan berpisah, mengukir kisah.


Memiliki banyak teman memang sangat menyenangkan, bisa melakukan banyak hal bersama, bertukar pikiran dan hidup menjadi lebih hidup dan ramai. Pada awal memasuki dunia kampus, saya menjumpai sebuah pesan dari seorang teman saya "kamu benar-benar menemukan dunia yang kamu banget ya disana". Mungkin saat itu ia sedang merasa kesepian dan ternyata saya tidak kunjung mengerti bahwa ia sedang kehilangan. 

Dulu di SMA kami memang begitu akrab, kemana-mana bersama, bercengkrama dengan enam orang lainnya, namun pada akhirnya pilihan membuat kami terpisah, ada yang merajut mimpi menjadi ahli pangan, pendidik, budaya, dll. terpisahlah kami sampai pada langkah itu, bukan karena tidak ingin bersama, namun nurani lebih jujur memanggil kemana jiwa harus melangkah.

Lalu bertemu teman-teman baru sesama pecinta bahasa inggris, sebuah komunitas yang tidak diragukan lagi kekeluargannya, lambat laun kami berpisah juga pada apa yang dicintai oleh setiap orang. Lagi-lagi alasan yang menyatukan masih terlalu general "sama-sama suka bahasa inggris", namun setiap orang masih memiliki alasan yang berbeda mengapa harus belajar bahasa inggris. 

Menyatu lagi dengan sebuah keluarga yang sama-sama "rindu perubahan", hidup menjadi seperti utopis dan abadi dalam bingkai kebersamaan, mengukir perubahan hingga tua, berjuang pada jalan yang sama dan mati dalam keadaan yang baik. Namun "rindu perubahan" juga masih general, karena setiap individu punya difinisi perubahannya sendiri, dan memiliki cara yang berbeda. Lambat laun, nurani melangkahkan kaki, pada definisi kita masing-masing.

Dan terus memiliki pergaulan baru dengan persamaan yang semakin mengerucut, namun manusia adalah individu unik, yang memiliki irisan yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Nurani kembali memanggil hati masing-masing.

Hari ini aku melihat teman-teman mulai berkembang, aku, semakin menyukai dunia sosial, pengembangan SDM, pendidikan, dll. Teman-temanpun mulai melangkah dengan panggilan hati masing-masing, ada yang merajut karier internasional, memilih menjadi akdemisi, menjadi politisi di beberapa partai, kerja di perusahaan, menjadi wirausaha, menjadi ibu rumah tangga, melalui FB aku menyaksikan bagaimana mereka berjalan mengikuti hati kecil yang memanggil.

Manusia memang makhluk yang unik, memiliki hati kecil yang berbeda dan tidak bisa tertukar. Bukan tidak memungkinkan mereka yang menjadi ibu rumah tangga meniti karier menjadi diplomat, atau mereka yang menjadi diplomat menjadi wirausaha. Namun dengan uniknya, hati kecil memanggil setiap individu secara perlahan, kemana pada akhirnya semua pilihan bermuara, pada apa yang sejatinya mereka inginkan. 


Selasa, 11 Maret 2014


*edisi : life is hard but no choice to give up

Sudah dua hari ini Ria luar biasa kesal dengan teman satu kontrakannya, setidaknya akibat tiga hal, ya ! tiga hal yang menyebabkan Ria benar-benar kesal dengan Chika. Pertama, Chika datang sebagai penduduk kontrakan di tengah tahun dengan diantar keluarganya, dengan tiba-tiba langsung mensabotase alat masak, waktu memasak tanpa permisi apalagi kompromi. Belum selesai keanehan yang pertama esok harinya Chika memulai usaha piscok dengan memonopoli kompor dan dapur secara habis-habisan hingga penduduk satu kontrakan kelaparan. 

Kedua, alahal kulihal produksi piscok, sampah-sampah kulit pisang dan percikan minyak yang membuat lantai licin benar-benar membuat kesal, bukannya merasa tidak enak dengan yang lain justru keluar kalimat "mb... uang sampah bulan ini mb yang bayar ya ?" apa ??? rasanya aku ingin berteriak, memang kemarin-kemarin siapa yang bayar ??? wajar jika perusahaan besar berusaha sedemikian rupa untuk tidak mengeluarkan CSRnya, usaha kecilpun begini.

Ketiga kalinya ketika kompor rusak dan Chika hanya diam saja, baiklah... dan ternyata setelah dibetulkan, tanpa ba bi bu, bertanya habis berapa dan urunan berapa Chika kembali masak disana. Sudahlah... Tapi ??? mungkin berfikiran bahwa Chika adalah cucu kesayangan dari bapak kos, maka TV di ruang tengah ia bawa masuk ke dalam kamar. Terang kami dongkol setengah mati, apalagi dua hari kemuadian keluar kalimat "mb... listrik bulan ini mb yang bayar ya ????" aku tak tahan lagi ! aku mau pindah !

Siang ini Ria enggan pulang ke kontrakan setelah semua kejadian itu, ia memilih duduk di kampus menunggu jadwal kuliah selanjutnya. Baru beberapa saat ia menghabiskan bekal makannya datanglah seorang bapak tua dengan suara tidak parau tapi tidak juga merdu, tidak lantang namun tidak juga lemah, "es krim.... es krim... " setiap orang yang ada disitu nyaris tidak peduli. Ria berusaha keras memalingkan pendengaran dan penglihatannya. Tidak tega. Namun rasa penasaran kadang hadir dan memerintahkan otot leher untuk menengok, ah... bapak itu sedang duduk bersandar di tiang dengan sepeda tua yang diparkir sembari berteriak "es krim.... es krim...." Rasanya ingin segera beranjak pergi, tapi uang yang dimilikinyapun pas-pasan, belum lagi dia harus berbagi dengan adiknya.

Beberapa waktu kemudian bapak tua itu mengayuh sepeda tuanya, dengan tabah, tanpa kesedihan, ia menjadi simbol optimisme hidup. Ria tersadar, bahwa dari usianya bisa jadi bapak itu hidup di zaman perjuangan kemerdekaan, membela tanah ini dari penjajah, dan kini ketika semua sudah merdeka, tak ada satu anak mudapun yang peduli padanya. Ria nyaris menangis dan mengejar bapak tua yang sudah semakin jauh, tapi apa daya, ego untuk menyimpan uang demi keberlangsungan hidup di kosan lebih kuat ! Mungkin kini Ria sudah menjadi anak muda yang lebih tidak tau diri dari Chika.

Manusia modern hidup dalam keegoisan yang mendalam. Tekanan hidup yang mendalam membuat setiap individu semakin fokus terhadap dirinya sendiri, kejar setoran, pergi pagi pulang petang, setumpuk kerjaan, belum bayaran sekolah, kebutuhan untuk makan, tempat tinggal, hingga tagihan hutang. Setiap individu berjuang mati-matian, kaki di kepala, kepala di kaki entah kelak bagaimana lagi.



As soon as possible Insyaallah :)

Jumat, 28 Februari 2014

Namaku hijab, aku buruh pada tuanku sepanjang waktu, dari pagi hingga pagi lagi. Hampir 24 jam aku menghabiskan waktu dengan tuan-tuanku, menjaganya dari serangan mata – mata kaum Adam yang membara. Terkadang aku mendapat masa libur untuk beberapa saat, menyenangkan memang, ketika kau bisa merebahkan diri sejenak dan berendam bersama dengan busa sabun, setelahnya kita bebas berjemur dibawah sinar matahari seharian, dihangatkan oleh setrikaan dan disemprot parfum agar tidak digigit ngengat.
Aku menyayangi tuanku, karena ia menghargai keberadaanku, membuatku menjadi bernilai, menjadi prajurit penjaga Al-Maidah 54. Tak jarang ketika aku menemani tuanku ke kampus atau ruang kerja aku bertemu dengan buruh-buruh serupa denganku, mereka memiliki corak yang lebih ramai dan warna yang mencolok. Aku heran kadang, apa yang mereka lakukan, alih-alih melindungi, tapi buruh ini justru semakin menarik perhatian lelaki. Sekilas aku melirik pada tuan mereka, satu stel pembungkus badan yang ketat dan menunjukkan eksotisme lekukan tubuh perempuan. Rambut digelung keatas bak punuk unta yang bergoyang-goyang, seorang buruh memang perlu memilih tuan.
Malam itu tuanku belum juga pulang. Sang mentari telah kembali ke peraduan, aku tak lagi bermandi sinarnya namun menggigil melawan suhu malam yang mencekam. Kemana tuanku ? apakah ia sibuk dikantornya ? atau ada kuliah malam ? Tiba-tiba seorang bapak berpakian kumal menghampiriku, merenggutku dari tiang jemuran, aku ingin menjerit dan meronta, tapi tangannya mengenggam erat tak terelakkan. Aku pasrah.
Dibawanya aku ke gubuk tua di pinggir rel kereta. Sejenak sesungging senyum mengembang dari sudut bibir “Ayah membawakan jilbab untukmu !”. Sesosok anak usia belasan, melompat kegirangan ! diraihnya diriku, dibawanya kedepan kaca buram dan dikenakannya aku dengan berbagai gaya. Sejak hari itu, aku memiliki tuan yang baru.
Tuan baruku begitu sayang padaku, tidak seperti sebelumnya, aku jarang sekali mendapat libur, hanya ada tiga hijab yang buruh padanya, dan yang satupun sudah usang. Setiap aku selesai bermandi busa sabun dan berjemur, langsung esoknya aku kembali bekerja padanya. Taka da lagi parfum, hanya seonggok kapur barus putih yang tak sempat aku berkenalan dengannya.  Siang ini aku lelah sekali menghalau sinar matahari, aku ingin segera sampai di rumah dan berendam di ember busa sabun, tapi mataku tertuju pada satu sosok semampai, oh…. Aku ingin berlari dan memeluknya, aku merindukannya… tuanku… tuanku yang dulu.. tapi, tunggu dulu… kemana perginya gamis yang selalu menjadi patner kerjaku ? sudah pensiunkah dia ? aku tak habis pikir, karena ia kini mengenakan budak-budak barunya… blue jins dan blouse ketat, tiba-tiba kau merasa usang dan tidak percaya diri.

Aku ingin menjerit dalam lautan kerinduan, aku merindukan tuan lamaku, jauh sejak aku diangkut secara paksa dari tiang jemuran. Tapi kini aku bekerja dengan tuan baruku dengan permulaan yang berkecamuk. Ah, aku tak tau lagi, aku hanya berbisik, Hijab’pun bertuan…