Tampilkan postingan dengan label gerakan mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gerakan mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2015


Bagi anda yang mengawali dunia kampus dengan aktif di berbagai organisasi, sudah barang tentu tidak akan asing dengan istilah ‘setiap zaman melahirkan pemimpin’, karena kalimat tersebut cenderung diulang, puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali di berbagai tempat. Yap ! Setiap zaman memang memiliki pemimpinnya sendiri. Sebut saja diera awal pergerakan kemerdekaan Indonesia dimana kita punya Cokroaminoto, diera perjuangan kemerdekaan yang melahirkan sosok Soekarno dan Hatta, diera pembangunan dengan gagasan Soeharto dan Habibie, dan puluhan contoh lain.

Hal tersebut juga berlaku dalam konstelasi sejarah dunia. Amerika serikat memiliki sosok George Washington yang mendeklarasikan kemerdekaan negara luas yang hari ini menjadi adikuasa tersebut, dari dunia islam hadir Muhammad Al Fatih yang memenangkan konstantinopel dan membebaskan rakyat pada masa itu dari pemerintahan yang korup, masyarakat kulit hitam punya Martin Luther King yang memperjuangkan kesetaraan ras hingga hari ini Barack Obama bisa berdiri gagah di podium kepresidenan seraya berkata “kita bisa !”.

Tempo hari ketika saya menyusun materi untuk workshop kepemimpinan bagi exchange participant AIESEC Unila saya mencoba mencari jawaban atas satu pertanyaan sederhana “hal terbesar apa yang paling mendukung sosok-sosok luar biasa tersebut menjadi seorang pemimpin ?” apakah latar belakang pendidikan ? keluarga ? teman sepergaulan ? dan jawabannya sungguh mengagumkan, kondisi yang tidak normal lah yang menjadikan mereka sebagai pemimpin yang besar di zamannya.

Ketidakidealan kondisi yang seseorang alami mampu memancing individu tersebut untuk tumbuh berbeda dan menjadi solusi bagi zamannya, atau secara tidak langsung sebuah zaman telah melahirkan pemimpinnya melalui sebuah proses yang alamiah. Sebut saja Martin Luther King yang memperjuangkan kesetaraan bagi ras kulit hitam dan menghapuskan perlakuan tidak manusiwi yang kelompok tersebut rasakan, Mark Zuckeberg menjadi pemimpin inspiratif karena mencetuskan sebuah platform yang memudahkan setiap individu dalam berkomunikasi pada era modern ini, juga Mahatma Gandhi di India, Hellen Keller bagi kaum difable, dan Soekarno untuk Indonesia.

Namun jika anda kritis, sebuah pertanyaan susulan akan muncul, ‘dari ratusan bahkan ribuan orang yang hidup di era tersebut mengapa hanya segelintir orang yang kemudian muncul sebagai tokoh pendobrak ?’. Menurut hemat pribadi saya ada dua hal yang membuat mereka kemudian menjadi ‘anomali’ atau ‘berbeda’, yakni ‘kepekaan’ dan ‘ketulusan’.  

Kepekaan dan ketulusanlah yang membedakan mereka dari ribuan bahkan jutaan orang yang hidup pada masa itu. Jika Martin Luther King bersikap biasa saja melihat fakta ketidakadilan yang dialami oleh ras kulit hitam dan berhitung untung rugi dalam perjuangannya, maka bisa jadi sejarah hari ini akan berbeda. Begitu juga Mark Zuckeberg yang merintis facebook dengan penuh rintangan, jika ia tidak peka membaca kebutuhan zaman dan berhitung dalam perintisan platform tersebut di awal waktu, maka ia sudah akan menyerah dari jauh hari karena khawatir bangkrut dan segudang ketakutan dari resiko lain. 

Orang-orang tersebut tidak terlahir untuk menjadi individualis, mereka peka terhadap permasalahan di sekitarnya dan berusaha melakukan yang terbaik tanpa sebuah perhitungan keuntungan pribadi yang rumit. Mereka menikmati perjuangannya, mensyukuri ketidaknormalan kondisi yang dialami, mencari-cari masalah, dan berusaha melakukan perubahan yang terbaik, itu saja !

Pendidikan dan Pemimpin Sintetis

Pada akhirnya sayapun tergelitik dengan jalan pikiran saya sendiri. Lalu bagaimana dengan saya hari ini ? bisa dibilang saya hidup dalam kondisi yang nyaman dan tidak mengalami kondisi sulit yang seekstrim mereka ? --atau bisa jadi karena ketidakpekaan saya menangkap masalah-- karena diakui atau tidak, ketidak adaan tekanan tersebut seringkali membuat kita terdiam di zona nyaman dan tidak berbuat apa-apa.

Biar bagaimanapun alam mendidik dengan baik dan begitu alami. Namun seiring dengan perkembangan zaman, manusia mencoba merubah proses tersebut menjadi produk sintesis bernama kurikulum, merekayasa sebuah kondisi dimana seseorang bisa belajar dengan baik, mendekati kondisi sempurna yag disediakan langsung oleh alam.

Pada akhirnya sekolah-sekolah bersaing membuat sebuah kurikulum unggul, organisasi-oraganisasi hadir dengan tawaran proses pengembangan diri yang beragam guna mendidik sekelompok pemimpin bagi masa depan. Bukan pemimpin formal yang hanya duduk pada kursi pemerintahan, bukan pemimpin dalam wujud kata benda, namun lebih pada pemimpin dalam wujud kata sifat yang dimiliki oleh siapa saja; dokter, guru, arsitek, dll. Sehingga pemimpin tersebut mampu menghadirkan solusi bagi permasalahan zamannya melalui kepakaran masing-masing.

Pola Pendidikan Indonesian Future Leaders dan Beberapa Organisasi Lain

Kembali melihat pada masa lalu, dimana saya pernah belajar di beberapa tempat yang berbeda, baik sekolah, pondok pesantren, komunitas, organisasi, dll, ada satu tempat dimana saya merasakan sebuah proses pendekatan yang sedikit berbeda dalam mendidik saya menjadi seorang pemimpin. Tempat ini juga mengemas sebuah workshop pembelajaran dengan sederhana sehingga saya mudah memahami.

Tempat itu adalah Indonesian Future Leaders, dimana saya bergabung pada tahun 2013, yakni saat saya menjadi pendiri di salah satu chapternya. Disini, jauh sebelum saya berdiskusi tentang teori kepemimpinan atau contoh pemimpin ideal saya justru dihadirkan pada sebuah workshop online via youtube yang mengajak kita untuk keluar dan menganalisa permasalahan apa yang ada di sekitar kita, dimana selanjutnya kita diarahkan untuk membuat sebuah proyek sosial yang mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Proses tersebut dimaksudkan untuk mengasah kepekaan, dan selanjutnya secara tidak sengaja, dengan sendirinya saya belajar mengatur tim, memaksimalkan sumber daya yang ada, juga memaknai ketulusan melalui konsep kesukarelawanan di setiap proyek sosialnya.

Sebuah proses sintesis yang mendekati alami sepanjang perjalanan saya belajar kepemimpinan di berbagai organisasi. Walau saya akui ada beberapa organisasi yang juga berbicara keresahan masyarakat, namun ia masih banyak berwacana pada sebuah ruang definisi yang abstrak dan cenderung sulit diterjemahkan oleh anggotanya –atau bisa jadi saya yang gagal paham--.

Lalu mana yang lebih unggul dari keduanya ? saya tidak bisa memutuskan, Indonesian Future Leaders memiliki kurikulum dengan pendekatan yang lebih alami, namun jika individu tidak terpancing untuk berfikir dan mencari lebih dalam bisa jadi mereka tidak akan sampai pada sebuah nilai yang berusaha disampaikan. Sebaliknya, organisasi yang memulai pendekatan dari lokus teori dan memancing keresahan bisa jadi hanya melahirkan sosok yang pandai berwacana melangit dan sulit menterjemahkan ide ke bumi.


Pada akhirnya keputusan untuk belajar secara utuh dan mengikuti sebuah proses hingga selesai menjadi pilihan yang paling penting ketika kita belajar, dimanapun itu.  Tidak perlu bingung untuk memilih belajar dimana, tapi belajarlah dengan baik. Karena sejarah di zaman manapun tidak pernanh mencatat orang yang setengah-setengah, dan sekali lagi, semua ini hanyalah sebuah perenungan dari pemikiran premature saya pribadi, mohon ma’af atas warna-warni keluguan disetiap detilnya.


Rabu, 13 Februari 2013

Negeri ini bagaikan tetesan keindahan surga yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada penduduk bumi. Dari Sabang hingga Merauke dengan bentang alam yang tiada duanya, ribuan gugus pulau, bermandikan cahaya matahari sepanjang tahun. Dibalik tanah dan airnya tersimpan kekayaan Tuhan yang siap menunjang proses kehidupan bagi umat manusia di atasnya. Sungguh miris, jika Indonesia dengan emas, timah, dan minyak bumi yang melimpah masih menyisakan anak-anak putus sekolah. Sungguh ironi, di negeri subur permai ini masih mengisahkan cerita kelaparan.

Sementara disana, dari negeri paman sam, atau tanah Jerman, kisah kesuksesan putra bangsa tak dapat dimunafikkan. Lagi-lagi Tuhan melengkapi anugerah surganya, dengan menghadirkan putra-putri bangsa yang cerdas ceria. Namun disayangkan, ibarat jutaan anugerah itu adalah lidi, hingga saat ini belum ada sosok pemimpin yang mampu menyatukannya menjadi sebuah sapu yang berguna.

Sebagai generasi muda yang tumbuh diaatas tanah ini, dan minum air dari bumi pertiwi. Saya merasa haru, melihat tingkah laku para pemimpin negeri. Gonjang-ganjing perebutan kursi 2014 lebih menarik ketimbang duduk satu meja memusyawarahkan nasib bersama. Satu persatu partai politik lenyap dari hingar bingar idealisme, keterlibatan bendahara umum partai demokrat dalam kasus hambalang, politisi PAN yang mendekati lingkaran obat terlarang, hingga diaulatnya presiden PKS sebagai tersangka proyek impor daging sapi, menjadi sederet kisah yang menyisakan luka bagi para pemupuk harapan di negeri ini.

Pada hingar-bingar reformasi 1998, semua orang berbicara tentang multipartai, dan mereka percaya bahwa partai mampu menjadi wadah pengkaderan pemimpin yang efektif. Namun fakta telah berbicara, bahwa kekuasaan telah membutakan mata. Pada siapa lagi dosa sejarah ini akan ditangguhkan ? tentu saja pada generasi muda yang akan segera tumbuh dewasa dan menggantikan posisi mereka, para generasi tua.

Melihat fakta ini, tiada pilihan lain anak muda harus mendapatkan perlakuan yang benar agar kelak mampu menjadi pemimpin yang besar. Menjadi pemimpin yang memiliki global capacity, sehingga bisa menerbangkan pesawat bernama Indonesia pada langit globalisasi. Juga menjadi pemimpin dengan grassroot understanding yang tidak diragukan, sehingga mereka tak lagi sibuk memikirkan hingar bingar politik praktis, mereka mampu membaca keterbutuhan masyarakat, mereka yang memiliki karakter untuk duduk bersama demi sebuah visi perbaikan.

Negeri ini memiliki wadah bernama institusi pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga Perguruan Tinggi. Tak dapat dimunafikkan, didalamnya berhimpun jutaan anak muda generasi penerus bangsa dengan potensi yang berlimpah. Jika hari ini mereka bersama berkomitmen untuk menciptakan pemimpin masa depan yang sama-sama kita impikan, maka berpeganglah pada optimisme bahwa negeri ini akan segera sembuh dari sakitnya. Namun jika institusi pendidikan hanya menjadi arena politik lain, jauh dari nuansa keilmuan yang ilmiah, menjadi kendaraan korupsi untuk kantong-kantong elit, mari sama-sama kita ucapkan wassalam pada kesembuahan yang sama-sama kita impikan.

Dahulu kala, pada masa Orede Baru, media tumbuh dalam kondisi terkekang. Namun kini ketika kebebasan itu diberikan, perlahan semua menjadi kebablasan. Stasiun TV, majalah, koran dan media lain berlomba-lomba para ranah komersil yang menghasilkan kapital. Seakan mereka lupa, bahwa apa yang mereka siarkan, cerita yang mereka tulis, menjadi konsumsi tunas-tunas baru bernama generasi muda. Masihkah kita bersama mengharap kesembuhan negeri ini, jika setiap hari anak muda disuguhi cemilan tak sehat dari insan media ?.

Insan dunia mengenal bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang ramah, namun itu dulu, cerita yang tersisa dari kakek dan nenek kita. Masyarakat kita adalah masyarakat yang angkuh. Saat ferari mewah berhenti di lampu merah, saat yang sama anak-anak kecil dengan lagu sendu menghimpun receh. Saat krisis negara distabilkan oleh pedagang kecil, maka makmur akan segera datang dengan pentungan yang menghampiri mereka dengan dalih ketertiban, keindahan dan kenyamanan. Orang tua yang dulu sempat bercengkrama dengan anak-anak mereka, sekarang disibukkan oleh tuntutan karier dan obsesi menghimpun uang. Kini seenaknya setiap anggota masyarakat menghujat tingkah laku buruk pemimpin mereka beramai-ramai, seolah mereka adalah hakim yang tersertifikasi oleh Tuhan. Padahal mereka lupa, jika perilaku masyarakat yang angkuh berpengaruh besar terhadap pembentukan mental kita. Bagaimana generasi kita tumbuh peka dalam gelanggang keangkuhan ? Bagaimana pemimpin kita mampu berjiwa besar ketika masyarakat memfasilitasi pembetukan karakter mereka dengan penuh keculasan.

Negeri kita yang bernama Indonesia, berada dalam kondisi yang setengah isi dan setengah kosong, tinggal bagaimana kita akan menyikapinya, apakah dipenuhi dengan air atau justru dibuang semuanya. Pada akhirnya, cara kita memandang arah kemana negeri ini akan berjalan menjadi awal dari sebuah perbaikan. Mari kita sudahi drama kejenuhan di negeri ini, merevolusi sudut pandang bahwa alat pencetak pemimpin tidaklah sesederhana partai politik atau institusi tertentu. Bangsa ini adalah kumpulan dari jutaan umat manusia, sehingga sudah sepatutnya kelahiran seorang pemimpin juga dilahirkan oleh jutaan manusia, semua terlibat dalam proses pembentukannya, institusi pendidikan, masyarakat, hingga media massa. Mari bersama kita ciptakan ladang yang baik untuk memanen pemimpin yang baik, pemimpin kita semua, yang kita ciptakan bersama, untuk menjadi pengikat bagi jutaan umat manusia, berjalan menuju visi kebangsaan yang besar.  Menjadi Indonesia baru yang maju dan mempesona.

Selasa, 23 Oktober 2012




Setelah beberapa bulan mati suri, sekarat, koma atau apapun namanya, akhirnya departemen ekonomi kembali bangun. Renstra yang sudah disusun diawal harus mengalami berbagai perubahan karena mengalami pengunduran waktu. Pada akhirnya kami berempat ( baca : kak rasim, kak sani, kak waski dan saya) sepakat untuk mengadakan training kewirausahaan. Rapat penyusunan materipun dimulai, biasanya kalau sudah begini perbedaan mazhab diantara kami berempat sangat berbeda. Kak rasim dengan jiwa pengusahanya, kak sani dengan jwa wirausaha anak muda, kak waski dengan ekonomi syariah, dan saya dengan kewirausahaan social. Pada saat rapat sudah sempat terjadi titik temu untuk menyatukan keempat gagasan ini, namun pada pelaksanaan akhirnya saya mengurungkan niat untuk transfer gagasan saya terkait kewirausahaan sosial karena terdesak oleh yang lainnya. Akhirnya saya mengikuti ritme yang saat itu berjalan untuk menyemangati mereka dalam membangun usaha dan berharap suatu saat dapat menyematkan apa yang saya pikirkan.

Ada apa Dibalik Training Kewirausahaan ?

Gerakan mahasiswa memiliki tiga peran, sebagai agen perubahan, control sosial, dan kawah candradimuka untuk mengkader para pemimpin. Dalam membangun suatu perubahan yang diinginkan bersama, tidak terlepas dari masalah membangun kesejahteraan, karena bahasa kesejahteraan telah menjadi bahasa multidimensional dalam bidang politik untuk mengukur keberhasilan suatu Negara, tertinggal, berkembang, atau maju, terlebih ditengah hiruk pikuk kapitalisme, ekonomi islam harus mampu memberi jawaban atas masalah kesejahteraan ini. Sebagai salah satu pilar untuk mengevaluasi jalannya kemerintahan, gerakan haruslah mandiri secara financial, hal ini diharapkan mampu memberikan keindependenan yang lebih terhadap gerakan itu sendiri kala meluncurkan kritik terhadap pemerintah. Akan sangat sulit untuk menajamkan gerakan, apabila terjadi dua sisi mata uang, disatu sisi mengkritik dan disisi lain membutuhkan suplay dana, hal ini memberikan celah besar terjadinya jual beli gerakan. In term of kawah candradimuka bagi calon pemimpin, organisasi pergerakan perlu menanamkan jiwa kemandirian financial bagi para kadernya, sehingga ia memiliki pendidikan politik yang baik bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah sifat untuk melayani dan melahirkan kesejahteraan bagi orang lain. Bukan sebuah jabatan yang menjadi pekerjaan ber-income bagi kita.

Mengapa Kewirausahaan Sosial ?

Membangun ekonomi gerakan, terlebih gerakan islam, harus mampu memberikan nilai lebih. Tidak hanya mampu menghidupi organisasi secara mandiri namun juga bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar. Kewirausahaan sosial mampu menjawab tantangan ini sekaligus beriringan dengan kaidah ekonomi islam.  Kewirausahaan sosial mampu mengintegrasikan antara SDM/SDA dengan pemilik modal, dan pemerintah hanya berperan dalam mengambil kebijakan, sementara dalam kewirausahaan komersial, duet maut terjadi antara pemilik modal dan pemerintahan untuk mendapatkan SDA/SDM sebanyak-banyaknya, akibatnya masyarakat juga dirugikan. Pada titik inilah aktivis perlu menimbang apa dampak dari usaha yang dibangun oleh organisasi pergerakannya, apakah itu sesuai dengan idealisme gerakan atau tidak.

Jangan Terjadi Dikotomi Departemen !

Banyak semboyan yang membuat saya sedikit gerah. Teman-teman dari departemen kaderisasi itu sholeh-sholehah, dari kebijakan public itu hobi pegang toa dan sedikit nakal, teman-teman dari departemen ekonomi itu profit oriented. Hal ini menunjukkan sebuah organisasi yang tidak sehat, sudah seharusnya temen-teman kaderisasi juga memiliki kemampuan advokasi yang tidak kalah dari teman-teman kebijakan public, karena ia sedang mengkader orang untuk menjadi actor gerakan. Teman-teman kebijakan public dan departemen ekonomi juga sholeh dan sholehah karena sejatinya renstra terbesar dari gerakan yang ia bangun adalah kejayaan islam, begitu juga dengan teman-teman ekonomi, tidak hanya sekedar mencari profit namun juga dialurkan pada pola kebijakan public seperti yang saya uraikan pada sub-kewirausahaan sosial, turut serta mengempower masyarakat dan membangun basis advokasi. Ibarat sebuah pesawat terbang, tidak kemudian ekor terbang duluan, baru sayap terbang, atau roda ke kanan, dan kokpit ke kiri, namun mereka berjalan bersama menuju bandara yang dituju. Wallahu’alam.

Minggu, 29 Juli 2012

Seri Ramadhan #4


Konflik terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara ekspektasi dan kenyataan. Coba bayangkan jika di dunia ini ada satu golongan, satu ras, satu kepentingan, konflik menjadi variable yang sederhana. Hingga semuanya menjadi lebih rumit ketika ada begitu banyak golongan dan kepentingan, sebut saja konflik ras antara kulit hitam dan kulit putih, atau konflik antar kabilah di arab pada zaman dulu kala.

Dalam sekup kecil konflik bisa terjadi karena adanya perbedaan ekspektasi antar individu. Sebut saja unila, pemilihan raya kerap sekali menjadi celah konflik yang empuk. Adanya ekspektasi dari kedua belah pihak dan semuanya berbicara pada sudut pandang "aku" bukan "kamu", ego ini sempat meledakkan gerakan massa pada tanggal 5 mei yang tidak kurang dari 400 orang pendemo.

Sabtu, 28 Juli 2012

Seri Ramadhan #1

Kalau kata roma irama, masa muda adalah masa yang berapi-api mungkin itu benar adanya. Diusia ini kita akan cenderung meledak-ledak emosinya, termasuk semangat dan amarah. Kalau soekarno bilang, beri aku sepuluh pemuda dan akan kuguncangkan dunia itu logis, karena energi dari seorang pemuda itu memang luar biasa. Setidaknya itu yang aku buktikan selama di kampus. Hal yang unik ketika sebagian dari kita begitu sibuk berdemo, diskusi, atau melakukan kegiatan kesukarelawanan. Padahal bisa dibilang itu tidak memberikan keuntungan yang signifikan terhadap diri kita. Tak ayal jika para orang tua membuat barisan demonstrasi tersendiri untuk anak-anak mereka. dengan deretan spanduk terpampang "selesaikanlah studimu !" "sudahlah ! cari kerja saja sanaaaa...!" "idealisme itu hanya ada dimasa muda" "sudahlah, hentikan cita-cita muluk-muluk itu !". Itulah para orang tua kita yang memiliki pengalaman hidup terlebih dulu. memang apa yang mereka bilang benar adanya, menjadi aktivis tidak memberi banyak pada kita, justru meminta banyak dari individu-individu miskin itu. Tak menjanjikan apa-apa, beasiswa S2, karier politik, jalan-jalan keluar negeri gratis, pekerjaan yang mapan, tabungan masa depan, sama sekali tak menjanjikan apa-apa. Wajarlah jika para orang tua itu khawatir akan nasib anaknya, karena kebanyakan dari mereka justru menjadi orang dengan IPK rendah, lontang-lantung, menjadi orang Talk More Do Less, pemalas, pemimpi dan tidak lebih dari itu.

Dari ribuan aktivis yang ada hari ini, berapa sie yang akan menduduki posisi menteri? anggota dewan? atau presiden ? kurang dari 10 persen mungkin, sisanya menjadi produk gagal dan menjadi penonton. Mereka tinggal di daerah, menonton TV pagi sore dan mengometari kondisi kebangsaan seraya berkata kepada anak-anak mereka, itu dulu saudara seperjuangan ayah ! itu dulu saudara seperjuangan ibu.! hingga anak-anak mereka cukup bangga dengan cerita ibuku teman lama dari mentri A presiden B, ayahku teman satu kampus anggota dewan C. mungkin itu menjadi satu-satunya hal yang bisa diwariskan.

Masa yang meledak-ledak itu bersemayam indah dalam memori masa lalu kita. masa dimana kita turun ke jalan bersama, masa dimana kita makan sebungkus berdua, masa dimana kita melindungi saudara kita, atau masa dimana kita ribut satu sama lain karena memperjuangkan idealisme masing-masing. bisa jadi cerita itu hanya berlaku di kampus dalam episode mahasiswa. Mungkin nanti dalam dunia nyata, ketika kita mendapati kawan kita seperti Anas Urbaningrum kita tak bisa lagi ribut mempermasalahakannya. Karena dunia kita sudah jauh berbeda.


Oleh karena episode mahasiswa ini belum terlewat, aku ingin menorehkan sebuah pesan persaudaraan, bahwa rasul kita mengajarkan suatu konsep ukhuwah dan kepemimpinan dengan begitu luar biasa, Rasul mengajarkan pada kita bahwa saudara bukanlah tahta dan peruntungan, Rasul mengajarkan aqidah sebagai tali yang sangat kuat. Rasul kita juga mengajarkan bahwa setiap pribadi ini adalah pemimpin. Bukan jabatan yang kemudian menjadikan kita mulia, namun sumbangsih nyata kita untuk peradaban manusia. Presiden, petani, guru, menteri, pengamat politik, tukang cuci, itu hanya sebuah panggilan. Namun karya adalah bahasa keikhlasan dari seorang insan yang faham. Hingga kelak tak ada jarak keangkuhan antara kau yang diatas sana dan aku yang dipinggiran desa, hingga kelak kau masih bisa berkirim SMS padaku kala aku berbelok, hingga kelak anak-anak kita dapat tumbuh bersama, karena siapapun kita dimasa depan, kita tetaplah saudara selamanya hingga ke jannahNya.

*aku percaya perdaban ini akan lebih baik ditangan saudara-saudaraku yang shaleh dan shalehah...



Kamis, 19 Juli 2012


Inget gak? Pas kita masih mahasiswa baru trus ikut propti, kita sering baget denger kata ini “agent of change !” trus coba-coba kita ikut organisasi, yang ikut HIMA, atau BEM biasanya akan lebih sering lagi denger kalimat ini, “agent of change oh… agent of change”. 

Apa itu agent of change ?

Pernah denger nama Soekarno ? bapak bangsa ini membuat Negeri ini berubah status dari dijajah jadi merdeka. Pernah denger Habibie ? yah ! beliau memang ahli pesawat terbang yang pernah buat pesawat penumpang tercanggih didunia kala itu, N250, eh, kalau Newton punya teori relativitas I dan teori relativitas II pak habibie juga punya teori Habibie I dan Habibie 2    lho !. Ada lagi Iwan fals yang dikenal dengan lagu-lagu fenomenalnya yang mendobrak, seperti “bento” atau “jalanan sebrang istana”, pernah menggema juga nama kak Seto yang aktif memperjuangkan hak anak melalui komnas HAMnya. Atau pernah dengar pemikir besar kaya plato yang karya pemikirannya menjadi begitu popular bagi orang-orang barat, dan siapa sih yang ndak kenal sosok satu ini, “Nabi Muhammad”, seorang penuda mekkah dengan kemampuan kepemimpinan tak terkalahkan sepanjang masa, membawa sebuah risalah untuk seluruh system yang ada di bumi ini, mulai dari ekonomi, politik, kesehatan, sampai pendidikan, komplit tak terlewatkan. Merekalah itu contoh agent of chage yang pernah hidup di bumi ini, mereka membauahkan sebuah karya yang bermanfaat bagi orang lain. Walau usia biologis merega relative muda, tapi usia ideologisnya masih eksis hingga sekarang. Bagaimana dengan kamu ?

Gue Kan Nggak Sehebat Mereka ?

Ada yang bilang, orang besar itu adalah orang yang menorehkan karya besar. Tapi jangan salah, karya besar itu bukan karya yang rumit, dia sederhana dan punya spesifikasi khusus sesuai dengan minat kita. Missal aja Adele, dia memang jago baget dalam hal tarik suara alias nyayi, tapi ko suruh jadi guru TK, jelas lebih pinter kak seto dong ! itu karena mereka punya spesifikasi khusus sesuai dengan minat mereka. Apa jadinya kalau Adele kita suruh ngajar TK dan kak Seto kita suruh nyanyi “someone like you”. Mereka orang yang membuat hal besar dengan sesuatu yang sederhana, adele suka nyanyi ya dia serius dengan nyanyinya, dan kak seto suka main dengan anak-anak ya dia tekun dengan metode edukatif untuk main sama anak-anak, jadi orang besar itu ndak haru jadi professor di suatu perguruan tinggi, atau politisi pentolan dari sebuah partai politik lho ! Ada lagi contoh, sekumpulan anak muda yang lagi konsen dengan kampanye diet tissue atau diet kantong plastik, dalam rangka go green dan menjaga kelestarian bumi, karena kita sama-sama tahu berapa banyak kayu yang harus ditebang setiap harinya karena produksi kertas, dan juga kita tahu kalau plastic itu butuh waktu yang lama untuk terurai. Sederhana kan ? bisa kita lakukan setiap hari dan member dampak perubahan yang besar tentunya. So? Gimana sama kamu ? Nggak susah kan jadi agent of change ? tinggal temukan minatmu dan fokus.

Apa Gue Harus Ikut BEM dan Turun ke Jalan ?

Banyak orang besar lahir dari BEM atau dulunya disebut senat mahasiswa, sebut saja Anas Urbaningrum, Anies Baswedan, Marwah Daud Ibrahim, Ratu Atut. Tapi gak sedikit lho yang lahir dari tempat lain, semagaimana Dick Doank lahir dari seni, Iwan Fals lahir dari music, Soeharto lahir dari militer dan juga Pak Habibie yang lahir dari teknik. 
Yang jelas setiap orang punya ekspresi yang berbeda untuk menunjukkan eksistensi mereka, kalau kamu memang suka dengan yang namanya politik, hobi turun kejalan mengkritisi pemerintah, diskusi membangun gerakan dari lembaga politik kampus, BEM bisa jadi pilihan yang tepat. Tapi bukan berarti semua gerakan hanya bisa dibangun dari BEM. Kamu bisa memulai dari sesuatu yang kamu suka seperti yang udah kita bahas sebelumnya. Ya! Benar sekali, passionmu akan membuatmu lebih semangat melakukan sesuatu. Siapa bilang musisi ndak bisa jadi aktivis lingkungan ? siapa bilang pelukis ndak bisa mengkritisi kkebijakan pendidikan ? siapa bilang klub bahasa inggrismu tidak bisa membuat acara cultural understanding yang bisa ngurangin tawuran dan kenakalan remaja. So?? Stop berfikir bahwa gerakan di kampus itu melulu hanya dibangun dari BEM, dan jadi aktivis itu melulu identik dengan orang yang suka demo, itu mindset yang kuno banget kawand, udah ndak tren lagi di zaman sekarang.

Grassroots Understanding - Global Capacity 

Pernah denger gerakan Indonesia Mengajar ? itu lho ! gerakan yang ngumpulin dan nyeleksi anak-anak muda terbaik dari seluruh penjuru negeri untuk dikirim jadi guru SD di daerah terpencil selama 1 tahun. Apa sie maksud Anies Baswedan membuat gerakan ini ? jelas alasan pertama adalah untuk meratakan akses pendidikan dan memberikan inspirasi bagi anak-anak negeri yang kurang beruntung, namun ada alasan kedua, apa itu ?? yaitu menanamkan grassroots understanding di hati putra-putri terbaik negeri. Teman-teman, menurut saya ini menjadi point pertama yang harus dilatih dari para calon pemimpin negeri ini. Sehingga gerakan-gerakan baru yang kental dengan cirri khas social memerlukan ruang yang luas sebagai tempat ekspresi generasi muda. Kemampuan menganalisis akar masalah dan ide-ide kreatif penyelesaian masalah yang murah harus terus dilatih pada diri calon pemimpin kita. 
Saya membayangkan kelak pemimpin di negeri ini lahir karena kapasitas yang mereka miliki membuat mereka dicintai rakyat, mereka dikenal karena kemampuan mereka dalam menyelesaikan dan memakmurkan kondisi sosial. Bukan diisi oleh orang-orang langitan yang tidak pernah mengerti kapan rakyat menangis dan tertawa. Bukan pemimpin yang sibuk kampanye sebelum pemilihan. Tapi pemimpin yang diikuti dan diakui keberadaannya karena ia memiliki gagasan yang bernilai pembebasan. Bukan pemimpin yang terpaksa diakui sebagai pemimpin karena posisi mereka. Ia dikenal melalui karya, bukan dari kampanye ujug-ujug yang penuh huru-hura. Siapa pemimpin idaman itu ?? Itu adalah teman-teman, itulah “Agent of Change !”

Lampung Nunggu Kita Lho !

Sebagai seorang mahasiswa kenal dong dengan istilah Tri Darma perguruan tinggi ? itu lho yang point ketiganya adalah pengabdian masyarakat. Kalau ingat akan hal ini saya sering melamun membayangkan Lampung yang gemah ripah loh jinawi. Coba bayangkan, Unila memiliki 8 fakultas, mulai dari MIPA, Kedokteran , KIP, Pertanian, Hukum, Isip, Ekonomi, dan Teknik. Dalam setahunnya melakukan upacara pelepasan selama 4 kali, berapa ribu ahli yang telah dilahirkan, berapa ribu pemuda bersemangat yang siap membawa perubahan telah dilahirkan. Belum lagi setiap tahunnya Unila mengirimkan tidak kurang 8000 calon sarjananya melalui program KKN. Seharusnya tak ada lagi predikat provinsi termiskin, seharusnya tak ada lagi angka buta huruf, seharusnya tak ada lagi pelanggaran hukum, seharusnya pariwisata kita berkembang pesat, seharusnya pertanian kita meberikan hasil panen yang melimpah, seharusnya tak ada lagi kemacetan di tengah kota, seharusnya tak ada lagi sawah kekeringan. Namun kenyataan berbicara tentang kondisi yang sesungguhnya, bukan tentang seharusnya yang selalu kita andaikan. 
Apa yang salah ? apakah para sarjana ini dididik oleh akademisi-akadeemisi bodoh? tentu tidak! mereka ahli-ahli berfikir di provinsi Lampung. Lalu apa yang sama-sama menjadi PR besar kita ?
1. Anak-anak muda ini, putra-putri penerus negeri ini dididik dengan kurikulum yang lebih menekankan pada kognisi, mereka begitu ahli pada tahan teori, namun itu hanya sebatas “wacana adalah bencana”, mereka tidak terbiasa dididik untuk mengaplikasikan ilmu mereka untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada. 
2. Kita dicetak untuk menjadi robot yang siap memenuhi tuntutan lapangan pekerjaan di institusi-institusi, sehingga hampir semua dari kita berorientasi pada IPK kosong tanpa gagasan. 
3. Universitas kurang dalam mengimplementasikan tri darma perguruan tinggi. Kurang melatih mahasiswanya untuk melakukan hal sederhana dalam rangka menyelesaikan masalah social yang ada di lampung, bayangkan, dalam setiap angkatanya, Unila menerima tidak kurang dari 8000 mahasiswa, jika setiap dua orang dituntut untuk membuat karya sederhana(taman baca, pertanian holtikultur, pengomposan sampah, dll) dalam rangka mengaplikasikan ilmu mereka untuk Lampung, akan ada 4000 karya baru setiap tahunnya. Saya yakin, kurang dari 20 tahun, lampung akan menjadi provinsi unggul.
4. Pemerintah kurang kreatif dalam memberdayakan generasi muda. Dalam satu sisi, bayak potensi dari provinsi Lampung yang belum tergali, masalah social yang belum terpecahkan, namun pada kondisi lain, banyak dari pemuda kita mengganggur atau mencari pekerjaan di Ibukota atau luar negeri. 

Untuk Mahasiswa Renungkan…

Kawanku… berapa besar SPP kita ? jika semua itu kita jumlahkan dan kita bandingkan dengan kebutuhan kita yang sesungguhnya di kampus ini, cukupkah itu ? lalu dari mana kekuranggannya ditutupi ? subsidi rakyatlah yang menutupinya, pajak rakyat yang membiayaimu. Tukang-tukang cendol, nelayan, petani, mereka yang membiayaimu. maka ingatlah kawandku, kuliahmu… untuk menyelesaikan masalah yang hari ini ada pada masyarakat kita, belajarmu adalah untuk mencari ilmu dalam rangka mengaplikasikannya kelak. 
Belajarlah… membaca realitas, belajarlah menjadi pribadi arif yang peka akan masalah, belajarlah untuk mencari ilmu, untuk sama-sama kita bangun Lampung kita, jadilah agent of change yang bisa memberikan sentuhan sederhana, ketika kau melihat anak-anak SMA tawuran, milikilah gagasan untuk mengadakan pertandingan olahraga yang sportif, ketika masyarakat kecil kesulitan pendanaan, milikilah gagasan kreatif seperti mendirikan koperasi. Ketika sampah menumpuk disetiap sudut kota, milkilah gagasan kecil untuk mengajak masyarakat melakukan pengomposan, sekedar mencukupi kebutuhan pupuk rumah tangga. Ada banyak ide-ide kreatif lain, yang saya yakin masih tersimpan dalam diri-diri teman-teman, melalui langkah-langkah kecil itu, perubahan besar bermula. Apalagi jika kita mampu mengimplementasikan seluruh ilmu yang kita dapat diperguruan tinggi ? Ah, aku tidak dapat membayangkannya, lampung akan menjadi apa. Selamat bergabung, agent of change ! Karena loe, asset paling berharga negeri ini.

Rabu, 30 Mei 2012


Dengan menekankan tugas Media Watch menjaga demokratisasi kebebasan pers, Wakil Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Media Watch and Consumer Center (MWCC) Doddy Yudhista membuka diskusi bertajuk "Media Watch dan Urgensinya dalam Peningkatan Kualitas Kemerdekaan Pers" di The Habibie Center pada 15 Juli 2005. Diskusi yang dipandu oleh Afdal M. Putra itu menghadirkan Leo Batubara, Ketua Divisi Pengaduan Dewan Pers; Bambang Harymurti, Pemimpi Redaksi Majalah Tempo dan Koran Tempo; Agus Sudibyo dari ISAI, dan Prof. Muladi, Ketua Dewan Pengurus The Habibie Center. Media Watch THC, kata Yudhista, didirikan tahun 2000 bersamaan dengan peluncuran THC di bawah Media Development Center, dengan kedudukan independen.


 

Membahas kualitas kemerdekaan pers, Leo Batubara menekankan tentang kebebasan dari (freedom from) yakni kemerdekaan dari penindasan dan belenggu penguasa. Sedangkan  kebebasan untuk (freedom for) meliputi kemerdekaan untuk memaknai kebebasan pers antara lain dengan melaksanakan keempat fungsi pers yakni, 1. pendidikan, 2. informasi, 3. hiburan, dan 4. kontrol sosial. Batubara juga antara lain mengutip penelitian Reporter Sans Frontier yang berkedudukan di Paris betapa di masa pemerintahan Preside B.J. Habibie  pers Indonesia digolongkan terbebas di Asia tetapi di tahun 2004 terpuruk ke   posisi ke-117 dari 167 negara yang diteliti. Sebabnya tak lain karena adanya sekian media diancam denda bahkan pelakunya divonis penjara.

Lalu, siapa yang mengontrol pers? Menurut Batubara, hati nurani masing-masinglah pengendalinya. Lalu, kontrol eksternal, dilakukan masyarakat, media watch, organisasi pers, dewan pers, dan jalur hukum. Media watch, katanya, juga perlu diawaki personel yang memiliki pengetahuan dan kompetensi dalam hukum pers serta digaji secara profesional. Di tahun pertama, kedua dan ketiga reformasi ada 20-an media watch, tetapi makin  menyusut sehingga barangkali sekarang tinggal satu atau dua saja. Disayangkan, karena majunya pers sejalan dengan majunya media watch. Di Amerika, film makin maju karena tukang kritiknya banyak, yang siap membantai. "Kita punya tukang kritik, kalau tidak diberdayakan maka pers bisa berkembang keluar koridor," kata Batubara.

Bambang Harymurti memaparkan pentingnya pers yang bermutu untuk membantu masyarakat mengambil keputusan yang makin tinggi kualitasnya dalam menghadapi tantagan-tantangan. Tetapi kalau media penyedia informasi ini sampai dimanipulasi badan-badan tertentu, siapa yang menjadi watch-dog-nya. Inilah peran yang harus diambil oleh media watch. Karena setelah terbebas dari kendali pemerintah, pers menjadi sasaran kekuatan-kekuatan di luar pemerintahan, entah politik, bisnis, atau lainnya. Di Italia seorang konglomerat media bisa menjadi perdana menteri, demikian juga di Amerika Latin. "Ini tentu tak kita inginkan terjadi di Indonesia," kata Harymurti. Ia menekankan bahwa media watch itu "suatu keniscayaan, kalau kita ingin mempunyai media yang sehat."

 
 

Masyarakat perlu lebih awas. Masyarakat sudah  kritis tetapi media watch diperlukan, kata Harymurti,  "justru guna meningkatkan daya kritis itu, untuk memberikan semacam warning, begitu. Media watch juga perlu bagi lembaga konsumen, sebagai alat bantu dalam mengawasi produk-produk konsumsi.

Tantangan bagi media watch, kata Harymurti pula, adalah "bagaimana melakukan fungsinya sehingga media massa yang dipantaunya sehat." Sehat dalam berperan semaksimal mungkin untuk menumbuhkan masyarakat yang berpaham (informed) karena  media massanya memberikan informasi yang credible, akurat dan tepat waktu serta independen. Dengan demikian "proses demokratisasi yang tak pernah henti terus berjalan ke arah yang kita kehendaki."

Dalam pengamatannya, Agus Sudibyo mengatakan bahwa yang dilakukan media dari hari ke hari hanyalah memproduksi amunisi yang bisa digunakan  musuh-musuh pers untuk menghantam pers sendiri. "Sebenarnya kalau kita mau melihat, banyak fakta yang menunjukkan betapa pemerintah, TNI, tidak happy dengan kebebasan pers yang berlangsung sejak 1998. Yang mereka lakukan sebenarnya hanya mengais-ngais momentum, mengumpulkan alasan, bukti untuk mengatakan bahwa pers tidak bisa dibiarkan tumbuh sendiri, harus diatur lagi," kata Sudibyo.

Ini sebuah kondisi yang "menurut hemat saya harus menjadi alasan bahwa media watch itu sangat dibutuhkan." Di lain sisi, kenyataan juga menunjukkan bahwa setiap kali acara diadakan dalam kerangka kritik terhadap pers, tak ada wartawan yang datang. Jadi harus disiasati, misalnya dengan juga memberikan reward  bagi karya pers yang dinilai bagus. "Jadi," kata Sudibyo, "perlu ada reward and punishment."

Kemudian, apa fungsi media watch dalam kondisi seperti itu?  Yang pertama jelas membantu media untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Ini penting sekali karena tidak banyak media yang serius mengembagkan divisi penelitian dan pengembangan. Kedua, memberi peringatan kepada publik untuk menyikapi media secara kritis dan jernih. Ketiga, memberi penyadaran kepada semua pihak untuk bersikap proporsional terhadap media. Misalnya, jangan mengkritik media dengan cara-cara premanistis. Mungkin mengkritik  dengan hasil penelitian, barangkali lebih perlu dikembangkan.

Muladi, sebagai ketua tim RUU KUHP nasional, memaparkan bahwa prinsip yang digunakan dalam bidang politik hukum adalah prinsip persamaan dalam hukum, dan "kami tidak melihat insan pers sebagai seseorang atau beberapa orang yang mempunyai privilege (hak istimewa) di dalam negara demokrasi. Yang kami tuntut dalam pidana itu bukan pers sebagai pembawa misi demokratiknya melainkan bagian dari tanggung jawab individualnya, yang mungkin tidak profesional." Yakni,  pers melakukan penipuan, manipulasi  atau malapraktik lainnya.  Jadi "mengapa harus takut pada UU Pidana kalau kita baik, professional. Jadi pidana hanya digunakan kalau memang sangat diperlukan. Contohnya pornografi, yang tidak dapat diatasi dengan hukum perdata."

Mass media penting, lebebasan pers juga penting. Tetapi orang jarang berdiskusi tentang mutu jurnalisme. Di Indonesia, mutu jurnalisme memerlukan pembenahan, dan ini terkait dengan prinsip profesionalisme. Begitu juga dengan tanggung jawab sosial, dan ketiga adalah ketaatan kepada kode etik. "Dalam ketiga hal itu kita masih miskin sehingga pembatasan-pebatasan itu saya kira masih diperlukan,"  kata Muladi. Ia menyayangkan penelitian Reporter Sans Frontiers yang tidak  mengikutsertakan pengukuran tentang mutu jurnalisme. 


Muladi juga meminta perhatian tentang orang-orang yang menjadi korban pemberitaan pers; mereka sangat menderita akibat stigmatisasi di masyarakat: selingkuh, korupsi dll. Jadi pers jangan  ingin bebas saja. Pers bebas memang bagian dari demokrasi, tetapi ada persyaratan-persyaratan yang harus diperhatikan; moralitas dari kepentingan yang lain, civil morality, potential victims atau bahkan pernah jadi korban malapraktik pers.

Jadi menurut hemat Muladi, parameter media watch adalah, UUD, acuan kepada instrumen internasional tentang HAM, dan kebebasan mengutarakan pendapat. Pertama, kalau pers melanggar hak orang lain; kedua, bertentangan dengan ketertiban masyarakat, moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum. Dalam sebuah diskusi internasional pernah dimaklumkan "Universal Declaration of Human Responsibility" (Deklarasi Universal tentang Tanggung Jawab Asasi Manusia) sebagai pasangan dari Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia). Ini akan diajukan ke Sidang Umum PBB oleh International Council yang anggotanya terdiri dari mantan-mantan presiden termasuk B.J. Habibie. (mkr)


dikutip dari : the habibie center

Sabtu, 26 Mei 2012




banyak orang mulai menuliskan kisahnya didalam hidup, banyak dari mereka berfikir untuk membuat peta dalam sebuah kehidupan, mulai dari memilih universitas yang terbaik hingga menggambarkan akan meninggalkan dunia ini dengan cara seperti apa. Cerita ini jauh berbeda dengan dulu ketika saya masih SMP dan belum mengenal yang namanya peta hidup. hingga kali pertama saya mengenalnya adalah saat SMA. Hal ini banyak mengubah cara hidup kami, kami lebih percaya pada mimpi, asal merancang setiap langkah dengan baik, maka kemungkinan besar akan tercapai, hingga pada akhirnya saya berjumpa dengan teman-teman yang luar biasa prestatif pada momment-momment tertentu. 

sejak saat itu saya mengenal seseorang yang hingga sekarang masih ada disekitar saya. hingga beberapa saat yang lalu saya iseng-iseng ngobrol dengannya dan ia mengeluarkan sebuah statement. 

memang sepertinya kita harus memilih, antara punya banyak teman dan ambisi untuk berprestasi., dulu aku punya ambisi untuk mengukir prestasi dengan baik, tapi jauh dari teman-teman, dan sekarang saya punya banyak teman, tapi prestasi jadi "menggalau" seperti ini.
 terang saja saya tidak sepakat dengan statement itu, anggap saja saya memiliki orang tua dengan kemampuan berfikir dan finansial yang terbatas, yang membantu saya bertahan hingga hari ini ya teman, dan dibalik apa yang saya raih hari ini ya teman-teman dibelakangnya. sebut saja ketika saya mengikuti perlombaan debat bahasa inggris di dalam sebuah tim, tentu saja, ketika performa saya kurang, itu akan ditutupi oleh teman-teman, ketika kami merancang sebuah event atau gerakan, tentu saja saya berbagi tugas dengan teman, dan ketika saya harus berkampanye untuk parlemenmuda indonesia, ya berkat teman-temanlah saya bisa mengumpulkan dukungan.. padahal saya orang yang sangat malu untuk berkampanye seperti itu.


 


and well... setelah lama kupikirkan, akhirnya aku berfikir kenapa teman saya berfikir demikian. hal ini terjadi karena setiap orang ingin enjadi fungsi yang sama, ingin merah popularitas dan keberhasilan dengan cara yang sama. saya pernah mendengar suatu quotations seperti ini :


jadilah tukang sapu jalanan yang luar biasa, sehingga seisi dunia menengok dan berkata, disini ada seorang tukang sapu yang mempesona.
dan ketika esoknya saya kembali bercengkrama dengan teman saya tadi, iapun sudah menemukan jawaban dari kemarahannya yang lalu 


jadi can, tidak semua harus memegang pedang, ada yang memegang panah, menunggang kuda, memegang tombak, sehingga menjadi suatu pasukan perang yang luar biasa.


dan akhirnya saya menghela nafas lega. itulah yang disebut dengan kolaborasi, tidak semua harus memegang pedang pada sebuah pertempuran, atau pada sebuah panggung ansamble, tidak semua memainkan nada yang sama, sehingga tercipta harmoni suara yang indah. 
 
dalam realitas yang sekarang, banyak yang ingin menjadi nomor satu, tidak terkecuali dalam hingar bingar suksesi kampus. pertempuran antara organisasi mahasiswa islam kerap terjadi. saya terkadang heran, apalah yang membuat mereka berbeda ? dalam hubungannya dengan  non-muslimpun islam mengajarkan musyarokah apalagi dengan sesama muslim ? menurut hemat saya, karena sejauh ini teman-teman berfikir pada fokus konflik, bukan pada fokus kerja. 

hal ini terbukti ketika saya mencoba melempar sebuah isu optimisme pada teman-teman, bagaimana kalo kita menggagas ini dan itu untuk masyarakat, rata-rata dari mereka tertarik dan pada akhirnya kami bekerjasama, pun sebaliknya, ketika ditengah-tengah ada kawand yang kembali pada fokus konflik dan hanya mengecam permasalahan, teman-temanpun menjadi jenuh dan mulai terpecah-pecah lagi. 

itulah mengapa cara nomor satu dalam sebuah manajemen konflik adalah kolaborasi, karena dalam kolaborasi tercipta sebuah semangat win-win solutions.

Kamis, 29 Maret 2012

parlemen muda indonesia.....


rumah kita....



hanya perlu memulai....


suara pemuda, nurani bangsa...

Tanggal 28 Oktober 1928 menjadi tanggal yang otentik dengan kelahiran bangsa Indonesia, proses kelahiran ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945. Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, pemuda kaum betawi, dll. Pada akhirnya para pemuda tersebut menghasilkan sebuah rumusan revolusioner yang berbunyi : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Para pendiri bangsa ini adalah pembaharu yang cerdas dan revolusioner, saat itu mereka sudah berfikir untuk menyatukan ratusan bahasa yang di indonesia menjadi satu bahasa, ini merupakan gagasan yang sangat cerdas, karena satu, ini mampu menyatukan beragam budaya, agama, ras, dan golongan yang ada untuk memiliki satu kesatuan yang membudaya dalam kehidupan sehari-hari. kedua, bayangkan jika saat itu para pemuda ini tidak bersatu, tetap teguh pada ego mereka masing-masing, dan kita tidak sampai pada kesepakatan, berbahasa satu, bahasa indonesia, alangkah repotnya dokumen kenegaraan kita jika satu dokumen harus diterjemahkan kedalam banyak bahasa. Para pemuda ini juga orang-orang yang sangat revolusioner, mereka berangkat dari kultur budaya yang berbeda, mewakili golongannya dan memutuskan untuk berbahasa satu, bahasa indonesia. Bayangkan ketika mereka kembali ke kampung halaman, mereka harus menghadapi pertanyaan "kau kemanakan bahasa ibumu ???" dan tentu saja melawan suatu kultur yang telah tumbuh ratusan tahun itu tidak mudah dan hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang revolusioner.

Berkaca pada pemuda hari ini, yang hidup dibawah ikrar sumpah pemuda para pendahulu, yang hidup pada masa kemerdekaan ini, dan merayakan peringatan sumpah pemuda setiap tanggal 28 Oktober. Namun lihatlah kita, ruh sumpah pemuda di dalam diri kita sama sekali mati, seringkali kita berselisih paham hanya karena perbedaan golongan, atau hanya karena perbedaan kepentingan politik, hari ini setiap jiwa muda yang pada masa lalu begitu merdeka dan revolusioner banyak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan elit, sehingga pemuda beradu pada tataran bawah, secara tidak sadar menggagap diri mereka berbeda satu dan laiinya. Sebuah cita-cita yang pada tahun 1928 adalah cita-cita yang satu, hari ini menjadi cita-cita kekuasaan untuk sama-sama mengeksploitasi negeri ini, acuh tak acuh antara satu dan yang lainnya, yang mengerti apa itu peluang akan semakin melaju, yang tidak mengerti semakin terperdaya. Alangkah mirisnya melihat realitas putra-putri bangsa hari ini, mereka tidak lagi berbahasa satu, bahasa indonesia.

Realitas ini perlu segera diselamatkan, untuk mengembalikan ruh para pemuda, negeri yang kaya akan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan bumi sejuta sejarah ini sudah saatnya bangkit. tidak seharusnya freeport berada di tangan asing, tidak seharusnya kita membeli bahan bakar dengan harga mahal tidak seharusnya anak-anak kita kekurangan protein. laut kita menghampar luas, hutan kita hijau, perut bumi kita berisi harta berlimpah yang bisa membawa kita menjadi negara kaya raya yang super power. penduduk kita ramah dan gemar bergotong royong, ini semua tidak akan menjadikan kita bangsa yang angkuh. dan satu lagi asset berharga yang ditakutkan barat dalam buku Clash of Civilization yang ditulis oleh Samuel P.Huntington adalah sebagian besar penduduk kita muslim. Islam adalah peradaban emas yang dihapus, pada masa itu, tak ada lagi penduduk sakit sehingga tabib tak bekerja, pada masa itu tak ada lagi penduduk miskin sehingga bingung zakat akan dibagikan kemana, rasa persaudaraan sesama muslim serata perlindungan hak nonmuuslim yang kuat dan pada saat itu juga ilmu pengetahuan menemukan angka nol yang hari ini menjadi bilangan binner yang digunakan dalam dunia digital era sekarang. apalagi yang kita tunggu wahai pemuda ? apakah ego kita lebih tinggi dari masa depan negeri ini.