Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2015


Bagi anda yang mengawali dunia kampus dengan aktif di berbagai organisasi, sudah barang tentu tidak akan asing dengan istilah ‘setiap zaman melahirkan pemimpin’, karena kalimat tersebut cenderung diulang, puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali di berbagai tempat. Yap ! Setiap zaman memang memiliki pemimpinnya sendiri. Sebut saja diera awal pergerakan kemerdekaan Indonesia dimana kita punya Cokroaminoto, diera perjuangan kemerdekaan yang melahirkan sosok Soekarno dan Hatta, diera pembangunan dengan gagasan Soeharto dan Habibie, dan puluhan contoh lain.

Hal tersebut juga berlaku dalam konstelasi sejarah dunia. Amerika serikat memiliki sosok George Washington yang mendeklarasikan kemerdekaan negara luas yang hari ini menjadi adikuasa tersebut, dari dunia islam hadir Muhammad Al Fatih yang memenangkan konstantinopel dan membebaskan rakyat pada masa itu dari pemerintahan yang korup, masyarakat kulit hitam punya Martin Luther King yang memperjuangkan kesetaraan ras hingga hari ini Barack Obama bisa berdiri gagah di podium kepresidenan seraya berkata “kita bisa !”.

Tempo hari ketika saya menyusun materi untuk workshop kepemimpinan bagi exchange participant AIESEC Unila saya mencoba mencari jawaban atas satu pertanyaan sederhana “hal terbesar apa yang paling mendukung sosok-sosok luar biasa tersebut menjadi seorang pemimpin ?” apakah latar belakang pendidikan ? keluarga ? teman sepergaulan ? dan jawabannya sungguh mengagumkan, kondisi yang tidak normal lah yang menjadikan mereka sebagai pemimpin yang besar di zamannya.

Ketidakidealan kondisi yang seseorang alami mampu memancing individu tersebut untuk tumbuh berbeda dan menjadi solusi bagi zamannya, atau secara tidak langsung sebuah zaman telah melahirkan pemimpinnya melalui sebuah proses yang alamiah. Sebut saja Martin Luther King yang memperjuangkan kesetaraan bagi ras kulit hitam dan menghapuskan perlakuan tidak manusiwi yang kelompok tersebut rasakan, Mark Zuckeberg menjadi pemimpin inspiratif karena mencetuskan sebuah platform yang memudahkan setiap individu dalam berkomunikasi pada era modern ini, juga Mahatma Gandhi di India, Hellen Keller bagi kaum difable, dan Soekarno untuk Indonesia.

Namun jika anda kritis, sebuah pertanyaan susulan akan muncul, ‘dari ratusan bahkan ribuan orang yang hidup di era tersebut mengapa hanya segelintir orang yang kemudian muncul sebagai tokoh pendobrak ?’. Menurut hemat pribadi saya ada dua hal yang membuat mereka kemudian menjadi ‘anomali’ atau ‘berbeda’, yakni ‘kepekaan’ dan ‘ketulusan’.  

Kepekaan dan ketulusanlah yang membedakan mereka dari ribuan bahkan jutaan orang yang hidup pada masa itu. Jika Martin Luther King bersikap biasa saja melihat fakta ketidakadilan yang dialami oleh ras kulit hitam dan berhitung untung rugi dalam perjuangannya, maka bisa jadi sejarah hari ini akan berbeda. Begitu juga Mark Zuckeberg yang merintis facebook dengan penuh rintangan, jika ia tidak peka membaca kebutuhan zaman dan berhitung dalam perintisan platform tersebut di awal waktu, maka ia sudah akan menyerah dari jauh hari karena khawatir bangkrut dan segudang ketakutan dari resiko lain. 

Orang-orang tersebut tidak terlahir untuk menjadi individualis, mereka peka terhadap permasalahan di sekitarnya dan berusaha melakukan yang terbaik tanpa sebuah perhitungan keuntungan pribadi yang rumit. Mereka menikmati perjuangannya, mensyukuri ketidaknormalan kondisi yang dialami, mencari-cari masalah, dan berusaha melakukan perubahan yang terbaik, itu saja !

Pendidikan dan Pemimpin Sintetis

Pada akhirnya sayapun tergelitik dengan jalan pikiran saya sendiri. Lalu bagaimana dengan saya hari ini ? bisa dibilang saya hidup dalam kondisi yang nyaman dan tidak mengalami kondisi sulit yang seekstrim mereka ? --atau bisa jadi karena ketidakpekaan saya menangkap masalah-- karena diakui atau tidak, ketidak adaan tekanan tersebut seringkali membuat kita terdiam di zona nyaman dan tidak berbuat apa-apa.

Biar bagaimanapun alam mendidik dengan baik dan begitu alami. Namun seiring dengan perkembangan zaman, manusia mencoba merubah proses tersebut menjadi produk sintesis bernama kurikulum, merekayasa sebuah kondisi dimana seseorang bisa belajar dengan baik, mendekati kondisi sempurna yag disediakan langsung oleh alam.

Pada akhirnya sekolah-sekolah bersaing membuat sebuah kurikulum unggul, organisasi-oraganisasi hadir dengan tawaran proses pengembangan diri yang beragam guna mendidik sekelompok pemimpin bagi masa depan. Bukan pemimpin formal yang hanya duduk pada kursi pemerintahan, bukan pemimpin dalam wujud kata benda, namun lebih pada pemimpin dalam wujud kata sifat yang dimiliki oleh siapa saja; dokter, guru, arsitek, dll. Sehingga pemimpin tersebut mampu menghadirkan solusi bagi permasalahan zamannya melalui kepakaran masing-masing.

Pola Pendidikan Indonesian Future Leaders dan Beberapa Organisasi Lain

Kembali melihat pada masa lalu, dimana saya pernah belajar di beberapa tempat yang berbeda, baik sekolah, pondok pesantren, komunitas, organisasi, dll, ada satu tempat dimana saya merasakan sebuah proses pendekatan yang sedikit berbeda dalam mendidik saya menjadi seorang pemimpin. Tempat ini juga mengemas sebuah workshop pembelajaran dengan sederhana sehingga saya mudah memahami.

Tempat itu adalah Indonesian Future Leaders, dimana saya bergabung pada tahun 2013, yakni saat saya menjadi pendiri di salah satu chapternya. Disini, jauh sebelum saya berdiskusi tentang teori kepemimpinan atau contoh pemimpin ideal saya justru dihadirkan pada sebuah workshop online via youtube yang mengajak kita untuk keluar dan menganalisa permasalahan apa yang ada di sekitar kita, dimana selanjutnya kita diarahkan untuk membuat sebuah proyek sosial yang mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Proses tersebut dimaksudkan untuk mengasah kepekaan, dan selanjutnya secara tidak sengaja, dengan sendirinya saya belajar mengatur tim, memaksimalkan sumber daya yang ada, juga memaknai ketulusan melalui konsep kesukarelawanan di setiap proyek sosialnya.

Sebuah proses sintesis yang mendekati alami sepanjang perjalanan saya belajar kepemimpinan di berbagai organisasi. Walau saya akui ada beberapa organisasi yang juga berbicara keresahan masyarakat, namun ia masih banyak berwacana pada sebuah ruang definisi yang abstrak dan cenderung sulit diterjemahkan oleh anggotanya –atau bisa jadi saya yang gagal paham--.

Lalu mana yang lebih unggul dari keduanya ? saya tidak bisa memutuskan, Indonesian Future Leaders memiliki kurikulum dengan pendekatan yang lebih alami, namun jika individu tidak terpancing untuk berfikir dan mencari lebih dalam bisa jadi mereka tidak akan sampai pada sebuah nilai yang berusaha disampaikan. Sebaliknya, organisasi yang memulai pendekatan dari lokus teori dan memancing keresahan bisa jadi hanya melahirkan sosok yang pandai berwacana melangit dan sulit menterjemahkan ide ke bumi.


Pada akhirnya keputusan untuk belajar secara utuh dan mengikuti sebuah proses hingga selesai menjadi pilihan yang paling penting ketika kita belajar, dimanapun itu.  Tidak perlu bingung untuk memilih belajar dimana, tapi belajarlah dengan baik. Karena sejarah di zaman manapun tidak pernanh mencatat orang yang setengah-setengah, dan sekali lagi, semua ini hanyalah sebuah perenungan dari pemikiran premature saya pribadi, mohon ma’af atas warna-warni keluguan disetiap detilnya.


Sabtu, 21 Desember 2013

doc : kaskus.co.id


Perhelatan bulan Desember tidak lepas dari pemaknaan sebuah hari dengan angka kembar "22" sebagai simbolitas sehari akan keagungan jasa kaum hawa sebagai pahlawan rumah tangga yang tidak memiliki bintang jasa, bukan karena tidak bernilai, tapi tak ternilai !

Peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini banyak membuat saya merenung dan bertransformasi kedalam sebuah pola pikir yang baru akan pemaknaan kehadiran seorang ibu dalam hidup seseorang. Mulai dari kenal dengan sosok ibu Septipeni dengan gagasan homeschooling dan ibu profesionalnya hingga pengalaman pribadi yang terjadi di lingkungan keluarga. 

Mimpi Jangka Pendek vs Mimpi Jangka Panjang

Sekilas kita akan berfikir bahwa duduk menjadi seorang wakil rakyat di parlemen, atau menggerakkan sebuah komunitas sosial adalah sebuah pekerjaan yang berdampak besar bagi lingkungan sekitar, sehingga wajar jika banyak dari kaum hawa mengejar untuk berkarya sebaik-baiknya. Bahkan mungkin sebagian dari mereka merasa tidak menikmati masa-masa merawat bayi yang melelahkan, atau tak banyak dari mereka yang berani menggadaikan sebuah mimpi pribadi dengan aktivitas ini.

Dalam sebuah ritme zaman yang terus berputar, dunia memerlukan generasi penerus guna menjaga dan merawat kesetabilan kondisi. Sekilas, peran seorang ibu tidak lebih dari seorang perempuan yang tinggal dirumah, mengisi kolom pekerjaan di beberapa biodata dengan sebuatan "ibu rumah tangga" untuk menutupi betapa peganggurannya mereka, dll.

Percayalaah, menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang jauh lebih abadi dari hal-hal besar yang kita pandang sekarang. Kaki-kaki kecil yang tidak henti membuat keributan, ataupun celoteh-celoteh yang akan menghiasi hari, itu milik seseorang yang akan menjadi penerus zaman, ketika kita mampu mengambil peran ini dengan sebaik-baiknya maka di tangan kitalah masa depan dunia. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan "mendidik satu orang laki-laki adalah untuk satu orang tersebut, namun mendidik satu orang perempuan sama saja dengan mendidik satu negara"

Ibulah Menteri Pendidikannya !

Kala waktu itu memanggil, saat itulah peran ideologis seorang ibu dimulai. Kapan kiranya kita memulai ? bukan berawal dari waktu dimana bayi itu lahir, namun dari saat kita benar-benar menyadari bahwa kita ini akan menjadi seorang ibu maka sesungguhnya saat itulah kesadaran akan sebuah pendidikan pranatal (baca:pendidikan anak sebelum dilahirkan) dimulai. 

Setiap perempuan menyadari bahwa dalam perkembangan buah hati merekalah ideolognya, bukan Muhammad Nuh atau siapapun. Kesadaran untuk memperbaiki diri hingga bayi lahir dan ia memulai menjadi menjalani hari sebagai pendidik terbaik yang lebih paripurna dari guru terbaik dari sekolah terbaik sekalipun. Memulai dengan mengajarkan mengeja kata, menanamkan sifat-sifat sederhana hingga menentukan kesiapan mereka menghadapi kehidupan. Ibu berkuasa penuh dalam mengawal penemuan jati diri seorang manusia hingga ia berkarya di dunia yang Global.

Memasak itu... Isu Keamanan Paling Sederhana 

Dalam dunia 'defens strategi' manusia mengolah banyak hal agar manusia dapat tumbuh dibawah naungan kesejahteraan dan kedamaian. Berbagai upaya tidak hanya ditempuh melalui perang ataupun perjanjian damai, namun bisa melalui berbagai program seperti olahraga, seni-budaya, penanaman nilai-nilai bagi para public opinion, dan sebagainya.

Tumbuh kembang seorang anak tidak hanya memperhatikan pola pikir dan mentalnya saja, namun juga pertumbuhan fisik, oleh karena itu asupan gizi dan menjamin masuknya makanan baik ke dalam perut anak-anak juga memberikan peluang masa depan yang lebih gemilang, dengan tubuh sehat maka mimpi besar generasi penerus ini untuk kehidupan dunia yang lebih baik juga lebih mudah terwujud.

Sederhana memang, namun memiliki dampak yang lebih besar, sebuah apresiasi besar harus kita berikan kepada para ibu yang menyiapkan bahan makanan dan mengolahnya dengan baik setiap hari demi panglima-panglima kecil mereka, sederhana memang, kita bisa saja beli atau memasak makanan instan dengan alasan hemat waktu, namun tanpa ia sadari mereka sedang menuju ke kerugian yang lebih besar. 

Tentang Isu Kaum Feminis

Dewasa ini kaum feminis menyuarakan hak antara kaum adam dan hawa. Setali tiga uang dengan pernyataan bahwa adil itu tidaklah harus sama, begitu juga persamaan hak, laki-laki dan perempuan memilik peran besarnya masing-masing dan keduanya sudah disiapkan demi dunia yang lebih seimbang.

Keberadaan isu tersebut membuat perempuan berlomba-lomba merebut karier mereka dan sedikit menomonr duakan rumah. Sedikit memang, mereka menyewa babysitter, menitipkan anak ke playgroup, memiliki pembantu yang bisa mmemasak, dll. Tapi ingatlah saudaraku, value menjadi seorang ibu tidak sebatas aktivitas-aktivitas itu, jauh lebih besar dan hanya bisa dirasakan ketika kita menikmatinya dan dengan sepenuh hati menjalani peran kita sebagai perempuan.

Lihatlah hari ini, anak-anak bebas berkeliaran jajan disana dan disini, mengkonsumsi zat aditif yang mengganggu pertumbuhan dan membahayakan tubuh, sebagian dari mereka menuntut kasih sayang dan terjerumus ke dalam dunia narkoba, seks bebas, tentu ! keseimbangan ini terus terganggu dan semakin rusak. Ibu-ibu mereka pasrah begitu saja dengan kurikulum sekolah, padahal tidak lain semua kurikulum itu mempersiapkan kita menjadi kuli-kuli terdidik bukan manusia yang sesungguhnya. 

Akhir kata, adil tidak harus sama, kerja besar tidak harus rumit, dan keseimbangan dunia sudah diatur dengan sedemikian baik oleh yang menciptakan, mari kita syukuri dan mulai menyadari sebuah peran besar yang ditakdirkan, perbaiki diri dan mulai ambil bagian. Selamat Hari Ibu !


Selasa, 05 November 2013



Masih terngiang di ingatan ketika awal menjadi mahasiswa baru dan mengikuti acara keakraban yang diadakan oleh prodi masing-masing, saat itulah saya mengenal sosok bernama Aditya Prasetya. Beliau menjadi MC di acara tersebut dan berkali-kali saya tarik nafas karena gaya bicaranya yang sedikit tersengal-sengal. Saya ingat betul memenangkan door prize dari beliau karena menjawab pertanyaan terkait undang-undang sisdiknas, UU No.20 tahun 2003.

Ada beberapa cerita bersamanya, ketika pertama kali saya mengenal dunia aktivisme, ya beliaulah kepala departemen saya kala itu. Setelah itu saya sempat menggantikan Indah untuk melanjutkan amanah beliau di DPM. Layaknya manusia biasa, saya juga sering adu pendapat, pernah ketika di DPM beliau bilang “kamu cuma boleh ngeyel gini sama kak adit aja lho yaaa…”. Layaknya seorang teman yang tak sempurna, saya juga pernah bilang beliau gak gentle ketika lari dari pencalonan ketua suatu organisasi, dan yang paling lekat dalam ingatan, saat saya mengikuti program Parlemen Muda beliau sms dan setengah menggunakan nada yang menyebalkan menyuruh saya pulang keesokan harinya tanpa ia mau tau karena harus menghadiri musyawarah suatu organisasi. Kesal sungguh rasanya saat itu, apalagi saya sudah mendapat  tiket gratis untuk hadir di suatu acara yang akan dihadiri oleh banyak pembaharu social. Malam-malam saya harus telfon maskapai untuk tuker tiket pesawat dan pagi-pagi buta harus bertolak ke bandara.

Dibalik itu semua, layaknya seorang teman, ada kisah-kisah menyenangkan yang mengundang gelak tawa, seperti saat aksi di bunderan gajah dan harus kejar-kejaran sama polisi, Kak Adit lebih milih nunggu berpanas-panasan di bunderan gajah dari pada harus adu balap sama polisi yang dendam sama kita. Alhasil itu polisi nyerah, salaman, dan sholat bersama, dan kala itu dengan sabarnya beliau menanggapi keluahan saya yang motornya paling pertama kena angkut pak pol.

Dilain pihak, beliau itu selalu berkata “kongkretnya begini dahhh…….” Dan bla… bla… bla… masih panjang juga cerita. Begitu juga sepanjang perjalanan organisasi yang diisi oleh banyak kepala. Walau di dalamnya ada begitu banyak kubu, dan beliau mungkin sudah memihak salah satu, namun selalu bisa tampil netral di hadapan kami, para stafnya. Pernah juga ketika kami ribut antara “Gilas” atau “Galaksi” untuk membuat sayap gerakan anti korupsi, beliau dengan tiba-tiba hadir dengan nama “Batik” alias barisan anti korupsi.

Hingga saatnya diumumkannya beliau menjadi bagian dari pengajar muda, senang sekali rasanya, orang yang gubrek-gubrek saya untuk pulang Parlemen Muda cepet-cepet gabung di jenis gerakan yang sama. Semoga kedepannya ada persamaan sudut pandang dalam melihat perubahan dan menghentikan berbagai macam selisih pendapat kala itu. Beliau sempat berkata akan belajar banyak, berdiskusi banyak dengan berbagai background pemuda, dan pulang ke Lampung dengan langkah baru untuk pendidikan.

Saat itu beliau juga ngeyel akan mengganti flashdisk saya yang dihilangkan, dan saya bilang, lupakan, saya juga sudah lupa. Saya tidak pernah membayangkan kalau beliau tidak pernah kembali. Hari-hari saya berlalu begitu saja, dengan ide-ide baru bersama teman-teman, seperti kelas inspirasi bareng Desi, atau bedah kampus bareng temen-temen KKN, atau juga perpustakaan untuk kaum marginal bareng Mb Diana.

Hari ini kabar itu datang, teman, kakak, mentor, senior, kakak tingkat, sekaligus saudara seiman saya ini sudah lebih dulu dipanggil olehNya…

 Ya, hitungan usia @aditya1P bisa pendek, tapi makna kehadirannya amat panjang . . ..

Ia berjuang bawa keikhlasan dan kemulian. Berpulang saat dlm pejuangan, insyaAllah disisi-Nya ia menempati derajat yg mulia dan abadi bersama para syuhada.

Ungkap pak anies baswedan di twitternya.

Lama saya memandangi akun facebook dan ungkapan bela sungkawa terus berdatangan. Hingga ada salah seorang senior di fisika yang update penggalan percakapan beliau dengan kak adit. Bergetar hati saya, membaca salah satu cita-cita besar beliau adalah sebuah gerakan sejenis kelas inspirasi.

Sejenak semangat saya membara, hati saya kehilangan, jiwa berdo’a pada yang Kuasa. Namun biar raga ini berjuang dan bergerak jika ia mampu mmelaksanakannya nanti, namun aku tak berjanji untuk itu. Yang aku tau hari ini, engkau hadir dalam kesederhanaan, menjalani proses sebagai manusia biasa, dan meninggalkan value yang mendalam di akhir hayat…

Optimislah Indonesia,.Karena Kaum Muda dalam usia produktif lebih banyak memilih pekerjaan karena aktualisasi diri (bkn hanya skdr PNS)..  ungkapnya di salah satu status terakhirnya…


Selamat jalan kak Adit… semoga semangat, optimisme, dan ketulusan ini meradiasi ke generasi muda yang lain. Ya Rabb… lapangkanlah kuburnya, ringankan siksanya, aku bersaksi bahwa ia orang yang beriman kepadaMu… jadikanlah pahala perjuangan ini menjadi pahala jihad baginya yang mengantarkan pada syahid… awal dulu aku mengenalmu karena UU sisdiknas No.20 tahun 2003 dan kini aku menyaksikanmu mengakhiri hidup untuk perbaikan pendidikan dalam pengabdian di bumi timur sana. Mohon ma’af atas segala khilaf yang membara dari jiwa muda yang meledak-ledak ini dan terima kasih banyak atas value value yang telah ditinggalkkan dalam perjalanan menjadi khalifah Allah, semoga kelak kita berjumpa lagi di jannahNya… Selamat jalan kawand… 

Rabu, 18 September 2013


Namanya Ibu Mety, waka kurikulum di tempat saya KKN. Sedikit saya tahu latar belakang beliau, namun ketika ingin mengenal lebih jauh ada saja halangannya, ketika saya hendak bertandang ke rumahnya, beliau masih di luar kota, selanjutnya kami sibuk dengan urusan masing-masing.

Saya sempat khawatir ketika berkomunikasi dengan beliau, terkadang pembawaan tegas itu sedikit bergeser kearah kaku. Terlebih ketika kami meminta libur lebih dulu dari waktu sekolah, hingga pada akhirnya saya melobi langsung kepada Kepala Sekolah.

Akhirnya kedekatan diantara kami terbangun ketika persiapan bedah kampus, beliau menjadi teman sharing dan penghubung terhadap sekolah, sampai pagi-pagi beliau saya repotkan dengan telfon saya yang meminta buru-buru untuk segera ke sekolah karena bapak Kepala Sekolah tidak ada.

Satu kata yang saya ingat dari beliau adalah, ketika menyarankan kami untuk fokus pada anak-anaknya saja dulu, baru ke orang tua, karena beliau khawatir kami kecewa melihat respon orang tua, “kalau kami sie sudah biasa ujarnya”. Tak sedikitpun ada raut muka jengkel dari wajah beliau.

Tak lama dari itu, saya mendengar kisah beliau dari Bu Dwi (guru matematika), bahwa suaminya seorang pelaut, beliau disini sendiri bersama anaknya yang masih kecil, dulu suatu hari beliau pernah terlibat konflik dengan beberapa oknum, disaat yang sama beliau juga keguguran, sesaat terbayang ketegaran seorang wanita. Selesai bercerita tentang Ibu Mety, saya dan Bu Dwi berbincang tentang bapak kepala sekolah yang memilih untuk kembali menjadi guru ketimbang menjadi kepala sekolah disana. Hmmm... yah inilah realitas, ada yang memilih untuk mengurai benang kusut, dan ada yang memilih untuk damai.

Malam itu malam terakhir kami di Toto Mulyo, kami bertandang ke rumah beberapa pamong desa, tangis saya tak bisa di bendung ketika memasuki rumah Pak Sekertaris Desa yang begitu banyak membantu dan menjadi bapak untuk kami bersebelas. Selanjutnya berlanjut ke rumah Ibu Ririn, dari sana saya terfikir untuk ke rumah Ibu Mety, namun saya khawatir ketika hendak mengajak teman-teman kesana karena kami lupa menyiapkan bingkisan untuk Bu Mety. Hingga pada akhirnya Bu Ririn menyarankan juga kami untuk kesana, setelah perdebatan ndak apa-apa ndak bawa buah tangan kami berangkat, saya yakin tidak apa-apa, karena Bu Mety cukup tangguh dan idealis dimata saya.

Kesan pertama ketika kami memasuki rumahnya terasa sepi, tertangkap mata bocah kecil berusia 2 tahunan dengan senyum manis. Luar biasa perempuan tegar ini. Memandangnya menyambut kami, mengakrabkan kami dengan anak semata wayangnya, mendengar wejangannya “guru itu bukan sekedar profesi yang merindukan gaji, namun membutuhkan dedikasi, kalau hanya berharap gaji, cari saja pekerjaan lain, karena tanpa dedikasi semuanya akan berat, apalagi untuk seorang perempuan, yang ditempatkan di daerah, timbang dulu benar-benar. Saya rasa tujuan kampus menempatkan KKN disini adalah untuk mengasah dedikasi, seperti Indonesia Mengajar yang ditempatkan di pelosok”.

Sesaat saya menunduk dan pura-pura baik-baik saja, mengingat segala hal tentang Bu Mety, saya menangis 
kala itu dirumahnya. Subhanallah... masih ada manusia seperti ini, harus bertahan hidup berteman bayinya di daerah baru, menghadapi konflik sosial, dan tetap ikhlas dan damai menjalani segala sesuai, gerak yang ligat, wajah yang ceria, seolah menutupi semuanya.

Makin kagum saya ketika mendengar cerita Mb Riza, salah seorang teman saya yang di pamongi oleh beliau. Saya dikasih uang sama Bu Mety, karena kata Bu Mety saya yang ngajar 2 bulan ini. Luar biasaaaa...! disaat guru lain menarik keuntungan dengan adanya anak KKN, beliau mengerti apa yang harus pada porsinya.

Bu Mety menjadi pelajaran berharga, hingga ketika sampai di Bandar Lampung saya sempatkan memberi kabar kepada beliau “Alhamdulillah sudah sampai di Bandar Lampung”. Dan beliau membalas “teruslah berkreatifitas dan ikhlas dalam menjalani semuanya...” Jleb... semoga segala apa yang Ibu kerjakan hari ini mampu menjadi amal jariyah yang menjadi pemberat timbangan menuju jannahNya. Dan semoga ada orang-orang yang memiliki kapasitas untuk memperjuangkan beliau dibukakan hatinya. Sungguh engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa.

Selasa, 17 September 2013


Awalnya, kegiatan KKN KT terasa membosankan, apalagi saya sedang memegang beberapa project sosial yang menuntut saya wara wiri Lampung-Jakarta. Diharuskan tinggal di pedalaman Lampung, dengan akses internet yang lelet, juga sinyal telfon yang putus nyambung membuat saya merasa terkurung dan tak bisa apa-apa.

Senin itu kala pertama kami ke sekolah, SMA Negeri 1 Gunung Terang namanya, gedungnya ala kadar, bangku jauh dari standar, buku minim, bahkan sering saya jumpai sapi atau kerbau berkeliaran di halaman sekolah. Dipagi hari murid-murid datang dengan seragam yang beragam dan tidak teratur. Wajah-wajahnyapun terkesan norak dengan gaya poni lempar, rok wiru-wiru, dan seragam yang sesungguhnya tak seragam.

Selanjutnya menginjak episode pesantren kilat, seorang guru agama berkata kepada kami, anak-anak disini susah dididik, dikerasin aja, sekali kamu gagal masuk ke ruang kelas, sudah belakangnya wassalam.
Hmmmm... sejenak terbayang wajah adik-adik di pesisir dengan gaya unik ala anak laut yang dididik langsung oleh ombak, akankah mereka adalah pribadi yang lebih unik dari itu ??? Ha ha ha... bisa jadi, atau mungkin seperti adik-adik dibawah Ramayana yang sampai sekarang aku masih bingung bagaimana akan mendidiknya.

Perlahan kuperhatikan mereka satu per satu, ah’ tak mungkin anak-anak ini ndak memiliki celah psikologis. Hari-hari selanjutnya dilanjutkan oleh agenda pesantren kilat, saya dan tim mencoba memberikan yang terbaik dalam keterbatasan kami. Dihari terakhir kami melakukan renungan, dan diluar dugaan, adik-adik ini menangis meraung-raung bahkan sulit untuk diajak kembali tertawa. Dari episode ini saya menangkap satu hal, mereka adalah anak-anak yang di didik oleh alam dengan keras. Ada yang ibunya mati bunuh diri, ditinggal ke arab, harus membiayai adik-adiknya, disekolahkan oleh orang dan terancam putus, ditengah semua perjuangan itu mereka harus nderes karet dini hari hingga pagi baru setelahnya berangkat sekolah.


Memasuki masa-masa mengajar, menjadi tantangan psikologis sendiri untuk saya, pertama karena mengajar bahasa sembari memenuhi tuntutan kurikulum yang tidak sesuai dengan sistim eveluasinya (baca : Ujian Nasional). Kali pertama saya bertanya, “what will u do in the future ?” sebuah jawaban yang membuat hati saya seperti disayat sembilu adalah “nderes karet miss”, “kerja keluar kota miss” “udah lah miss, kami ini ujung-ujungnya ya jadi pendekar (baca : penderes karet) !”. Yang pada akhirnya saya bertanya, untuk apa saya mengajarkan bahasa asing kalau pada akhirnya itu tidak koheren dengan visi hidup mereka. Karena belajar bahasa inggris bukanlah perkara grammar atau kosa kata, namun perkara persaingan global. Tidak hanya berfikir menjadi pendekar, namun bagaimana dengan keilmuan perkebunan karet itu bisa diolah secara mandiri.

Mau tidak mau harus ada yang mengalah dan berubah, entah itu saya atau mereka. Beberapa pertemuan sengaja saya korbankan hanya sekedar menghadirkan sebuah inspirasi di ruang kelas. Namun luar biasa, bahkan ada yang benar-benar cuek untuk sekolah, sampai-sampai ia kehilangan buku pelajaran setiap hari. Ha ha ha ha... biarlah berjalan apa adanya. Untuk mereka bisa sampai ke sekolah saja sudah luar biasa,dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak memberikan penilaian di bawah very good walaupun mereka hanya menulis dua kata. Pernah satu kali saya ujian, namun hanya untuk membentuk karakter mereka tanpa saya ambil nilai kognitif. Saya hanya ingin menyadarkan, bahwa mencontek itu hanya bentuk ketakuatan yang tidak mendasar, toh minimal nilai mereka adalah very good.

Pernah suatu hari, saya ajak mereka merenung akan banyaknya waktu dan biaya yang sudah dikeluarkan dan keahlian yang didapatkan. Apa kiranya yang bisa diaplikasikan di dalam kehidupan ? dan merubah kondisi sosial? hingga tiba kesimpulan bahwa sepanjang 1 tahun, mereka mengeluarkan biaya sebesar 5 juta, dan paling banter beberapa anak saja yang bisa bicara dalam bahasa inggris selama 30 detik tanpa putus.

Saya sadar betul ada beberapa orang yang harus respect dengan kondisi ini, yakni kakak-kakak Indonesia Mengajar yang dikirim dari Jakarta untuk hal-hal seperti ini. Dua kali kami rapat dan berencana mengenalkan dunia kampus kepada mereka, namun apa daya mereka ada keperluan yang lebih urgent untuk meningkatkan kapasitas guru. Akhirnya, setelah mencari pengganti sana sini, saya mendapat bantuan dari dua orang teman, Desi dan Priska yang dedikasinya luar biasa. Jauh-jauh dari Bandar Lampung, menyempatkan diri diantara pekerjaan dan kuliah mereka hadir diantara adik-adik. Thanks IFL Lampung...

Waktu pulang semakin dekat, bahkan di detik-detik terakhir saya hampir menangis rasanya, karena saya seperti tak merubah apapun. Dari sikap, karakter, kemampuan. Yasudahlah, i will give what can i give seraya saya memandang balik pada diri saya, “bodoh sekali kamu...”. Bahkan diulangan terakhir beberapa siswa masih mencomtek, saya benar-benar hampir habis akal. Berhubung saya kesal, mereka-mereka yang masih saja nyontek dan memberikan contekan saya tarik kertas ujiannya. Setelah ujian selesai saya evaluasi dan saya benar-benar bilang “respect to your self” “no one will believe you, if you are not belive on your self” setelah saya tanya apa perasaan mereka dan ternyata ada yang menjawab jengkel, kesel, nyesel, dll.

Mungkin jika mereka ndak mendapat sesuatu dari saya, saya yang akan mendapat sesuatu dari mereka. This is the real school, dari yang selama ini hanya hidup di bayangan saya. Ketika saya dan teman-teman membahas usulan kebijakan untuk kementrian pendidikan, sekolah seperti ini hanya ada di angan-angan kami, namun ini nyata di depan mata. Sayapun mengucapkan rasa terimakasih yang mendalam atas semua pembelajaran ini. Satu oleh-oleh yang saya tinggalkan, yakni program bedah kampus yang akan terus di follow up. Semoga dengan adanya kakak asuh, masih ada kesempatan untuk mengajak mereka melihat dunia.

Sayapun pamitan saat itu, karena saya fikir itulah terakhir kali saya masuk kelas. Namun ternyata saya salah, esoknya saya masih ada jam mengajar 1 jam. Akhirnya saya kembali masuk dan suasananya sudah jauh berbeda, kita sharing, beberapa diantara mereka bertanya terkait program bedah kampus, hingga sharingpun meningkat sampai pada pertanyaan apa yang membuat mereka putus asa, kontan 80% dari isi kelas menangis. Akhirnya saya mengerti akan apa yang selama ini terjadi, sayapun meneteskan air mata dan saya tahan sekuat tenaga dan kembali memberi harapan kepada mereka, entah pada akhirnya itu palsu atau gimana, i will do my best.

Spons otak saya segera mengeneralisasi, mungkin banyak anak-anak Indonesia yang seperti ini, ternyata akses pendidikan tinggi itu benar-benar sulit, ternyata banyak anak negeri yang bimbang akan masa depannya, siapa yang peduli ? saya keluar kelas dengan hampa. Bingung harus berekspresi bagaimana, terngiang wajah mereka satu per satu dengan background masalah masing-masing. Anak-anak yang seharusnya tumbuh kembang dengan baik, sudah terbebani dengan masalah sosial yang tidak ringan. Namun saya sedikit bahagia, setidaknya mereka terbuka dengan saya.


Hari temu pamit itu tiba, sekedar salam-salaman, beberapa siswa menyampaikan kesannya, dan tibalah perwakilan dari kelas yang saya ajar. “terima kasih untuk kakak-kakak yang sudah membuat kami kembali memiliki mimpi, yang pada awalnya kami ndak tau akan kemana, kelas kami yang di cap sebagai kelas yang nakal, kini kami menjadi kelas yang “nakal bermerek”, tunggu kami, kami pasti akan kesana, sekeras apapun perjuangan didepan”  nyesss..... ternyata apa yang saya ubrek-ubrek selama ini sampai juga. Amazingnya mereka bisa menciptakan istilah “nakal bermerek”, inilah yang bisa kami hadirkan, bukan kemewahan, simbolitas acara yang besar, namun kami ingin merubah semangat, pola pikir, sudut pandang, mental, dan skill, karena kami adalah orang-orang yang sedang mulai belajar terkait dunia pendidikan. Terima kasih atas sebuah pengalaman yang begitu berharga ini “a life changing experience”.

Minggu, 19 Mei 2013


Pada Republika.co.id edisi 30 Maret 2013 diberitakan dari keseluruhan 2.379 desa yang ada di Lampung, 486 desa masih dalam kondisi tertinggal. Itu artinya sekitar 20% dari keseluruhan wilayah di Lampung masih membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak. Selain itu, berdasarkan indeks pembangunan ketenagakerjaan Provinsi Lampung Tahun 2011, jumlah penganggur terbuka adalah 239.980 orang dengan jumlah penganggur terbuka tamatan SD-SMTA mencapai 177.772 orang.

Data yang tersaji diatas bisa kita lihat melalui dua sudut pandang. Sudut pandang masalah dimana Provinsi Lampung memiliki 20% daerah tertinggal dan ribuan pengangguran, atau sudut pandang potensi dimana kita masih memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang belum dieksplorasi dengan baik. Perubahan sudut pandang tersebut memberikan pengaruh besar dalam desain program yang akan diimplementasikan di lapangan, yakni merubah obyek kemiskinan yang menunggu perhatian dari pemerintah menjadi subjek yang mampu merubah kondisinya sendiri.

Dalam hal ini, upaya percepatan pembangunan yang terbaik adalah dengan melibatkan banyak pihak. Sebagaimana percepatan pembangunan yang pernah dilakukan pada program Repelita I dan Repelita II pada era orde baru yang melibatkan pemerintah, militer dan masyarakat. Saat ini ada satu potensi yang bisa kita berdayakan dengan baik dengan memegang prinsip simbiosis mutualisme, yakni dunia pendidikan. Dunia pendidikan memiliki ribuan tenaga ahli dan ratusan ribu pelajar yang membutuhkan media belajar yang lebih riil, sementara di lain pihak masyarakat membutuhkan sentuhan tangan ahli. Sehingga dengan sebuah kebijakan yang tepat untuk keduanya akan melahirkan penyelesaian masalah yang murah dan berkelanjutan.

Mengembalikan Harapan Pendidikan

Semangat awal setiap orang tua mengirimkan putra-putri mereka ke sekolah adalah karena adanya
keinginan untuk merubah hidup. Perubahan yang diharapkan beragam, mulai dari yang tidak tau akan ilmu pengetahuan menjadi tau, dari yang tidak memiliki kemampuan melakukan sutu hal menjadi mampu, hingga dari yang tidak peka terhadap masalah menjadi peka, bisa menggunakan ilmu pengetahuan untuk menganalisanya, dan mampu menyelesaikannya dengan keahlian yang dimiliki. Ketiga hal tersebut dalam ilmu pendidikan biasa disebut dengan istilah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, setiap orang tua mengharapkan adanya upaya pembebasan dari masalah yang sedang mereka alami. Dari miskin menjadi sejahtera, dari bodoh menjadi pintar, dari lahan kosong menjadi lahan pertanian, dari seekor ayam menjadi peternakan,dll. Namun pada kenyataanya, banyak dari harapan itu harus kandas di tengah jalan, bahkan kelulusan anak-anak dari sekolah menjadi masalah baru yang harus dipecahkan. Pengangguran menjadi masalah baru yang pada  akhirnya membentuk opini masyarakat bahwa pendidikan itu tidak penting, toh yang sudah sekolah tinggi-tinggi pada akhirnya juga bingung pekerjaan.

Muatan Lokal Bisa Menjadi Penunjang

Kurikulum sekolah di Indonesia telah disiapkan untuk mengajarkan beberapa pelajaran tertentu seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan beberapa pelajaran lain yang sifatnya pokok. Namun, diluar itu ada suatu porsi yang dikembalikan pada kebijakan daerah yang disebut dengan muatan lokal. Penentuan pelajaran muatan lokal disesuaikan dengan keterbutuhan di setiap daerah, ada beberapa sekolah yang memberikan muatan lokal pertanian, seni budaya, elektro, atau bahasa asing, yang semua itu kembali disesuaikan dengan kearifan lokal daerah.

Menjawab permasalahan provinsi Lampung akan jumlah 20% desa tertinggal, tingginya angka pengangguran yang menantikan lapangan pekerjaan, dan banyaknya sumber daya alam yang belum dikelola dengan baik, muatan lokal kewirausahaan sosial mampu menjadi jawaban dengan merubah sudut pandang pelajar di sekolah dari obyek kemiskinan menjadi subyek kemiskinan.

Jawaban atas pertanyaan mengapa harus kewirausahaan sosial, bukan pertanian, elektro atau muatan lokal lain yang memberi ketrampilan khusus adalah karena kewirausahaan sosial mengajarkan kepada anak didik untuk menciptakan lapangan penkerjaan sekaligus menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi. Dilain pihak, mata pelajaran ini menumbuhkan rasa peka di hati para pelajar. Sebagai contoh, di daerah Pringsewu banyak ditemukan petani singkong yang hidup dibawah garis kemiskinan, maka melalui pelajaran kewirausahaan sosial, guru mengarahkan para siswa untuk membina para warga membuat kelanting, dikemas dengan baik, dan dipasarkan di kantin-kantin sekolah ataupun perkantoran dengan bekal ilmu ekonomi yang telah di dapat disekolah. 

Dari pelajaran ini siswa diajarkan beberapa hal, pertama siswa diajarkan untuk peka dengan kondisi sosial yang ada disekitarnya, kedua siswa memiliki laboratorium langsung untuk mengaplikasikan ilmu yang di dapat dari sekolah, ketiga siswa mendapat wadah internalisasi minat, bakat, dan hobi, dan keempat siswa memiliki keahlian softskill untuk berwirausaha, sehingga ketika ia tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, para pelajar ini sudah memiliki ketrampilan untuk survive di dalam kehidupan.

Membangun Dari Sekolah


Sekolah dengan ribuan tenaga pendidik dan jutaan anak muda bisa menjadi suatu aset besar di dalam perubahan, untuk itu pemerintah hanya perlu menentukan sebuah kebijakan strategis yang mudah dilaksanakan dan memberikan dampak perubahan besar. Pertama, sebut saja jumlah SMA yang ada di Lampung, terdapat lebih dari 494 SMA dengan 88.981 siswa/tahun. Jumlah ini dapat memberikan dampak yang besar dalam mengurangi pengangguran seandainya saja satu orang dapat menolong tiga orang lainnya yang tidak memiliki pekerjaan di Lampung.

Kedua, anak muda cenderung responsif terhadap perkembangan, dalam artian mereka memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara-cara kontemporer yang kreatif dan relatif lebih fresh. Golongan anak muda ini mampu diarahkan untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan hobi, minat, bakat, dan keilmuan yang telah mereka miliki.

Ketiga, anak muda merupakan kelompok rentan yang harus mendapatkan penyikapan dengan baik. Puluhan ribu anak SMA ini akan menjadi calon pengangguran baru setelah lulus jika tidak dipersiapkan dengan baik. Namun, jika sekelompok anak muda ini mampu kita rubah posisinya dari objek menjadi objek, maka secara tidak langsung kita telah menyelamatkan mereka dari ancaman pengangguran sekaligus menyelesaikan maslaah pengangguran yang sudah ada.

Keempat, anak muda merupakan future generation yang akan menggantikan generasi tua di masa datang. Sudah saatnya anak muda ini dibekali dengan kemampuan yang mumpuni dan kepekaan sosial yang tinggi, sehingga kehidupan di masa mendatang menjadi kehidupan yang jauh lebih ramah dan bersahabat bagi semua orang dibanding hari ini.

Kelima, kewirausahaan merupakan muatan lokal yang mudah diajarkan, karena para guru hanya perlu memandu siswa untuk mengenal dirinya, mengenal lingkungan, mengenal pola kewirausahaan sosial, merancang ide kreatif, dan pendampingan implementasi. Materi kewirausahaan sosial cenderung lebih aplikatif dan sederhana, tidak sekomplek seperti mengajar elektro, pertanian, atau seni budaya, namun lebih seperti training capacity building dan pendampingan implementasi.

Sebuah ide pembangunan untuk pengentasan kemiskinan di Lampung tidak harus selalu dimulai dari infrastruktur, mengundang investor asing, dan membangun pabrik-pabrik besar yang bisa mengolah sumber daya alam sekaligus menyerap ribuan tenaga kerja. Ide pembangunan bisa dimulai dari bangku sekolah, dengan memanfaatkan sumber daya terdidik. Terlebih lagi, produk yang dihasilkan dari program ini adalah usaha mikro dimana kita sama-sama tau bahwa sektor mikro memiliki ketahanan terhadap krisis dengan lebih baik. Namun, yang paling utama dan mendasar adalah kita mampu mencegah lahirnya calon-calon pengangguran baru sekaligus menyelesaikan masalah pengangguran yang terimplikasi pada kemiskinan dan lambatnya pembangunan 20% desa tertinggal di Lampung.



Pendidikan adalah salah satu proses yang paling mendasar dalam kehidupan manusia. Pendidikan memberikan kemampuan dasar untuk mampu mengembangkan diri dan mengejar kehidupan yang lebih baik. Pendidikan juga berperan dalam pembentukan struktur perilaku dan pemikiran seseorang. Oleh sebab itu, tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan adalah kunci menuju pertumbuhan nasional dan keberlanjutan masa depan. Tanpa warga negara yang berpendidikan baik, negara akan menghadapi kesulitan di berbagai aspek kehidupan.

Sektor pendidikan mengalami beberapa perkembangan dalam satu tahun terkahir, diantaranya pembebasan uang pangkal perguruan tinggi, peningkatan anggaran pendidikan hingga 20% baik dari APBN maupun APBD hingga peluncuran program bidik misi bagi sebagian mahasiswa baru. Perbaikan ini menunjukkan bahwa secara perlahan pemerintah semakin memperluas akses pendidikan kepada seluruh lapisan masyarakat sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa.
Dalam rangka usaha menuju perbaikan pendidikan yang lebih menyeluruh, sekiranya kita juga mampu memberikan evaluasi program selama satu tahun terakhir yang perlu diperbaiki guna mendapatkan suatu sistim pendidikan terbaik, diantaranya :

Anggaran 20 % dan Upaya Pemberantasan Korupsi Pendidikan

Komitmen negara dalam menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh warga negara terlihat dari keseriusannya menganggarkan APBN dan APBD untuk pendidikan, melalui pendanaan yang serius akses pendidikan untuk semua warga negara akan semakin baik. Fasilitas yang memadai, pembangunan sekolah hingga ke pelosok, pemerataan guru, hingga murahnya biaya pendidikan semakin memudahkan akses pendidikan bagi rakyat kecil di Indonesia. Satu hal yang perlu di garis bawahi adalah ketegasan Mahkamah Konstitusi dalam mengawal anggaran pendidikan 20% di berbagai daerah, karena itu semua adalah amanat dari konstitusi sehingga daerah yang belum menganggarkan anggaran pendidikan paling minimal 20% perlu mendapatkan tindak lanjut.

Terkait dari besarnya anggaran yang sudah diusahakan oleh pemerintah, upaya pemberantasan korupsi di bidang pendidikan perlu mendapatkan perhatian khusus. Penyaluaran dana BOS, pemenangan tender proyek yang ditengarai sebagai sebab huru-hara pada pelaksanaan UN,  penyaluaran beasiswa, dana pembangunan infrastruktur seperti gedung sekolah, rumah sakit pendidikan, dll perlu mendapatkan pengawalan yang ketat guna menghindari penyelewengan besar-besaran, karena pada akhirnya sebesar apapun dana yang dianggarkan tidak akan berpengaruh selama korupsi di bidang pendidikan masih dibiarkan.

Peninjauan Kembali UU PT

Paska disahkannya UU PT pada 13 Juli 2013 lalu, setidaknya ada dua poin utama yang perlu dievaluasi, yakni otomisasi keuangan dan internasionalisasi. Dimana dua garis besar penolakan tersebut dikhawatirkan dapat menyebabkan beberapa hal. Pertama, melambungnya biaya pendidikan tinggi yang harus ditanggung masyarakat karena otonomi yang kebablasan dan lepasnya tanggung jawab pemerintah. Kedua, Perguruan tinggi tidak hanya berfokus mencerdaskan anak bangsa, tetapi juga mencari uang untuk memenuhi kebutuhan biaya operasionalnya. Ketiga, pendidikan hanya diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar akan kuli terdidik. Keempat, perguruan Tinggi Asing akan berdiri di Indonesia dan mengancam nilai-nilai ke-Indonesiaan

Evaluasi Kurikulum 2013

Belum genap 10 tahun Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK/2004) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP/2006) diterapkan, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuat kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum 2013. Sejak 29 November 2012 lalu Kemendikbud telah mengumumkan draft resmi Kurikulum 2013.
   
Kemendikbud menjelaskan bahwa kurikulum 2013 ini menjawab permasalahan atas KTSP, namun problem sebenarnya ada pada Kemenduikbud itu sendiri yang tidak berpihak pada semangat perubahan paradigma pendidikan yang berorientasi pada keunggulan proses. Itulah yang kemudian merusak idealisme pelaksanaan kurikulum. Ada tiga hal yang merusak idealisme kurikulum di Indonesia. Pertama, Kemendikbud tidak melakukan riset evaluasi komprehensif atas pelaksanaan kurikulum sebelumnya. Kedua, Kemendikbud tidak menyiapkan guru terlebih dahulu secara sungguh-sungguh untuk mampu menterjemahkan kurikulum baru secara benar. Ketiga, Kemendikbud merusak seluruh semangat kreativitas guru untuk mengembangkan proses pembelajaran karena di kejar target Ujian Nasional yang cenderung cognitive oriented. Karena itu, perubahan kurikulum 2013 dirasa telah dilakukan tanpa melalui suatu proses riset yang komprehensif terkait kondisi di lapangan. Kalau ketiga akar masalah tersebut belum terjawab dengan baik, apapun kurikulumnya, tidak akan ada perubahan yang signifikan pada kualitas pendidikan kita. 

Ketiga hal diatas merupakan sejarah besar dalam dunia pendidikan yang terjadi selama satu tahun terakhir. Perbaikan yang mengacu pada spirit undang-undang dasar diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pendidikan negara dalam rangka mewujudkan Indonesia yang berakhlak, maju, dan sejahtera.

Sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi kita semua guna kembali mengulas apakah sistim yang hari ini ada, baik peraturan perundang-undangan maupun kurikulum sudah sejalan dengan spirit Ki Hajar Dewantara yang memerdekakan fisik, jiwa, dan ruhani manusia dalam konsep pendidikannya, atau justru sebaliknya, dimana kita beramai-ramai terjebak memperingati hardiknas secara seremonial  namun menginjak-nginjak nilai yang seharusnya kita junjung bersama. Pendidikan hanya bisa diakses oleh golongan menengah keatas dan siswa hanya diperlakukan untuk menjadi kuli terdidik, tentu hal tersebut sama-sama tidak kita inginkan, karena sesungguhnya pendidikan adalah hak segala bangsa dan merupakan upaya sadar untuk memanusiakan manusia.

Selasa, 19 Maret 2013


Ide dari penulisan judul ini berawal setelah saya ujian di salah satu mata kuliah, make sure saya yakin dengan penguasaan konsep saya, bahkan saya berani turun lapang untuk menunjukkan ketrampilan saya. Namun saya merasa begitu sesak ketika di dalam ujiannya saya dihadapkan pada tipe soal dengan pilihan jawaban yang tertutup. Hal ini akan berbeda ketika saya mengerjakan sola essay, karena bagi saya tidak ada kebenaran mutlak dan kesalahan mutlak bagi pelajaran yang saya pelajari di kelas. Seandainya saya dihadapkan dengan esaay, saya masih bisa bermain dengan kreatifitas dan analysis saya. Namun, dengan pilihan ganda saya dihadapakan pada satu pilihan pasti dan empat pengacau.

Pendidikan dan Kreatifitas

Kelak, ketika saya sudah selesai dengan diri saya, sungguh ingin sekali saya membangun sebuah taman belajar yang mengembangkan kreatifitas. Karena manusia bukanlah robot yang memerlukan charger pengetahuan, namun pemilik akal yang perlu dikembangkan daya nalar, kritis, dan kreatifitasnya. Sehingga kelak ketika ia menjadi guru, ia menjadi guru yang kreatif dengan ide risetnya, pengembangan metode barunya, dan guru yang menghargai proses belajar siswa. Bukan guru yang terpaku dengan LKS dan buku paket kala belajar, bukan guru yang menjadikan UN tujuan akhir.

Begitu juga cerita ketika ia menjadi dokter, ia akan menjadi dokter dengan terobosan-terobosan baru, bahkan ia mampu mengantarkan kita pada tindakan preventif, pengolahan lingkungan sehat, seorang dokter yang mengajarkan kepada masyarakat bagaimana menjaga kesehatan, bukan dokter yang terpaku dengan jarum suntik, obat, dan infus.

Ada begitu banyak pekerjaan lain di dunia ini yang membutuhkan inovasi, kreatifitas, dan kekritisan. Namun untuk memiliki jiwa yang dinamis, tidak bisa dengan ujug-ujug datang begitu saja, perlu ada latihan semenjak dini, dan inilah yang tidak saya dapatkan dari multiple choice. Multiple choice memberi kita pilihan tertutup, kaku, dan sudah pasti itu, namun essay akan melatih kedinamisan kita dengan lebih indah, Lebih baik lagi, jika dosen atau guru memberi evalusi berupa studi kasus, sehingga bisa mencakup tiga aspek, afektif, kognitif, dan psikomotor.

Menghafal dan Memahami

Pilihan tertutup pada pilihan ganda, cenderung mengarahkan peserta didik untuk menghafal mata pelajaran, terutama untuk mata pelajaran seperti biology, sejarah, geografi, dll. Hal ini membuat siswa hafal diluar kepala dengan teorinya, namun kurang faham dalam pengaplikasian dari ilmu yang mereka pelajari.

Mungkin hipotesis sisngkat saya akan bermuara pada banyaknya pengangguran di negeri ini. Karena seharusnya pada tingkat pendidikan yang mereka miliki, mereka bisa melakukan sesuatu. Namun nyatanya mereka menunggu lowongan pekerjaan. Yang menjadi pertanyaan adalah ? kemana ilmu yang telah mereka pelajari ? mungkin disimpan rapi dalam otak.

Cap Cip Cup Kembang Kuncup

Fenomena ini merupakan fenomena unik dari pelajar di Indonesia, ketika mendapat soal pilihan ganda, banyak diantara siswa hanya cap cip cup kembang kuncup alias menebak jawabannya. Ini jauh lebih parah, sudah dihadapkan pada pilihan tertutup yang membatasi kreatifitas. E... ini justru btidak berusaha sama sekali dan bermodal cap-cip cup selesai mengerjakan ujian.

Jika efek dari pembatasan kretifitas saja berpengaruh besar terhadap proses pembangunan suatu bangsa, bagaimana dengan menghadirkan proses yang membuat siswa selalu berharap pada durian runtuh. Terang ini akan membentuk mental yang enggan menjemput bola.

Studi Kasus Bisa Menjadi Pilihan

Pada akhirnya semua pilihan kembali pada pendidik yang membuat soal itu sendiri. Mengoreksi soal pilihan ganda memang cenderung cepat, proses penilainnyapun tidak rumit, namun ini sebanding dengan mental yang akan dibentuk melaluinya.

Saya berharap, suatu hari nanti soal pilihan ganda ini mampu diganti dengan alternatif lain, seperti uraian singkat dan studi kasus. Dalam hal ini, saya sepakat jika studi kasus bisa menjadi pilihan. Karena studi kasus benar-benar menguji penguasaan konsep, dan ketrampilan dalam mengaplikasikan. Studi kasus juga mendekatkan kita dengan realitas dunia nyata yang sesungguhnya, sehingga kelak, ketika ia tamat sekolah, ia sudah memiliki bekal pengetahuan untuk menunjang hidupnya di dunia yang hingar bingar ini.

Senin, 05 November 2012



Dulu ketika SD saya sangat becita-cita untuk bisa bersekolah disekolah favorit, alhasil saya belajar keras, dan sayapun begitu lowprofile karena merasa sebagai anak sekolahan yang berasal dari bawah gunung. Pasti akan sangat jauh secara kapasitas apabila berhadapan dengan anak-anak kota. Tantangan untuk memperluas jaringan membuat saya mengidam-idamkan untuk bersekolah di SMP favorite dan voila ! saya berhasil diterima di SMP terfavorit di daerah saya. 

Lepas SMP saya berharap, untuk bisa sekolah di SMA terfavorit di daerah saya, namun hal itu tidak terkabul, karena alasan ekonomi, dan jauh. Alhasil saya sekolah didaerah dan itu cukup lumayan sebenarnya, namun disinilah saya mengalami titik balik. 

Ketika beranjak kuliah, saya juga tidak berani berharap banyak untuk duduk di kampus favorit karena takut memberatkan orang tua secara ekonomi, alhasil saya malas-malasan. Dan diterimalah saya di salah satu perguruan tinggi negeri di daerah.

Beberapa tahun setelah saya menempuh pendidikan di daerah, saya diberi kesempatan untuk bertandang ke beberapa perguruan tinggi favorit. Sebenarnya ada rasa menyesal, dan yang paling terasa berbeda adalah budaya akademis. Hal ini membangun sebuah tanya didalam diri saya, apalagi saya duduk di kaprodi yang memiliki banyak dosen lulusan universitas bonafit dalam dan luar negeri. Mengapa budaya itu tidak bisa tertular kemari ?

Mengingat kembali sebuah novel karya Andrea Hirata yang bergenre pendidikan dan mengangkat cerita masalalu di tanah belitong. Ruang kelas yang kurang memadai, guru yang sukarela, ternyata begitu menyentuh dan mampu membentuk putra-pitri mereka dengan paripurna. 

Kembali pada kasus budaya akademis di kampus saya ? apakah karena fasilitas ? bisa iya dan bisa tidak. Namun kisah laskar pelangi mampu membantah kenyataan itu. Lalu apa yang harus dibangun pertama di kampus saya ? Berikut beberapa gagasan yang berhasil saya renungkan :

1.      
     Office hour, sebuah program bagi para seluruh dosen untuk ada di ruangannya dari jangka waktu tertentu, sehingga jika ada mahasiswa yang ingin menemui dosen tidak perlu menunggu dalam ketidakpastian. Hal ini menguragi tingkat putus asa mahasiswa yang sedang menyusun TA. Kelihatannya sepele, namun saya yakin akan berdmapak besar, karena meningkatkan frekuensi interaksi antara mahasiswa dan dosen sehingga semakin banyak cerita inspirasi yang tertransfer kepada mahasiswa.

2.   Academic advisor in circle, ide ini terinspirasi dari banyaknya mahasiswa yang acuh tak acuh dengan pembimbing akademiknya, dan dilain pihak banyak mahasiswa yang kongko-kongko di kampus.  Sehingga dengan begini mahasiswa memiliki waktu berkumpul dengan pembimbing akademiknya, dari mulai belajar terbimbing hingga sekedar curhat, dengan pola pertemuan satu minggu sekali. Pembimbing akademik tidak harus mendampingi setiap minggu, bisa jadi satu bulan sekali, dan bisa menggunakan sistim tutorial sebaya sesama teman untuk meeting per minggunya.

     One hundred rupiahs for refrence. Mahasiswa jarang ke perpus ? bukan karena mahasiswa tidak suka membaca, namun buku yang dipajang sudah terlampau tua dibanding usia mahasiswa, mungkin sudah seusia orang tua mereka. Jika jumlah mahasiswa di kampus saya ada 20.000 mahasiswa, jika perharinya mahasiswa mengumpulkan 100 rupiah, maka dalam satu hari akan terkumpul dua juta rupiah, dan dalam satu bulan akan terkumpul uang sebesar 60.000.000. Dan satu tahun sudah 720.000.000. Sebuah angka yang lumayan untuk menambah buku perpus, mungkin ide gila ini bisa dijalankan oleh teman-teman BEM, selain efektif juga menyentil pihak pengampu kebijakan. Apa sie makna seratus rupiah perhari jika dibandingkan dengan penantian sepanjang masa untuk melihat buku perpus bertambah.

And finally tulisan ini hanyalah imajinasi kreatif saya sambil menunggu dosen yang tak kunjung datang, jadi kalaupun ada yang aneh ya maklum aja lah yaaa...............

Minggu, 04 November 2012




Mengapa anak-anak jalanan itu bodoh ? #karena mereka tidak sekolah, Mengapa penduduk pesisir cenderung memiliki tingkat ekonomi rendah, padalah laut adalah harta negara yang melimpah ? #karena mereka tidak sekolah. Seolah sekolah menjadi jawaban atas segala permasalahan, seolah sekolah menjadi tempat pembebasan yang paling humanis. Namun jika kita beranjak pada pertanyaan, “Mengapa tidak sekolah ? #karena tidak ada biaya”. Belum lagi kampus yang mencetak ribuan pengangguran setiap tahunnya.

Sekolah menjadi kambing hitam yang paling hitam, sekolah menjadi satu-satunya solusi. Padahal permasalahannya adalah terletak pada ‘belajar’ bukan ‘sekolah’. Apalah manfaat sekolah tanpa pembelajaran di dalamnya? Lagi-lagi ia akan mencetak pengangguran.

Kadang saya bertanya, mengapa pendidikan ini tidak ramah kepada kita, bukankah Tuhan menciptakan kita untuk belajar seumur hidup, namun mengapa kita hanya sekolah sampai SMA atau perguruan tinggi. Saya berfikir ruang-ruang pendidikan informal bisa menjadi alternatif yang baik untuk menjadi tempat pembelajaran masyarakat. Selain relatif lebih murah, juga tepat guna dengan keterbutuhan masyarakat. Dilain pihak, ruang pendidikan informal juga lebih aplikatif dibanding pendidikan formal.

Alasan itulah yang membuat saya lebih tertarik terhadap pendidikan - pendidikan informal dan bercita-cita menjadi ahli pendidikan informal. Semoga Allah memudahkan jalannya.