Tampilkan postingan dengan label social empowerment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label social empowerment. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2015


Bagi anda yang mengawali dunia kampus dengan aktif di berbagai organisasi, sudah barang tentu tidak akan asing dengan istilah ‘setiap zaman melahirkan pemimpin’, karena kalimat tersebut cenderung diulang, puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali di berbagai tempat. Yap ! Setiap zaman memang memiliki pemimpinnya sendiri. Sebut saja diera awal pergerakan kemerdekaan Indonesia dimana kita punya Cokroaminoto, diera perjuangan kemerdekaan yang melahirkan sosok Soekarno dan Hatta, diera pembangunan dengan gagasan Soeharto dan Habibie, dan puluhan contoh lain.

Hal tersebut juga berlaku dalam konstelasi sejarah dunia. Amerika serikat memiliki sosok George Washington yang mendeklarasikan kemerdekaan negara luas yang hari ini menjadi adikuasa tersebut, dari dunia islam hadir Muhammad Al Fatih yang memenangkan konstantinopel dan membebaskan rakyat pada masa itu dari pemerintahan yang korup, masyarakat kulit hitam punya Martin Luther King yang memperjuangkan kesetaraan ras hingga hari ini Barack Obama bisa berdiri gagah di podium kepresidenan seraya berkata “kita bisa !”.

Tempo hari ketika saya menyusun materi untuk workshop kepemimpinan bagi exchange participant AIESEC Unila saya mencoba mencari jawaban atas satu pertanyaan sederhana “hal terbesar apa yang paling mendukung sosok-sosok luar biasa tersebut menjadi seorang pemimpin ?” apakah latar belakang pendidikan ? keluarga ? teman sepergaulan ? dan jawabannya sungguh mengagumkan, kondisi yang tidak normal lah yang menjadikan mereka sebagai pemimpin yang besar di zamannya.

Ketidakidealan kondisi yang seseorang alami mampu memancing individu tersebut untuk tumbuh berbeda dan menjadi solusi bagi zamannya, atau secara tidak langsung sebuah zaman telah melahirkan pemimpinnya melalui sebuah proses yang alamiah. Sebut saja Martin Luther King yang memperjuangkan kesetaraan bagi ras kulit hitam dan menghapuskan perlakuan tidak manusiwi yang kelompok tersebut rasakan, Mark Zuckeberg menjadi pemimpin inspiratif karena mencetuskan sebuah platform yang memudahkan setiap individu dalam berkomunikasi pada era modern ini, juga Mahatma Gandhi di India, Hellen Keller bagi kaum difable, dan Soekarno untuk Indonesia.

Namun jika anda kritis, sebuah pertanyaan susulan akan muncul, ‘dari ratusan bahkan ribuan orang yang hidup di era tersebut mengapa hanya segelintir orang yang kemudian muncul sebagai tokoh pendobrak ?’. Menurut hemat pribadi saya ada dua hal yang membuat mereka kemudian menjadi ‘anomali’ atau ‘berbeda’, yakni ‘kepekaan’ dan ‘ketulusan’.  

Kepekaan dan ketulusanlah yang membedakan mereka dari ribuan bahkan jutaan orang yang hidup pada masa itu. Jika Martin Luther King bersikap biasa saja melihat fakta ketidakadilan yang dialami oleh ras kulit hitam dan berhitung untung rugi dalam perjuangannya, maka bisa jadi sejarah hari ini akan berbeda. Begitu juga Mark Zuckeberg yang merintis facebook dengan penuh rintangan, jika ia tidak peka membaca kebutuhan zaman dan berhitung dalam perintisan platform tersebut di awal waktu, maka ia sudah akan menyerah dari jauh hari karena khawatir bangkrut dan segudang ketakutan dari resiko lain. 

Orang-orang tersebut tidak terlahir untuk menjadi individualis, mereka peka terhadap permasalahan di sekitarnya dan berusaha melakukan yang terbaik tanpa sebuah perhitungan keuntungan pribadi yang rumit. Mereka menikmati perjuangannya, mensyukuri ketidaknormalan kondisi yang dialami, mencari-cari masalah, dan berusaha melakukan perubahan yang terbaik, itu saja !

Pendidikan dan Pemimpin Sintetis

Pada akhirnya sayapun tergelitik dengan jalan pikiran saya sendiri. Lalu bagaimana dengan saya hari ini ? bisa dibilang saya hidup dalam kondisi yang nyaman dan tidak mengalami kondisi sulit yang seekstrim mereka ? --atau bisa jadi karena ketidakpekaan saya menangkap masalah-- karena diakui atau tidak, ketidak adaan tekanan tersebut seringkali membuat kita terdiam di zona nyaman dan tidak berbuat apa-apa.

Biar bagaimanapun alam mendidik dengan baik dan begitu alami. Namun seiring dengan perkembangan zaman, manusia mencoba merubah proses tersebut menjadi produk sintesis bernama kurikulum, merekayasa sebuah kondisi dimana seseorang bisa belajar dengan baik, mendekati kondisi sempurna yag disediakan langsung oleh alam.

Pada akhirnya sekolah-sekolah bersaing membuat sebuah kurikulum unggul, organisasi-oraganisasi hadir dengan tawaran proses pengembangan diri yang beragam guna mendidik sekelompok pemimpin bagi masa depan. Bukan pemimpin formal yang hanya duduk pada kursi pemerintahan, bukan pemimpin dalam wujud kata benda, namun lebih pada pemimpin dalam wujud kata sifat yang dimiliki oleh siapa saja; dokter, guru, arsitek, dll. Sehingga pemimpin tersebut mampu menghadirkan solusi bagi permasalahan zamannya melalui kepakaran masing-masing.

Pola Pendidikan Indonesian Future Leaders dan Beberapa Organisasi Lain

Kembali melihat pada masa lalu, dimana saya pernah belajar di beberapa tempat yang berbeda, baik sekolah, pondok pesantren, komunitas, organisasi, dll, ada satu tempat dimana saya merasakan sebuah proses pendekatan yang sedikit berbeda dalam mendidik saya menjadi seorang pemimpin. Tempat ini juga mengemas sebuah workshop pembelajaran dengan sederhana sehingga saya mudah memahami.

Tempat itu adalah Indonesian Future Leaders, dimana saya bergabung pada tahun 2013, yakni saat saya menjadi pendiri di salah satu chapternya. Disini, jauh sebelum saya berdiskusi tentang teori kepemimpinan atau contoh pemimpin ideal saya justru dihadirkan pada sebuah workshop online via youtube yang mengajak kita untuk keluar dan menganalisa permasalahan apa yang ada di sekitar kita, dimana selanjutnya kita diarahkan untuk membuat sebuah proyek sosial yang mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Proses tersebut dimaksudkan untuk mengasah kepekaan, dan selanjutnya secara tidak sengaja, dengan sendirinya saya belajar mengatur tim, memaksimalkan sumber daya yang ada, juga memaknai ketulusan melalui konsep kesukarelawanan di setiap proyek sosialnya.

Sebuah proses sintesis yang mendekati alami sepanjang perjalanan saya belajar kepemimpinan di berbagai organisasi. Walau saya akui ada beberapa organisasi yang juga berbicara keresahan masyarakat, namun ia masih banyak berwacana pada sebuah ruang definisi yang abstrak dan cenderung sulit diterjemahkan oleh anggotanya –atau bisa jadi saya yang gagal paham--.

Lalu mana yang lebih unggul dari keduanya ? saya tidak bisa memutuskan, Indonesian Future Leaders memiliki kurikulum dengan pendekatan yang lebih alami, namun jika individu tidak terpancing untuk berfikir dan mencari lebih dalam bisa jadi mereka tidak akan sampai pada sebuah nilai yang berusaha disampaikan. Sebaliknya, organisasi yang memulai pendekatan dari lokus teori dan memancing keresahan bisa jadi hanya melahirkan sosok yang pandai berwacana melangit dan sulit menterjemahkan ide ke bumi.


Pada akhirnya keputusan untuk belajar secara utuh dan mengikuti sebuah proses hingga selesai menjadi pilihan yang paling penting ketika kita belajar, dimanapun itu.  Tidak perlu bingung untuk memilih belajar dimana, tapi belajarlah dengan baik. Karena sejarah di zaman manapun tidak pernanh mencatat orang yang setengah-setengah, dan sekali lagi, semua ini hanyalah sebuah perenungan dari pemikiran premature saya pribadi, mohon ma’af atas warna-warni keluguan disetiap detilnya.


Selasa, 24 Desember 2013


Sebentar lagi 2013 akan segera berlalu dan berganti dengan penomoran tahun yang baru. Biasanya setiap orang memiliki aktivitas yang beragam, seperti pesta kembang api, bakar-bakar, atau menyambuut detik-detik pergantian tahun di tempat-tempat tertentu seperti pantai atau dataran tinggi. Pernah terfikir ndak si ? kalau itu semua terlalu mainstream. apalagi bagi anak muda yang terbilang gaul dan anti mainstream. Ide kreatif apa ya yang berbeda dan penuh makna ?

Tentang Keberadaan Mereka

Ada beberapa orang di Bandar Lampung yang mungkin keberadaanya sangat dinanti, seperti Pak Walikota, Pemilik Mal, Pak Rektor, dan orang-orang besar lain. Pernah ndak si kita merenung sejenak dan berfikir, apa jadinya Bandar Lampung tanpa petugas kebersihan, penjaga perlintasan kereta api, tukang parkir, dll. Bakal semrawut banget kali ya ? dan sayangnya selama ini kita tidak peduli dengan kehadiran mereka, padahal punya peran yang besar banget untuk merawat Bandar Lampung kita ? perlu juga ya sepertinya berhenti sejenak dari rutinitas kita dan mengkhusukan waktu untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas kinerja-kinerja mereka.

Tentang TPA Bakung yang Akan Segera Overload

Pernahkah kita peduli ? berapa jumlah sampah kita dalam satu hari ? ratusan ton pastinya ! dan itulah yang membuat TPA Bakung akan segera penuh dalam kurun waktu 2 hingga 3 tahun terakhir. Waduh gawat, kemana lagi ni kita buang sampah ? untuk sampah organik solusinya bisa dijadikan kompos atau biogas. Trus gimana dengan sampah plastik ? bakal makan waktu puluhan tahun untuk terurai. Inget ndak ? dulu zaman nenek-nenek kita kalau ke pasar bawa tas belanja, tapi sekarang, sekali ke mal, pasar, warung, kita tenteng banyak kantong kresek. Ide bagus ndak sie kalau kita diet kantong plastik dari sekarang ?

Tentang Angka Konsumsi Susu yang Rendah

Ada satu lagi ni fakta yang wow ! ternyata angka konsumsi susu di Indonesia ini terendah di Asia, apa kabar di Lampung yang merupakan provinsi termiskin kedua ? padahal nutrisi yang terkandung di susu itu sangat baik untuk pertumbuhan otak dan fisik. Mahal ndak sie harga susu ? sebenarnya ndak, apalagi sekarang ada susu kemasan ekonomis. Cukup dengan merogoh kocek beberapa rupiah saja sudah bisa mendapat sekotak susu berukuran 200 - 250 ml. Perlu edukasi ke masyarakat mungkin ya ? sepertinya iya !

IFL Lampung feat Gen BI

Naaaaah..... merangkum semua isu-isu diatas tadi, Generasi muda Bank Indonesia featuring IFL Lampung punya project yang keren punya, dimana kita akan kampanye #dietkantongplastik dan #gerakansadargizi dengan cara bagi-bagi tas ramah lingkungan dan susu cair ke pekerja-pekerja sosial di Bandar Lampung. Ada tujuh titik kecamatan yang nantinya akan kami tuju, mulai dari Rajabasa, Sukarame, hingga Teluk Betung. Gimana ? punya ide kreatif juga dan mau kolaborasi ???? Keren daaaahhh.... Yuk kolaborasi sama kita !



Minggu, 22 Desember 2013


Rindu sekali rasanya diskusi apa saja, membahas apa saja, bertukar pikiran dari Utara hingga ke Selatan. Hari ini terbayar sudah, 2,5 jam non stop jadi fasilitator konsultasi regional Parlemen Muda untuk topik "Akses Terhadap Pendidikan Berkualitas". Tak hanya sekedar diskusi, anmun juga terarah dan mencetuskan inovasi-inovasi baru. 

Duluuuu..... duluuu... saya sempat menjadi instruktur dalam waktu yang singkat dan beberapa kali memandu diskusi, mencoba mengarahkan pemikiran yang liar dan kebanyakan kasus yang sama temui dari para peserta adalah mengungkapkan hal-hal yang sifatnya normatif. Masih dulu juga, duluuuu.... saya sering diskusi dengan teman-teman yang memang terkenal suka diskusi seperti HMI, HTI, KAMMI, IMM, IPM, PII, dan lain sebagainya.

Beberapa saat yang lalu saya juga berdiskusi dengan teman-teman IFL nyaris hampir subuh gegara meributkan pengawalan pilkada, bagaimana mengemasnya dengan branding semenarik mungkin agar masyarakt lebih cerdas dengan tipu-tipu politisi. 

Semua itu wajar.... ! karena sebagian besar, bisa dibilang semua dari mereka adalah aktivis yang memang memiliki kepedulian khusus dengan hal-hal semacam itu. Namun hari ini benar-benar luar biasa, luar biasa, bertemu dengan teman-teman baru yang mungkin belum pernah terlibat dengan aktivitas seperti ini dan membicarakan 5 isu pentingg di Indonesia. What a surprise ! tidak berhenti pada ruang pengamatan masalah, namun mereka memiliki ide-ide penyelesaian yang inovatif, kreatif dan aplikatif. 

Selanjutnya saya semakin menyadari bahwa mereka juga benar-benar menggunakan basic keilmuan yang mereka miliki dalam diskusi tadi, mulai dari hukum, ekonomi, pendidikan, sehingga diskusi menjadi lebih tajam, menyeluruh, penuh pertimbangan dan ide. 

Hingga malam ini dan menulis posting di blog ini saya masih menari-nari di ruang ide yang mereka suguhkan, sungguh selama ini saya sudah termakan branding bahwa diskusi yang luar biasa itu hanya milik golongan tertentu, namun hari ini saya menyadari ada "Intangible Asset" yang tidak banyak orang tau.

Terkadang branding atau pencitraan membuat karakter seseorang menjadi lebih kuat walau sebenarnya ada orang lain dengan kompetensi lebih namun hanya diam saja. Banyak orang pintar yang tidak didengar masyarakat karena citra intelektualitasnya lebih rendah dari orang lain yang sebenarnya tidak lebih pintar darinya. 

Namun lebih dari itu semua, hari ini saya menyadari bahwa aset bangsa ini masih begitu besar, masih banyak hal-hal yang belum kita eksplore. Dilain pihak saya juga merasa tertohok untuk lebih open minded dalam menilai orang, don't judge the book from the cover karena bisa saja orang tersebut adalah "Intengible Asset" yang memiliki potensi sangat besar. 

Sabtu, 21 Desember 2013

doc : kaskus.co.id


Perhelatan bulan Desember tidak lepas dari pemaknaan sebuah hari dengan angka kembar "22" sebagai simbolitas sehari akan keagungan jasa kaum hawa sebagai pahlawan rumah tangga yang tidak memiliki bintang jasa, bukan karena tidak bernilai, tapi tak ternilai !

Peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini banyak membuat saya merenung dan bertransformasi kedalam sebuah pola pikir yang baru akan pemaknaan kehadiran seorang ibu dalam hidup seseorang. Mulai dari kenal dengan sosok ibu Septipeni dengan gagasan homeschooling dan ibu profesionalnya hingga pengalaman pribadi yang terjadi di lingkungan keluarga. 

Mimpi Jangka Pendek vs Mimpi Jangka Panjang

Sekilas kita akan berfikir bahwa duduk menjadi seorang wakil rakyat di parlemen, atau menggerakkan sebuah komunitas sosial adalah sebuah pekerjaan yang berdampak besar bagi lingkungan sekitar, sehingga wajar jika banyak dari kaum hawa mengejar untuk berkarya sebaik-baiknya. Bahkan mungkin sebagian dari mereka merasa tidak menikmati masa-masa merawat bayi yang melelahkan, atau tak banyak dari mereka yang berani menggadaikan sebuah mimpi pribadi dengan aktivitas ini.

Dalam sebuah ritme zaman yang terus berputar, dunia memerlukan generasi penerus guna menjaga dan merawat kesetabilan kondisi. Sekilas, peran seorang ibu tidak lebih dari seorang perempuan yang tinggal dirumah, mengisi kolom pekerjaan di beberapa biodata dengan sebuatan "ibu rumah tangga" untuk menutupi betapa peganggurannya mereka, dll.

Percayalaah, menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang jauh lebih abadi dari hal-hal besar yang kita pandang sekarang. Kaki-kaki kecil yang tidak henti membuat keributan, ataupun celoteh-celoteh yang akan menghiasi hari, itu milik seseorang yang akan menjadi penerus zaman, ketika kita mampu mengambil peran ini dengan sebaik-baiknya maka di tangan kitalah masa depan dunia. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan "mendidik satu orang laki-laki adalah untuk satu orang tersebut, namun mendidik satu orang perempuan sama saja dengan mendidik satu negara"

Ibulah Menteri Pendidikannya !

Kala waktu itu memanggil, saat itulah peran ideologis seorang ibu dimulai. Kapan kiranya kita memulai ? bukan berawal dari waktu dimana bayi itu lahir, namun dari saat kita benar-benar menyadari bahwa kita ini akan menjadi seorang ibu maka sesungguhnya saat itulah kesadaran akan sebuah pendidikan pranatal (baca:pendidikan anak sebelum dilahirkan) dimulai. 

Setiap perempuan menyadari bahwa dalam perkembangan buah hati merekalah ideolognya, bukan Muhammad Nuh atau siapapun. Kesadaran untuk memperbaiki diri hingga bayi lahir dan ia memulai menjadi menjalani hari sebagai pendidik terbaik yang lebih paripurna dari guru terbaik dari sekolah terbaik sekalipun. Memulai dengan mengajarkan mengeja kata, menanamkan sifat-sifat sederhana hingga menentukan kesiapan mereka menghadapi kehidupan. Ibu berkuasa penuh dalam mengawal penemuan jati diri seorang manusia hingga ia berkarya di dunia yang Global.

Memasak itu... Isu Keamanan Paling Sederhana 

Dalam dunia 'defens strategi' manusia mengolah banyak hal agar manusia dapat tumbuh dibawah naungan kesejahteraan dan kedamaian. Berbagai upaya tidak hanya ditempuh melalui perang ataupun perjanjian damai, namun bisa melalui berbagai program seperti olahraga, seni-budaya, penanaman nilai-nilai bagi para public opinion, dan sebagainya.

Tumbuh kembang seorang anak tidak hanya memperhatikan pola pikir dan mentalnya saja, namun juga pertumbuhan fisik, oleh karena itu asupan gizi dan menjamin masuknya makanan baik ke dalam perut anak-anak juga memberikan peluang masa depan yang lebih gemilang, dengan tubuh sehat maka mimpi besar generasi penerus ini untuk kehidupan dunia yang lebih baik juga lebih mudah terwujud.

Sederhana memang, namun memiliki dampak yang lebih besar, sebuah apresiasi besar harus kita berikan kepada para ibu yang menyiapkan bahan makanan dan mengolahnya dengan baik setiap hari demi panglima-panglima kecil mereka, sederhana memang, kita bisa saja beli atau memasak makanan instan dengan alasan hemat waktu, namun tanpa ia sadari mereka sedang menuju ke kerugian yang lebih besar. 

Tentang Isu Kaum Feminis

Dewasa ini kaum feminis menyuarakan hak antara kaum adam dan hawa. Setali tiga uang dengan pernyataan bahwa adil itu tidaklah harus sama, begitu juga persamaan hak, laki-laki dan perempuan memilik peran besarnya masing-masing dan keduanya sudah disiapkan demi dunia yang lebih seimbang.

Keberadaan isu tersebut membuat perempuan berlomba-lomba merebut karier mereka dan sedikit menomonr duakan rumah. Sedikit memang, mereka menyewa babysitter, menitipkan anak ke playgroup, memiliki pembantu yang bisa mmemasak, dll. Tapi ingatlah saudaraku, value menjadi seorang ibu tidak sebatas aktivitas-aktivitas itu, jauh lebih besar dan hanya bisa dirasakan ketika kita menikmatinya dan dengan sepenuh hati menjalani peran kita sebagai perempuan.

Lihatlah hari ini, anak-anak bebas berkeliaran jajan disana dan disini, mengkonsumsi zat aditif yang mengganggu pertumbuhan dan membahayakan tubuh, sebagian dari mereka menuntut kasih sayang dan terjerumus ke dalam dunia narkoba, seks bebas, tentu ! keseimbangan ini terus terganggu dan semakin rusak. Ibu-ibu mereka pasrah begitu saja dengan kurikulum sekolah, padahal tidak lain semua kurikulum itu mempersiapkan kita menjadi kuli-kuli terdidik bukan manusia yang sesungguhnya. 

Akhir kata, adil tidak harus sama, kerja besar tidak harus rumit, dan keseimbangan dunia sudah diatur dengan sedemikian baik oleh yang menciptakan, mari kita syukuri dan mulai menyadari sebuah peran besar yang ditakdirkan, perbaiki diri dan mulai ambil bagian. Selamat Hari Ibu !


Minggu, 19 Mei 2013


Pada Republika.co.id edisi 30 Maret 2013 diberitakan dari keseluruhan 2.379 desa yang ada di Lampung, 486 desa masih dalam kondisi tertinggal. Itu artinya sekitar 20% dari keseluruhan wilayah di Lampung masih membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak. Selain itu, berdasarkan indeks pembangunan ketenagakerjaan Provinsi Lampung Tahun 2011, jumlah penganggur terbuka adalah 239.980 orang dengan jumlah penganggur terbuka tamatan SD-SMTA mencapai 177.772 orang.

Data yang tersaji diatas bisa kita lihat melalui dua sudut pandang. Sudut pandang masalah dimana Provinsi Lampung memiliki 20% daerah tertinggal dan ribuan pengangguran, atau sudut pandang potensi dimana kita masih memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang belum dieksplorasi dengan baik. Perubahan sudut pandang tersebut memberikan pengaruh besar dalam desain program yang akan diimplementasikan di lapangan, yakni merubah obyek kemiskinan yang menunggu perhatian dari pemerintah menjadi subjek yang mampu merubah kondisinya sendiri.

Dalam hal ini, upaya percepatan pembangunan yang terbaik adalah dengan melibatkan banyak pihak. Sebagaimana percepatan pembangunan yang pernah dilakukan pada program Repelita I dan Repelita II pada era orde baru yang melibatkan pemerintah, militer dan masyarakat. Saat ini ada satu potensi yang bisa kita berdayakan dengan baik dengan memegang prinsip simbiosis mutualisme, yakni dunia pendidikan. Dunia pendidikan memiliki ribuan tenaga ahli dan ratusan ribu pelajar yang membutuhkan media belajar yang lebih riil, sementara di lain pihak masyarakat membutuhkan sentuhan tangan ahli. Sehingga dengan sebuah kebijakan yang tepat untuk keduanya akan melahirkan penyelesaian masalah yang murah dan berkelanjutan.

Mengembalikan Harapan Pendidikan

Semangat awal setiap orang tua mengirimkan putra-putri mereka ke sekolah adalah karena adanya
keinginan untuk merubah hidup. Perubahan yang diharapkan beragam, mulai dari yang tidak tau akan ilmu pengetahuan menjadi tau, dari yang tidak memiliki kemampuan melakukan sutu hal menjadi mampu, hingga dari yang tidak peka terhadap masalah menjadi peka, bisa menggunakan ilmu pengetahuan untuk menganalisanya, dan mampu menyelesaikannya dengan keahlian yang dimiliki. Ketiga hal tersebut dalam ilmu pendidikan biasa disebut dengan istilah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, setiap orang tua mengharapkan adanya upaya pembebasan dari masalah yang sedang mereka alami. Dari miskin menjadi sejahtera, dari bodoh menjadi pintar, dari lahan kosong menjadi lahan pertanian, dari seekor ayam menjadi peternakan,dll. Namun pada kenyataanya, banyak dari harapan itu harus kandas di tengah jalan, bahkan kelulusan anak-anak dari sekolah menjadi masalah baru yang harus dipecahkan. Pengangguran menjadi masalah baru yang pada  akhirnya membentuk opini masyarakat bahwa pendidikan itu tidak penting, toh yang sudah sekolah tinggi-tinggi pada akhirnya juga bingung pekerjaan.

Muatan Lokal Bisa Menjadi Penunjang

Kurikulum sekolah di Indonesia telah disiapkan untuk mengajarkan beberapa pelajaran tertentu seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan beberapa pelajaran lain yang sifatnya pokok. Namun, diluar itu ada suatu porsi yang dikembalikan pada kebijakan daerah yang disebut dengan muatan lokal. Penentuan pelajaran muatan lokal disesuaikan dengan keterbutuhan di setiap daerah, ada beberapa sekolah yang memberikan muatan lokal pertanian, seni budaya, elektro, atau bahasa asing, yang semua itu kembali disesuaikan dengan kearifan lokal daerah.

Menjawab permasalahan provinsi Lampung akan jumlah 20% desa tertinggal, tingginya angka pengangguran yang menantikan lapangan pekerjaan, dan banyaknya sumber daya alam yang belum dikelola dengan baik, muatan lokal kewirausahaan sosial mampu menjadi jawaban dengan merubah sudut pandang pelajar di sekolah dari obyek kemiskinan menjadi subyek kemiskinan.

Jawaban atas pertanyaan mengapa harus kewirausahaan sosial, bukan pertanian, elektro atau muatan lokal lain yang memberi ketrampilan khusus adalah karena kewirausahaan sosial mengajarkan kepada anak didik untuk menciptakan lapangan penkerjaan sekaligus menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi. Dilain pihak, mata pelajaran ini menumbuhkan rasa peka di hati para pelajar. Sebagai contoh, di daerah Pringsewu banyak ditemukan petani singkong yang hidup dibawah garis kemiskinan, maka melalui pelajaran kewirausahaan sosial, guru mengarahkan para siswa untuk membina para warga membuat kelanting, dikemas dengan baik, dan dipasarkan di kantin-kantin sekolah ataupun perkantoran dengan bekal ilmu ekonomi yang telah di dapat disekolah. 

Dari pelajaran ini siswa diajarkan beberapa hal, pertama siswa diajarkan untuk peka dengan kondisi sosial yang ada disekitarnya, kedua siswa memiliki laboratorium langsung untuk mengaplikasikan ilmu yang di dapat dari sekolah, ketiga siswa mendapat wadah internalisasi minat, bakat, dan hobi, dan keempat siswa memiliki keahlian softskill untuk berwirausaha, sehingga ketika ia tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, para pelajar ini sudah memiliki ketrampilan untuk survive di dalam kehidupan.

Membangun Dari Sekolah


Sekolah dengan ribuan tenaga pendidik dan jutaan anak muda bisa menjadi suatu aset besar di dalam perubahan, untuk itu pemerintah hanya perlu menentukan sebuah kebijakan strategis yang mudah dilaksanakan dan memberikan dampak perubahan besar. Pertama, sebut saja jumlah SMA yang ada di Lampung, terdapat lebih dari 494 SMA dengan 88.981 siswa/tahun. Jumlah ini dapat memberikan dampak yang besar dalam mengurangi pengangguran seandainya saja satu orang dapat menolong tiga orang lainnya yang tidak memiliki pekerjaan di Lampung.

Kedua, anak muda cenderung responsif terhadap perkembangan, dalam artian mereka memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara-cara kontemporer yang kreatif dan relatif lebih fresh. Golongan anak muda ini mampu diarahkan untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan hobi, minat, bakat, dan keilmuan yang telah mereka miliki.

Ketiga, anak muda merupakan kelompok rentan yang harus mendapatkan penyikapan dengan baik. Puluhan ribu anak SMA ini akan menjadi calon pengangguran baru setelah lulus jika tidak dipersiapkan dengan baik. Namun, jika sekelompok anak muda ini mampu kita rubah posisinya dari objek menjadi objek, maka secara tidak langsung kita telah menyelamatkan mereka dari ancaman pengangguran sekaligus menyelesaikan maslaah pengangguran yang sudah ada.

Keempat, anak muda merupakan future generation yang akan menggantikan generasi tua di masa datang. Sudah saatnya anak muda ini dibekali dengan kemampuan yang mumpuni dan kepekaan sosial yang tinggi, sehingga kehidupan di masa mendatang menjadi kehidupan yang jauh lebih ramah dan bersahabat bagi semua orang dibanding hari ini.

Kelima, kewirausahaan merupakan muatan lokal yang mudah diajarkan, karena para guru hanya perlu memandu siswa untuk mengenal dirinya, mengenal lingkungan, mengenal pola kewirausahaan sosial, merancang ide kreatif, dan pendampingan implementasi. Materi kewirausahaan sosial cenderung lebih aplikatif dan sederhana, tidak sekomplek seperti mengajar elektro, pertanian, atau seni budaya, namun lebih seperti training capacity building dan pendampingan implementasi.

Sebuah ide pembangunan untuk pengentasan kemiskinan di Lampung tidak harus selalu dimulai dari infrastruktur, mengundang investor asing, dan membangun pabrik-pabrik besar yang bisa mengolah sumber daya alam sekaligus menyerap ribuan tenaga kerja. Ide pembangunan bisa dimulai dari bangku sekolah, dengan memanfaatkan sumber daya terdidik. Terlebih lagi, produk yang dihasilkan dari program ini adalah usaha mikro dimana kita sama-sama tau bahwa sektor mikro memiliki ketahanan terhadap krisis dengan lebih baik. Namun, yang paling utama dan mendasar adalah kita mampu mencegah lahirnya calon-calon pengangguran baru sekaligus menyelesaikan masalah pengangguran yang terimplikasi pada kemiskinan dan lambatnya pembangunan 20% desa tertinggal di Lampung.


Sabtu, 06 April 2013


Satu tahun lagi Indonesia akan menggelar pesta demokrasi besar-besaran, baik untuk DPD, DPR, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden. Huru-hara di media cetak maupun elektronik sudah mulai terdengar. Prosesi sakral yang akan menentukan nasib bangsa Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Sesuai dengan semangat demokrasi, yakni dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, pemilihan umum digelar untuk menyampaikan apa yang menjadi cita-cita rakyat terhadap negara. Tentang suara kesejahteraan, keadilan, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga perlindungan bagi setiap warga negara.

Bak gayung bersambut, munculah tokoh-tokoh yang siap menjadi wakil dari tiap-tiap golongan untuk memperjuangkan hak mereka. Berbondong-bondong berkampanye dengan bertabur visi agar terpilih menjadi pejabat negara yang memiliki wewenang untuk membuat peraturan dan melakukan pengaturan. Berbagai usaha dilakukan demi kantung-kantung suara yang banyak. Tidak jarang ada yang berani mengeluarkan jumlah kapital yang besar demi kelancaran menjadi wakil rakyat.

Mahalnya Ongkos Demokrasi

Ditengarai, ongkos demokrasi di Indonesia semakin meningkat dari waktu ke waktu. Wakil ketua DPR, Pramono Anung, dalam penelitian untuk disertasi doktoralnya mendapati fakta, untuk Pemilu paling sedikit caleg mengeluarkan mengeluarkan dana minimal Rp 600 juta. Ada juga yang menghabiskan dana hingga Rp 6 miliar. Biaya itu cenderung meningkat dari Pemilu ke Pemilu, sehingga untuk Pemilu 2014 mendatang biaya pencalegkan pasti menyentuh angka milyaran.

Untuk pilkada Jabar beberapa bulan lalu misal, dengan jumlah 5.953 desa, jika kampanye di tiap desa minimal Rp 25 juta maka tiap calon butuh dana minimal Rp. 148,8 miliar. Bahkan pasangan Sukarwo dan Saifullah dalam pilkada Jawa Timur pada tahun 2008 lalu, secara resmi menyatakan menghabiskan dana Rp. 1,3 triliun. Bila untuk pencalonan gubernur saja dihabiskan dana begitu besar, untuk pencalonan presiden tentu lebih besar lagi. Disebut-sebut paling sedikit sekitar Rp 1,5 triliun.

Sebuah angka yang sangat bombastis, bayangkan saja ketika semua dana itu digunakan untuk membiayai program-progam pertanian atau kesehatan, paling tidak ada sedikit perubahan dalam tata kehidupan masyarakat. Asal-usul dana kampanye dengan jumlah yang besar itu juga menimbulkan tanya bagi sebagian orang, karena tidak mungkin dana sebesar itu berasal dari kantong pribadi, kalaupun donasi dari beberapa pihak, rasanya aneh jika pada akhirnya tidak ada hubungan timbal balik dengan si donatur.

Perselingkuhan Dua Pembesar

Di Amerika Serikat, hampir 80% dana kampanye disumbang oleh para pengusaha. Di Indonesia menunjukkan indikasi yang tidak jauh berbeda, dimana hal itu dapat dilihat dari beberapa produk aturan pemerintah yang lebih pro terhadap pihak pemodal ketimbang masyarakat pada umumnya.   Hal itu tampak pada UU Migas, UU Minerba, UU Penanaman Modal, UU Pangan dan puluhan UU lainnya.

Kebijakan pemerintah (penguasa) yang lebih berpihak kepada pemodal, merupakan bentuk kompensasi atas modal yang diberikan. Seperti dalam kebijakan privatisasi migas, privatisasi pendidikan, kesehatan, pemberian izin yang mengabaikan amdal, pengabaian atas transportasi publik, dan sebaliknya terus memberikan insentif kepada perusahaan otomotif, juga beberapa proyek yang sudah diatur agar jatuh ke tangan pengusaha tertentu.

Perselingkuhan dua pembesar (penguasa dan pengusaha) yang terjadi di negeri ini telah menjadi simbiosis mutualisme antara keterbutuhan dominasi investor dan perolehan suara, akibatnya sumber daya alam Indonesia yang melimpah tidak kunjung dinikmati oleh rakyat karena telah dijual secara beramai-ramai. Hal ini tentu saja bertentangan dengan spirit awal demokrasi, yakni, dari, oleh, dan untuk rakyat.

Kembalikan Pada Rakyat

Semangat awal pelaksanaan pemilihan umum langsung adalah untuk mendengarkan aspirasi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Namun pada akhirnya proses yang berjalan bukan merupakan proses penyampaian aspirasi dan nurani rakyat terhadap negara, dan hanya menjadi mainan beberpa pihak yang memiliki kemampuan dan kewenangan untuk meraih kemenangan. Begitu juga ketika si pemenang pemilu menjadi wakil rakyat atau pemimpin, sumber daya alam dan segala kekayaan di bumi nusantara yang seharusnya menjadi hak rakyat tidak sampai kepada yang berhak.

Praktik demokrasi yang menyimpang ini harus segera dibenahi dengan beberapa langkah. Pertama, short term vision untuk saat ini, yakni rakyat harus disadarkan bahwa tujuan dari pemilihan langsung adalah untuk menyampaikan aspirasi dari setiap individu, baik itu aspirasi tentang kesejahteraan, keadilan, keamanan, dan suara-suara hati rakyat lain. Sehingga rakyat paham betul bahwa setiap orang memiliki hak untuk memilih dan dipilih. Kesadaran inilah yang pada akhirnya mengurangi praktik money politik yang berakibat pada pembengkakan ongkos demokrasi dan besarnya peluang perselingkuhan antara pemodal dan penguasa.

Kedua, long term vision untuk beberapa tahun mendatang dimana organisasi kepemudaan yang selama ini menjadi wadah untuk mencetak pemimpin masa depan harus mampu memiliki visi perbaikan kedepan yang jelas. Sehingga generasi muda hari ini mampu menjadi pemimpin pengganti yang lebih baik dimasa depan. Menanamkan nilai idealisme yang tinggi, melatih kepekaan dalam membaca permasalahan yang ada di masyarakat, dan keahlian menjadi problem solver yang baik. Sudah seharunya kita meninggalkan praktik demokrasi yang tidak berjalan pada jalurnya dan menciptakan harapan-harapan baru melalui generasi muda.

Negeri yang sakit ini seperti sebuah gelas yang setengah isi dan setengah kosong. Namun saya memilih untuk yakin jika pada masanya nanti rakyat tidak akan lagi memandang pemimpin hanya dari jabatan publik, namun sebagai seorang social engineer yang peka terhadap keterbutuhan dan mampu menelurkan kebijakan strategis yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

Rabu, 03 April 2013




Andrea Hirata, melalui beberapa karya sastranya, mengangkat kehidupan masyarakat Belitong yang lekat dengan aktivitas menjadi buruh pabrik di pulau penghasil timah terbesar di Indonesia.  Realitas sosial masyarakatnya tidak jauh dari kemiskinan, kurangnya akses pendidikan, dan penuh dengan simbol penjajahan abad baru di tanah yang telah dianugerahkan Tuhan dengan setumpuk kekayaan. Tidak hanya berlaku pada Belitong, sederetan kisah serupa terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Freeport di ujung timur, hingga lahirnya gerakan Aceh merdeka di ujung Barat yang merupakan akibat dari ketidaksesuaian antara kehidupan rakyat dengan jumlah kekayaan yang dikandung bumi, karena faktanya, semua anugerah itu tidak mensejahterakan penduduk lokal.

Kisah serupa juga tidak luput dari kehidupan masyarakat peisisir Bandar Lampung, mata pencaharian sebagai nelayan tidak menjanjikan kesejahteraan, padahal lautan menyimpan berbagai potensi kekayaan. Tidak tanggung-tanggung, hal itu dibuktikan dengan banyaknya perusahaan-perusahaan yang terus bertumbuh di daerah sekitar. Namun sebaliknya, penduduk lokal hidup dalam rantai kemiskinan, kumuh, marjinal, tingkat pendidikan rendah, dan ketidakteraturan. Kondisi yang ironi ini sudah sewajarnya menjadi pekerjaan rumah yang patut kita pikirkan bersama, baik pemerintah, akademisi, tim-tim ahli, maupun masyarakat sebagai elemen dasar dari sebuah tata sosial.

Sudut Pandang Investasi

Sebuah bencana kelaparan ekstrim di Ethiopia tidak menyisakan tanda tanya yang begitu besar, dikarenakan faktor alam yang memang mendukung terjadinya hal tersebut, curah hujan sangat rendah, tanah yang tandus, dan sumber daya alam yang kurang memadai. Namun, beberapa kasus yang terjadi di Indonesia ini menyisakan kejanggalan yang belum terjawab. Belitong yang kaya akan timah, menyisakan para buruh tambang dengan kehidupan dibawah upah minimum rata-rata, Papua dengan emas yang melimpah, mengahadirkan sebuah fakta kelaparan ekstrim di Yahokimo, hingga penduduk pesisir Bandar Lampung yang hidup pada garis kemiskinan sementara pada lokasi yang sama berdiri gagah perusahaan asing yang membudidayakan kerang mutiara dan hasil laut lain.

Kenyataan pahit yang menjadi perwujudan lain dari bentuk penjajahan abad baru ini telah menggerogoti setiap lumbung kekayaan negeri. Pola investasi dalam mengelola sumber daya alam memerlukan sebuah evaluasi yang besar sehingga bisa membawa kebermanfaatan yang besar bagi masyarakat sekitar. Sehingga tidak ada lagi sebuah epik kelaparan di tanah surga bernama Indonesia.

Menurut Tri Mumpuni, dalam pidatonya di Indonesian Youth Cultural Summit di Bandung, ada tiga aktor penting dalam teori pembangunan, yakni masyarakat, pengusaha, dan pemerintah. Masyarakat ditakdirkan untuk lahir di suatu daerah dengan sumber daya lokal yang sudah selayaknya menjadi jaminan hidup. Dimana terjadi suatu asas kebermanfaatan diantara keduanya, masyarakat memperoleh kehidupan dari sumber daya lokal dan sebaliknya sumber daya lokal dijaga dan dirawat oleh masyarakat agar terus lestari.  Aktor kedua adalah pemerintah, dimana dengan kekuasannya pemerintah memiliki kewenangan untuk membuat peraturan dan melakukan pengaturan. Sudah sewajarnya jika pemerintahan berusaha membuat undang-undang yang pro rakyat dan melakukan peraturan yang baik dalam bentuk pelayanan publik. Aktor ketiga adalah pengusaha, pengusaha memiliki kemampuan finansial yang diperlukan untuk mengelola sumber daya di suatu wilayah sekaligus teknologi yang mumpuni untuk menunjang proses tersebut.

Ketiga aktor tersebut melahirkan dua buah sudut pandang pembangunan yang berbeda, yakni metode pembangunan top down dan buttom up. Dalam metode top down, kaedah investasi yang digunakan adalah bisnis komersial dimana pada akhirnya melahirkan dominasi investasi yang terus mengejar akumulasi kapital. Investasi dengan kaedah bisnis komersial menitikberatkan pada kaedah keuangan dan industri sehingga mengesampingkan rasa keadilan untuk penduduk lokal dan upaya keselarasan dengan alam. Pada metode pembangunan top down dengan investasi bisnis komersial memposisikan pemerintah dan pengusaha dalam posisi diatas dan masyarakat dalam posisi bawah sehingga lahirlah kebijakan Corporate Social Responsibilty sebagai bentuk tanggung jawab terhadap penduduk lokal. Berkaca pada kenyataan di Belitong dan Freeport, CSR tidak mampu memberikan rasa keadilan bagi penduduk lokal yang telah diambil sumber dayanya, justru semakin menguatkan posisi pemerintah dan pengusaha sebagai pihak penguasa yang memiliki rasa murah hati.

Sebaliknya, dalam metode pembangunan buttom up, kaedah investasi yang digunakan adalah bisnis sosial yang menjadikan masyarakat sebagai mitra. Investasi dengan kaedah bisnis sosial mengharuskan pemerintah memposisikan dirinya di posisi tengah antara pengusaha dan masyarakat, sehingga dalam menelurkan undang-undang dan melakukan pengaturan ia tidak menempatkan pemilik modal dan dirinya sebagai penguasa. Kolaborasi investasi pengusaha dan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya yang ada pada akhirnya menciptakan lapangan pekerjaan baru yang bertumpu pada rasa keadilan terhadap penduduk lokal, dimana pengusaha dan masyarakat dapat tumbuh secara bersamaan. Pemilik modal mendapatkan keuntungan, dilain pihak penduduk lokal menjadi terbantu untuk berkembang dengan mengelola sumber daya lokal yang memang ditakdirkan untuk mereka, lambat laun angka penghasilan meningkat dan derajat kemiskinan berkurang. Metode pembangunan buttom up ini pada akhirnya menyadarkan kita bahwa kemiskinan itu bukanlah akar masalah yang sesungguhnya ada di dalam masyarakat kita, namun hanya sebagai akibat dari dicabutnya sumber daya yang ada dari penduduk lokal.

Perselingkuhan Penguasa dan Pengusaha


Dalam perilaku bernegara, pejabat pemerintah cenderung melupakan kewajiban untuk melakukan pelayanan publik yang baik sehingga dalam setiap pemilihan umum, baik itu legislatif, pemilihan presiden, maupun kepala daerah, kecenderungan untuk dipilih kembali dan mengantongi lumbung suara dalam jumlah yang besar menjadi sulit. Hal ini yang kemudian menjadi alasan bagi banyak calon untuk mempersiapkan modal yang besar dalam setiap pemilihan umum, dalam rangka mengumpulkan lumbung suara.

Wakil ketua DPR, Pramono Anung, dalam penelitian untuk disertasi doktoralnya mendapati fakta, untuk Pemilu paling sedikit caleg mengeluarkan mengeluarkan dana minimal Rp 600 juta. Ada juga yang menghabiskan dana hingga Rp 6 miliar. Biaya itu cenderung meningkat dari Pemilu ke Pemilu, sehingga untuk Pemilu 2014 mendatang biaya pencalegkan pasti menyentuh angka milyaran.

Untuk pilkada Jabar beberapa bulan lalu misal, dengan jumlah 5.953 desa, jika kampanye di tiap desa minimal Rp 25 juta maka tiap calon butuh dana minimal Rp. 148,8 miliar. Bahkan pasangan Sukarwo dan Saifullah dalam pilkada Jawa Timur pada tahun 2008 lalu, secara resmi menyatakan menghabiskan dana Rp. 1,3 triliun. Bila untuk pencalonan gubernur saja dihabiskan dana begitu besar, untuk pencalonan presiden tentu lebih besar lagi. Disebut-sebut paling sedikit sekitar Rp 1,5 triliun.

Dana sebesar itu tentu tidak mungkin semuanya berasal dari kantong calon sendiri. Di AS, hampir 80% dana sebanyak itu disumbang oleh para pengusaha. Di Indonesia tidaklah jauh berbeda, dimana hal itu membawa implikasi yang berbahaya. Pertama, hukum dan peraturan produk wakil rakyat lebih mengutamakan kepentingan pemodal. Hal itu tampak pada UU Migas, UU Minerba, UU Penanaman Modal, UU Pangan dan puluhan UU lainnya. Kedua, kebijakan pemerintah (penguasa) lebih berpihak kepada pemodal, sebagai bentuk kompensasi atas modal yang diberikan. Akibatnya kebijakan pemerintah yang lebih berpihak kepada pemodal tampak dalam kebijakan privatisasi migas, privatisasi pendidikan, kesehatan, pemberian izin yang mengabaikan amdal, pengabaian atas transportasi publik, dan sebaliknya terus memberikan insentif kepada perusahaan otomotif, juga beberapa proyek yang sudah diatur agar jatuh ke tangan pengusaha tertentu.

Perselingkuhan penguasa dan pengusaha yang terjadi di negeri ini telah melahirkan duet maut antara keterbutuhan dominasi investor dan perolehan suara, akibatnya sumber daya lokal direnggut dan dipisah dari rakyat yang berujung pada gejala kemiskinan yang semakin mejaralela. Kemanfaatan atas sumber daya lokal hanya dirasakan oleh penguasa dan pengusaha, mereka memposisikan diri diatas dan dengan kuasanya pemerintah menekan rakyat untuk tunduk pada kepentingan pemodal.

Pemilukada Lampung dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat

Sebagai masyarakat Lampung yang notabene provinsi termiskin kedua di Indonesia dan segera menghadapi prosesi pemilihan kepala daerah, kedua hal tersebut perlu menjadi penekanan bagi setiap calon yang akan bertanding pada gelanggang pemilukada. Pertama, kita harus bijak dalam memilih figur pemimpin yang memiliki kebijakan pro rakyat, pro kearifan lokal dan pro pembangunan pedesaan sehingga tidak tunduk pada kepentingan pemodal yang menomorsatukan akumulasi kapital. Karena pemimpin yang pro pada ketiga hal tersebut diharapkan mampu melakukan pelayanan publik dengan baik, menggunakan wewenang dalam membuat peraturan dan melakukan pengaturan dengan sebaik-bainya, menempatkan diri sebagai penyambung antara pemodal dan masyarakat sehingga tercipta proses local empowerment yang memperhatikan rasa kebermanfaatan bersama, sesuai yang telah tertuang dalam pancasila kita “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Kedua, seluruh elemen yang terlibat dalam proses pemilihan kepala daerah harus berkomitmen untuk sama-sama melakukan suatu proses pencerdasan politik kepada masyarakat dengan menjunjung tinggi politik nilai sehingga tidak ada lagi perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha yang pada akhirnya menelurkan kebijakan yang memiskinkan rakyat. Sebaliknya, rakyat, pemuda, dan mahasiswa harus sama-sama mengawal berjalannya pesta demokrasi dengan mengawasi terjadinya praktik money politik di pemilukada sehingga mengurangi kemungkinan perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha. 

Ketiga, pemuda sebagai entitas terbesar di Lampung sudah sewajarnya membantu berjalannya kebijakan yang pro kearifan lokal dengan membantu berjalannya pembangunan yang pro rakyat, pro kearifan lokal, dan pro pembangunan pedesaan. Dengan segala keilmuan dan kreatfitasnya pemuda dapat melakukan upaya-upaya local empowerment sederhana. Upaya ini diharapkan mampu mencerdaskan masyarakat terkait kebijakan pemerintah yang pro terhadap mereka sekaligus menjadi inspirasi bagi calon pemimpin untuk mengelola masyarakat dengan metode pembangunan buttom up.  Secara tidak langsung, proses ini juga membantu mencetak generasi pemimpin masa depan yang memiliki global capacity dan grassroot understanding, sehingga kita memiliki pasokan calon pemimpin yang baik untuk masa depan.

Pada akhirnya kita sama-sama berharap, nasib saudara kita yang di Belitong, Papua, Aceh, dan daerah lain, tidak terulang di Provinsi tercinta ini. Karena sudah seharusnya sumber daya lokal menjadi hak bagi penduduk sekitar, dan sudah sewajarnya kita memiliki pemimpin yang melakukan pelayanan publik dengan baik, melahirkan kebijakan pro rakyat, memiliki metode pembangunan buttom up yang mendukung kolaborasi pemodal dan penduduk lokal sehingga tidak terjadi proses pemiskinan yang merupakan akibat dari pemisahan local resources dari penduduk sekitar.

Rabu, 13 Februari 2013

Negeri ini bagaikan tetesan keindahan surga yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada penduduk bumi. Dari Sabang hingga Merauke dengan bentang alam yang tiada duanya, ribuan gugus pulau, bermandikan cahaya matahari sepanjang tahun. Dibalik tanah dan airnya tersimpan kekayaan Tuhan yang siap menunjang proses kehidupan bagi umat manusia di atasnya. Sungguh miris, jika Indonesia dengan emas, timah, dan minyak bumi yang melimpah masih menyisakan anak-anak putus sekolah. Sungguh ironi, di negeri subur permai ini masih mengisahkan cerita kelaparan.

Sementara disana, dari negeri paman sam, atau tanah Jerman, kisah kesuksesan putra bangsa tak dapat dimunafikkan. Lagi-lagi Tuhan melengkapi anugerah surganya, dengan menghadirkan putra-putri bangsa yang cerdas ceria. Namun disayangkan, ibarat jutaan anugerah itu adalah lidi, hingga saat ini belum ada sosok pemimpin yang mampu menyatukannya menjadi sebuah sapu yang berguna.

Sebagai generasi muda yang tumbuh diaatas tanah ini, dan minum air dari bumi pertiwi. Saya merasa haru, melihat tingkah laku para pemimpin negeri. Gonjang-ganjing perebutan kursi 2014 lebih menarik ketimbang duduk satu meja memusyawarahkan nasib bersama. Satu persatu partai politik lenyap dari hingar bingar idealisme, keterlibatan bendahara umum partai demokrat dalam kasus hambalang, politisi PAN yang mendekati lingkaran obat terlarang, hingga diaulatnya presiden PKS sebagai tersangka proyek impor daging sapi, menjadi sederet kisah yang menyisakan luka bagi para pemupuk harapan di negeri ini.

Pada hingar-bingar reformasi 1998, semua orang berbicara tentang multipartai, dan mereka percaya bahwa partai mampu menjadi wadah pengkaderan pemimpin yang efektif. Namun fakta telah berbicara, bahwa kekuasaan telah membutakan mata. Pada siapa lagi dosa sejarah ini akan ditangguhkan ? tentu saja pada generasi muda yang akan segera tumbuh dewasa dan menggantikan posisi mereka, para generasi tua.

Melihat fakta ini, tiada pilihan lain anak muda harus mendapatkan perlakuan yang benar agar kelak mampu menjadi pemimpin yang besar. Menjadi pemimpin yang memiliki global capacity, sehingga bisa menerbangkan pesawat bernama Indonesia pada langit globalisasi. Juga menjadi pemimpin dengan grassroot understanding yang tidak diragukan, sehingga mereka tak lagi sibuk memikirkan hingar bingar politik praktis, mereka mampu membaca keterbutuhan masyarakat, mereka yang memiliki karakter untuk duduk bersama demi sebuah visi perbaikan.

Negeri ini memiliki wadah bernama institusi pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga Perguruan Tinggi. Tak dapat dimunafikkan, didalamnya berhimpun jutaan anak muda generasi penerus bangsa dengan potensi yang berlimpah. Jika hari ini mereka bersama berkomitmen untuk menciptakan pemimpin masa depan yang sama-sama kita impikan, maka berpeganglah pada optimisme bahwa negeri ini akan segera sembuh dari sakitnya. Namun jika institusi pendidikan hanya menjadi arena politik lain, jauh dari nuansa keilmuan yang ilmiah, menjadi kendaraan korupsi untuk kantong-kantong elit, mari sama-sama kita ucapkan wassalam pada kesembuahan yang sama-sama kita impikan.

Dahulu kala, pada masa Orede Baru, media tumbuh dalam kondisi terkekang. Namun kini ketika kebebasan itu diberikan, perlahan semua menjadi kebablasan. Stasiun TV, majalah, koran dan media lain berlomba-lomba para ranah komersil yang menghasilkan kapital. Seakan mereka lupa, bahwa apa yang mereka siarkan, cerita yang mereka tulis, menjadi konsumsi tunas-tunas baru bernama generasi muda. Masihkah kita bersama mengharap kesembuhan negeri ini, jika setiap hari anak muda disuguhi cemilan tak sehat dari insan media ?.

Insan dunia mengenal bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang ramah, namun itu dulu, cerita yang tersisa dari kakek dan nenek kita. Masyarakat kita adalah masyarakat yang angkuh. Saat ferari mewah berhenti di lampu merah, saat yang sama anak-anak kecil dengan lagu sendu menghimpun receh. Saat krisis negara distabilkan oleh pedagang kecil, maka makmur akan segera datang dengan pentungan yang menghampiri mereka dengan dalih ketertiban, keindahan dan kenyamanan. Orang tua yang dulu sempat bercengkrama dengan anak-anak mereka, sekarang disibukkan oleh tuntutan karier dan obsesi menghimpun uang. Kini seenaknya setiap anggota masyarakat menghujat tingkah laku buruk pemimpin mereka beramai-ramai, seolah mereka adalah hakim yang tersertifikasi oleh Tuhan. Padahal mereka lupa, jika perilaku masyarakat yang angkuh berpengaruh besar terhadap pembentukan mental kita. Bagaimana generasi kita tumbuh peka dalam gelanggang keangkuhan ? Bagaimana pemimpin kita mampu berjiwa besar ketika masyarakat memfasilitasi pembetukan karakter mereka dengan penuh keculasan.

Negeri kita yang bernama Indonesia, berada dalam kondisi yang setengah isi dan setengah kosong, tinggal bagaimana kita akan menyikapinya, apakah dipenuhi dengan air atau justru dibuang semuanya. Pada akhirnya, cara kita memandang arah kemana negeri ini akan berjalan menjadi awal dari sebuah perbaikan. Mari kita sudahi drama kejenuhan di negeri ini, merevolusi sudut pandang bahwa alat pencetak pemimpin tidaklah sesederhana partai politik atau institusi tertentu. Bangsa ini adalah kumpulan dari jutaan umat manusia, sehingga sudah sepatutnya kelahiran seorang pemimpin juga dilahirkan oleh jutaan manusia, semua terlibat dalam proses pembentukannya, institusi pendidikan, masyarakat, hingga media massa. Mari bersama kita ciptakan ladang yang baik untuk memanen pemimpin yang baik, pemimpin kita semua, yang kita ciptakan bersama, untuk menjadi pengikat bagi jutaan umat manusia, berjalan menuju visi kebangsaan yang besar.  Menjadi Indonesia baru yang maju dan mempesona.

Pertama kali saya mengenalnya bernama friendster. Sebuah media sosial yang menghubungkan antara saya dan senior SMA yang sudah diperguruan tinggi. Saya tahan duduk di warnet berjam-jam hanya untuk mendesain template atau sekedar upload foto ke dalamnya. Padahal harga warnet di Pringsewu kala itu cukup mahal, yaitu 4000 rupiah per jamnya dengan kecepatan yang super lelet.

Tidak lama dari itu, saya mengenal dunia kampus dengan huru-haranya, semakin menyenangkan bisa upload foto-foto yang bernuansa “hore - hore” dengan teman-teman, bisa dibilang “alay”, ke akun yang bernama friendster ini. Menjadi kepuasan tersendiri ketika ada teman yang membuka akun kita dan berkomentar. Namun cerita cinta saya dengan friendster tidak berlangsung lama, pertengahan tahun 2008, disaat teman-teman dikampus saya masih gandrung dengan Friendster, saya mulai beralih ke Facebook. Facebook menjadi jejaring sosial yang lebih menarik perhatian saya, karena ada fasilitas chatting secara langsung, ditambah waktu itu saya bisa ngobrol dengan bebas dengan senior saya yang masih diluar negeri, dimana sebelumnya saya harus berkomunikasi menggunakan e-mail.

Lambat laun Facebook menjadi jejaring sosial yang hits di kampus saya, anak-anak muda berbondong-bondong migrasi dari Friendster, mereka bisa bebas update status, share foto, saling mengomentari, dsb. Fasilitas ini bak gayung bersambut dengan alam perasaan anak muda yang lebih ingin eksis, huru-hara bersama teman-teman dan membutuhkan ruang untuk mencurahkan isi hati. Sehingga bukan hal yang aneh jika dalam beberapa bulan virus “galau” menjangkiti berbagai pengguna facebook. Termasuk saya salah satunya.

Awalnya saya menyangkal dan berjuang keras untuk tidak galau di Facebook, namun godaan zaman membuat saya luluh juga. Perlahan dan tak pasti, saya mulai menumpahkan keluh kesah, kebahagiaan, cerita, dan kerinduan saya di Facebook. Hingga pada akhirnya warnet menjadi sahabat dekat dikala lelah dengan perkuliahan dan aktivitas lain. Saya bisa menghabiskan puluhan ribu untuk duduk di warnet dan bermain Facebook.

Hingga pada suatu malam, melalui Facebook, saya bertemu dengan profil sesosok yang saya kenal komunitasnya. Beliau adalah pemenang ajang Duta Muda ASEAN yang saat itu saya juga mendaftar namun tidak lolos seleksi berkas. Satu hal yang menarik dari sosok ini adalah kepeduliannya. Biasanya, teman-teman saya yang prestasinya sudah kesana-kemari akan semakin fokus dengan dirinya dan lupa akan dunia sekitar, namun beliau berbeda.

Kebiasaan anak muda jika penasaran dengan seseorang adalah mengikuti setiap aktivitasnya di jejaring sosial alias “kepo”. Dari ke”kepo”an saya ini akhirnya saya tau bahwa beliau telah menginisiasi banyak perubahan sosial dan itu beliau galakkan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, You Tube, Blog, dsb. Beperapa project yang pernah beliau jalankan adalah Sea Change, School of Volunteers, Ayo Berbagi, Children Behind Us, Fireflies, dan termasuk Parlemen Muda Indonesia yang saat itu sedang membuka pendaftaran untuk kandidat wakil provinsi. Semua itu adalah proyek-proyek sosial yang ia lakukan bersama teman-teman karena mereka resah melihat kondisi sekitar, ada yang fokus pada isu pangan, anak, pendidikan, kesehatan, hingga lingkungan.

Merasa penasaran dan tertarik dengan Visi dan Misinya, sayapun mendaftar ajang Parlemen Muda Indonesia. Pendaftarannya saya lakukan melalui website, komunikasi dengan panitia melalui e-mail dan grup facebook, kemudian saya berkampanye menggunakan blog, youtube, fans page, dan media sosial lain. Hingga akhirnya, saya melewati sesi wawancara melalui twitter. Padahal saat itu saya belum terlalu familiar dengan media sosial lain selain Facebook dan Friendster, namun secara tidak langsung saya harus berlatih menggunakannya, dan tanpa disengaja saya menggunakannya untuk hal-hal yang positif.

Setelah saya dinyatakan lolos sebagai wakil provinsi, saya terbang ke Jakarta dan mengikuti rangkaian acara seperti konferensi Meet the Leaders, Sidang Parlemen Muda, advokasi ke beberapa lembaga negara, dan tentunya ada sebuah sesi Capacity Building yang didalamnya saya diajarkan berkampanye dengan menggunakan media sosial. Saat itu saya sempat terdiam karena pada sesi Meet the Leaders kami diberikan fasilitas bertanya hanya menggunakn twitter, namun saya belum begitu mahir menggunakannya, mendengar istilah hastackpun baru kali itu. Dari sinilah saya mencoba akrab dengan berbagai media sosial lain, dan inspiratifnya, nyaris para pembicara yang hadir menjadi pengisi acara, menggunakan media sosial untuk menunjang gerakan sosial yang mereka buat. Sebut saja sebuah platform online bernama Inspire Cast yang digawangioleh artis cantik Marshanda, kampanye teman-teman Indonesia Mengajar, kampanye Koperasi Kasih Indonesia, Ashoka Young Changemaker, TEDx, Unesco Youth Desk, juga beberapa gerakan sosial yang memiliki cabang di daerah seperti Koalisi Pemuda Hijau dan Indonesian Future Leadersyang memilih media sosial sebagai sarana kampanye dan komunikasi mereka. Sebuah pilihan cerdas, karena selain murah, juga tidak terbatas oleh jarak, baik di dalam maupun diluar negeri.

Itulah titik awal saya melihat peluang lain dari media sosial, selain saya memiliki ruang untuk berbagi curahan hati, ingin eksis, juga berjumpa dengan banyak teman dengan mudahnya, saya bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan lebih baik lagi untuk terinspirasi dan menginspirasi atau bahkan berkolaborasi dengan banyak orang dan komunitas. Lagi-lagi ke”kepo”an saya dengan komunitas-komunittas yang baru saya kenal ini menghantarkan saya dengan gerakan-gerakan yang lebih besar seperti Indonesia Young Changemakers, Indonesia Berkebun, Wirausaha Muda Mandiri, Hult Challange, Global Chagemaker, dll. Hingga saya melihat sebuah peluang emas dengan menyatukan antara tiga unsur, yaitu eksistensi anak muda, media sosial, dan perubahan sosial.

Rupanya bukan hanya saya yang berfikir demikian, huru-hara pilkada Jakarta juga ramai menggunakan media sosial, seperti Facebook dengan aplikasi game Jakarta Baru, twitter dengan akun @triomacan yang begitu aktif melakukan provokasi, blog salah satu artis yang produktif mendukung pasangan independent, Youtube yang menampilkan video klip kreatif versi kampanye, dll. Media sosial menjadi media kampanye yang murah dan lebih efektif, karena spanduk, TV, radio, dll hanya mampu menjadi media kampanye satu arah, namun media sosial mampu menjadi media kampanye dua arah dan memungkinkan pasangan calon untuk berdialog lebih dengan masyarakat. Uniknya fenomena ini juga terjadi di Amerika Serikat dalam kampanye presiden yang terakhir. Luar biasa, dari sebuah tindakan-tindakan kecil seperti update status, berkicau di twitter, upload foto, share video, bisa membawa dampak yang besar untuk masyarakat.

Masih juga terngiang dalam ingatan saya, fenomena Arab Spring yang belum begitu lama, revolusi Mesir dan gejolak negara-negara Timur Tengah akhir-akhir ini juga bermula dari media sosial. Mereka menggunakan media sosial untuk kampanye dan konsolidasi. Sudah tentu, provokasi dapat berjalan dengan sangat cepat dan murah dalam hitungan detik hingga akhirnya Mursi hadir sebagai sosok pemimpin baru di Mesir.

Semua itu menjadi kisah sederhana yang begitu bermakna dalam hidup saya. Sebuah hikmah yang luar biasa, dari kebiasaan eksis, galau dan kepo di Facebook yang kemudian mengenalkan saya dengan sebuah perubahan sosial dari tataran lingkungan sekitar, daerah, nasional, hingga isu-isu terkini di dunia internasional. Saya membayangkan, seandainya saja ada banyak sosok seperti Duta Muda ASEAN yang menginspirasi lewat media sosialnya mungkin akan semakin banyak orang-orang yang terbuka matanya seperti saya. Berani memulai untuk melakukan aktivitas sosial dan melakukan perubahan kecil di lingkunagn saya. Seandainya saya hari ini juga berani memulai untuk membagi cerita aktivitas sosial saya di facebook, twitter atau blog, maka saya akan menginspirasi orang lain, dan orang lain akan menginspirasi yang lainnya, dan yang lainnya akan menginspirasi yang lain lagi hingga jumlah yang tidak terhingga. Luar biasa ! Sebuah inspirasi maha dasyat, murah, cepat dan mudah.

Teringat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa sebuah perubahan besar dimulai dari satu langkah sederhana. Sosok Duta Muda ASEAN itu tidak pernah berfikir dampak dari status yang ia update, cerita yang ia bagi di blog, tweet yang ia ketik, dan hal-hal sederhana lain yang ia lakukan mampu merubah hidup dan pandangan orang lain, begitupun pilkada Jakarta, pemilu Amerika, dan revolusi Mesir yang begitu besar, jika kita sederhanakan, semua itu tidak lain dipengaruhi oleh tindakan-tindakan sederhana di media sosial kita. Jadi, tunggu apa lagi ? Yuk rubah kegalauan menjadi sebuah revolusi besar !

*) essay ini saya ikut sertakan di lomba essay natural unila dan berhasil masuk sebagai urutan ke-8, sebuah semangat baru untuk menulis lagi.

Jumat, 02 November 2012






Sepulang dari Parlemen Muda saya banyak dibayang-banyangi oleh kata project sosial, sempat mengajukan sebuah proposal, namun setelah dijalankan juga.... menghadapi moment ujian nasional ini kami berharap mampu berbuat lebih bagi adik-adik yang akan menghadapinya..., bukan hanya membantu mereka dalam menghadapi Ujian Nasional secara gratis... namun juga merubah mindset adik-adik dalam memandang ujian nasional sebagai salah satu indikator pendidikan saja, bukan segalanya dalam pendidikan...

Senin, 29 Oktober 2012


Hari ini melalui kelas kurikulum, namun saya jauh lebih diam dari sebelumnya, jujur karena saya takut disalahkan oleh profesor saya yang satu ini. Sebenarnya perbincangan hari ini cukup menarik terlebih ketika saya membayangkan jika dikelas itu diisi oleh Pak Anies, Dick Doang, dan temen-temen komunitas yang peduli pendidikan seperti komunitas Hong, Bandung City Creative Forum, Asgar Muda, Indonesia Bercerita, Komunitas Dakocan, dll. 

Kami berbincang terkait sebuah ideologi kurikulum... dan saya agak kaget dengan fokus diskusinya, terlalu jauh dengan apa yang saya tau dengan ideologi,.. bangsa ini berpegang pada pancasila, tapi ideologi kurikulumnya student center ????  "wajar saja jika bangsa ini hilang arah dan hilang nilai" karena para pendidiknya bak ekor pesawat yang mencoba terbang sendiri, bangsa punya cita-cita apa dan pendidikan ini hendak dibawa kemana bukan menjadi hal yang linear.  ibarat sebuah organisasi, sang ketua berjalan kemana, kepala departemen A kemana, kepala departemen B kemana, sehingga visi organisasi tidak jelas dan terpecah. Fokus kekuatan hilang dan disibukkan oleh konflik. 

Disaat saya sedang ragu antara berbicara dan tidak, teman saya bertanya "mb, besok berniat ngambil pendidikan profesi guru ?" dan sayapun menjawab "sepertinya tidak, karena saya ingin fokus pada pendidikan informal". mungkin itu jawaban konyol bagi teman-teman saya. pendidikan informal ? sebuah profesi yang tidak menjanjikan secara finansial. 

Namun bukan itu yang saya pandang, saya membutuhkan sebuah counter proposal atas apa yang ada hari ini, saya ingin suatu hari setiap pendidik mengerti kemana ideologi kurikulumnya bermuara, tidak menjadi hal yang tertutup kabut padahal itu melenceng dari tujuan bangsa. Dan lagi-lagi saya merenungkan islam sebagai sistim yang sempurna, sistim pendidikan islam tidak akan pernah lekang dari ideologinya, karena ada dimensi keimanan disana, sehingga semua lebih terarah dan terjaga. 

Ya Allah...  berikan saya tempat belajar yang maksimal, sehingga kelak bisa membangun tempat-tempat belajar informal di seantero Lampung, belajar yang lebih efektif dan bervisi, sehingga jelas kemana kita akan pergi dan bersinggah. 

Selasa, 23 Oktober 2012




Setelah beberapa bulan mati suri, sekarat, koma atau apapun namanya, akhirnya departemen ekonomi kembali bangun. Renstra yang sudah disusun diawal harus mengalami berbagai perubahan karena mengalami pengunduran waktu. Pada akhirnya kami berempat ( baca : kak rasim, kak sani, kak waski dan saya) sepakat untuk mengadakan training kewirausahaan. Rapat penyusunan materipun dimulai, biasanya kalau sudah begini perbedaan mazhab diantara kami berempat sangat berbeda. Kak rasim dengan jiwa pengusahanya, kak sani dengan jwa wirausaha anak muda, kak waski dengan ekonomi syariah, dan saya dengan kewirausahaan social. Pada saat rapat sudah sempat terjadi titik temu untuk menyatukan keempat gagasan ini, namun pada pelaksanaan akhirnya saya mengurungkan niat untuk transfer gagasan saya terkait kewirausahaan sosial karena terdesak oleh yang lainnya. Akhirnya saya mengikuti ritme yang saat itu berjalan untuk menyemangati mereka dalam membangun usaha dan berharap suatu saat dapat menyematkan apa yang saya pikirkan.

Ada apa Dibalik Training Kewirausahaan ?

Gerakan mahasiswa memiliki tiga peran, sebagai agen perubahan, control sosial, dan kawah candradimuka untuk mengkader para pemimpin. Dalam membangun suatu perubahan yang diinginkan bersama, tidak terlepas dari masalah membangun kesejahteraan, karena bahasa kesejahteraan telah menjadi bahasa multidimensional dalam bidang politik untuk mengukur keberhasilan suatu Negara, tertinggal, berkembang, atau maju, terlebih ditengah hiruk pikuk kapitalisme, ekonomi islam harus mampu memberi jawaban atas masalah kesejahteraan ini. Sebagai salah satu pilar untuk mengevaluasi jalannya kemerintahan, gerakan haruslah mandiri secara financial, hal ini diharapkan mampu memberikan keindependenan yang lebih terhadap gerakan itu sendiri kala meluncurkan kritik terhadap pemerintah. Akan sangat sulit untuk menajamkan gerakan, apabila terjadi dua sisi mata uang, disatu sisi mengkritik dan disisi lain membutuhkan suplay dana, hal ini memberikan celah besar terjadinya jual beli gerakan. In term of kawah candradimuka bagi calon pemimpin, organisasi pergerakan perlu menanamkan jiwa kemandirian financial bagi para kadernya, sehingga ia memiliki pendidikan politik yang baik bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah sifat untuk melayani dan melahirkan kesejahteraan bagi orang lain. Bukan sebuah jabatan yang menjadi pekerjaan ber-income bagi kita.

Mengapa Kewirausahaan Sosial ?

Membangun ekonomi gerakan, terlebih gerakan islam, harus mampu memberikan nilai lebih. Tidak hanya mampu menghidupi organisasi secara mandiri namun juga bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar. Kewirausahaan sosial mampu menjawab tantangan ini sekaligus beriringan dengan kaidah ekonomi islam.  Kewirausahaan sosial mampu mengintegrasikan antara SDM/SDA dengan pemilik modal, dan pemerintah hanya berperan dalam mengambil kebijakan, sementara dalam kewirausahaan komersial, duet maut terjadi antara pemilik modal dan pemerintahan untuk mendapatkan SDA/SDM sebanyak-banyaknya, akibatnya masyarakat juga dirugikan. Pada titik inilah aktivis perlu menimbang apa dampak dari usaha yang dibangun oleh organisasi pergerakannya, apakah itu sesuai dengan idealisme gerakan atau tidak.

Jangan Terjadi Dikotomi Departemen !

Banyak semboyan yang membuat saya sedikit gerah. Teman-teman dari departemen kaderisasi itu sholeh-sholehah, dari kebijakan public itu hobi pegang toa dan sedikit nakal, teman-teman dari departemen ekonomi itu profit oriented. Hal ini menunjukkan sebuah organisasi yang tidak sehat, sudah seharusnya temen-teman kaderisasi juga memiliki kemampuan advokasi yang tidak kalah dari teman-teman kebijakan public, karena ia sedang mengkader orang untuk menjadi actor gerakan. Teman-teman kebijakan public dan departemen ekonomi juga sholeh dan sholehah karena sejatinya renstra terbesar dari gerakan yang ia bangun adalah kejayaan islam, begitu juga dengan teman-teman ekonomi, tidak hanya sekedar mencari profit namun juga dialurkan pada pola kebijakan public seperti yang saya uraikan pada sub-kewirausahaan sosial, turut serta mengempower masyarakat dan membangun basis advokasi. Ibarat sebuah pesawat terbang, tidak kemudian ekor terbang duluan, baru sayap terbang, atau roda ke kanan, dan kokpit ke kiri, namun mereka berjalan bersama menuju bandara yang dituju. Wallahu’alam.