Tampilkan postingan dengan label islamku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islamku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2013


Mungkin ada kalanya diantara kita berfikir bahwa sebenarnya apa yang menjadi benar dan salah di dunia sekarang ini adalah konsensus mayoritas manusia menganggapnya apa. Contoh saja, seorang pelajar yang tidak lulus ujian nasional karena tidak mengikuti prosedur contek mencotek di sekolahnya, sudah bisa dipastikan teman-teman dan guru-gurunya akan menyalahkan tindakan bodohnya itu dan berdalih “ini kan demi kebaikanmu juga, kalau sudah begini bagaimana ? Bukankah mengulang sekolah satu tahun lagi lebih buruk? Belum lagi citra sekolah dan peluang kepercayaan perguruan tinggi ke sekolah”. Pengalaman di atas pernah terjadi pada salah seorang teman dekat saya, dan sebenarnya saya bingung, siapa yang sebenarnya salah ? karena menurut saya teman saya itu tidak salah sama sekali. Ia hanya mengaplikasikan sebuah pelajaran yang ia dapat dari TK, yaitu kejujuran dan tanggung jawab, ia jujur akan siapa dirinya dan bertanggung jawab atas nilai dirinya sendiri. Namun karena apa yang ia lakukan itu tidak umum di logika manusia yang menganggap tidak lulus UN itu adalah aib, maka orang-orang memandangnya salah.

Titik Ekstrim di Dalam Statistik Dianggap Tidak Ada
 

Hari ini saya mendapat sebuah pelajaran baru dari mata kuliah research, dan ada hal yang cukup menggelitik bagi saya untuk menuliskan ini. Kurva di dalam data statistik berpendapat bahwa jumlah orang bodoh di dunia ini ada 3 % , rata-rata 30 %, dan cerdas 3 %, penghubung diantara ketiganya sekitar 20%. Satu hal yang unik, statistik tidak menerima kondisi ekstrim yang langka dan hanya terjadi pada segelintir orang. Mari saya sederhanakan penjelasannya. Misal saja dalam sebuah ujian matematika, yang mendapat nilai 4 sebanyak 10 orang dan mendapat nilai 8 sebanyak 7 orang, sementara nilai rata-rata ujian tersebut adalah 6 dan 60% siswa berada pada titik rata-rata ini maka kurva berupa gunung dengan puncak di tengah mampu menggambarkannya, namun jika ternyata ada satu orang anak yang mendapat 100, maka satu anak itu tidak akan digambarkan di dalam kurva dan diperhitungkan oleh analisis statistik karena dianggap sebagai sebuah fenomena ekstrim dan langka terjadi.

Mendengar penjelasan dari dosen saya, ada dua nama yang melintas, yaitu Nabi Muhammad dan Einstein. Mari kita bahas Einstein terlebih dahulu, karena ia lebih mudah diterima logika manusia.

Ada dua jenis ekstrimis di dunia ini yang tidak mampu diterima oleh statistik, yaitu orang yang benar-benar idiot dan orang yang benar-benar jenius. Orang-orang yang berada dalam rentang kurva statistik cenderung sombong dang mengangap dua golongan ekstrim ini bodoh. Itulah yang berlaku pada Einstein, gurunya menganggap pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan itu tidak lebih dari pertanyaan idiot. Hingga akhirnya einstein menjadi sosok fenomenal pada akhirnya. Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak memberikan justifikasi bagi orang ekstrim begitu saja, karena logika kita yang tidak sampai padanya, jadi tidak sepatutnya kita mengukur sesuatu tanpa alat ukur.

Sosok kedua adalah Nabi Muhammad, diaman pada awal ia menyampaikan ajaran islam dianggap gila, anda tau mengapa ? karena Islam adalah ajaran untuk sebuah sisitim kehidupan yang terlampau sempurna untuk diterima logika manusia. Produk dari Sang Maha yang beyond of the logic. Jika anda penasaran, bisa mempelajarinya dan mohon ma’af saya tidak bisa membahas secara detail karena tidak akan cukup untuk dituliskan disini.

Demokrasi : Suara Rakyat Suara Tuhan

Mengingat ajaran Mostesque yaitu dari, oleh, dan untuk rakyat membuat saya berfokus pada sistim pemerintahan yang sedang in di Indonesia dan Amerika yang hari ini cukup menjadi kiblat peradaban dunia. Spirit di balik demokrasi adalah “rakyat” sekali lagi “rakyat”, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Itulah mengapa dalam mekanisme pengambilan keputusannya dilakukan voting, dan suara mayoritas akan menang.

Pelaku voting adalah rakyat itu sendiri, kumpulan manusia dimuka bumi yang sebelumnya kita analisis menggunakan kurva statistik. Hasil dari voting tersebut adalah suara mayoritas, sehingga suara mayoritas menjadi suara kebenaran, suara mayoraitas menjadi suara Tuhan, dan singkat cerita suara rakyat suara Tuhan. Yang menjadi masalah adalah di dalam kurva statistik, kemungkinan yang menduduki puncak kurva/populasi terbanyak, adalah sesuatu yang bisa diterima oleh akal manusia yang terbatas, sesuatu yang diterima dan disepakati mayoritas orang, bukan sesuatu yang berlandaskan pada kebenaran haqiqi. Apalagi bagi mereka yang menganut ajaran keTuhanan, akan cenderung sulit diterima kebenarannya, karena logika keTuhanan itu jauh diatas logika manusia.




Kebenaran Alqur’an Yang Haqiqi

Hal ini menarik, ketika saya menulis terkait Al-qur’an, karena kita akan kembali pada sosok bernama Muhammad SAW yang menerima setiap katanya dari Allah SWT. Awal perjalanan dakwah sang Nabi kerap dibilang sebagai orang gila, bagaimana tidak, mari kita bahas sebuah contoh yang sederhana, pada masa itu ilmu pengetahuan mengatakan bahwa bumi ini datar dan langit adalah atap yang disangga oleh gunung-gunung di ujung batas dunia. Namun hari itu Sang Nabi berkata “langit dan bumi dahulunya adalah sesuatu yang padu, kemudian Allah memisahkannya dalam tujuh masa”. Bagaimana Sang Nabi tidak dianggap gila, karena hari itu ilmu pengetahuan manusia belum ada pada titik tersebut. Baru beberapa tahun setelahnya Galileo-Galilei menemukan teleskop dan mengatakan bahwa bumi bulat, dan terus berkembang hingga dicetuskan teori big bang.

Fenomena ini mengajarkan kita dua hal, 1. Muhammad SAW adalah sesosok yang ekstrim dan berada diluar kurva statistik, dan 2. Apa yang disamapaikannya beberapa tahun silam, yang membuatnya dijuluki gila, bukanlah sesuatu yang salah karena pada akhirnya terbukti kebenarannya. Asumsi bahwa langit adalah atap yang disangga oleh gunungpun patah dan menjadi salah pada masa sekarang.

Jika pada awal paragraf saya berfikir bahwa kebenaran itu adalah suatu konsensus, pada akhir paragraf ini saya berkesimpulan bahwa kebenaran itu adalah suatu yang mutlak, dan konsensus bisa berubah. Saya juga menyadari bahwa ada pesan-pesan Tuhan di dalam Al-qur’an yang mampu menjadi alat ukur benar dan salah kita, menjadi petunjuk bagi sekalian alam. Memang ia sulit dipahami, namun akan menjadi mukjizat bagi ia yang berfikir. Wa’allahualam bi shawab.

Kamis, 03 Januari 2013


*dicopy dari  http://elvandi.com/ayat-cakrawala/


‘Les avions sont des jouets intéressants mais n’ont aucune utilité militaire’’ [Pesawat terbang memang mainan menarik, tetapi tak ada nilainya secara militer], kata Marsekal Ferdinand Foch. Itu pernyataan populer tahun 1911. Tapi mengapa bisa seorang pakar strategi militer Perancis dan komandan Perang Dunia I mengatakannya? Atau bahkan, mengapa manusia menertawakan ide Orville dan Wilbur Wright yang melulu gagal saat percobaan pesawat terbang mula-mula?

Tapi saat Wright bersaudara membuktikan bahwa benda yang lebih berat dari udara bisa terbang atau saat Amerika mulai massif menggunakannya dalam perang, barulah tawa lugu berhenti dan pikiran lama berganti. Karena pada akhirnya realitas hidup manusia tidak akan lebih jauh dari daerah yang tersorot mercusuar pikirannya. Setiap kali sinar pikiran mulai menyoroti jengkal-per-jengkal bumi manusia, saat itu terjadi peristiwa, dan peristiwa itu yang kemudian menjadi realitas hidup bersama.

Pembebasan diri atas kendala-kendala pikiran; dari hegemoni tradisi, kesamaran yang mengecohkan, dan terbaliknya timbangan kebenaran adalah proses pengkondisian pikiran untuk ditanam di tanah yang benar. Sehingga ia siap tumbuh meninggi. Supaya ia rindang berbuah. Tapi pikiran tidak dengan sendirinya tumbuh hanya karena ia bertengger di tanah gembur. Dahan-dahannya tidak otomatis berdaun ide dan berbuah gagasan jika akarnya kering variasi air pengetahuan.

Berapa banyak dosen yang matang metodologi berhenti berkreasi saat pangkat meningkat dan kemapanan finasial menjelang. Atau kritikus sastera atau da’i kondang penyeru reformasi dan pelarang taklid atau trainer pelatihan berfikir strategis, tapi perangkat berfikir itu menjadi puncak akhir kreatifitas mereka bahkan satu-satunya sumber penghasilan hidup mereka? Mercusuar pikirannya tidak pernah menyorot lahan baru, tidak ada ide baru, kecuali sekedar mengkrisi kondisi dan ucapan ‘harus ada perubahan’ tanpa rekomendasi materi perubahan. Padahal metodologi berfikir yang benar adalah perangkat untuk konsumsi pengetahuan menuju produksi karya peradaban.

Mimpi-mimpi besar selalu membutuhkan pikiran besar. Maka rencana kerja unggulan seorang pemuda untuk masa depannya bisa sekedar dibuat memoar semangat masa lalu jika pikirannya tidak mampu memenuhi kapasitas mimpinya.

Itu rahasia kecepatan belajar Zaid bin Tsâbit muda dan rahasia kekuatan diplomasi Rasulullah. Zaid ingin meraih posisi kontribusi tertinggi bersama Rasulullah, apalagi kalau bukan jihad, dan Rasulullah membutuhkan referensi pengetahuan untuk umat Islam. Maka diberinya misi lain ‘‘pelajari bahasa orang Yahudi, karena aku tidak yakin dengan (terjemahan) mereka” perintah beliau. Maka Zaid menyelesaikannya dalam dua pekan. Sehingga di usianya yang ke-13 ia menjadi penerjemah resmi negara, selalu di samping Rasulullah dalam diplomasi-diplomasi. Dan Rasulullah tidak bergantung dengan penerjemah import untuk bahan kebijakannya, karena umatnya mensuplai kebutuhan itu.

Diseluruh sisi kehidupan, generasi sahabat mengalirkan pengetahuan spesifik yang memuaskan dahaga umat sampai akhir zaman. Ada pakar tafsir, ‘Abdullah bin ‘Abbâs Sang Tinta umat [Habrul Ummah], pakar Fiqh Mu’âdz bin Jabal, dalam bacaan al-Qur’an Ibnu Mas’ud masterpiecenya, ada legenda perang seperti Singa Allah Hamzah [Asadullah] dan Pedang Allah Khalid bin Walîd [Saifullah], sekretaris Umat Abû ‘Ubaidah al-Jarrâh [Amînul Ummah], bank hadist Abu Hurairah, simbol kecerdasan Arab ‘Amr bin al-‘âsh [Dâhiyyatul ‘Arab] dan ada juga Sang Pembeda kebenaran dan kebatilan Umar [al-Fârûq] dalam kebijakan publik.

Kehidupan generasi sahabat dimulai dari garis terendah pengetahuan dibanding umat-umat yang sezaman: Roma, Persia, India, Cina, Mesir. Tapi persepsi mereka tentang sumber belajar tidak terbatas, maka hanya dalam dua abad umat Islam menjadi kiblat belajar manusia. Hanya ketika mereka berhenti merambah domain baru pengetahuan, maka mereka berhenti memimpin.

Cerita kebangkitan setiap umat, adalah cerita perjalanan cakrawala pikirannya.  Dan hasil akhir peradaban mereka adalah akumulasi akhir cakrawalanya. Sebabnya sederhana, peradaban itu dibangun atas ide-ide yang konstruktif yang menjawab tantangan zamannya.

Tapi ada persoalan lain disini. Seruan-seruan kebangkitan yang mengiang-ngiang di sudut-sudut mesjid kampus atau organisasi-organisasi Islam dengan tawaran ide ‘Islam adalah solusi’ seperti hektaran bunga segar beragam warna. Ia menginspirasi masyarakat muslim pada awalnya. Apalagi  jika ide itu kontras dengan budaya anti Islam yang diperankan pemerintah. Tapi bunga-bunga slogan itu mulai layu saat pengawal-pengawal Islam itu ternyata tidak mampu memberi solusi seperti slogannya saat diberi kesempatan mengelola masyarakat.

Lalu berputarlah konsolidasi dan seminar evaluasi menyelesaikan masalah: revitalisasi pembinaan gerakan mahasiswa muslim, penguatan semangat dakwah, kembali ke jalan pendahulu.  Padahal akar kemandegan ide dan kreasi dakwah itu tidak selalu berhubungan dengan dimensi semangat, motif, bahkan akidah.

Ide-ide adalah hasil referensi. Disanalah keretakan dasar yang menggoyang keseluruhan bangunan. Ini persoalan paradigmatik, karena itu tidak selalu terlihat jelas. Tapi ia terlihat misalnya; saat slogan ‘kembali ke jalan Qur’an’ itu diartikan mencukupkan  pada teks Qur’an sambil meremehkan kajian ilmiah di bidang sosiogi, politik, filsafat sejarah, metalurgi, tata kota, geologi. Atau jika ada proyek-proyek umat Islam dalam mengelola kota misalnya: jika rekomendasi para penghafal Qur’an dan lulusan syar’i diberi porsi besar dalam kebijakan tanpa analisis memadai rombongan pakar kebijakan publik, doktor transportasi, guru-guru anthropologi.

Sesempit itu cakrawala umat sesedikit itu juga kemungkinan ide-ide yang mampu diproduksinya. Padahal science yang multidimensi itulah bahan-bahan utama pikiran dan ide umat untuk merespon kebutuhan manusia. Bahkan, cakrawala yang  multidimensi tersebut adalah bahan dasar para pemimpin muslim yang menyejarah sepanjang zaman.

Sumber pengetahuan yang sering dipersepsi non-Qur’ani itu justru sunatullah kebangkitan setiap umat. Ia adalah syarat yang Allah tetapkan bagi semua manusia, muslim ataupun bukan. Oleh karena itu ribuan ayat mengarahkan agar umat Islam yang terlebih dahulu membuka cakrawala berfikirnya dan mengkaji semua sisi hidup ini sebelum didahului yang lain. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di cakrawala bumi dan dalam diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar… ’’, [Fusshilat: 53].

Senin, 05 November 2012



Pada masa-masa awal turunnya ayat-ayat Al Quran, penyebutan Allah menggunakan kata ganti Tuhanmu.
  • QS. Al ‘Alaq: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
  • QS. Al Qalam: Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
  • QS. Al Muzzammil: Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.
  • QS. Al Muddatstsir: Dan Tuhanmu, agungkanlah!
  • QS. Al A’laa: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.
  • QS. Al Fajr: Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?
  • QS. Adh Dhuhaa: Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu.
  • QS. Al Insyirah: Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
  • QS. Al Kautsar: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. 
  • QS. Al Fiil: Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
Dengan adanya penyebutan Tuhanmu tersebut, orang-orang musyrik menjadi bingung. Mereka bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Muhammad, kamu ini selalu menunjuk yang kamu sembah dengan kata Tuhanmu. Kenapa tidak dengan kata Allah? Coba jelaskan kepada kami seperti apa Tuhanmu itu. Tuhan kami adalah Tuhan yang punya anak-anak, bagaimana Tuhan kamu? Tuhan kami (berhala-berhala), terbuat dari emas dan tembaga, coba jelaskan kepada kami bagaimana Tuhan kamu?”

Setelah itu turunlah surat Al Ikhlas yang bertujuan untuk membantah semua kepercayaan yang keliru mengenai konsep Tuhan yang dimiliki oleh orang-orang musyrik.

“Katakanlah (Muhammad): Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.”


Orang Arab mengatakan, “Bagi lelaki yang ingin menikah, hendaklah ia TIDAK memilih tipe wanita: annanah, hannanah, dan mannanah.
  1. Annanah adalah wanita yang banyak menggerutu dan berkeluh kesah, setiap saat dan setiap waktu, dengan atau tanpa sebab.
  2. Hannanah adalah wanita yang banyak menuntut kepada suaminya, ia tidak ridha apabila diberi sedikit. Ia suka membandingkan suaminya dengan lelaki lain.
  3. Mannanah adalah wanita yang suka mengungkit-ungkit apa yang dilakukannya terhadap suaminya. Misal dengan mengatakan, “Aku telah lakukan ini dan itu karena kamu….”
(Source: menorehjejak)


Satu-satunya surat di dalam Al Quran yang tidak diawali dengan kalimat basmallah (بِسْÙ…ِ اللَّÙ‡ِ الرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِيمِ) adalah surat At Taubah. Ada beberapa alasan kenapa surat ini tidak diawali dengan basmallah, yaitu:
  • Ayat-ayat di surat At Taubah berbicara mengenai pemutusan hubungan antara Tuhan dengan orang-orang yang durhaka. Dan biasanya, jika terjadi suatu pemutusan hubungan, pemutusan perjanjian tersebut dilakukan tanpa menyebut nama Tuhan.
  • Sebenarnya surat At Taubah dengan surat An Anfal (surat sebelumnya) memiliki tema yang hampir sama. Dalam surat An Anfal terdapat uraian tentang perlunya menepati ikatan-ikatan perjanjian. Sedangkan, surat At Taubah menguraikan tentang pemutusan perjanjian terhadap mereka yang mengkhianati perjanjian. Karena temanya dianggap senada, awal surat At Taubah tidak dicantumkan basmallah.
  • Sebagian ulama menyatakan bahwa kalimat basmallah menyiratkan makna rahmat dan kasih sayang, sedangkan surat At Taubah banyak berisi kecaman dan sanggahan terhadap sikap orang-orang munafik dan orang-orang kafir, sehingga tidak ada rahmat yang tersisa bagi mereka.
Wallahu’alam.

Senin, 30 Juli 2012

Seri Ramadhan #11

"Sedekah satu milyar ??" kata-kata itu pertama kali nongol dari status FB teman saya yang punya aktivitas sosial di bidang wirausaha. Sekilas memang sangat biasa, dan belum memiliki makna apa-apa. Walau saya tau bahwa harta yang disedekahkan itulah yang sejatinya menjadi harta kita. tapi saat itu benar-benar no sense at all.

Belum lama ini saya dan beberapa teman membuka komunitas belajar anak di Natar, sempat terfikir beberapa peluang pendanaan, mulai dari kampus, Bank Indonesia, hingga lembaga zakat yang bernama "Lampung Peduli". Namun ditengah jalan kami cukup tersandung dengan sesuatu, karena sebagian dari mereka akan mengucurkan dana setelah tempat itu memiliki ciri fisik. Tentu saja untuk membuat ciri fisik membutuhkan dana bukan ?
Ditengah kebimbangan itu salah seorang teman kami yang masih KKN sms, "bisa siapain buka bersama ndak di Natar ? untuk kebutuhan nanti saya yang cover ?" kebetulan saat itu ia berulang tahun yang ke-20 dan ingin melakukan sesuatu yang berbeda. kontan saat itu saya membalas "gimana kalau uangnya dibeliin buka saja ? sama di pakai untuk launching awal taman baca, Insyaallah amal jariyahnya akan mengalir terus..." dan teman saya menjawab "atur-atur aja !". 

Sore harinya saya menghitung-hitung kebutuhan saya tahun ini, mulai sewa kontrakan baru, SPP, dan luar biasa saya kelabakan. Seandainya saya punya usaha...

Tak berapa lama dari itu saya belanja sayuran di salah satu minimarket terdekat, di depan mini market ada seorang bapak dan anaknya yang minta-minta, terang saya agak sewot, "sini luar biasa banting tulang ! situ tinggal minta", astagfirullah kok saya jahat banget ya., ya Allah, ia hambamu juga, yang mungkin sebagian rizkinya mengalir lewatku.

Banyak yang berpendapat bahwa orang miskin itu karena pemalas, tapi saya berpendapat bahwa miskin itu dimiskinkan. Jika saja negara ini tidak berpihak pada kapital, emas, intan, laut, hutan, dan segala SDA kita sisa untuk menghidupi orang satu Indonesia. alhasil, banyak yang jadi gelandangn, putus sekolah, minta-minta. dan ini menjadi buah simalakama. dikasih tidak menyelesaikan masalah, ndak dikasih itu perihal menyambung hidup.


Banyak hal yang bisa kita lakukan ketika kita memiliki kebebasan finansial, kita tidak hanya bisa memikirkan diri kita, namun juga orang lain, seperti teman saya yang bisa memberikan sumbangan untuk komunitas belajar, juga angan-angan memberikan ruang kerja bagi bapak dan anak tadi. Dulu zaman kejayaan islam, tidak ada yang lapar, bahkan bingung zakat akan disalurkan kemana. sampai ke ujung afrikapun tidak ada yang menerima. Apa kabar Afrika sekarang ?

Dengan kondisi Indonesia yang seperti ini, sepertinya teman saya benar, kita harus sedekah satu milyar, or even saya mau sedekah lebih banyak dari itu, memilki foundation seperti rockefeller foundation yang uangnya cukup untuk membiayai gerakan lingkungan internasional, menyelamatkan ekonimi amerika, dan lain sebagainya. Begitupun kita, sudah saatnya umat Islam memiliki Rockefellernya sendiri dan beramai-rami bersedekah untuk kebaikan. Bukankah dulu kita juga memiliki sosok Khadijah ? Umar ? Usman ? dan Abu Bakar ? yang menyokong tegaknya Islam dimuka bumi ? Bismillah..

"hai orang-orang yang beriman, belanajaknlah (di jalan Allah) sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu ..." (Al-Baqarah 2:254)


Seri Ramadhan #9


Pertanyaan:

Bagi masyarakat indonesia yang diturki, ketika hidup di turki banyak dijumpai aneka mazhab. Misalnya cara shalat, kebiasaan berdzikir habis shalat, shalat sunnah bersama-sama sehabis shalat fardlu baru berdzikir. Bagaimana menyikapi perbedaan mazhab ustadz?

Jawab : 

Di Turki, madzhab yang dipegang oleh mayoritas masyarakatnya adalah madzhab Hanafi, seperti juga di Mesir. Berbeda dengan di Indonesia yang secara umum bermadzhab Syafi’i, atau di Saudi Arabia yang bermadzhab Hanbali, atau di negara-negara Arab di Afrika Utara yang bermadzhab Maliki seperti Tunisia, Aljazair, dan Maroko.

Itu adalah empat madzhab yang termahsyur, walaupun ada 5 madzhab lain yang juga besar. Masing-masing madzhab itu berbeda dalam beberapa cara ibadah. Mengapa? Padahal Rasul kita satu, Qur’an kita satu. Mengapa mereka semua tidak menurut saja dengan cara ibadah Rasulullah? Jika semuanya berteguh dengan cara-cara ibadah Rasulullah, harusnya tidak akan berbeda pendapat kan? Lalu untuk apa ada madzhab yang berbeda-beda? Apakah madzhab-madzhab itu keberadaannya hanya untuk memecah belah umat saja? Semua persoalan ini tidak akan terfahami kecuali jika kembali ke pokok ceritanya.

Semua dari Qur’an dan Rasul yang satu 

Al-Qur’an turun dalan bahasa Arab. Salah satu hikmahnya, karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling kokoh dan perbendaharaan katanya paling luas. Misalnya, untuk sebuah kata ‘cerdas’ saja ada 4000 sinonimnya, untuk ‘singa’ ada 500 kata yang bisa dipakai, apalagi untuk ungkapan-ungkapan sehari-hari. Dengan kekokohan bahasa ini, ia dipilih Allah sebagai bahasa untuk memediatori pesan-pesan-Nya. Dan para sahabat Rasulullah adalah manusia-manusia yang paling menguasai samudera bahasa Arab ini, hingga rahasia-rahasia sastranya.  Sehingga generasi pertama muslim, adalah generasi yang sangat memahami Qur’an dalam bahasa Arab, ini faktor pertama.

Kedua, mereka hidup bersama Rasulullah, sehingga mereka mendapatkan langsung tafsiran dan instruksi semua perintah Qur’an. Itulah yang disebut Sunnah, atau sering disebut Hadist. Yaitu semua yang berkaitan dengan arahan Rasulullah untuk mempraktikan Qur’an.

Kedekatan generasi pertama dengan bahasa Qur’an dan penjelasan Rasul [Sunnah], membuat mereka mudah memahami inti ajaran Islam. Sehingga misalnya, ketika mereka mendapatkan sebuah ayat seperti ‘‘kutiba ‘alaikumushhiyâm‘’ secara bahasa artinya, ‘’telah dituliskan untuk kalian puasa’’, mereka faham bahwa status ayat itu adalah wajib atau ‘puasa wajib bagi kamu’, ditambah lagi dengan contoh langung Rasulullah yang mereka saksikan oleh mata kepala sendiri. Qur’an dan Sunnah mencukupi hidup mereka. Tidak ada yang namanya ilmu Fiqh, atau Akidah, atau ilmu-ilmu Islam yang kita kenal sekarang, karena semua itu built-in dalam diri mereka. Bukan karena mereka tidak butuh, tapi karena mereka sudah faham secara otomatis melalui teks-teks Islam [Qur’an-Sunnah]

Kebutuhan terhadap Madzhab

Dengan berlalu waktu, kemampuan linguistik untuk memahami sumber asli itu makin berkurang, bagi anak-cucu generasi sahabat itu. Sehingga mereka tidak lagi mampu memahami teks-teks Islam [Qur’an-Sunnah] secara langsung. Misalnya, jika mereka membaca ayat ‘’wa anfiqu fî sabîlillâh’’ [bernafkahlah di jalan Allah], tidak semua masyarakat muslim tahu status ayat ini, apakah bernafkah itu wajib, atau sunnah, atau mubah [boleh]? Jika wajib, kapan wajibnya? Berapa?

Oleh karena itulah mereka merasa membutuhkan sebuah perangkat. Dan perangkat itu namanya Ilmu Fiqh, secara ringkas artinya ilmu tentang detail hukum-hukum ibadah, apakah itu wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram.

Tapi tidak semua mampu merumuskan ilmu fiqh untuk seluruh Ibadah dalam Islam. Karena ia membutuhkan kepakaran dalam ilmu bahasa arab, logika, sejarah, hadist, dll. Maka tidak banyak yang mampu merumuskan ilmu itu.

Yang paling mahsyur dalam menuliskan ilmu fiqh secara kokoh ada empat, yaitu Imam Malik, imam Hanafi, imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Keempat imam inilah yang hingga saat ini banyak diikuti madzhabnya. Bukan karena hanya mereka yang mempunyai sepaket ilmu fiqh, tapi karena merekalah yang mempunyai metodologi dan pembahasan fiqh paling komprehensif.

Sejak adanya keempat imam madzhab itu di abad ke 2 hijriyyah, umat Islam awam lebih mudah mempelajari tata cara ibadah. Karena mereka hanya tinggal mengikuti arahan-arahan yang dijelaskan Sang Imam. Dan arahan-arahan itu jelas berdalilkan hadist-hadist Rasulullah dan bertanggungjawab. Berbeda dengan para pembelajar khusus, yang mempunyai kemampuan penelaahan. Mereka tidak terlalu butuh untuk mengikuti arahan-arahan keempat imam itu, karena mereka mempunyai perangkat untuk mengkaji sendiri.
Pertanyaannya, mengapa para Imam Madzhab itu bisa berbeda? Padahal misalnya Imam Syafii berguru ke Imam Malik selama 9 tahun?

Madzhab Pasti Berbeda

Perbedaan itu ada dalam metodologi pengkajian mereka. Metodologi itu disebut ilmu Ushul Fiqh. Misalnya, ayat tentang Salat. Rasulullah menjelaskan tata cara salat sepanjang hidupnya, berkali-kali, dibanyak kesempatan, di banyak situasi. Sehingga penjelasan salat itu bervariasi.  Hadist-hadist yang berhubungan dengan salat atau ibadah secara umum itu waris-terwariskan dengan teliti hingga sampai ke zaman para imam madzhab, bahkan sampai ke zaman kita.

Secara ringkas, masing-masing imam dalam madzhabnya itu menjelaskan tata cara salat sesuai dengan hadist-hadist itu. Tapi karena hadist-hasit itu banyak, perbedaan ada disini. Hadist-hadist yang dijadikan metodologi pembahasan Imam Malik mungkin berbeda dengan hadist yang diambil Syafi’i, berbeda juga dengan yang diambil Hanafi dan Hanbali. Disinilah letak perbedaannya. Baik itu dalam urusan dzikir pasca salat, puasa, haji, qurban, mandi, tidur, makan, peradilan, politik, ekonomi.

Perbedaan itu ada dalam landasan dalil yang diambil oleh para Imam Madzhab. Tapi pada dasarnya semua pandangan setiap imam itu mempunyai dalil, terlepas jika dalil-dalil itu kuat, logis, atau lemah, tidak akurat, itu lain soal. Tapi saat pembuatan ilmu fiqh itu, keempat imam madzhab telah berjuang untuk merangkum ajaran Islam sesuai metodologi pengkajiannya masing-masing.

Relevansi Madzhab di Abad 21

Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik, apakah tata cara ibadah Islam yang agung yang luas ini hanya terbatas dan terangkum dalam keempat madzhab itu?

Tentu tidak. Karena ada madzhab-madhzab lain, misalnya madzhab Adz-Dzhâhiriyyah di Andalus Spayol. Tapi secara umum, keempat madzhab itulah yang paling mampu menjawab semua persoalan umat sepanjang zaman.

Saat ini umat Islam secara umum masih membutuhkan madzhab-madzhab itu. Karena kemampuan memahami sumber-sumber Islam secara langsung tidak lagi dimiliki oleh umat. Misalnya, seorang pengusaha yang tidak mempunyai akses dan kemampuan mengkaji literatur-literatur Islam bahasa Arab, bagaimana dia mencari penjelasan untuk menjalankan ekonominya sesuai cara Rasul? Apakah ia mencari terjemahan hadist-hadist secara acak, lalu dari berbagai keterangan hadist yang berbeda itu, ia memilih yang paling mudah. Apapun hadistnya, ia mencari hadist yang paling ringan dan cocok dengan keinginannnya. Ini tidak boleh. Karena artinya ia menjadikan Islam mengikuti seleranya, bukan mencari arahan yang terbaik lalu mengikutinya.

Sehingga bagi masyarakat umum, sebaiknya mengikuti salah satu madzhab dan konsisten dengannya. Dan disini tidak termasuk kedalam kategori taklid buta, karena madzhab-madhzab yang ada mempunyai landasan-landasan syar’i dalam setiap pembahasannya. Dari sinilah difahami mengapa bagi komunitas atau masyarakat negara tertentu memegang satu madzhab dan berbeda dengan masyarakat di daerah lain.
Dari pandangan ini, maka tidak usah aneh, jika melihat tata cara ibadah di negara lain berbeda dengan Indonesia yang mayoritasnya bermadzhab Syafi’i. Karena mungkin saja, berbedaan itu bersumber dari madzhad mereka yang berbeda, sepereti Madzhab Hanafi di Turki. Yang diperlukan hanyalah memahami, belajar menerima perbedaan, belajar mengerti sudut pandang ibadah dari madzhab lain yang semuanya bersumber dari Rasulullah. Tidak berarti semuanya benar, karena kebenaran itu hanya satu, tapi bukan manusia yang menentukan tatacara mana yang paling benar karena memang manusia tidak akan pernah tahu, hanya Allah Yang Mengetahui mana yang paling benar.

Sikap umat Islam hanyalah berusaha mencari pandangan yang dirasa paling dekat dengan ibadah Rasulullah. Jika dikalkulasi dari keempat madzhab yang ada, masih terlalu banyak persamaan tatacara ibadah dibanding perbendaannya. Terutama perbedaan-perbedaan itu bukan dalam hal-hal yang pokok, seperti tauhid, atau dakwah. Perbedaan-perbedaan itu biasanya ada dalam persoalan cabang yang detail seperti bacaan dzikir yang berbeda-beda versi sesuai hadist yang dirujuk, atau bacaan salat sebelum al-Fatihah. Bahkan jika salah satu madzhab salah mengambil dalil dalam salah satu teknik ibadah, itupun bukan persoalan besar di akhirat Insya Allah, karena Rasulullah menjelaskan jika pemilihan dalil [ijtihad] itu salah karena dalil itu tidak terlalu relevan misalnya maka ia mendapat satu pahala, dan jika benar ia mendapat dua pahala.

Kemungkinan tidak bermadzhab   

Bagi sebagian kalangan yang mempunyai kemampuan mengkaji literatur-literatur asli Islam secara sistematis, sebaiknya tidak mencukupkan dirinya dengan mengikuti salah satu madzhab saja, tapi mengkaji setiap detail persoalan ibadah, dan mencari pandangan yang paling akurat dengan perangkat ilmu yang ia miliki. Dengan begitu, ia lebih yakin, bahwa ibadah-ibadah yang ia lakukan tidak sekedar mengikuti kesimpulan yang diambil 13 abad yang lalu oleh para Imam madzhab, tapi karena ia mengkaji secara ilmiah dalam forum ilmiah, dalil mana yang terbaik. Oleh karena itulah Hasan al-Banna mengatakan dalam Kumpulan Risalahnya ‘’Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan telaah terhadap dalil-dalil hukum furu’ (cabang), hendaklah mengikuti pemimpin agama. Meskipun demikian, alangkah baiknya jika -bersamaan dengan sikap mengikutnya ini- ia berusaha semampu yang ia lakukan untuk mempelajari dalil-dalilnya. Hendaknya ia menerima setiap masukan yang disertai dengan dalil selama ia percaya dengan kapasitas orang yang memberi masukan itu. Dan hendaknya ia menyempurnakan kekurangannya dalam hal ilmu pengetahuan Jika ia termasuk orang pandai, hingga mencapai derajat penelaah…..perbedaan pendapat dalam masalah fiqih furu’ (cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid [yang melakukan ijtihad] mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik’’.

Saint-Etienne, 18 Maret 2012
Muhammad Elvandi, Lc.

Sabtu, 28 Juli 2012

Seri Ramadhan #1

Kalau kata roma irama, masa muda adalah masa yang berapi-api mungkin itu benar adanya. Diusia ini kita akan cenderung meledak-ledak emosinya, termasuk semangat dan amarah. Kalau soekarno bilang, beri aku sepuluh pemuda dan akan kuguncangkan dunia itu logis, karena energi dari seorang pemuda itu memang luar biasa. Setidaknya itu yang aku buktikan selama di kampus. Hal yang unik ketika sebagian dari kita begitu sibuk berdemo, diskusi, atau melakukan kegiatan kesukarelawanan. Padahal bisa dibilang itu tidak memberikan keuntungan yang signifikan terhadap diri kita. Tak ayal jika para orang tua membuat barisan demonstrasi tersendiri untuk anak-anak mereka. dengan deretan spanduk terpampang "selesaikanlah studimu !" "sudahlah ! cari kerja saja sanaaaa...!" "idealisme itu hanya ada dimasa muda" "sudahlah, hentikan cita-cita muluk-muluk itu !". Itulah para orang tua kita yang memiliki pengalaman hidup terlebih dulu. memang apa yang mereka bilang benar adanya, menjadi aktivis tidak memberi banyak pada kita, justru meminta banyak dari individu-individu miskin itu. Tak menjanjikan apa-apa, beasiswa S2, karier politik, jalan-jalan keluar negeri gratis, pekerjaan yang mapan, tabungan masa depan, sama sekali tak menjanjikan apa-apa. Wajarlah jika para orang tua itu khawatir akan nasib anaknya, karena kebanyakan dari mereka justru menjadi orang dengan IPK rendah, lontang-lantung, menjadi orang Talk More Do Less, pemalas, pemimpi dan tidak lebih dari itu.

Dari ribuan aktivis yang ada hari ini, berapa sie yang akan menduduki posisi menteri? anggota dewan? atau presiden ? kurang dari 10 persen mungkin, sisanya menjadi produk gagal dan menjadi penonton. Mereka tinggal di daerah, menonton TV pagi sore dan mengometari kondisi kebangsaan seraya berkata kepada anak-anak mereka, itu dulu saudara seperjuangan ayah ! itu dulu saudara seperjuangan ibu.! hingga anak-anak mereka cukup bangga dengan cerita ibuku teman lama dari mentri A presiden B, ayahku teman satu kampus anggota dewan C. mungkin itu menjadi satu-satunya hal yang bisa diwariskan.

Masa yang meledak-ledak itu bersemayam indah dalam memori masa lalu kita. masa dimana kita turun ke jalan bersama, masa dimana kita makan sebungkus berdua, masa dimana kita melindungi saudara kita, atau masa dimana kita ribut satu sama lain karena memperjuangkan idealisme masing-masing. bisa jadi cerita itu hanya berlaku di kampus dalam episode mahasiswa. Mungkin nanti dalam dunia nyata, ketika kita mendapati kawan kita seperti Anas Urbaningrum kita tak bisa lagi ribut mempermasalahakannya. Karena dunia kita sudah jauh berbeda.


Oleh karena episode mahasiswa ini belum terlewat, aku ingin menorehkan sebuah pesan persaudaraan, bahwa rasul kita mengajarkan suatu konsep ukhuwah dan kepemimpinan dengan begitu luar biasa, Rasul mengajarkan pada kita bahwa saudara bukanlah tahta dan peruntungan, Rasul mengajarkan aqidah sebagai tali yang sangat kuat. Rasul kita juga mengajarkan bahwa setiap pribadi ini adalah pemimpin. Bukan jabatan yang kemudian menjadikan kita mulia, namun sumbangsih nyata kita untuk peradaban manusia. Presiden, petani, guru, menteri, pengamat politik, tukang cuci, itu hanya sebuah panggilan. Namun karya adalah bahasa keikhlasan dari seorang insan yang faham. Hingga kelak tak ada jarak keangkuhan antara kau yang diatas sana dan aku yang dipinggiran desa, hingga kelak kau masih bisa berkirim SMS padaku kala aku berbelok, hingga kelak anak-anak kita dapat tumbuh bersama, karena siapapun kita dimasa depan, kita tetaplah saudara selamanya hingga ke jannahNya.

*aku percaya perdaban ini akan lebih baik ditangan saudara-saudaraku yang shaleh dan shalehah...



Rabu, 20 Juni 2012

Filed under: Syabab Intima Magazine

Perangkat kerja manusia yang disebut kapasitas perlu dirancang. Perlu dipilih dan disesuaikan dengan kerja-kerja yang akan dituntaskan di masa depan. Rancangan itu dibutuhkan karena manusia secara umum tidak akan mampu mengerjakan semua hal. Ia hanya optimal dalam satu hal atau beberapa hal. Walaupun manusia-manusia yang hampir sempurna dan mampu menjadi yang terbaik di setiap bidang pernah ada, seperti Abû Bakr as-Shiddîq dan ‘Umar bin Khattâb, tapi mereka hadir segelintir di setiap abad. Untungnya dispensasi Allah menenangkan manusia. Karena “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kapasitasnya [al-Baqarah: 286].


Namun, ayat tersebut tidak berarti merasionalisasi para pemuda untuk tumbuh dan menjalani kehidupan dengan kapasitas pas untuk mengerjakan kerja-kerja kerdil. Untuk hidup dalam urutan sekolah, dewasa, nikah, kerja dan mati. Tanpa pernah berkontribusi untuk keluarga dan lingkungan tinggalnya, untuk komunitas profesi dan masyarakatnya apalagi untuk negara dan umat. Mereka meninggalkan dunia hanya untuk menambah daftar penghuni alam raya yang anonim karya. Ada dan tiadanya tidak merugikan semesta.
Padahal rasio antara usia dengan potensi diri dan karya yang berhasil dibangun tetap akan dihitung. Jika jumlah usia terlalu banyak untuk ukuran karya yang terlalu sedikit dan kapasitas yang terlalu minim, disanalah letak pertanggung jawaban yang berat di hadapan Allah.

Itulah sebabnya, generasi muda sahabat selalu membidik kerja-kerja terberat dan terbesar dalam hidup mereka sehingga kapasitas diri yang mereka bangun untuknya optimum. Karena mereka ingin selamat dalam rasio antara kesempatan usia dengan kapasitas dan karya. Lalu mana yang didahulukan diantara keduanya?
“Mâ lâ yatimmu wâjib illâ bihi fahuwa wâjib” dalam kaidah Islam “jika sesuatu kewajiban tidak akan terealisasi kecuali dengan suatu perangkat, maka perangkat itu menjadi wajib”. Karena kapasitas tidak akan terdefinisi tanpa rencana kerja, maka pada pemuda pengukir sejarah sepanjang zaman selalu memulai pengembangan kapasitas diri mereka dari rencana kerja unggulan.

Sejak kecil, Aq Syamsuddîn selalu mengulang hadist Rasul ini untuk muridnya “Latuftahannal Qashthanthîniyyah walani’mal Amîru Amîruhâ walani’mal Jaisyu dzâlikal Jaisy” [Sesungguhnya kota Konstatinopel akan dibebaskan, pemimpin terbaik zaman itu adalah pemimpin pembebasan tersebut, dan pasukan terbaik adalah mereka yang bersamanya].

Delapan abad lamanya hadist ini waris-terwaris. Setiap panglima perang, khalifah, sulthân bermimpi untuk menjadi tokoh yang Rasulullah ramalkan. Tapi kalimat itu tidak sepanas seperti bara api yang belasan tahun membakar hati Muhammad kecil, sehingga selama itu kapasitas diri yang dibangunnya terkonsentrasi untuk menjadi pemimpin terbaik yang siap membebaskan Konstatinopel.

Pemimpin terbaik yang dimaksud hadist itu bukan sekedar petarung dan perancang siasat perang, atau negarawan dan diplomat cerdas, tapi seorang pemimpin rabbani yang ruhiyahnya melangit bersama para nabi-nabi. Sehingga saat usia 24 tahun ia membebaskan Konstatinopel, ia menawarkan seluruh pasukan muslim saat salat pertama kali di gereja Konstatinopel yang diganti menjadi mesjid Aya Sofia di Turki, “silakan menjadi imam, bagi yang tidak pernah tertinggal berjama’ah sejak umur baligh”. Adakah yang maju sebagai imam? Tantangan itu tidak terjawab siapapun kecuali  ia sendiri, Muhammad al-Fâtih. Target itu yang mendefinisikan kapasitas apa yang dibutuhkan untuknya. Dan Aq Syamsuddin memahami benar kemana Muhammad kecil akan dibentuk.


Seperti itu juga cerita Imam Bukhâri yang bermimpi bertemu Rasulullah. Lalu saat dijelaskan bahwa tabir mimpi menuntutnya untuk membela hadist Rasulullah dari pada pemalsu, maka mulailah ia hibahkan dirinya di jalan itu. Ia penuhi semua perangkat kapasitas diri untuk memikul tugas besar mengumpulkan hadist shahih. Sehingga darinya lahir karya manusia paling monumental: Shahîh Bukhâri. Sebuah ensiklopedi karya manusia yang paling akurat yang pernah tercipta sepanjang sejarah bumi ini. Bukan hanya itu, manusia hebat itu mencetak menusia hebat lainnya. Seorang murid yang keagungannnya mengikuti gurunya, Imam Muslim dengan Shâhîh Muslim-nya. Sehingga kedua shahîh itu menempati derajat tertinggi dalam literatur Islam setelah al-Qur’an.

Rencana kerja unggulan telah ditetapkan sejak kecil untuk keseluruhan hidup mereka. Dan kerja-kerja besar selalu menuntut kualifikasi dan kapasitas. Ia adalah sunnatulah. Misalnya kerja-kerja keilmuan hanya mampu diselesaikan oleh ilmuan-ilmuan yang energi pikiran, perenungan, dan penelaahannya mengalahkan kantuk buku, sepoi istirahat yang mengelus leher mereka. Kerja-kerja kepemimpinan umat hanya untuk generasi berkapasitas ilmu sejarah, sastra, geografi, syar’i, dan seperangkat ilmu humaniora. Setiap kerja meminta kapasitas yang berbeda. Seperti kerja bedah jantung yang meminta kapasitas berbeda dengan kerja desain helikopter.

Maka ini langkah pertama para pemuda yang ingin membangun kapasitas dirinya. Rencana kerja besar adalah akumulasi dari perenungan terhadap empat hal. Pertama: perenungan terhadap pesan kehidupan. Pesan Allah untuk manusia, bagaimana ia harus bersiap meninggalkan dunia menuju akhirat yang kekal. Kedua: perenungan terhadap sejarah, khususnya biografi. Tentang bagaimana manusia-manusia agung pernah menyumbang sesuatu bagi peradaban. Ketiga: perenungan terhadap realitas, ruh zaman saat ia hidup. Tentang apa saja yang diinginkan umat terhadap anak-anak zamannya. Keempat: perenungan terhadap kondisi diri. Tentang minat-minat dan kecenderungan pribadi di tengah hamparan tugas yang membentang.
Keempat hal ini membentuk piramida kerja yang terus mengurucut hingga membentuk kristal pernyataan di puncaknya tentang kerja apa saja yang akan dituntaskan semasa hidup. Karena umat ini sedang sangat membutuhkan pada pemuda yang sedari muda sudah berani menetapkan mahar untuk menjemput umat kembali ke pelaminan peradaban.


Jumat, 01 Juni 2012





Dalam sebuah film yang dibitangi oleh edward cullen dimana menceritakan kisah cinta seorang vampir dan manusia telah menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa "cinta itu tanpa syarat". Bagaimana dengan anda ? Fenomena kisah cinta antara dua insan manusia kerap kali sangat unik dan menjadi bahasan yang tak kunjung usai, beribu-ribu judul film bertemakan cinta diproduksi, tema serupa juga turut serta meramaikan industri musik. Ketika anda membuka facebook misal, berapa persen kemudian orang yang meratapi kisah cinta mereka ? pasti menduduki angka diatas sepuluh persen. Hal ini dikarenakan industri cinta yang cukup menjamur dimana-mana. Belum lagi ketika 12 februari tiba, hari yang diagung-agungkan sebagai hari kasih sayang ini membuat produsen coklat, boneka, permen, dan pernak-pernik meraup keuntungan yang besar. Kata anak muda, cinta datang begitu saja, bagaimana dengan anda? apakah juga memiliki kisah manis yang bernuansa picisan, ataukah cinta monyet ala ABG , atau mungkin cinta brontosaurus ala raditya dika ???


sejak jumpa kita pertama
kulangsung jatuh cinta
walau kutau kau ada pemiliknya
tapi kutak dapat membohongi hati nurani
kutak dapat menghindari gejolak cinta ini
Sajak diatas lain lagi, itu adalah cinta pertama ala almarhum "crisye", he... katanya... pesonanya sungguh mempesona, full of pink dan ya ! bagi beberapa orang cinta itu tanpa syarat, ia tidak melihat pada harta, pekerjaan, jabatan, tampang, dan apapun itu, menurut mereka cinta lebih pada "chemistry" yang tertangkap diantara keduanya, sehingga hubungan tanpa syaratpun tercipta. Hal ini membuat saya teringat pada sebuah novel klasik berjudul "tenggelamnya kapal va der wick" karya buya hamka yang mencoba untuk mengisahkan sebuah kisah cinta tanpa syarat dengan adat timur yang lebih santun.  


Namun beberapa diantara kita juga mengartikan bahwa cinta itu realistis, dan kebahagiaan akan tercipta seiring hidup yang mapan. Hal ini dianut oleh para suami istri yang mulai bertengkar dan cek-cok ketika kondisi keuangan rumah tangga mereka mulai surut. Padahal ingatkah anda kisah seorang pemuda yang menaruh hati pada seorang gadis terhormat nan cerdas yang dilamar oleh seorang kaya raya, saat itu sang pemuda mulai mengikhlaskan gadisnya tersebut, namun tanpa ia duga, sang gadis menolak. Betapa bahagianya pemuda tadi mendengar berita tersebut, sehingga pemuda tadi menyiapkan perbekalan yang lebih untuk dapat melamar gadis tersebut dikemudian hari. Tapi ternyata datang lagi laki-laki lain, seorang pejabat negara, dan pemuda itupun kembali pasrah. Dan lagi-lagi diluar dugaan, gadis itu menolaknya. Sang pemudapun terbelalak, dan memberanikan diri melamar dengan segala keterbatasannya. sang pemuda mendatangi ayah si gadis, dan si gadis menerimanya. Taukah anda mahar pernikahannya apa? ya.. benar sekali, baju perang ! dan pemuda itu adalah Ali. setelah mereka menikah, Alipun bertanya kepada Fatimah, kenapa menerima pinangannya ? dan Fatimah menjawab, karena ia menunggunya. Luar biasa ! kalau jodoh tidak kemana, dan kisah inipun menjadi kisah cinta percontohan yang santun dan terhormat, kemampuan memendam rasa yang luar biasa sehingga setanpun tak tau dan tak sempat melirik untuk menggoda.

Romantis bukan ? yang pasti suci ! Dan apakah kisah cinta Ali dan Fatimah tanpa syarat ? bukankah Fatimah tidak melihat pada harta dan jabatan ? tidak ! syarat yang dimiliki Fatimah menunjukkan keagungan cinta mereka. Mereka tidak saling mencitai kecuali ketika Ijab Qabul diucapkan dan Allah meridhoi. 


Keimanan memiliki tiga arti, diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Pada kitab lauhil mahfudz tertulis sudah tentang tiga hal, yaitu jodoh, rejeki, dan mati. ya, setiap kita mengaku sebagai seorang muslim yang beriman dan tentu saja sudah meyakini 3 hal yang digariskan tersebut, namun bagaimana dengan sebuah fenomena yang nge-tren disebut "pacaran" atau sesuatu yang berjudul "ta'aruf tapi melanggar rambu ?" atau tren baru dikalangan aktivis "ngetag". Kembali lagi pada 3 hal, keimanan itu ada 3, dan yang terakhir adalah dibuktikan dengan amal perbuatan. Toh, kita sudah meyakini bahwa Allah telah mengatur jodoh kita. Mari kembali pada kisah fatimah... apakah ia tau kalau Ali akan datang melamarnya ? atau kenapa tidak ia utarakan saja cintanya pada Ali ? karena ia cukup percaya pada janji Tuhannya, jodoh itu sudah pasti, hanya cara menjemputnya saja yang berbeda.

Tentang Makna Illah

Dalam syahadat seorang muslim disebutkan bahwa "tiada Illah selain Allah", saya pernah mendapat sebuah penjelasan sederhana seperti ini. Illah adalah sesuatu yang nomor satu pada hati kita, tempat kita mengadu, meminta pertolongan, bersyukur, memuja, dll. misal azan sudah berkumandang dan kita masih didepan TV, berarti TV telah menjadi Illah yang lain selain Allah. Ketika kita ngefans banget dengan boyband "super junior" misal, dan kekagumannya mengalahkan rasa kita kepada Allah itu berarti super junior telah menjadi Illah kita. Begitu juga ketika kita menikah, begitu mencintai suami kita, nomor satu, dan cara menjemputnyapun sudah melupakan janji Tuhan... kemanakah ikrar "tiada Illah selain Allah" sudah pergi. Sebagian dari kita berlindung pada alasan fitrah atau "saya bisa menjaga batas".


Pornografi, Freesex, Homosex, dan Keseimbangan Peradaban


Kembali pada alasan "fitrah" dan menjaga "batas". manusia memiliki fitrah untuk tertarik pada lawan jenis, dan laki-laki memiliki fitrah seksualitas yang tinggi dibanding perempuan. kita tidak munafik ketika sebagian dari kita mengetahui itu, karena ilmu pengetahuan sudah sangat berkembang untuk meneliti hal tersebut. Namun, mengapa kita tidak cukup cerdas untuk mengantisipasinya? Kembali pada industri cinta?? dahulu industri hiburan sangat santun, kisah cinta yang ditampilkan juga menyentuh sisi ketertarikan yang humanis, anmun sekarang hampir pada setiap produksi film barat menampilkan adegan yang kurang "sopan". hal ini terjadi karena pergeseran makna "batas" yang dimiliki manusia, ibarat sebuah penggaris, batas yang tadinya pada posisi 1 cm brubah pada posisi 5 cm. Oleh karena itu, apakah kurang bijak? ketika Al-qur'an menetapkan batas mutlak pada 0 cm. Karena Allah yang menciptakan fitrah itu, dan ia yang paling tau bagaimana menjaganya.


Mari kita berdiskusi pada pergeseran batas tersebut, akibat dari pergeseran batas yang mengakibatkan berkembangnya industri cinta menjadi industri seks. Meledaknya freeseks, meningkatnya aborsi, melejitnya jumlah annak yang lahir tanpa bapak yang jelas. Hilangnya tanggung jawab suami dan istri, terciptanya konflik psikologis akibat skandal cinta, beberapa  dari mereka sakit fisik seperti HIV dan sebagian sakit psikis dan memilih untuk homoseks, dan mereka tidak menghasilkan keturunan. Dimana letak kesimbangan peradaban kita ?? ketika tatanan yang paling mendasar dari umat manusia hancur seperti itu? saya bukan orang yang berteriak keras atas kedatangan irsyad manji. tapi hanya seorang mahasiswa yang mengungkapkan analisis kecil saya.

Pada maslah mendidik anakpun ada dua fase, yaitu pranatal dan paska natal. jika pra kelahiran bayipun ditempuh dengan cara sepeti itu, lalu bagaimana dengan kesuksesan mendidik generasi mendatang ? karena jelas-jelas ada fase yang terpotong. Apa mungkin seseorang langsung SMP tanpa SD? mungkin... tapi dengan pondasi konsep yang kurang kokoh dan mudah roboh. jika penerus peradaban kita seperti ini, apa yang kita harapkan pada peradaban mendatang?. apakah islam hanyalah sebuah sistem bangsa arab kuno yang tidak mempertimbangkan keberlangsungan hidup umat manusia ?

khaylila yang cantik...
cepatlah kau besar...
ajarkan dunia...
berbagi seperti yang kuajarkan kepadamu...

berikan hak mereka...
bebas dari rasa takut juga rasa tertindas...

tak ada lagi naluri menguasai...
perlahan berganti naluri berbagi...



Cinta Sejati, Cita Bersyarat

Lelah pada dialektika keseimbangan perdaban saya bernostalgia pada sebuah kisah cinta yang banyak menguras air mata penikmat ceritanya, "Romeo dan Juliet". cinta mereka cinta tak bersyarat, cinta sejati, itu kata sebagian orang... dan sebagian lagi berpendapat.... Cinta Ali dan Fatimah adalah cinta yang suci dan agung... cinta yang mengantarkan mereka tempat paling indah yang diciptakan Tuhannya... dan saya akan menutup tulisan panjang ini dengan kesimpulan "cinta "Romeo dan Juliet" hanya sampai ia mati. Tapi cinta yang sejati adalah cinta yang dipertemukan kembali di surga kelak...". So, selamat mencari syarat cinta sejatimu.



Rabu, 30 Mei 2012


semua orang punya impian
dengan impian muncul harapan
semua orang perlu mimpi
karena impian membawa energi,..
impian membuat hati kita tenang
dan menerangi seluruh dunia..
membawamu kearah yang benar
dan mengisi keberanianmu
untuk menjelajahi apa yang ada di depan...

-sampah yang digunakan dengan benar akan menjadi sumber daya-


dalam sebuah film yang berlatar negara singapura i'm not stupid too memberikan makna yang mendalam bagi sebuah dunia pendidikan, baik bagi orang tua maupun guru. sebagai seorang anak kita sering merasa dipaksa menjadi orang tua kita, menjadi pemenang olimpiade sains, ahli komputer, dan sebagainya, padahal si anak memiliki bakat menulis, berorganisasi, ataupun berbagi dengan sesamanya. miskomunikasipun sering terjadi, antara orang tua dan anak. anak merasa kurang perhatian, atau cenderung lebih sering disalahkan, sehingga untuk mencari aman anak lebih cenderung diam, tertutup, dan menyelesaikan maslahnya sendiri, walau bisa jadi dengan cara yang tidak baik, karena selama ini ia tidak memiliki tempat untuk berbagi. anak-anak cenderung lebih terbuka dengan teman sebaya, terlebih yang mengalami masalah yang sama dengan para orang tua. begitupun guru, mereka memaksa siswa untuk mengikuti metode mereka, padahal sangat tidak adil jika setiap siswa disamaratakan, contohnya saja teman yang berasal dari kota, jelas ia memiliki fasilitas belajar yang lebih, ketimbang murid yang baru belajar dari desa. sitim pendidikan negeri inipun menyamaratakan kecerdasan setiap anak, memaksakan semua lulus ujian nasional dengan berbagai secara, benar-benar sebuah sistim pembodohan terstruktur yang sudah didesain dengan rapi.

lain hal dengan orang tua, tidak banyak orang tua yang mengerti bahasa cinta, sehingga anak juga tidak mengerti apa itu cinta. alhasil, kesalahpahaman besarpun terjadi. orang tua merasa telah memberikan segala-galanya bagi anak, namun menurut si anak itu tidak tepat guna, dan bahkan anak merasa menjadi seorang yatim piatu semu yang harus berjuang sendiri dalam hidup ini.

***

baru-baru ini banyak digaungkan pola pendidikan yang condong pada keahlian dan bakat siswa, sehingga setiap anak tumbuh dengan maksimal, karena setiap anak terlahir dengan kecerdasan yang berbeda, jadi sudah saatnya menjadi perhatian tersendiri bagi insan pendidik... jika hal ini benar-benar terimplementasi, tidak akan ada lagi istilah.... 'sebenarnya ia itu pintar, tapi kok nilainya jelek...." ya terang saja, karena standar penilaian juga belum mengcover standar pengukuran yang baik, atau bisa jadi, letak kecerdasan dan ketertarikannya tidak pada bidang itu.

***

dalam hal ini, beberapa abad silam islam telahmengajarkan suatu sistim pendidikan melalui pendekatan fitroh dengan 3 proses, yaitu :

  1. 1. al-basyar, sebagaimana yang tertera di dalam al-qur'an dalam menunjuk manusia sebagai makhluk yang   sama secara lahiriyah (fisik), maka pendidikan harus mampu menyentuh perkembangan potensi fisik peserta didik.
  2. al-insan, bahwa pendidikan harus mampu mengembangkan aspek fisik dan psikis peserta didik. 
  3. an-nas, yang merupakan bentuk jamak dari kata al-insan, maka interaksi pendidikan juga harus mampu menyentuh aspek sosial peserta didik, yaitu aspek hubungan dengan masyarakat.

Dalam hal ini interaksi pendidikan harus mampu membentuk dan mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri manusia secara optimal serta mampu meminimalisir segala keterbatasan manusia. Dan ketika sampai pada tingkat an-nas, maka insyaallah "pendidikan akan menjadi sebuah pembebasan". segala konflik, peperangan, kemiskinan, perebutan kekuasaan, anak putus sekolah, ketahanan pangan, perkembangan ilmu pengetahuan, semua akan terselesaikan dan tercover dengan baik. bismillah... semoga pendidikan bisa membawa kita untuk segera keluar dari masa kejahiliyahan ini.



Sabtu, 26 Mei 2012




banyak orang mulai menuliskan kisahnya didalam hidup, banyak dari mereka berfikir untuk membuat peta dalam sebuah kehidupan, mulai dari memilih universitas yang terbaik hingga menggambarkan akan meninggalkan dunia ini dengan cara seperti apa. Cerita ini jauh berbeda dengan dulu ketika saya masih SMP dan belum mengenal yang namanya peta hidup. hingga kali pertama saya mengenalnya adalah saat SMA. Hal ini banyak mengubah cara hidup kami, kami lebih percaya pada mimpi, asal merancang setiap langkah dengan baik, maka kemungkinan besar akan tercapai, hingga pada akhirnya saya berjumpa dengan teman-teman yang luar biasa prestatif pada momment-momment tertentu. 

sejak saat itu saya mengenal seseorang yang hingga sekarang masih ada disekitar saya. hingga beberapa saat yang lalu saya iseng-iseng ngobrol dengannya dan ia mengeluarkan sebuah statement. 

memang sepertinya kita harus memilih, antara punya banyak teman dan ambisi untuk berprestasi., dulu aku punya ambisi untuk mengukir prestasi dengan baik, tapi jauh dari teman-teman, dan sekarang saya punya banyak teman, tapi prestasi jadi "menggalau" seperti ini.
 terang saja saya tidak sepakat dengan statement itu, anggap saja saya memiliki orang tua dengan kemampuan berfikir dan finansial yang terbatas, yang membantu saya bertahan hingga hari ini ya teman, dan dibalik apa yang saya raih hari ini ya teman-teman dibelakangnya. sebut saja ketika saya mengikuti perlombaan debat bahasa inggris di dalam sebuah tim, tentu saja, ketika performa saya kurang, itu akan ditutupi oleh teman-teman, ketika kami merancang sebuah event atau gerakan, tentu saja saya berbagi tugas dengan teman, dan ketika saya harus berkampanye untuk parlemenmuda indonesia, ya berkat teman-temanlah saya bisa mengumpulkan dukungan.. padahal saya orang yang sangat malu untuk berkampanye seperti itu.


 


and well... setelah lama kupikirkan, akhirnya aku berfikir kenapa teman saya berfikir demikian. hal ini terjadi karena setiap orang ingin enjadi fungsi yang sama, ingin merah popularitas dan keberhasilan dengan cara yang sama. saya pernah mendengar suatu quotations seperti ini :


jadilah tukang sapu jalanan yang luar biasa, sehingga seisi dunia menengok dan berkata, disini ada seorang tukang sapu yang mempesona.
dan ketika esoknya saya kembali bercengkrama dengan teman saya tadi, iapun sudah menemukan jawaban dari kemarahannya yang lalu 


jadi can, tidak semua harus memegang pedang, ada yang memegang panah, menunggang kuda, memegang tombak, sehingga menjadi suatu pasukan perang yang luar biasa.


dan akhirnya saya menghela nafas lega. itulah yang disebut dengan kolaborasi, tidak semua harus memegang pedang pada sebuah pertempuran, atau pada sebuah panggung ansamble, tidak semua memainkan nada yang sama, sehingga tercipta harmoni suara yang indah. 
 
dalam realitas yang sekarang, banyak yang ingin menjadi nomor satu, tidak terkecuali dalam hingar bingar suksesi kampus. pertempuran antara organisasi mahasiswa islam kerap terjadi. saya terkadang heran, apalah yang membuat mereka berbeda ? dalam hubungannya dengan  non-muslimpun islam mengajarkan musyarokah apalagi dengan sesama muslim ? menurut hemat saya, karena sejauh ini teman-teman berfikir pada fokus konflik, bukan pada fokus kerja. 

hal ini terbukti ketika saya mencoba melempar sebuah isu optimisme pada teman-teman, bagaimana kalo kita menggagas ini dan itu untuk masyarakat, rata-rata dari mereka tertarik dan pada akhirnya kami bekerjasama, pun sebaliknya, ketika ditengah-tengah ada kawand yang kembali pada fokus konflik dan hanya mengecam permasalahan, teman-temanpun menjadi jenuh dan mulai terpecah-pecah lagi. 

itulah mengapa cara nomor satu dalam sebuah manajemen konflik adalah kolaborasi, karena dalam kolaborasi tercipta sebuah semangat win-win solutions.

Senin, 19 September 2011


Tulisan ini ditulis oleh seorang senior sy d UKM-U ESo Unila yang sekarang sedang menempuh S2nya di USA... sesuatu yang sederhana, tapi merupakan sebuah pendekatan logika yang menyentuh dari seorang Kristian Adi Putra....

.......................................................................................................................................................................

Tidak jarang kita berkata, “Waduh jangan dulu matilah saya ini. Belum kawin saya.” Dalam pemikiran awam saya tentang agama, sayapun jadi bertanya, “Sesederhanakah itu urusan hidup dan mati untuk manusia. Apa ya iya hidup itu hanya untuk kawin saja?” Saya jadi berfikir lagi, yang berhak atas bidadari itu adalah orang yang masuk surga, atau dengan kata lain orang yang amalnya lebih banyak dari dosanya ketika hidup di dunia. Dengan lebih sederhana saya akhirnya jadi menyimpulkan, mungkin orang yang berfikir seperti itu adalah orang yang belum pernah kawin di dunia dan kebetulan merasa banyak dosa ketimbang amalnya di dunia. Sehingga, dia khawatir apes tidak ketemu bidadari baik di dunia atau di alam akhirat nanti-nantinya.

Sekarang sebenarnya jadi tergambar, hidup itu tidak sesederhana itu. Tidak jarang ketika naik motor saya berfikir, “Seandainya saya ketabrak mobil dan meninggal saat ini juga, apakah saya bakal masuk surga? Banyakan mana amal saya ketimbang dosa saya?” Sayangnya memang saya tidak bisa pinjam catatan malaikat yang mencatat amal dan dosa saya. Coba kalau bisa dan saya tahu kebetulan amal saya poinnya 3 kali lipatnya dosa. Saya akan mentolerir diri saya sendiri untuk berbuat dosa sembari berfikir, “Ya toh catatan amal saya masih banyak ini.” Dan seringnya, saya justru berfikir kalau saya itu lebih banyak dosanya ketimbang amalnya. Hitung-hitungan saya sederhana, sebagai muslim, saya diwajibkan untuk sholat sehari lima kali: Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isha. Kadang kalau pas kebetulan tidak sholat Subuh, dengan alasan kesiangan, atau Isha dengan alasan sebelum mau sholat ketiduran, besoknya saya jadi berfikir, “Jangan dulu saya mati hari ini, ya Allah.” Kalau pas hari ini beriman tapi hari sebelumnya tidak, doa sayapun jadi sama saja. Dan kalau ingat tahun-tahun sebelumnya, saya jadi terus berfikir seandainya saja saya mati hari ini, bakal selesai cerita saya, persis dengan cerita di atas itu. Tidak bertemu bidadari di dunia dan tidak juga di surga.

Setidaknya saya sudah bertemu tiga teman yang tidak percaya pada konsep beragama padahal awalnya agamanya Islam, sama dengan agama yang saya anut. Mungkin tiga-tiganya sudah bertemu bidadarinya di dunia, jadi berfikir tidak perlu lagi bertemu bidadari nya yang di surga. Tidak apalah, buat saya saja nanti kalau begitu jatah bidadari buat mereka yang di surga. Pernah tetapi saya juga heran, ketika ada masalah mereka update status di Facebook, “Dear God. What should I do?” Saya jadi berfikir, “Kok ini katanya atheist tapi nggak konsisten ya? Apa atheist itu juga ada Tuhan-nya?” Tapi hal ini justru membuat saya tiba pada kesimpulan yang lebih baik, tidak sesederhana orang ingat Tuhan dan berbuat amal itu untuk masuk surga dan masuk surga itu untuk bertemu bidadari mereka. Setiap orang, secara manusiawi sebenarnya pasti membutuhkan Tuhan. Makanya siapapun itu, kalau saat kesusahan pasti jadi ingat Tuhan, mengeluh dan berdoa. Saat bahagia, umumnya saya sendiri juga lupa untuk berdoa. Kalau sholatpun, setelah salam langsung merapikan sajadah, sarung dan peci lalu pergi tanpa berdoa.

Muncul juga kadang pertanyaan, “Seandainya saya tidak percaya Tuhan, apa yang membuat saya harus sombong dan tidak mengakui ketidakberadaan Tuhan itu?” Kadang ada tulang ikan yang kebetulan nyelip di sela-sela gigi dan susah keluarnya, sampai berhari-hari saya kewalahan cari akal buat mengeluarkan tulang itu dari gigi, karena memang jadi terasa tidak nyaman dan mengganggu. Inipun kemudian jadi buat saya berfikir kalau sesungguhnya manusia itu mempunyai keterbatasan, bahkan untuk hal sekecil itu saja saya sudah mengeluh. Teringat dulu tsunami di Aceh dan gempa di beberapa tempat di Indonesia, dalam sekejap jutaan orang dan rumah juga rata dengan tanah. Yang terlintas dalam benak saya kemudian adalah kesimpulan kalau kita sesungguhnya sangat kecil sekali di mata Allah. Jadi daripada berpusing ria ikut-ikutan komentar tentang rok mini, model jilbab terbaru, Nazarudin, Angelina Sondakh dan reshuffle kabinet, mendingan saya memperbaiki sholat dan rajin baca Al-Quran saja. Takut kalau-kalau jatahnya cuma sampai hari ini dan tidak bertemu bidadari di dunia dan di surga. Bisa rugi dua kali saya.