Sabtu, 12 November 2011



Saya punya seorang adik berusia belasan, ya sekitar 12 atau 13 tahun. hobinya survival, baris-berbaris, sandi menyandi, tali-temali, ya hobi anak2 pramuka pada umumnya. hingga pada suatu hari kami berdua pulang kerumah bersamaan, dan sudah menjadi agenda rutin, serta hobi bersama, kami jarang pulang... sekali pulang itupun ndk lama, sehari atau dua hari pergi lagi, atau malah kadang hanya dirumah satu malam. orang tua kamipun menganggap itu wajar, malah kami akan diusir-usir untuk pergi kalau terlihat nganggur-nganggur dirumah. dan seperti biasa, hari itu adekku terburu-buru pulang ke kosnya, ada agenda pramuka katanya, ah.... paling juga hobi tali temalinya itu.. pikirku kala itu... tapi ternyata saya salah, karena agendanya bernama "pramuka berbagi senyum" wuisss.... keren juga... gumamku., ada sebuah inovasi baru...dan tidak sekedar tali temali.., trus saya juga sempat berbincang tentang apa itu pramuka berbagi senyum, pada awalnya ini adalah gerakan sosial yang biasa dilakukan, bakti sosial ke panti, mencari donatur dan disalurkan, namun gagasan selanjutnya yang membuat saya tercengang... pramuka berbagi senyum itu dilanjutkan dengan program menabung, yang juga membantu kawand. disetiap kelas dikoordinir oleh satu orang, untuk menabung minimal 500 rupiah perhari, dan sepuluh persennya diinfakkan yang selanjutnya setelah akhir semester uang yang sudah terkumpul dari 10% itu dipakai untuk membantu kawand mereka yang belum bayar spp, buku lks, seragam, dll. wahh... dasyat... terimakasih adinda, karenamu kini aku bisa memaknai kata "gerakan" didepan kata "pramuka".


diriku sendiri mulai berfikir untuk membangun sebuah gerakan sosial dewasa ini, setelah saya bergabung beberapa saat di KAMMI dan kenal dengan beberapa temen di NGO., namun berawal dari saat itu saya jadi berfikir untuk melakukan hal-hal sederhana yang bisa aku lakukan untuk merubah apa yang tidak enak aku lihat. dan hari ini, bukan hanya adik saya yang memiliki gerakan limaratus itu... karena sayapun mulai membangun gerakan lima ratus saya.

***

keprihatinan ini berangkat ketika saya melamar menjadi guru di salah satu bimbingan belajar, dan sang pemilik lembaga mengatakan, lembaga seperti ini tidak akan terbentuk ketika sekolah mampu mendidik anak-anak mereka dengan maksimal. kata-kata itu ada benarnya, dan semua itu ndk masalah bagi murid-murid kaya, karena mereka bisa mendapat suplemen tambahan kapanpun mereka mau. tapi bagi anak-anak miskin dan pinggiran, sekolahpun karena ada BOS... lalu bagaimana ??? ada dua hal yang perlu disoroti, pertama, sudah saatnya sistim pendidikan kita mengevaluasi diri, karena banyak nilai bergeser dan sekolah hanya sekedar formalitas untuk sebuah title. jangankan menuju pada sebuah pembentukan karakter, ketika anak belajar tentang zat kimia, maka meeka tidak akan mengkonsumsi makanan berpengawet, kemampuan memecahkan soal kimia saja mereka dapatkan dari tempat bimbel. hal kedua yang harus dievaluasi adalah diri kita , karena kita memiliki banyak kemampuan untuk melakukan hal-hal kecil nan sederhana namun penuh makna. akupun tergelitik untuk menggagas "saung belajar". apa itu ???

***
saung belajar, adalh kelompok-kelompok belajar kecil dipinggiran, disana kita belajar bersama, berbagi pelajaran tambahan, skill tambahan, dan pembentukan karakter pribadi. namun alangkah lebih masifnya gerakan kita, ketika kita bergerak bersama... untuk mulai dari hari ini..,

1. mengumpulkan buku-buku dari para donatur untuk saung belajar, karena dari buku kita bisa membuka wawasan generasi muda, kalau merka tidak membaca, siapa yang akan jadi pemimpin negara ???

2. luangkanlah sedikit waktu, untuk sesekali bermain bersama kami, bercengkrama bersama wajah-wajah lugu mereka. dan berbagi skill yang masing-masing kita punya...

3. Bumikan gerakan 500. lima ratus bukanlah angka yang mahal, namun jika itu dikumpulkan, maka itu bisa membantu perbaikan penidikan negeri ini, karena gerakan limaratus inilah yang kedepannya akan membiayai operasional saung belajar kita. untuk sebuah perjuangan pemerataan kesempatan belajar di negeri ini.

so??? tunggu apa lagi??? bergeraklah, seperti WS Rendra pesankan... "kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata"


Minggu, 06 November 2011


almamater janganlah bersedih
ketika arakan mulai berjalan perlahan
menuju pemakaman siang ini
anakmu yang berani telah tersungkur kebumi
ketika melawan tirani...


(voa-islam) – Sebuah pesan pendek tersebar tentang kabar masuk Islamnya Sunita Williams, astronot wanita India pertama yang pergi kebulan pada 2 Juli 2007 lalu. Berita menghebohkan ini bukanlah yang pertama, sebelumnya astronot asal Amerika Serikat Neil Armstrong juga menyatakan dirinya masuk Islam sekembali dari bulan. Apakah ini berita bohong? Yang pasti pihak Kristiani tidak suka dengan pemberitaan ini. Lalu disebarlah kabar, bahwa ini berita bohong.

Perlu diketahui, Sunita Williams adalah seorang astronot kelahiran Ohio 19 September 1965 dari orang tua berketurunan India-Slovenia. Menikah dengan Michael J. William, seorang Polisi Federal di Oregon, USA. Sebagai astronot pertama India, dia memegang rekor perjalanan luar angkasa untuk wanita: berada diluar angkasa terlama (195 hari), dan berjalan diluar angkasa (29 jam, 17 menit).

Dalam perjalanannya ke bulan, Sunita William melihat fenomena yang aneh saat pandangannya menuju ke bumi. Ketika bagian bumi lainnya nampak gelap, ternyata ada sebagian kecil bumi yang nampak terang yaitu Makkah dan Madinah.

Sunita mengatakan, dari atas seluruh permukaan bumi diselimuti kegelapan, namun betapa terkejutnya ketika dengan bantuan teleskop ada dua tempat yang sangat berbeda, yaitu Makkah dan Madinah. Kedua tempat itu nampak terang dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya dibelahan bumi. Masya Allah, Allah Maha Besar.

Selain itu, fenomena lain yang ditangkapnya adalah ketika gelombang suara dari bumi tidak mampu merambah luar angkasa, dia ternyata bisa menangkap suara Adzan. Apakah ini suatu keanehan, atau merupakan suatu jalan dari Allah untuk menunjukkan sisi-sisi kebenaran kepada sang Astronout? Dikabarkan setelah peristiwa ini, Sunita Williams memeluk agama Islam.

Menjadi Polemik

Menengok kebelakang, pada tahun 1870, Neil Amstrong mendarat di bulan. Dikabarkan, saat mendarat di bulan, dia mendengar suara yang dia tidak mengerti suara apakah itu. Setelah 12 tahun kemudian, Neil diundang seminar di Universitas Kairo, Mesir.

Di saat dia menyampaikan makalahnya, saat adzan berkumandang menunjukkan waktu shalat, moderator menghentikan presentasinya untuk mendengarkan adzan. Dan Neil berseru, “Ini dia suara yang pertama kali aku dengar saat mendarat di bulan.” Setelah itu, Neil Amstrong menemui salah satu profesor di universitas itu. Dia ingin tahu banyak tentang Islam. Dan setelah itu, dia menjadi muallaf.

Pemberitaan masuk Islamnya Neil Armstrong dan Sunita William belakangan menjadi polemik di kalangan masyarakat. Seorang muallaf asal Australia Gene Netto dalam sebuah blog pribadinya mengatakan, “Teman-teman, saudara sesama muslim, saya mohon jangan di bahas tentang Neil Amrstrong ke bulan lalu mendengar Adzan. Karena dalam beberapa situs berbahasa Inggris (yang mereview dunia Islam), kita dianggap bodoh, mereka mengangap kebodohan dunia Islam karena tidak mau menerima kenyataan ‘American Kafir’ yang pertama menginjakan kakinya di bulan pertama kali, bukan orang muslim.”

Situs atau blog yang membahas Neil Armstrong menjadi muslim adalah situs-situs di Asia Tenggara (Maroko, Filipina, Indonesia, Malaysia). Barat menganggap, negara-negara disini memiliki pendidikan yang rendah. Pernah kejadian saat Neil Armstrong ke Malaysia dan ditanyakan hal itu. Ia heran, apakah hal seperti ini perlu dikonfirmasikan ke Neil Armstrong sendiri, karena Neil sendiri tidak pernah ke Makkah untuk melaksanakan ibadah Haji. Dan jika dijawab, ia tidak pernah mendengar adzan, maka si penanya muslim yang kecewa dan tidak percaya dianggap kebodohan. Neil memang pernah ke Mesir, tapi tidak untuk naik haji ke Makkah.

Dikatakan Gene Netto, umat muslim tidak perlu seorang Neil Armstrong untuk meyakinkan dirinya bahwa agama Islam yang dianutnya adalah benar. Jika anda menyakini agama benar, maka yakinilah bahwa hal itu benar. Muslim dianggap menggunakan nama besar Neil Armstrong untuk membenarkan agamanya.

“Masa kita dikatakan kurang meyakini agama kita sendiri sehingga perlu nama-nama besar dari dunia barat. Percayalah, nama Rasullullah sudah cukup besar buat kita dan dunia. Umat kita sendiri yang akhirnya menjadi bahan tertawaan, cukup sudah,” kata Gene yang telah memeluk Islam dan tinggal di Jakarta.

Dikatakan Gene Netto, Neil Armstrong merasa terganggu, bahkan ia menyatakan ia tidak masuk Islam dan ketika ia diundang sebagai pembicara dalam kegiatan Islam ia juga tidak mau (ia menolak secara halus karena tidak ingin menyinggung perasaan umat muslim), tetapi ia menyatakan tidak ingin berpartisipasi dalam kegiatan Islam. Dalam web Islam malah dikatakan Neil Armstrong tidak mau mengakui, karena ia telah dicuci otaknya di Assylum (RSJ).

Satu hal lagi yang menjadi bahan tertawaan dunia barat adalah pemberitaan Neil Armstrong menyusuri retakan di bulan yang cocok dengan cerita bahwa suatu saat nanti bulan akan terbelah dua, ditertawakan juga, karena diameter bulan itu sangatlah besar, mana mungkin ia punya waktu untuk menyusurinya. Mendengar adzan juga dikatakan ilmuwan Barat tidak mungkin karena tidak ada udara di bulan sana.

Dalam beberapa jurnal barat dikatakan, umat muslim memerlukan nama-nama besar atau cerita palsu untuk menambah keyakinannya diantaranya: Jaques Cousteau, Michael Jackson, Maurice Bucaille, King Offa of England

Terlepas benar atau tidaknya Sunita William atau Neil Armstrong masuk Islam sepulang dari bulan, kita berharap Allah Swt memberi hidayah kepadanya. Bagaimanapun para missionaris (Nasrani) tidak suka dengan pemberitaan ini. Padahal jika Allah menghendaki, ihwal terdengarnya suara azan di bulan, hal itu bukanlah mustahil. Bisa saja terjadi. Satu hal, media Barat tidak akan pernah memberitakan hal-hal yang dianggap bisa mengguncangkan iman umat Kristiani, bukan hanya di AS, tapi juga d dunia. Karena itu mereka meredamnya. Wallohu'alam.(Desastian)



Adakah orang akan bertanya akan aku ketika aku
tak pernah menulis satu kata?
Adakah orang akan mencari namaku ketika aku
tak pernah meninggalkan kesan?
tulisanku adalah diriku, diriku mustahil adalah tulisanku
jari-jariku bekerja dengan otakku
tapi tidak dengan diriku
diriku adalah kumpulan prilaku potensi dosa
diriku adalah susunan tulang daging darah
yang mungkin telah menyerap barang haram
diriku bukan milikku, lingkunganku telah mengklaimnya
Adakah orang pernah menerima aku berbeda dengan tulisanku?
Berjayalah kalimat-kalimat yang kutulis
sebab mereka mendapat teman dan musuh yang menghormati
ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku
harap aku bisa mendapat sapaan hormat yang sama
Tulisanku adalah produksi otakku yang bersahaja
tak dapat bercengkrama dengan prilakuku yang
diproduksi oleh niatku yang subjektif
tulisanku memberi tahu tentang aku ke dunia
sementara aku tak pernah berbuat yang sama
kepada tulisanku....

by:DeKalb


Akankah Papua lepas dari Republik Indonesia? Semua syarat menuju des-integrasi Papua sudah terpenuhi. Proses terjadinya des-integrasi itu sudah di depan mata. Kekuatan-kekuatan yang menginginkan des-integrasi sudah terkonsolidasi.

Suatu ketika jika terjadi campur tangan PBB, dan mengharuskan referendum bagi Papua, maka nasib Papua seperti yang terjadi di Timor Timur yang lepas dari wilayah Republik Indonesia.

Masalah paling pokok atau mendasar di Papua, masalah keadilan. Di mana rakyat Papua tidak mendapatkan keadilan. Terutama terkait dengan pembagian hasil sumber daya alam mereka. Rata-rata rakyat Papua, sejak di jajah Belanda, sampai bergabung dengan Indonesia, tidak mengalami perubahan nasib mereka, dan tidak mendapatkan keadilan. Mereka tetap miskin. Masih banyak diantara mereka memakai koteka.

Irian Barat yang di zaman Presiden Abdurrahman Wahid, sesuai dengan keinginan rakyat di wilayah itu, kemudian diganti namanya menjadi Papua. Itu sebenarnya secara de facto mengakui eksistensi gerakan yang menginginkan wilayah itu lepas dari Republik Indonesia.

Irian Barat yang sekarang menjadi Papua itu, sebuah hadiah dari Presiden Kennedy, yang menekan penjajah Belanda, menyerahkan wilayah itu kepada Indonesia, dan Indonesia masuk ke dalam geostragi Amerika di era perang dingin.

Di zaman Jenderal Soeharto berkuasa, awal pemerintahannya, sebagai bakti dan penghormatan dia kepada Amerika Serikat, maka menyerahkan "sesaji" kepada tuannya, berupa tambang emas dan uranium, yang sekarang diberi nama : "Freeport", pelabuhan bebas.

Di mana gunung di Timika, yang kala itu, dilihat dari udara, di malam hari, seperti terpancar sinar berwarna emas yang sangat nampak, karena saking banyaknya devosit emas, yang ada di Timika. Galian tambang itu, tidak diproses di Indonesia, tetapi langsung di masukkan ke dalam kapal diangkut ke Amerika Serikat.

Pemerintah Indonesia tidak pernah tahu, dan tidak melakukan audit terhadap hasil pengelolaan dan pengerukan tambang emas di Freeport. Berapa sebenarnya jumlah emas dan uranium, yang sudah diangkut ke luar negeri itu nilai ekonomisnya? Tetapi, yang jelas sumber tambang emas di Timika itu, memiliki kandungan yang sangat besar devositnya.

Berapa banyak emas yang digali dari bumi Timika itu, kalau dikoversi dengan nilai uang dollar atau rupiah? Triliunan dollar. Jika dirupiahkan sudah sulit dihitung. Terlalu besar nilainya uangnya. Tapi, semuanya uang itu kemana, jatuhnya?

Soeharto berkuasa hampir lebih tiga dekade alias tiga puluh tahun. Freeport itu sudah ada di awal pemerintahan Soeharto, dan ketika habis masa kontraknya diperpanjang, dan diperpanjang lagi.

Uang yang berasal dari tambang emas "Freeport" terlalu sedikit yang dinikmati rakyat Papua. Berapa lama rakyat Papua bergabung dengan Indonesia? Berapa banyak perubahan dan perbaikan kehidupan rakyat Papua? Berapa kemakmuran yang sudah didapatkan dari tambang emas "Freeport" itu? Nothing.

Uang dari tambang Freeport itu, pertama yang jelas menikmati asing, alias pengusaha Yahudi Amerika, dan salah satu komisaris utama Freeport itu, mantan Menlu Amerika Serikat, Henry Kissinger. Kedua, yang menikmati hasil tambang emas Freeport itu, tak lain, para elite pejabat di Jakarta.

Mereka yang paling "kenyang" dengan pembagian dari penjualan tambang emas itu, dan mereka terus menikmati penjualan tambang emas Freeport. Karena itu, ketika masa kontrak tambang emas Freeport itu habis, segera diperbarui lagi. Entah sampai kapan?

Papua propinsi yang paling kaya dengan sumber daya alam, tetapi propinsi yang paling miskin. Tidak ada perubahan yang penting di wilayah itu. Di semua sektor. Infrastruktur tak banyak mengalami kemajuan. Seharusnya, kalau "share"nya (pembagianya) itu adil, ibukota Propinsi Papua, Jayapura, bisa lebih megah dibandingkan dengan Jakarta. Dari mulai bergabung dengan Repubilk Indonesia, zaman Soeharto, sampai SBY, tak nampak kemajuan. Papua hanya menjadi sapi perahan bagi para elite politik di Jakarta.

Polisi saja, dari laporan yang ada, sejak tahun 2009, mendapatkan dana dari Freeport, tidak kurang $ 79 juta dollar, hampir satu triliun rupiah, hanya untuk mengamankan Freeport. Tetapi, sekarang kondisi Timika, yang menjadi kota kabupaten di wilalyah Freeport terus bergejolak. Kemudian, sekarang ditunjuk Letnan Jenderal Bambang Dharmono, menjadi Kepala Tim Percepatan Pembangunan Papua.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, belum lama ini berkunjung ke Jakarta, dan bertemu dengan sejumlah pejabat di Jakarta, dan menyinggung soal Papua. Panetta berbicara soal kesejahteraan. Sementara itu, kelompok-kelompok LSM, berbicara tentang pelanggaran hak asasi manusia. Terjadinya kekerasan di Papua yang sangat eksesif (berlebihan) yang dilakukan aparat keamanan, dan ini akan mempunyai implikasi yang serius.

Polisi dan tentara di pakai oleh fihak perusahaan Freeport, menjaga keamanan, dan mereka melakukan tindakan keamanan, dan deterren terhadap unsur-unsur yang ingin menganggu Freeport. Tetapi, situasi itu berubah dan terjadi eskalasi yang semakin luas, termasuk terbunuhnya Kapolres di wilayah itu oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka).

Dilemanya, rakyat Papua merasa tidak puas, dan menginginkan Freeport menjadi milik mereka, dan mereka memiliki hak penuh atas Freeport. Freeport menggunakan aparat keamanan guna menghadapi kelompok-kelompok yang sekarang menginginkan hak-hak mereka atas Freeport. Terjadi tindakan kekerasan.

Semua itu, kemudian dimanfaatkan Amerika Serikat, mendorong terus terjadinya kekerasan dan mendukung kelompok OPM melakukan operasi militer, dan terjadi kekerasan, kemudian Amerika Serikat akan berbicara pelanggaran hak-hak sipil, dan menuntut campur tangan PBB. Dengan begitu Papua akan lepas dari tangan Indonesia. Inilah sebuah skenario yang dihadapi Indonesia tentang Papua. Mirip yang terjadi di Sudan Selatan, yang kemudian lepas dari Sudan utara.

Nopember ini di Bali akan berlangsung sebuah konferensi yang akan dihadhiri Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dan masalah Papua menjadi masalah yang sangat serius.

Jika Papua lepas dari tangan Indonesia, maka ini akan seperti teori domino, yang akan berdampak terhadap wilayah lainnya di Indonesia. Karena potensi di-integrasi itu sangat besar, akibat ketidak adilan. Di mana-maa.

Ketidak adilan itu disebabkan karena faktor korupsi, dan ketamakan para pejabat di pusat dan di daerah yang sudah sangat sistemik, di mana sekarang apa yang disebut dengan : "State corruption", (korupsi negara) itu sudah menjadi nayata.

Apalagi, di era partai politik, yang sekarang memegang kekuasaan, kekayaan negara telah di kapling-kapling, dan melalui departemen, di mana para menteri yang berasal dari partai politik itu, pasti dengan mudah akan membuat "deal" dengan fihak asing menjual asset negara guna memenuhi pundi-pundi mereka, khususnya untuk menghadapi pemilu.

Para pemimpin partai politik sekarang mencari sandaran kepada negara-negara yang dipandang kuat, seperti Amerika Serikat, dan mereka pasti menjadikan Amerika Serikat sebagai patron (tuan) mereka.

Maka, tambang emas di Timika, tambang minyak di Cepu, Batubara di Kalimantan, dan sejumlah tambang lainnya, di Sumbawa Sulawesi, dan Sumatera itu, mereka jadikan "sesaji" bagi tuan mereka di Washington.

Rakyat seperti di Papua hanya menikmati kemelaratan mereka, dan sebagian mereka masih hidup nomaden dan menggunakan koteka.

Sementara elite politik mereka menikmati kelezatan dari kekuasaan mereka, dan hasil menjual kekayaan negara kepada fihak asing. Mereka akan menyambut dengan senang hati kedatangn Barack Obama di Bali. Wallahu'alam.


Kamis, 27 Oktober 2011



Pada tahun 2010 silam, kota Bandar lampung memilih pemimpin barunya, saya teringat ketika itu, saya diajak oleh senior-senior saya untuk menggarap sebuah diskusi terkait komitmen calon walikota Bandar lampung terhadap dunia pendidikan. Hampir dipastikan seluruh calon mampu berdialektika dengan begitu indahnya. Mengatakan bahwa pendidikan adalah factor yang sangat penting dalam suatu pemerintahan, karena pendidikan mampu menciptakan masyarakat yang cerdas yang mampu mencari jalan
keluar dari masalahnya. Diskusi tersebut dihadiri oleh ratusan guru honorer yang menaruh jutaan harapan untuk diangkat menjadi guru tetap, banyak yang megadu bahwa gaji mereka terlampau kecil, menagih janji kapan diangkat sebagai pegawai negeri ? dan lain sebagainya. Diakhir diskusi, ada penandatangana sebuah kontrak, salah satunya adalah komitmen walikota untuk menganggarkan 20% anggaran untuk pendidikan diluar gaji guru. Hari itu masih teringat jelas oleh saya bahwa semua calon menandatangani dengan nada pongah.

Hari ini saya mengingat sebuah realitas, ketika melihat anak-anak kecil penjaja asongan dilingkungan kampus, sesekali saya ngobrol dengan mereka, kenapa tidak ada sekolah? Dan dengan pasti jawaban mereka hamper sama, tidak ada biaya mb, dan sayapun penasaran, lho… bukannya ada dana bos??? Merekapun menjawab lagi, dana bos tidak untuk seragam dan pungutan-pungutan lain mb., hmm ada apa ini.

Akuntabilitas

Mulai tahun 2009, pemerintah menganggarkan dana pendidikan 20,1% dari APBN (sekitar 224,4 triliun). Ini perlu disambut baik, meskipun angka 20,1% belum tentu cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pendidikan Indonesia.

Contohnya untuk gaji guru. Presiden SBY dalam pidato nota RAPBN 2009 (15/08) berjanji akan memberikan gaji Rp 2 juta perbulan. Padahal jumlah guru di Indonesia (swasta/negeri) sekitar 2,7 orang. Berarti dalam satu bulan pemerintah harus mengeluarkan dana Rp 54 miliar, dan dalam satu tahun Rp 64,8 triliun. Ini belum menghitung gaji guru agama (jumlahnya ratusan ribu) dan biaya pelatihan guru. Guru negeri/swasta yang belum memenuhi kualifikasi atau tidak layak mengajar, menurut data Balitbang Depdiknas, untuk jenjang SD 49,3%, SMP 36%, SMA 33%, dan SMK 43%. Karena itu pelatihan guru mutlak diperlukan, dan pemerintah harus membiayainya. Padahal angaran untuk gaji guru, sebagaimana dilansir beberapa surat kabar, hanya Rp 89,5 triliun (tidak termasuk pengajuan dana tambahan Rp 14,4 triliun).

Besarnya dana pendidikan juga harus dibarengi akuntabilitas dan transparansi. Transparansi dan akuntabilitas dana Depdiknas masih lemah. Tahun 2007, dari sekitar Rp 44 triliun realisasi penggunaan anggaran, hanya separuh yang dibelanjakan untuk kegiatan pendidikan, selebihnya habis dipakai kegiatan birokrasi. Anggaran 20,1% seharusnya diprioritaskan untuk pengembangan SDM, bukan cuma fisik atau seremonial saja.

Persoalan pendidikan juga tidak melulu berkaitan dengan dana, melainkan juga kebijakan pendidikan, perkembangan anak, peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, relevansi kurikulum dan sistem pengajaran, pemerataan akses pendidikan, pengelolaan manajemen pendidikan, orientasi pendidikan, tingginya angka buta huruf orang dewasa (sekitar 60%) dan tingginya angka putus sekolah (menurut data UNESCO sekitar 64,8% penduduk usia 15 tahun ke atas).

Sekolah dan Guru Swasta


Pendidikan adalah prioritas utama pembangunan Indonesia. Tanpa SDM bermutu, Negara kita tidak punya masa depan. Prioritas pertama pembangunan Indonesia adalah pendidikan, kedua pendidikan, dan ketiga juga pendidikan.

Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 tidak membedakan sekolah swasta dengan sekolah negeri, atau sekolah umum dengan sekolah agama (madrasah dll.), karena keduanya sama-sama membangun bangsa. Dengan anggaran 20,1% pun, Negara mustahil mampu memberikan pendidikan yang berkualitas, merata, dan memadai bagi seluruh anak bangsa. Untungnya masih ada sekolah dan guru swasta, yang banyak membantu pemerintah mendidik anak bangsa.

Sayangnya, perhatian pemerintah terhadap sekolah dan guru swasta sangat minim. Padahal sekolah swasta, khususnya lembaga pendidikan Islam, jauh tertinggal dibandingkan sekolah negeri. Data tahun 2007, Madrasah Ibtida’iyyah 93% milik swasta, dan SD 94% milik pemerintah.

Pemerintah wajib memberi perhatian kepada sekolah dan guru swasta, karena mereka juga aset bangsa. Hak atas pendidikan bukan hanya milik sekolah negeri, tapi juga sekolah swasta, termasuk madrasah dan pesantren.

Apresiasi kepada sekolah dan guru swasta juga bisa datang dari kalangan pengusaha dan perbankan. Pengusaha bisa memberikan santunan rutin bulanan atau menjadi donatur tetap sebuah lembaga pendidikan. Kalangan perbankan bisa memberi kredit lunak kepemilikan rumah maupun kendaraan, atau bahkan memberi kredit dengan bunga nol persen kepada para guru. Hal ini akan mudah terealisasi bila ada perhatian dan dorongan dari pemerintah

Selasa, 18 Oktober 2011









There's a place in your heart
And I know that it is love
And this place could be much
Brighter than tomorrow.
And if you really try
You'll find there's no need to cry
In this place you'll feel
There's no hurt or sorrow.
There are ways to get there
If you care enough for the living
Make a little space, make a better place.


Minggu, 16 Oktober 2011




Pemerintah melalui Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional pada tahun 2010 meluncurkan program Bidik Misi untuk memberikan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan dan bantuan biaya hidup kepada 20.000 mahasiswa yang memiliki potensi akademik memadai dan kurang mampu secara ekonomi di 104 perguruan tinggi penyelenggara. Pada tahun 2011 program ini kembali menerima 20.000 calon mahasiswa pada 117 perguruan tinggi penyelenggara. Universitas Lampung sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Provinsi Lampung menjadi salah satu universitas penyelenggara Bidik Misi sekaligus pelaksana amanat konstitusi Pasal 31 (1) UUD 1945 bahwa tiap-tiap warga Negara berhak memperoleh pengajaran. Oleh karena itu Universitas Lampung harus memenuhi prinsip 3T (tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu).

Transparansi anggaran

Pada pedoman pelaksanaan bidik misi, poin C Ketentuan Khusus terkait penggunaan dana, dijelaskan bahwa biaya hidup yang diserahkan kepada mahasiswa sekurang-kurangnya sebesar Rp. 600.000,00 per bulan yang ditentukan berdasarkan indeks harga kemahalan daerah lokasi PTP. Sementara bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan yang dikelola PTP sebanyak-banyaknya Rp. 2.400.000,00 per semester per siswa. Ini berarti sesuai dengan poin D ketentuan Umum bahwa harga satuan bantuan biaya pendidikan tahun 2011 adalah sebesar Rp. 6.000.000,00. Penerima Bidik Misi angkatan 2010 Universitas Lampung dikenakan potongan sebesar Rp. 550.000,00 dengan alasan untuk biaya pelatihan, dll yang kemudian belum ada transparansi dari pihak universitas lampung terkait pembelajaan pemotongan dana tersebut hingga sekarang. Keunikan juga terjadi pada pengelolaan bidik misi angkatan 2011 dimana setiap penerima bidik misi diwajibkan untuk tinggal di rusunawa, dengan dalih menjaga stabilitas prestasi mahasiswa. Jika memang hal itu menjadi alasan utama, masa mukim di rusunnawa yang hanya satu tahun tidak mampu menjamin seluruhnya, karena ada sisa mukim sepanjang 3 tahun yang diluar control rusunawa. Dan pada persyaratan bidik misi juga sudah jelas dan tegas bahwa penurunan prestasi bisa berakibat pada pemberhentian beasiswa, artinya setiap mahasiswa sudah memahami setiap konsekuensi yang harus ditanggung.

Rusunawa dan Perputaran Uang

Pembelanjaan dana bidik misi tahun 2010 diserahkan kepada setiap mahasiswa, namun tahun 2011 ini putaran dana sudah disiapkan oleh suatu sistim baru untuk berputar pada kas universitas lampung. Setiap mahasiswa diwajibkan untuk tinggal di rusunawa yang pada awalnya satu kamar dihuni oleh 2 orang @ membayar Rp. 1.500.000,00 kini dihuni oleh 4 orang @ Rp. 1.500.000,00. Artinya setiap kamar yang pada awalnya berharga Rp. 3.000.000,00 meningkat menjadi Rp 6.000.000,00. Begitu juga aturan yang sudah didesain sedemikian rupa seperti pelarangan untuk membawa alat elektronik seperti setrika,dll. Setiap mahasiswa dibahasakan bahwa mereka tidak wajib laundry, namun tidak boleh membawa alat elektronik, apa jadinya ?? begitu juga dengan masalah catring makanan yang bersifat sunah namun dilapangan memaksa. Apakah semua itu demi dalih kenyamanan pembelajaran atau hanya suapaya ada perputaran uang pada Universitas Lampung?

Quota Sisa

Penyeleksian Bidik Misi Universitas lampung dilaksanakan dalam 3 gelombang, gelombang 1 melalui SNMPTN Undangan, gelombang 2 setelah penerimaan mahasiswa baru, dan gelombang 3 paska orientasi mahasiswa baru. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa harus ada kuota sisa yang menyebabkan penerimaan paska masa orientasi ? hal ini membuka peluang “tawar menawar” antara birokrat dengan penerima beasiswa yang lebih besar dan mengakibatkan “tidak tepat” sasaran dalam penyaluran beasiswa bidik misi.

Dimana program yang digelontorkan dalam rangka seratus hari kerja mendiknas ini harus dikawal dengan baik sesuai dengan amanat konstitusi 1945, UU Sisdiknas No 20 thn 2003, PP 48 tahun 2008 ttg pendanaan pendidikan, PP 66 ttg perubahan atas peraturan pemerintah ttg pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan, Program Kabinet Indonesia II, permen no 34 thn 2006 ttg penghargaan bagi siswa berprestasi, permen no. 34 tahun 2010 ttg pola penerimaan mahasiswa baru program sarjana pd perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah, permen no 30 thn 2010 ttg pemberian bantuan biaya pendidikan kepada peserta didik yang orang tua/walinya tidak mampu membiayai pendidikan. Tetap Kritis untuk Unila yang Lebih Baik…!!

Senin, 19 September 2011


Tulisan ini ditulis oleh seorang senior sy d UKM-U ESo Unila yang sekarang sedang menempuh S2nya di USA... sesuatu yang sederhana, tapi merupakan sebuah pendekatan logika yang menyentuh dari seorang Kristian Adi Putra....

.......................................................................................................................................................................

Tidak jarang kita berkata, “Waduh jangan dulu matilah saya ini. Belum kawin saya.” Dalam pemikiran awam saya tentang agama, sayapun jadi bertanya, “Sesederhanakah itu urusan hidup dan mati untuk manusia. Apa ya iya hidup itu hanya untuk kawin saja?” Saya jadi berfikir lagi, yang berhak atas bidadari itu adalah orang yang masuk surga, atau dengan kata lain orang yang amalnya lebih banyak dari dosanya ketika hidup di dunia. Dengan lebih sederhana saya akhirnya jadi menyimpulkan, mungkin orang yang berfikir seperti itu adalah orang yang belum pernah kawin di dunia dan kebetulan merasa banyak dosa ketimbang amalnya di dunia. Sehingga, dia khawatir apes tidak ketemu bidadari baik di dunia atau di alam akhirat nanti-nantinya.

Sekarang sebenarnya jadi tergambar, hidup itu tidak sesederhana itu. Tidak jarang ketika naik motor saya berfikir, “Seandainya saya ketabrak mobil dan meninggal saat ini juga, apakah saya bakal masuk surga? Banyakan mana amal saya ketimbang dosa saya?” Sayangnya memang saya tidak bisa pinjam catatan malaikat yang mencatat amal dan dosa saya. Coba kalau bisa dan saya tahu kebetulan amal saya poinnya 3 kali lipatnya dosa. Saya akan mentolerir diri saya sendiri untuk berbuat dosa sembari berfikir, “Ya toh catatan amal saya masih banyak ini.” Dan seringnya, saya justru berfikir kalau saya itu lebih banyak dosanya ketimbang amalnya. Hitung-hitungan saya sederhana, sebagai muslim, saya diwajibkan untuk sholat sehari lima kali: Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isha. Kadang kalau pas kebetulan tidak sholat Subuh, dengan alasan kesiangan, atau Isha dengan alasan sebelum mau sholat ketiduran, besoknya saya jadi berfikir, “Jangan dulu saya mati hari ini, ya Allah.” Kalau pas hari ini beriman tapi hari sebelumnya tidak, doa sayapun jadi sama saja. Dan kalau ingat tahun-tahun sebelumnya, saya jadi terus berfikir seandainya saja saya mati hari ini, bakal selesai cerita saya, persis dengan cerita di atas itu. Tidak bertemu bidadari di dunia dan tidak juga di surga.

Setidaknya saya sudah bertemu tiga teman yang tidak percaya pada konsep beragama padahal awalnya agamanya Islam, sama dengan agama yang saya anut. Mungkin tiga-tiganya sudah bertemu bidadarinya di dunia, jadi berfikir tidak perlu lagi bertemu bidadari nya yang di surga. Tidak apalah, buat saya saja nanti kalau begitu jatah bidadari buat mereka yang di surga. Pernah tetapi saya juga heran, ketika ada masalah mereka update status di Facebook, “Dear God. What should I do?” Saya jadi berfikir, “Kok ini katanya atheist tapi nggak konsisten ya? Apa atheist itu juga ada Tuhan-nya?” Tapi hal ini justru membuat saya tiba pada kesimpulan yang lebih baik, tidak sesederhana orang ingat Tuhan dan berbuat amal itu untuk masuk surga dan masuk surga itu untuk bertemu bidadari mereka. Setiap orang, secara manusiawi sebenarnya pasti membutuhkan Tuhan. Makanya siapapun itu, kalau saat kesusahan pasti jadi ingat Tuhan, mengeluh dan berdoa. Saat bahagia, umumnya saya sendiri juga lupa untuk berdoa. Kalau sholatpun, setelah salam langsung merapikan sajadah, sarung dan peci lalu pergi tanpa berdoa.

Muncul juga kadang pertanyaan, “Seandainya saya tidak percaya Tuhan, apa yang membuat saya harus sombong dan tidak mengakui ketidakberadaan Tuhan itu?” Kadang ada tulang ikan yang kebetulan nyelip di sela-sela gigi dan susah keluarnya, sampai berhari-hari saya kewalahan cari akal buat mengeluarkan tulang itu dari gigi, karena memang jadi terasa tidak nyaman dan mengganggu. Inipun kemudian jadi buat saya berfikir kalau sesungguhnya manusia itu mempunyai keterbatasan, bahkan untuk hal sekecil itu saja saya sudah mengeluh. Teringat dulu tsunami di Aceh dan gempa di beberapa tempat di Indonesia, dalam sekejap jutaan orang dan rumah juga rata dengan tanah. Yang terlintas dalam benak saya kemudian adalah kesimpulan kalau kita sesungguhnya sangat kecil sekali di mata Allah. Jadi daripada berpusing ria ikut-ikutan komentar tentang rok mini, model jilbab terbaru, Nazarudin, Angelina Sondakh dan reshuffle kabinet, mendingan saya memperbaiki sholat dan rajin baca Al-Quran saja. Takut kalau-kalau jatahnya cuma sampai hari ini dan tidak bertemu bidadari di dunia dan di surga. Bisa rugi dua kali saya.

Kamis, 23 Juni 2011


dulu aku tak mengerti... dan hanya mengenal senyuman... kuanggap semua sama., berdiri dalam satu pijakan., tapi kini aku tau... dunia tidaklah putih., hitam., atau abu-abu... dia merah., kuning., dan juga biru... dalam sebuah perjalanan ceria berebut kaus berwarna hijau., aku menemukan tawa, yang telah direnggut oleh pagi.,

---

dulu aku mengenal biru yang mengisi hariku, bersama tawa dan ilmu, bersama kepemilikan dan pengorbanan, bersama persaudaraan dan pertikaian, hingga hari dimana aku menemukan sebuah kalimat, yang mematahkan pertahanan mental lapis baja... aku tak sanggup., biar kusimpan rapat di dasar hatiku..

---

aku pernah dikenalkan pada hijau... banyak liku yang menghiasi kelok tikungan, menempa diri menjadi lebih tegar, mengurai rasionalitas dan hati... inilah perjuangan, inilah mimpi tentang dunia besar yang kita bangun bersama, ditemani rembulan dan mentari, aku menghitung hari, di temani bintang gemitang, kutapaki gelap malam, terkdang tak dapat diterima rasio orang awam...

---

apakah kini hatiku hijau atau biru... dua warna itu tak pernah lekang oleh waktu., terukir dalam menjadi pijakan, kebanggaan, dan kisah manis yang pernah tertorehkan...