Kamis, 17 Oktober 2013



Desclaimer : tulisan ini dalam rangka menebus dosa kepada beberapa orang yang pernah satu perahu untuk belajar dan belum move on juga. I just want to show you "how i think" dan sama sekali tidak bermaksud meninggalkan teman-teman terbaik menuju dunia baru saya sendiri. 

Tempo hari saya berbincang dengan salah seorang teman terkait sebuah episode kehidupan dikampus yang menarik untuk dibahas karena meninggalkan banyak proses pembelajaran. Bisa dibilang saya sangat menikmati hari-hari itu dimana saya belajar banyak mengenai konflik, prinsip, taktik, dan juga kawahcandradimuka bagi mental yang harus terus dinamis dibawah tekanan. Bagi kami berdua, proses ini menjadi jumping stone untuk menjajagi dunia baru, namun tidak bagi seseorang yang mungkin memiliki manajemen cinta yang lain dalam memandang suatu komunitas. Bisa disebut ia mengalami post power syndrome.

Dalam kesempatan ini saya ingin mereka yang tenggelam dalam sebuah post power syndrome mampu mereformasinya menjadi sebuah post power time. Teringat pembicaraan terakhir dengan bapak saya terkait dinamika seorang pemimpin yang bertahan di kursinya selama bertahun-tahun, saat itu saya menyatakan bahwa tipe pemimpin seperti itu tidaklah baik, karena 1) Ia tidak memiliki visi yang bisa diwariskan kepada generasi penerus, ketika ia mati sudah semua berakhir. 2) Ia menutup pintu kaderisasi untuk orang lain berkembang. 3) Ia menutup kesempatan dirinya untuk berkembang dan memimpin sesuatu yang lebih besar, menyelesaikan hal-hal besar, dan memberi kebermanfaatan yang lebih besar pula. 

Post power time akan menjadi sebuah terminal untuk menuju final destination yang baru. Yang membuat sebagian orang sulit menghadapi kondisi ini adalah ia sulit menentukan final destination tersebut, Ia terus terbayang dengan sebuah kenangan indah dimasa lalu, sementara sebagian diantara mereka merumuskan final destination terbaik untuk dituju, menatap kedepan, membuka hati untuk orang-orang baru dan pembelajaran baru, or bahasa anak mudanya "move on". Outside there, so many place need to travel, so many lesson should we take, and so many friends are waiting for us. 

Bukan berarti juga tempat yang kita tinggalkkan berada di tangga yang lebih bawah, sometime someone need to travel to the other world untuk menemukan sebuah pembelajaran hidup yang baru. It is not a big problem, karena yang menjadi masalah adalah ketika kita diam dan berhenti belajar.  

Hari-hari ini saya tambah bersemangat mendengar kabar yang terus berdatangan, ada yang melanjutkan study, bekerja di beberapa tempat, dan menggenapkan separuh diennya. Subhanallah... sebuah tranformasi post power time yang bagus. Semoga dihari depan kita dapat berjumpa lagi dalam satu forum yang lebih cetar membahana.  Sebuah lahan pembelajaran baru yang lebih besar telah kau jajaki, kutunggu cerita-cerita perubahan dari masing-masing kita, semoga Allah senantiasa menjaga kita semua. Semoga teman-teman terbaik saya yang masih dalam masa post power syndromenya juga segera merubah way of thinking to post power time. 






Hasil perenungan ini membuat saya berefleksi bahwa pendidikan yang berhubungan dengan pembentukan karakter dan kepribadian manusia itu jauh harus dinomorsatukan ketimbang setumpuk mata pelajaran yang memaksa kita kelihatan cerdas padahal tidak.

Inilah mengapa saya apresiatif terhadap pola pendidikan Jepang yang lebih dulu mengajarkan bagaimana mengantri ketimbang matematika. Dari mengantri karakter mereka dibentuk untuk menghargai proses di dalam setiap usaha mencapai sesuatu bukan berorientasi pada hasil yang pada akhirnya banyak menggunakan jalan instan.

Pada suatu sore Desi menceritakan hasil perenungannya kepada saya, "Can, lo sadar nggak klo tiap ada acara, anak-anak muda yag dateng itu-itu aja". Dan tanpa ragu saya menjawab ia. Karena dulu tatkala saya sering mengikuti lomba yang saya jumpai ya orang-orang itu, baik olimpiade, KIR, pramuka, maupun english club. Begitupun ketika masuk ke organisasi kepemudaan, lo lagi- lo lagi. Terakhir saya aktif di berbagai gerakan sosial ya itu-itu lagi yang saya jumpai.

Desi melanjutkan perenunganya "Itu menunjukkan kalau anak muda Indonesia yang mau berusaha untuk maju itu sedikit, mungkin dari berjuta-juta anak muda hanya 4.000an saja. Jadi sebenarnya ketika kita bermimpi untuk mendapatkan sesuatu kita tidak perlu bersaing bebas dengan berjuta-juta anak muda itu. Hanya 4000 saja, dan sebenarnya kita tidak perlu mengalahkan mereka, kita hanya perlu bersabar dan ngantri. Apalagi kesempatan untuk mengasah kemampuan sekarang begitu banyak, seperti beasiswa ke luar negeri, program-program seperti pencerah nusantara, indonesia mengajar, dll."

"Misal ketika kita mencoba mendaftar beasiswa S2 dan ndak ketrima, tapi yang ketrima tiga puluh orang di luar kita, kita ndak perlu sedih, masih banyak kesempatan lain dan itu artinya kita juga kehilangan 30 saingan kita dan tinggal 3970 saja. Permasalahannya adalah selama ini orang tidak sabar pada proses dan menunggu giliran kita untuk terpanggil pada kesempatan lain. Atau permasalahan kedua, ia diam jalan ditempat ketika 4000 orang ini terus memperbaiki kapasitas dirinya dengan berproses, akibatnya ia tertinggal dari komunitas 4000 orang ini."

"Padahal kita tak perlu berlari terlalu kencang untuk menjadi yang terhebat, kita hanya perlu terus belajar, bergerak dinamis dan kreatif sembari menunggu giliran. Dan giliran itu pasti datang, karena walaupun kita ada pada giliran ke 4000, 3999 orang diatas kita akan naik level dan kita mengisi kekosongan itu, begitupun kalau kita bertahan, cepat atau lambat kita juga akan naik level dan digantikan oleh 4000 orang generasi baru lain, syukur-syukur kalau kita bisa lebih cepat dari 10 orang diatas kita, maka kita akan 10 langkah lebih cepat mengantri, namun tidak juga kita ambisius untuk melangkahi 4000 orang segaligus, karena itu terlalu ambisius dan justru membuat kita semakin lelah, dan kembali lagi pada case "menghargai proses"." tutup Desi.

Perenungan Desi tadi membuat saya menengok pada diri sendiri, semoga hal ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Ya, saya bukan tipe orang yang menyerah kepada keadaan, ya, saya juga berada diantara teman-teman yang luar biasa dengan kelebihannya masing-masing, dan saya juga memiliki mimpi yang ingin saya raih. namun terkadang :

1.) Saya menginginkan suatu proses yang cepat, memasang target terlalu tinggi sehingga membuat saya harus berlari kencang, mungkin saya sanggup, namun supporting sistem yang ada disekitar saya belum memadai, akhirnya membuat saya kelelahan dan justru berhenti untuk berproses. Hal ini sangat disayangkan, padahal kita tak perlu tergopoh-gopoh, hanya perlu mengikuti ritme dan menunggu giliran dalam sebuah antrian kesuksesan.

2.) Ketika sudah kelelahan saya akan berhenti sejenak, tentu ini tidak baik, karena 4000 orang yang mengantri itu juga gagal dan mereka terus mencoba dan mencoba lagi, secarra tidak langsung kapasitas diri mereka meningkat. Saat dimana saya berhenti akan membuat saya munduur dari nomor antrian, misal dari 200 menjadi 2500. Inilah mengapa kita perlu mengukur ambisi, bukan sesuatu yang gila-gilaan, namun kita harus mengenal diri dimana kadar kita, sehingga tidak menjadi bumerang yang awalnya ingin maju lebih cepat, justru kelelahan dan mundur.

Sebuah keadaran singkat dari semua penjabaran ini adalah bahwa karakter untuk antri itu bukkan perkara sim salabim, namun di didik dari kecil. Karakter untuk antri juga tidak hanya berlaku ketika kita di Bank, beli karcis kereta, dll. Namun juga terefleksi terhadap cara pandang dan proses kita dalam menjalani hidup. akhir kata saya ingin mengingat kembali sebuah pesan dari ibu saya "orang-orang yang tidak bisa memperhatikan hal-hal kecil, ia juga tidak bisa memperhatikan hal-hal besar." Semoga bermanfaat.





Rabu, 18 September 2013


untukmu yang akan membagi namanya untuk anak-anakku...

Cintaku bukan tentang aku dan kamu,
tapi tentang Tuhanku yang juga Tuhanmu

Cintaku bukan tentang kita
namun tentang pahlawan pahlawan kecil yang akan melanjutkan perjuangan ayahnya

Bahagiaku bukan hanya karna hadirmu
Yakni pembelajaran kala membantumu menyelesaikan masalah peradaban

Namanya Ibu Mety, waka kurikulum di tempat saya KKN. Sedikit saya tahu latar belakang beliau, namun ketika ingin mengenal lebih jauh ada saja halangannya, ketika saya hendak bertandang ke rumahnya, beliau masih di luar kota, selanjutnya kami sibuk dengan urusan masing-masing.

Saya sempat khawatir ketika berkomunikasi dengan beliau, terkadang pembawaan tegas itu sedikit bergeser kearah kaku. Terlebih ketika kami meminta libur lebih dulu dari waktu sekolah, hingga pada akhirnya saya melobi langsung kepada Kepala Sekolah.

Akhirnya kedekatan diantara kami terbangun ketika persiapan bedah kampus, beliau menjadi teman sharing dan penghubung terhadap sekolah, sampai pagi-pagi beliau saya repotkan dengan telfon saya yang meminta buru-buru untuk segera ke sekolah karena bapak Kepala Sekolah tidak ada.

Satu kata yang saya ingat dari beliau adalah, ketika menyarankan kami untuk fokus pada anak-anaknya saja dulu, baru ke orang tua, karena beliau khawatir kami kecewa melihat respon orang tua, “kalau kami sie sudah biasa ujarnya”. Tak sedikitpun ada raut muka jengkel dari wajah beliau.

Tak lama dari itu, saya mendengar kisah beliau dari Bu Dwi (guru matematika), bahwa suaminya seorang pelaut, beliau disini sendiri bersama anaknya yang masih kecil, dulu suatu hari beliau pernah terlibat konflik dengan beberapa oknum, disaat yang sama beliau juga keguguran, sesaat terbayang ketegaran seorang wanita. Selesai bercerita tentang Ibu Mety, saya dan Bu Dwi berbincang tentang bapak kepala sekolah yang memilih untuk kembali menjadi guru ketimbang menjadi kepala sekolah disana. Hmmm... yah inilah realitas, ada yang memilih untuk mengurai benang kusut, dan ada yang memilih untuk damai.

Malam itu malam terakhir kami di Toto Mulyo, kami bertandang ke rumah beberapa pamong desa, tangis saya tak bisa di bendung ketika memasuki rumah Pak Sekertaris Desa yang begitu banyak membantu dan menjadi bapak untuk kami bersebelas. Selanjutnya berlanjut ke rumah Ibu Ririn, dari sana saya terfikir untuk ke rumah Ibu Mety, namun saya khawatir ketika hendak mengajak teman-teman kesana karena kami lupa menyiapkan bingkisan untuk Bu Mety. Hingga pada akhirnya Bu Ririn menyarankan juga kami untuk kesana, setelah perdebatan ndak apa-apa ndak bawa buah tangan kami berangkat, saya yakin tidak apa-apa, karena Bu Mety cukup tangguh dan idealis dimata saya.

Kesan pertama ketika kami memasuki rumahnya terasa sepi, tertangkap mata bocah kecil berusia 2 tahunan dengan senyum manis. Luar biasa perempuan tegar ini. Memandangnya menyambut kami, mengakrabkan kami dengan anak semata wayangnya, mendengar wejangannya “guru itu bukan sekedar profesi yang merindukan gaji, namun membutuhkan dedikasi, kalau hanya berharap gaji, cari saja pekerjaan lain, karena tanpa dedikasi semuanya akan berat, apalagi untuk seorang perempuan, yang ditempatkan di daerah, timbang dulu benar-benar. Saya rasa tujuan kampus menempatkan KKN disini adalah untuk mengasah dedikasi, seperti Indonesia Mengajar yang ditempatkan di pelosok”.

Sesaat saya menunduk dan pura-pura baik-baik saja, mengingat segala hal tentang Bu Mety, saya menangis 
kala itu dirumahnya. Subhanallah... masih ada manusia seperti ini, harus bertahan hidup berteman bayinya di daerah baru, menghadapi konflik sosial, dan tetap ikhlas dan damai menjalani segala sesuai, gerak yang ligat, wajah yang ceria, seolah menutupi semuanya.

Makin kagum saya ketika mendengar cerita Mb Riza, salah seorang teman saya yang di pamongi oleh beliau. Saya dikasih uang sama Bu Mety, karena kata Bu Mety saya yang ngajar 2 bulan ini. Luar biasaaaa...! disaat guru lain menarik keuntungan dengan adanya anak KKN, beliau mengerti apa yang harus pada porsinya.

Bu Mety menjadi pelajaran berharga, hingga ketika sampai di Bandar Lampung saya sempatkan memberi kabar kepada beliau “Alhamdulillah sudah sampai di Bandar Lampung”. Dan beliau membalas “teruslah berkreatifitas dan ikhlas dalam menjalani semuanya...” Jleb... semoga segala apa yang Ibu kerjakan hari ini mampu menjadi amal jariyah yang menjadi pemberat timbangan menuju jannahNya. Dan semoga ada orang-orang yang memiliki kapasitas untuk memperjuangkan beliau dibukakan hatinya. Sungguh engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa.

Selasa, 17 September 2013


Awalnya, kegiatan KKN KT terasa membosankan, apalagi saya sedang memegang beberapa project sosial yang menuntut saya wara wiri Lampung-Jakarta. Diharuskan tinggal di pedalaman Lampung, dengan akses internet yang lelet, juga sinyal telfon yang putus nyambung membuat saya merasa terkurung dan tak bisa apa-apa.

Senin itu kala pertama kami ke sekolah, SMA Negeri 1 Gunung Terang namanya, gedungnya ala kadar, bangku jauh dari standar, buku minim, bahkan sering saya jumpai sapi atau kerbau berkeliaran di halaman sekolah. Dipagi hari murid-murid datang dengan seragam yang beragam dan tidak teratur. Wajah-wajahnyapun terkesan norak dengan gaya poni lempar, rok wiru-wiru, dan seragam yang sesungguhnya tak seragam.

Selanjutnya menginjak episode pesantren kilat, seorang guru agama berkata kepada kami, anak-anak disini susah dididik, dikerasin aja, sekali kamu gagal masuk ke ruang kelas, sudah belakangnya wassalam.
Hmmmm... sejenak terbayang wajah adik-adik di pesisir dengan gaya unik ala anak laut yang dididik langsung oleh ombak, akankah mereka adalah pribadi yang lebih unik dari itu ??? Ha ha ha... bisa jadi, atau mungkin seperti adik-adik dibawah Ramayana yang sampai sekarang aku masih bingung bagaimana akan mendidiknya.

Perlahan kuperhatikan mereka satu per satu, ah’ tak mungkin anak-anak ini ndak memiliki celah psikologis. Hari-hari selanjutnya dilanjutkan oleh agenda pesantren kilat, saya dan tim mencoba memberikan yang terbaik dalam keterbatasan kami. Dihari terakhir kami melakukan renungan, dan diluar dugaan, adik-adik ini menangis meraung-raung bahkan sulit untuk diajak kembali tertawa. Dari episode ini saya menangkap satu hal, mereka adalah anak-anak yang di didik oleh alam dengan keras. Ada yang ibunya mati bunuh diri, ditinggal ke arab, harus membiayai adik-adiknya, disekolahkan oleh orang dan terancam putus, ditengah semua perjuangan itu mereka harus nderes karet dini hari hingga pagi baru setelahnya berangkat sekolah.


Memasuki masa-masa mengajar, menjadi tantangan psikologis sendiri untuk saya, pertama karena mengajar bahasa sembari memenuhi tuntutan kurikulum yang tidak sesuai dengan sistim eveluasinya (baca : Ujian Nasional). Kali pertama saya bertanya, “what will u do in the future ?” sebuah jawaban yang membuat hati saya seperti disayat sembilu adalah “nderes karet miss”, “kerja keluar kota miss” “udah lah miss, kami ini ujung-ujungnya ya jadi pendekar (baca : penderes karet) !”. Yang pada akhirnya saya bertanya, untuk apa saya mengajarkan bahasa asing kalau pada akhirnya itu tidak koheren dengan visi hidup mereka. Karena belajar bahasa inggris bukanlah perkara grammar atau kosa kata, namun perkara persaingan global. Tidak hanya berfikir menjadi pendekar, namun bagaimana dengan keilmuan perkebunan karet itu bisa diolah secara mandiri.

Mau tidak mau harus ada yang mengalah dan berubah, entah itu saya atau mereka. Beberapa pertemuan sengaja saya korbankan hanya sekedar menghadirkan sebuah inspirasi di ruang kelas. Namun luar biasa, bahkan ada yang benar-benar cuek untuk sekolah, sampai-sampai ia kehilangan buku pelajaran setiap hari. Ha ha ha ha... biarlah berjalan apa adanya. Untuk mereka bisa sampai ke sekolah saja sudah luar biasa,dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak memberikan penilaian di bawah very good walaupun mereka hanya menulis dua kata. Pernah satu kali saya ujian, namun hanya untuk membentuk karakter mereka tanpa saya ambil nilai kognitif. Saya hanya ingin menyadarkan, bahwa mencontek itu hanya bentuk ketakuatan yang tidak mendasar, toh minimal nilai mereka adalah very good.

Pernah suatu hari, saya ajak mereka merenung akan banyaknya waktu dan biaya yang sudah dikeluarkan dan keahlian yang didapatkan. Apa kiranya yang bisa diaplikasikan di dalam kehidupan ? dan merubah kondisi sosial? hingga tiba kesimpulan bahwa sepanjang 1 tahun, mereka mengeluarkan biaya sebesar 5 juta, dan paling banter beberapa anak saja yang bisa bicara dalam bahasa inggris selama 30 detik tanpa putus.

Saya sadar betul ada beberapa orang yang harus respect dengan kondisi ini, yakni kakak-kakak Indonesia Mengajar yang dikirim dari Jakarta untuk hal-hal seperti ini. Dua kali kami rapat dan berencana mengenalkan dunia kampus kepada mereka, namun apa daya mereka ada keperluan yang lebih urgent untuk meningkatkan kapasitas guru. Akhirnya, setelah mencari pengganti sana sini, saya mendapat bantuan dari dua orang teman, Desi dan Priska yang dedikasinya luar biasa. Jauh-jauh dari Bandar Lampung, menyempatkan diri diantara pekerjaan dan kuliah mereka hadir diantara adik-adik. Thanks IFL Lampung...

Waktu pulang semakin dekat, bahkan di detik-detik terakhir saya hampir menangis rasanya, karena saya seperti tak merubah apapun. Dari sikap, karakter, kemampuan. Yasudahlah, i will give what can i give seraya saya memandang balik pada diri saya, “bodoh sekali kamu...”. Bahkan diulangan terakhir beberapa siswa masih mencomtek, saya benar-benar hampir habis akal. Berhubung saya kesal, mereka-mereka yang masih saja nyontek dan memberikan contekan saya tarik kertas ujiannya. Setelah ujian selesai saya evaluasi dan saya benar-benar bilang “respect to your self” “no one will believe you, if you are not belive on your self” setelah saya tanya apa perasaan mereka dan ternyata ada yang menjawab jengkel, kesel, nyesel, dll.

Mungkin jika mereka ndak mendapat sesuatu dari saya, saya yang akan mendapat sesuatu dari mereka. This is the real school, dari yang selama ini hanya hidup di bayangan saya. Ketika saya dan teman-teman membahas usulan kebijakan untuk kementrian pendidikan, sekolah seperti ini hanya ada di angan-angan kami, namun ini nyata di depan mata. Sayapun mengucapkan rasa terimakasih yang mendalam atas semua pembelajaran ini. Satu oleh-oleh yang saya tinggalkan, yakni program bedah kampus yang akan terus di follow up. Semoga dengan adanya kakak asuh, masih ada kesempatan untuk mengajak mereka melihat dunia.

Sayapun pamitan saat itu, karena saya fikir itulah terakhir kali saya masuk kelas. Namun ternyata saya salah, esoknya saya masih ada jam mengajar 1 jam. Akhirnya saya kembali masuk dan suasananya sudah jauh berbeda, kita sharing, beberapa diantara mereka bertanya terkait program bedah kampus, hingga sharingpun meningkat sampai pada pertanyaan apa yang membuat mereka putus asa, kontan 80% dari isi kelas menangis. Akhirnya saya mengerti akan apa yang selama ini terjadi, sayapun meneteskan air mata dan saya tahan sekuat tenaga dan kembali memberi harapan kepada mereka, entah pada akhirnya itu palsu atau gimana, i will do my best.

Spons otak saya segera mengeneralisasi, mungkin banyak anak-anak Indonesia yang seperti ini, ternyata akses pendidikan tinggi itu benar-benar sulit, ternyata banyak anak negeri yang bimbang akan masa depannya, siapa yang peduli ? saya keluar kelas dengan hampa. Bingung harus berekspresi bagaimana, terngiang wajah mereka satu per satu dengan background masalah masing-masing. Anak-anak yang seharusnya tumbuh kembang dengan baik, sudah terbebani dengan masalah sosial yang tidak ringan. Namun saya sedikit bahagia, setidaknya mereka terbuka dengan saya.


Hari temu pamit itu tiba, sekedar salam-salaman, beberapa siswa menyampaikan kesannya, dan tibalah perwakilan dari kelas yang saya ajar. “terima kasih untuk kakak-kakak yang sudah membuat kami kembali memiliki mimpi, yang pada awalnya kami ndak tau akan kemana, kelas kami yang di cap sebagai kelas yang nakal, kini kami menjadi kelas yang “nakal bermerek”, tunggu kami, kami pasti akan kesana, sekeras apapun perjuangan didepan”  nyesss..... ternyata apa yang saya ubrek-ubrek selama ini sampai juga. Amazingnya mereka bisa menciptakan istilah “nakal bermerek”, inilah yang bisa kami hadirkan, bukan kemewahan, simbolitas acara yang besar, namun kami ingin merubah semangat, pola pikir, sudut pandang, mental, dan skill, karena kami adalah orang-orang yang sedang mulai belajar terkait dunia pendidikan. Terima kasih atas sebuah pengalaman yang begitu berharga ini “a life changing experience”.

Jumat, 31 Mei 2013


Hai ! perkenalkan nama saya Candra, saya memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap aktivitas sosial, mungkin karena saya gerah melihat betapa berantakannya tempat hidup manusia yang disebut bumi ini. Semua berjalan dengan seenak hati, biasa anak muda menyebutnya “loe-loe gua-gua”.

Coba bayangkan, disaat Jakarta diterjang banjir rop, kita cuek-cuek saja menggunakan tisue setiap hari. Padahal jutaan pohon harus di tebang perharinya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan tissue. Please imagine ! Kalau kita sedikit saja memiliki empati untuk mengganti tissue dengan sapu tangan, setidaknya jutaan pohon tidak jadi di tebang, suhu bumi tetap dingin, es tidak mencair, dan masyarakat Jakarta tidak perlu bersahabat dengan banjir.

Kepekaan-kepekaan kecil inilah yang saya dapatkan dari berbagai aktivitas sosial saya. Namun, sama seperti yang lain, saya tidak begitu saja serta merta menjadi peka tanpa sebuah penyebab yang pasti. Cerita saya ini berawal ketika saya duduk di bangku SMA.

Sosok tinggi kurus itu bernama Anna Amalia, pembawaannya bersemangat, kreatif, dan supel. Ia lahir dari keluarga yang biasa saja, benar-benar biasa, namun semangatnya sama sekali tidak biasa. Saat itu kami memiliki kebiasaan untuk saling meminjam buku, dan tiba-tiba ia punya ide untuk membuka perpustakaan kecil di garasi rumahnya, kami mengumpulkan seluruh buku yang kami punya, menyebarkan pamflet kepada teman-teman di sekolah dan memulai usaha peminjaman buku.

Perpustakaan kecil ini bernama Ad-Nina. Karenanya semakin banyak teman-teman kami yang mulai rutin membaca. Kala itu kami memberi tarif tiga ratus rupiah untuk tiga hari peminjaman dan gratis untuk baca di tempat, cukup murah bukan ? Biaya itu kami gunakan untuk membeli sampul plastik dan buku baru, secara bergantian kami piket jaga dari Senin hingga Sabtu.  Uniknya, garasi rumah Anna terletak tepat di depan Tempat Pembuangan Akhir sampah, dan itu sedikit memudahkan bagi kami untuk menuliskan alamat di pamflet. Semua berjalan lancar sampai suatu hari Anna dan keluarganya harus pindah kontrakan, berakhirlah aktivitas kami mengelola perpustakaan.

Sedih melupakan Ad-Nina begitu saja, namun lebih sedih lagi ketika saya mendengar curahan hati Anna, saat itu ia ingin sekali membantu orang tuanya untuk membayar kontrakan. Mereka sudah harus pindah dan belum ada biaya untuk menyewa kontrakan baru. Namun bukan Anna ketika menyerah begitu saja, ia mengajak saya untuk usaha pembuatan pin dan mendistribusikannya ke sekolah-sekolah, saat itu saya faham betul itu mustahil menghasilkan uang dalam jumlah besar, namun saya tak ingin mematahkan semangatnya, hingga luar biasanya ia menang lomba karya tulis dan mendapatkan hadiah yang cukup besar. Perjuangannya membuat karya tulis juga tidak mudah, harus menumpang kesana-kemari untuk mengetik makalahnya, sampai-sampai kami harus menginap di rumah salah seorang guru.

Menjelang kelulusan SMA adalah masa penuh tekanan, karena kami harus menghadapi ujian nasional dan mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi yang soal tesnya bikin kepala serasa mau pecah. Saat itu Anna datang dan berkata, “ada apa dengan orang-orang di sekitar saya ? Bapak Ibu Guru, Ayah, Ibu, Kakak, semua bilang saya tidak mungkin kuliah, tidak ada biaya untuk itu, saya saja yakin bahwa saya bisa, hanya perlu dukungan semangat ! Itu saja !”. Kalau saya jadi Anna mungkin sudah menyerah, namun ia masih sempat bercita-cita menjadi menteri pendidikan dan menghapuskan UN.

Saat itu saya paham betul bagaimana kami merantau ke kota untuk bimbel, Anna mendapat tiket bimbel dari salah seorang teman dan tinggal di kos yang berbeda dengan saya. Sembari menepis keraguan, ia mendaftar beasiswa untuk masuk perguruan tinggi, hal paling mengharukan yang saya ingat adalah dimana ia hanya perlu seribu rupiah untuk makan setiap harinya.

Itulah puncaknya, saya menangis dan kontan memeluknya ! Ia mendapat beasiswa dari dikti untuk masuk perguruan tinggi. Tidak lama dari itu ia diterima SPMB di UPI. Sesekali ia menelfon saya dan menceritakan aktifitasnya disana, situasi kuliah baru, organisasi baru, sembari menjaga toko.

Sepertinya Tuhan benar-benar menyayanginya. Tidak lama dari itu, ia jatuh sakit, pertama dokter bilang itu komplikasi, antara magh, jantung, dan paru-paru, namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ia positif terkena kangker darah. Speachless saya tak mengerti harus menghiburnya seperti apa ! malah ia yang balik menghibur saya, bilang saya harus rajin belajar karena sebentar lagi UAS, bercerita tentang teman-teman di Bandung, dan tanpa sengaja saya baca konsep di Hpnya yang bertuliskan keyakinannya bahwa ia bisa sembuh melawan kangker.


Luar biasa emosi saya siang itu, melihat bagaimana layanan kesehatan memperlakukannya di penghujung usia. Saya tidak menemui nama Anna di RS, namun Jayanti, nama dari pemilik askes yang ia pinjam. Ia dicampur di bangsal dengan penderita paru-paru, benar-benar aneh ! Laporan kesehatan yang menyatakan ia terkena kangker darah tidak bisa dipakai karena namanya berbeda, perlakuan dokter juga hanya apa adanya. Beberapa hari setelahnya Anna benar-benar meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Semenjak saat itu saya merasa betapa hidup ini membutuhkan empati. Empati untuk anak-anak yang membutuhkan tempat tinggal, empati untuk memberikan kesempatan mengenyam pendidikan, empati untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan baik, mungkin berat bagi orang-orang kecil untuk mengenyam pendidikan tinggi, mendapat layanan kesehatan yang memadai, namun kalau setiap kita memiliki empati untuk saling berbagi, setidaknya semua masalah itu bisa dilalui dengan lebih ringan.

Perkenalan saya dengannya memang singkat, namun meninggalkan kesan yang mendalam,  bagaimana kami sama-sama mengelola Ad-Nina, bagaimana ia bersikeras meraih mimpinya. Semangat itu bernama Anna ! sejak saat itu saya belajar untuk lebih peka dengan orang lain, sejak saat itu saya menyadari ada hal-hal kecil yang bisa saya lakukan dan memberi dampak besar, sekedar mengurangi penggunaan tissue, donor darah, hingga belajar advokasi dan sosial empowerment untuk membantu Anna-Anna lain dimasa depan.

Bagaimana caramu melawan ketika pada akhirnya kau menyadari bahwa pahlawan yang kau pilih hanyalah sosok-sosok tersesat yang tidak megenal dirinya ? Gerbong-gerbong kereta telah jauh meninggalkan stasiun dan kudapati dirimu sendiri diantara zombi-zombi yang sedang lapar. Seperti lembar buku, ia akan terus maju dan masalalu adalah episode sejarah bagimu.

Dalam kilah bahwa persahabatan Soekarno dan Hatta dalam membangun bangsa inipun mengalami pasang surut, aku bertanya, kemana perginya mata ? karena aku buta, akan semangat yang tak urung pudar, jiwa yang menjaga dirinya, dan ketidaksempurnaan yang terus berbenah. Dalam cerita dimana kita tak saling bersua, kudapati dirimu terluka dalam cita yang terbungkus asa.

Semua telah terlambat saat kau dapati malaikatmu tak bersayap. Ribuan mil terhampar untuk kau tapaki dengan setiap langkah dan keikhlasan hati. Songsong cerita baru esok hari, karena aku yakin pada akhirnya kita akan sama-sama kembali kepangkuan Ilahi.

Hari-hari dimana saya bersyukur berada di tengah keluarga yang sungguh luar biasa. Dari mereka saya belajar menjadi manusia besar, bukan perkara jabatan, harta, namun tentang menjadi khalifah di muka bumi ini. Impianku untuk memiliki hidup yang sederhana, dan melakukan sesuatu dengan sederhana semakin mendapatkan kesepakatan dari berbagai pihak. 

Semakin terenyuh saya mendengar opini salah seorang ibu dari teman saya yang saya kenal sebagai sosok yang tidak biasa. Sungguh seperti itulah para orang tua dari generasi luar biasa membesarkan kami.

"sudahlah.... jangan terlalu idealis dengan skripsimu !, kalau mau idealis nanti saja kalau sudah S3...!" setidaknya saya tidak begitu nyaman dengan kata-kata itu dan lebih nyaman dengan "berikanlah yang terbaik dengan skripsimu, setidaknya ketika kelak engkau bisa melanjutkan sekolah ini menjadi awal yang baik, dan jika engkau tidak bisa melanjutkan, ini menjadi karya tulis terbaikmu." saya lebih nyaman dengan itu.

Aku sadar betul dunia ini dikendalikan oleh segelintir orang, dan aku hanya pion-pion kecil yang terhitung, namun aku yakin Sang Pencipta tidak melihat dari sana. Jauh dari cita-cita yang melambung, aku hanya ingin belajar dengan maksimal untuk pada akhirnya memulia sekolahku sendiri, walau hanya degan 5 orang murid. 

Dan Allah sunggguh luar biasa dengan mengirimkan orang-orang baik disekitar saya, yang membantu dengan sungguh-sungguh. Yang kembali membangkitkan semangat untuk menuntut ilmu. Ya, aku ingin kesana, Harvard Graduate School of Education, International Education Policy. Tidak terlalu berambisi. Hanya ingin melihat bagaimana segelintir orang yang mengatur dunia itu bekerja, sehingga aku tau apa yang bisa aku lakukan untuk sekolah kecilku nanti, walau hanya bersiswa 5 orang saja.

Sekali lagi tidak terlalu berambisi, karena sesungguhnya aku telah mengantongi kebijakan terbaik, yakni Islam, hanya ingin membandingkan saja. Dan disana saya bisa mendapat gambaran tentang dunia versi peradaban masa kini.

Apa ? desain project samai jam 5 pagi ? Plakkkkk !!! sebagai anak muda muslim yang sedang dijajah aku tak pernah bekerja sekeras itu. Mungkin sebenarnya ini bukan bentuk penjajahan, namun aku yang menyerahkan diri menjadi budak.

Pada akhirnya semua bermuara pada satu hal, yakni semangat perubahan. Sungguh orang-orang itu bekerja keras, lalu ada apa denganmu ? ketika sudah mendapat dukungan penuh dari orang-orang terdekat ! just break a leg and change !



Minggu, 19 Mei 2013


Pada Republika.co.id edisi 30 Maret 2013 diberitakan dari keseluruhan 2.379 desa yang ada di Lampung, 486 desa masih dalam kondisi tertinggal. Itu artinya sekitar 20% dari keseluruhan wilayah di Lampung masih membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak. Selain itu, berdasarkan indeks pembangunan ketenagakerjaan Provinsi Lampung Tahun 2011, jumlah penganggur terbuka adalah 239.980 orang dengan jumlah penganggur terbuka tamatan SD-SMTA mencapai 177.772 orang.

Data yang tersaji diatas bisa kita lihat melalui dua sudut pandang. Sudut pandang masalah dimana Provinsi Lampung memiliki 20% daerah tertinggal dan ribuan pengangguran, atau sudut pandang potensi dimana kita masih memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang belum dieksplorasi dengan baik. Perubahan sudut pandang tersebut memberikan pengaruh besar dalam desain program yang akan diimplementasikan di lapangan, yakni merubah obyek kemiskinan yang menunggu perhatian dari pemerintah menjadi subjek yang mampu merubah kondisinya sendiri.

Dalam hal ini, upaya percepatan pembangunan yang terbaik adalah dengan melibatkan banyak pihak. Sebagaimana percepatan pembangunan yang pernah dilakukan pada program Repelita I dan Repelita II pada era orde baru yang melibatkan pemerintah, militer dan masyarakat. Saat ini ada satu potensi yang bisa kita berdayakan dengan baik dengan memegang prinsip simbiosis mutualisme, yakni dunia pendidikan. Dunia pendidikan memiliki ribuan tenaga ahli dan ratusan ribu pelajar yang membutuhkan media belajar yang lebih riil, sementara di lain pihak masyarakat membutuhkan sentuhan tangan ahli. Sehingga dengan sebuah kebijakan yang tepat untuk keduanya akan melahirkan penyelesaian masalah yang murah dan berkelanjutan.

Mengembalikan Harapan Pendidikan

Semangat awal setiap orang tua mengirimkan putra-putri mereka ke sekolah adalah karena adanya
keinginan untuk merubah hidup. Perubahan yang diharapkan beragam, mulai dari yang tidak tau akan ilmu pengetahuan menjadi tau, dari yang tidak memiliki kemampuan melakukan sutu hal menjadi mampu, hingga dari yang tidak peka terhadap masalah menjadi peka, bisa menggunakan ilmu pengetahuan untuk menganalisanya, dan mampu menyelesaikannya dengan keahlian yang dimiliki. Ketiga hal tersebut dalam ilmu pendidikan biasa disebut dengan istilah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, setiap orang tua mengharapkan adanya upaya pembebasan dari masalah yang sedang mereka alami. Dari miskin menjadi sejahtera, dari bodoh menjadi pintar, dari lahan kosong menjadi lahan pertanian, dari seekor ayam menjadi peternakan,dll. Namun pada kenyataanya, banyak dari harapan itu harus kandas di tengah jalan, bahkan kelulusan anak-anak dari sekolah menjadi masalah baru yang harus dipecahkan. Pengangguran menjadi masalah baru yang pada  akhirnya membentuk opini masyarakat bahwa pendidikan itu tidak penting, toh yang sudah sekolah tinggi-tinggi pada akhirnya juga bingung pekerjaan.

Muatan Lokal Bisa Menjadi Penunjang

Kurikulum sekolah di Indonesia telah disiapkan untuk mengajarkan beberapa pelajaran tertentu seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan beberapa pelajaran lain yang sifatnya pokok. Namun, diluar itu ada suatu porsi yang dikembalikan pada kebijakan daerah yang disebut dengan muatan lokal. Penentuan pelajaran muatan lokal disesuaikan dengan keterbutuhan di setiap daerah, ada beberapa sekolah yang memberikan muatan lokal pertanian, seni budaya, elektro, atau bahasa asing, yang semua itu kembali disesuaikan dengan kearifan lokal daerah.

Menjawab permasalahan provinsi Lampung akan jumlah 20% desa tertinggal, tingginya angka pengangguran yang menantikan lapangan pekerjaan, dan banyaknya sumber daya alam yang belum dikelola dengan baik, muatan lokal kewirausahaan sosial mampu menjadi jawaban dengan merubah sudut pandang pelajar di sekolah dari obyek kemiskinan menjadi subyek kemiskinan.

Jawaban atas pertanyaan mengapa harus kewirausahaan sosial, bukan pertanian, elektro atau muatan lokal lain yang memberi ketrampilan khusus adalah karena kewirausahaan sosial mengajarkan kepada anak didik untuk menciptakan lapangan penkerjaan sekaligus menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi. Dilain pihak, mata pelajaran ini menumbuhkan rasa peka di hati para pelajar. Sebagai contoh, di daerah Pringsewu banyak ditemukan petani singkong yang hidup dibawah garis kemiskinan, maka melalui pelajaran kewirausahaan sosial, guru mengarahkan para siswa untuk membina para warga membuat kelanting, dikemas dengan baik, dan dipasarkan di kantin-kantin sekolah ataupun perkantoran dengan bekal ilmu ekonomi yang telah di dapat disekolah. 

Dari pelajaran ini siswa diajarkan beberapa hal, pertama siswa diajarkan untuk peka dengan kondisi sosial yang ada disekitarnya, kedua siswa memiliki laboratorium langsung untuk mengaplikasikan ilmu yang di dapat dari sekolah, ketiga siswa mendapat wadah internalisasi minat, bakat, dan hobi, dan keempat siswa memiliki keahlian softskill untuk berwirausaha, sehingga ketika ia tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, para pelajar ini sudah memiliki ketrampilan untuk survive di dalam kehidupan.

Membangun Dari Sekolah


Sekolah dengan ribuan tenaga pendidik dan jutaan anak muda bisa menjadi suatu aset besar di dalam perubahan, untuk itu pemerintah hanya perlu menentukan sebuah kebijakan strategis yang mudah dilaksanakan dan memberikan dampak perubahan besar. Pertama, sebut saja jumlah SMA yang ada di Lampung, terdapat lebih dari 494 SMA dengan 88.981 siswa/tahun. Jumlah ini dapat memberikan dampak yang besar dalam mengurangi pengangguran seandainya saja satu orang dapat menolong tiga orang lainnya yang tidak memiliki pekerjaan di Lampung.

Kedua, anak muda cenderung responsif terhadap perkembangan, dalam artian mereka memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara-cara kontemporer yang kreatif dan relatif lebih fresh. Golongan anak muda ini mampu diarahkan untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan hobi, minat, bakat, dan keilmuan yang telah mereka miliki.

Ketiga, anak muda merupakan kelompok rentan yang harus mendapatkan penyikapan dengan baik. Puluhan ribu anak SMA ini akan menjadi calon pengangguran baru setelah lulus jika tidak dipersiapkan dengan baik. Namun, jika sekelompok anak muda ini mampu kita rubah posisinya dari objek menjadi objek, maka secara tidak langsung kita telah menyelamatkan mereka dari ancaman pengangguran sekaligus menyelesaikan maslaah pengangguran yang sudah ada.

Keempat, anak muda merupakan future generation yang akan menggantikan generasi tua di masa datang. Sudah saatnya anak muda ini dibekali dengan kemampuan yang mumpuni dan kepekaan sosial yang tinggi, sehingga kehidupan di masa mendatang menjadi kehidupan yang jauh lebih ramah dan bersahabat bagi semua orang dibanding hari ini.

Kelima, kewirausahaan merupakan muatan lokal yang mudah diajarkan, karena para guru hanya perlu memandu siswa untuk mengenal dirinya, mengenal lingkungan, mengenal pola kewirausahaan sosial, merancang ide kreatif, dan pendampingan implementasi. Materi kewirausahaan sosial cenderung lebih aplikatif dan sederhana, tidak sekomplek seperti mengajar elektro, pertanian, atau seni budaya, namun lebih seperti training capacity building dan pendampingan implementasi.

Sebuah ide pembangunan untuk pengentasan kemiskinan di Lampung tidak harus selalu dimulai dari infrastruktur, mengundang investor asing, dan membangun pabrik-pabrik besar yang bisa mengolah sumber daya alam sekaligus menyerap ribuan tenaga kerja. Ide pembangunan bisa dimulai dari bangku sekolah, dengan memanfaatkan sumber daya terdidik. Terlebih lagi, produk yang dihasilkan dari program ini adalah usaha mikro dimana kita sama-sama tau bahwa sektor mikro memiliki ketahanan terhadap krisis dengan lebih baik. Namun, yang paling utama dan mendasar adalah kita mampu mencegah lahirnya calon-calon pengangguran baru sekaligus menyelesaikan masalah pengangguran yang terimplikasi pada kemiskinan dan lambatnya pembangunan 20% desa tertinggal di Lampung.



Pendidikan adalah salah satu proses yang paling mendasar dalam kehidupan manusia. Pendidikan memberikan kemampuan dasar untuk mampu mengembangkan diri dan mengejar kehidupan yang lebih baik. Pendidikan juga berperan dalam pembentukan struktur perilaku dan pemikiran seseorang. Oleh sebab itu, tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan adalah kunci menuju pertumbuhan nasional dan keberlanjutan masa depan. Tanpa warga negara yang berpendidikan baik, negara akan menghadapi kesulitan di berbagai aspek kehidupan.

Sektor pendidikan mengalami beberapa perkembangan dalam satu tahun terkahir, diantaranya pembebasan uang pangkal perguruan tinggi, peningkatan anggaran pendidikan hingga 20% baik dari APBN maupun APBD hingga peluncuran program bidik misi bagi sebagian mahasiswa baru. Perbaikan ini menunjukkan bahwa secara perlahan pemerintah semakin memperluas akses pendidikan kepada seluruh lapisan masyarakat sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa.
Dalam rangka usaha menuju perbaikan pendidikan yang lebih menyeluruh, sekiranya kita juga mampu memberikan evaluasi program selama satu tahun terakhir yang perlu diperbaiki guna mendapatkan suatu sistim pendidikan terbaik, diantaranya :

Anggaran 20 % dan Upaya Pemberantasan Korupsi Pendidikan

Komitmen negara dalam menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh warga negara terlihat dari keseriusannya menganggarkan APBN dan APBD untuk pendidikan, melalui pendanaan yang serius akses pendidikan untuk semua warga negara akan semakin baik. Fasilitas yang memadai, pembangunan sekolah hingga ke pelosok, pemerataan guru, hingga murahnya biaya pendidikan semakin memudahkan akses pendidikan bagi rakyat kecil di Indonesia. Satu hal yang perlu di garis bawahi adalah ketegasan Mahkamah Konstitusi dalam mengawal anggaran pendidikan 20% di berbagai daerah, karena itu semua adalah amanat dari konstitusi sehingga daerah yang belum menganggarkan anggaran pendidikan paling minimal 20% perlu mendapatkan tindak lanjut.

Terkait dari besarnya anggaran yang sudah diusahakan oleh pemerintah, upaya pemberantasan korupsi di bidang pendidikan perlu mendapatkan perhatian khusus. Penyaluaran dana BOS, pemenangan tender proyek yang ditengarai sebagai sebab huru-hara pada pelaksanaan UN,  penyaluaran beasiswa, dana pembangunan infrastruktur seperti gedung sekolah, rumah sakit pendidikan, dll perlu mendapatkan pengawalan yang ketat guna menghindari penyelewengan besar-besaran, karena pada akhirnya sebesar apapun dana yang dianggarkan tidak akan berpengaruh selama korupsi di bidang pendidikan masih dibiarkan.

Peninjauan Kembali UU PT

Paska disahkannya UU PT pada 13 Juli 2013 lalu, setidaknya ada dua poin utama yang perlu dievaluasi, yakni otomisasi keuangan dan internasionalisasi. Dimana dua garis besar penolakan tersebut dikhawatirkan dapat menyebabkan beberapa hal. Pertama, melambungnya biaya pendidikan tinggi yang harus ditanggung masyarakat karena otonomi yang kebablasan dan lepasnya tanggung jawab pemerintah. Kedua, Perguruan tinggi tidak hanya berfokus mencerdaskan anak bangsa, tetapi juga mencari uang untuk memenuhi kebutuhan biaya operasionalnya. Ketiga, pendidikan hanya diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar akan kuli terdidik. Keempat, perguruan Tinggi Asing akan berdiri di Indonesia dan mengancam nilai-nilai ke-Indonesiaan

Evaluasi Kurikulum 2013

Belum genap 10 tahun Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK/2004) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP/2006) diterapkan, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuat kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum 2013. Sejak 29 November 2012 lalu Kemendikbud telah mengumumkan draft resmi Kurikulum 2013.
   
Kemendikbud menjelaskan bahwa kurikulum 2013 ini menjawab permasalahan atas KTSP, namun problem sebenarnya ada pada Kemenduikbud itu sendiri yang tidak berpihak pada semangat perubahan paradigma pendidikan yang berorientasi pada keunggulan proses. Itulah yang kemudian merusak idealisme pelaksanaan kurikulum. Ada tiga hal yang merusak idealisme kurikulum di Indonesia. Pertama, Kemendikbud tidak melakukan riset evaluasi komprehensif atas pelaksanaan kurikulum sebelumnya. Kedua, Kemendikbud tidak menyiapkan guru terlebih dahulu secara sungguh-sungguh untuk mampu menterjemahkan kurikulum baru secara benar. Ketiga, Kemendikbud merusak seluruh semangat kreativitas guru untuk mengembangkan proses pembelajaran karena di kejar target Ujian Nasional yang cenderung cognitive oriented. Karena itu, perubahan kurikulum 2013 dirasa telah dilakukan tanpa melalui suatu proses riset yang komprehensif terkait kondisi di lapangan. Kalau ketiga akar masalah tersebut belum terjawab dengan baik, apapun kurikulumnya, tidak akan ada perubahan yang signifikan pada kualitas pendidikan kita. 

Ketiga hal diatas merupakan sejarah besar dalam dunia pendidikan yang terjadi selama satu tahun terakhir. Perbaikan yang mengacu pada spirit undang-undang dasar diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pendidikan negara dalam rangka mewujudkan Indonesia yang berakhlak, maju, dan sejahtera.

Sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi kita semua guna kembali mengulas apakah sistim yang hari ini ada, baik peraturan perundang-undangan maupun kurikulum sudah sejalan dengan spirit Ki Hajar Dewantara yang memerdekakan fisik, jiwa, dan ruhani manusia dalam konsep pendidikannya, atau justru sebaliknya, dimana kita beramai-ramai terjebak memperingati hardiknas secara seremonial  namun menginjak-nginjak nilai yang seharusnya kita junjung bersama. Pendidikan hanya bisa diakses oleh golongan menengah keatas dan siswa hanya diperlakukan untuk menjadi kuli terdidik, tentu hal tersebut sama-sama tidak kita inginkan, karena sesungguhnya pendidikan adalah hak segala bangsa dan merupakan upaya sadar untuk memanusiakan manusia.