Senin, 05 November 2012


Dulu... pertama kali saya tiba dikampus, ada beberapa nama yang cepat sekali dikenal, rata-rata dari mereka adalah orang-orang yang memiliki aktivitas super sehingga mudah mengingatnya. Tak jarang kami para generasi baru di kampus berceloteh, "kapan ya bisa kayak mb itu...... pinter banget lho !" "kakak yang itu dan itu aktif banget ya...." begitu seterusnya.

Hingga bulapun berganti dan kami diperkenalkan oleh sang waktu. Hangatnya keakraban mulai terjuntai, saat-saat berguru yang penuh kenangan... hingga satu per satu lulus, pulang kekampung halaman, atau memulai daerah jajahan baru.

Awalnya cukup berat, karena saya dan teman-teman seleting yang biasa jadi adek harus berganti peran menjadi kakak. Namun lambat laun kami terbiasa. hingga kini kala berjumpa lagi, saya suka tersenyum sendiri.... Kakak-kakak'ku dan mbak-mbak'ku dulu sudah memasuki fase baru dalam hidupnya.. suara-suara kaki-kaki kecil dan tangisan nakal menghiasi rumah tangga mereka, juga kala tersisa sedikit waktu dan menyempatkan diri sekedar mengetahui kabar mereka dari facebook, subhanallah.... profil picture yang dulu biasanya diisi oleh foto-foto gagah-gagahan selama menjalani aktivitas kampus sekarang sudah berubah menjadi foto jagoan-jagoan kecil mereka.

Lama tak jumpa, dan senyum para ponakan itu begitu bermakna, hentakan kaki-kaki kecil generasi baru seakan siap menemani perjuangan ayah dan bunda mereka... Barakallah mb-mb dan kakak-kakak'ku... semoga menjadi anak sholeh dan sholehah yang mewarisi visi ayah bundanya.  Amin....


Pada masa-masa awal turunnya ayat-ayat Al Quran, penyebutan Allah menggunakan kata ganti Tuhanmu.
  • QS. Al ‘Alaq: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
  • QS. Al Qalam: Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
  • QS. Al Muzzammil: Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.
  • QS. Al Muddatstsir: Dan Tuhanmu, agungkanlah!
  • QS. Al A’laa: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.
  • QS. Al Fajr: Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?
  • QS. Adh Dhuhaa: Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu.
  • QS. Al Insyirah: Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
  • QS. Al Kautsar: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. 
  • QS. Al Fiil: Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
Dengan adanya penyebutan Tuhanmu tersebut, orang-orang musyrik menjadi bingung. Mereka bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Muhammad, kamu ini selalu menunjuk yang kamu sembah dengan kata Tuhanmu. Kenapa tidak dengan kata Allah? Coba jelaskan kepada kami seperti apa Tuhanmu itu. Tuhan kami adalah Tuhan yang punya anak-anak, bagaimana Tuhan kamu? Tuhan kami (berhala-berhala), terbuat dari emas dan tembaga, coba jelaskan kepada kami bagaimana Tuhan kamu?”

Setelah itu turunlah surat Al Ikhlas yang bertujuan untuk membantah semua kepercayaan yang keliru mengenai konsep Tuhan yang dimiliki oleh orang-orang musyrik.

“Katakanlah (Muhammad): Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.”


Orang Arab mengatakan, “Bagi lelaki yang ingin menikah, hendaklah ia TIDAK memilih tipe wanita: annanah, hannanah, dan mannanah.
  1. Annanah adalah wanita yang banyak menggerutu dan berkeluh kesah, setiap saat dan setiap waktu, dengan atau tanpa sebab.
  2. Hannanah adalah wanita yang banyak menuntut kepada suaminya, ia tidak ridha apabila diberi sedikit. Ia suka membandingkan suaminya dengan lelaki lain.
  3. Mannanah adalah wanita yang suka mengungkit-ungkit apa yang dilakukannya terhadap suaminya. Misal dengan mengatakan, “Aku telah lakukan ini dan itu karena kamu….”
(Source: menorehjejak)


Satu-satunya surat di dalam Al Quran yang tidak diawali dengan kalimat basmallah (بِسْÙ…ِ اللَّÙ‡ِ الرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِيمِ) adalah surat At Taubah. Ada beberapa alasan kenapa surat ini tidak diawali dengan basmallah, yaitu:
  • Ayat-ayat di surat At Taubah berbicara mengenai pemutusan hubungan antara Tuhan dengan orang-orang yang durhaka. Dan biasanya, jika terjadi suatu pemutusan hubungan, pemutusan perjanjian tersebut dilakukan tanpa menyebut nama Tuhan.
  • Sebenarnya surat At Taubah dengan surat An Anfal (surat sebelumnya) memiliki tema yang hampir sama. Dalam surat An Anfal terdapat uraian tentang perlunya menepati ikatan-ikatan perjanjian. Sedangkan, surat At Taubah menguraikan tentang pemutusan perjanjian terhadap mereka yang mengkhianati perjanjian. Karena temanya dianggap senada, awal surat At Taubah tidak dicantumkan basmallah.
  • Sebagian ulama menyatakan bahwa kalimat basmallah menyiratkan makna rahmat dan kasih sayang, sedangkan surat At Taubah banyak berisi kecaman dan sanggahan terhadap sikap orang-orang munafik dan orang-orang kafir, sehingga tidak ada rahmat yang tersisa bagi mereka.
Wallahu’alam.


Dulu ketika SD saya sangat becita-cita untuk bisa bersekolah disekolah favorit, alhasil saya belajar keras, dan sayapun begitu lowprofile karena merasa sebagai anak sekolahan yang berasal dari bawah gunung. Pasti akan sangat jauh secara kapasitas apabila berhadapan dengan anak-anak kota. Tantangan untuk memperluas jaringan membuat saya mengidam-idamkan untuk bersekolah di SMP favorite dan voila ! saya berhasil diterima di SMP terfavorit di daerah saya. 

Lepas SMP saya berharap, untuk bisa sekolah di SMA terfavorit di daerah saya, namun hal itu tidak terkabul, karena alasan ekonomi, dan jauh. Alhasil saya sekolah didaerah dan itu cukup lumayan sebenarnya, namun disinilah saya mengalami titik balik. 

Ketika beranjak kuliah, saya juga tidak berani berharap banyak untuk duduk di kampus favorit karena takut memberatkan orang tua secara ekonomi, alhasil saya malas-malasan. Dan diterimalah saya di salah satu perguruan tinggi negeri di daerah.

Beberapa tahun setelah saya menempuh pendidikan di daerah, saya diberi kesempatan untuk bertandang ke beberapa perguruan tinggi favorit. Sebenarnya ada rasa menyesal, dan yang paling terasa berbeda adalah budaya akademis. Hal ini membangun sebuah tanya didalam diri saya, apalagi saya duduk di kaprodi yang memiliki banyak dosen lulusan universitas bonafit dalam dan luar negeri. Mengapa budaya itu tidak bisa tertular kemari ?

Mengingat kembali sebuah novel karya Andrea Hirata yang bergenre pendidikan dan mengangkat cerita masalalu di tanah belitong. Ruang kelas yang kurang memadai, guru yang sukarela, ternyata begitu menyentuh dan mampu membentuk putra-pitri mereka dengan paripurna. 

Kembali pada kasus budaya akademis di kampus saya ? apakah karena fasilitas ? bisa iya dan bisa tidak. Namun kisah laskar pelangi mampu membantah kenyataan itu. Lalu apa yang harus dibangun pertama di kampus saya ? Berikut beberapa gagasan yang berhasil saya renungkan :

1.      
     Office hour, sebuah program bagi para seluruh dosen untuk ada di ruangannya dari jangka waktu tertentu, sehingga jika ada mahasiswa yang ingin menemui dosen tidak perlu menunggu dalam ketidakpastian. Hal ini menguragi tingkat putus asa mahasiswa yang sedang menyusun TA. Kelihatannya sepele, namun saya yakin akan berdmapak besar, karena meningkatkan frekuensi interaksi antara mahasiswa dan dosen sehingga semakin banyak cerita inspirasi yang tertransfer kepada mahasiswa.

2.   Academic advisor in circle, ide ini terinspirasi dari banyaknya mahasiswa yang acuh tak acuh dengan pembimbing akademiknya, dan dilain pihak banyak mahasiswa yang kongko-kongko di kampus.  Sehingga dengan begini mahasiswa memiliki waktu berkumpul dengan pembimbing akademiknya, dari mulai belajar terbimbing hingga sekedar curhat, dengan pola pertemuan satu minggu sekali. Pembimbing akademik tidak harus mendampingi setiap minggu, bisa jadi satu bulan sekali, dan bisa menggunakan sistim tutorial sebaya sesama teman untuk meeting per minggunya.

     One hundred rupiahs for refrence. Mahasiswa jarang ke perpus ? bukan karena mahasiswa tidak suka membaca, namun buku yang dipajang sudah terlampau tua dibanding usia mahasiswa, mungkin sudah seusia orang tua mereka. Jika jumlah mahasiswa di kampus saya ada 20.000 mahasiswa, jika perharinya mahasiswa mengumpulkan 100 rupiah, maka dalam satu hari akan terkumpul dua juta rupiah, dan dalam satu bulan akan terkumpul uang sebesar 60.000.000. Dan satu tahun sudah 720.000.000. Sebuah angka yang lumayan untuk menambah buku perpus, mungkin ide gila ini bisa dijalankan oleh teman-teman BEM, selain efektif juga menyentil pihak pengampu kebijakan. Apa sie makna seratus rupiah perhari jika dibandingkan dengan penantian sepanjang masa untuk melihat buku perpus bertambah.

And finally tulisan ini hanyalah imajinasi kreatif saya sambil menunggu dosen yang tak kunjung datang, jadi kalaupun ada yang aneh ya maklum aja lah yaaa...............

Minggu, 04 November 2012


Pertanyaan ini muncul setelah saya mengikuti seminar "sastra perbandingan" dari masyarakat sastra Asia Tenggara yang bekerjasama dengan Radar Lampung. Acara itu cukup wow, banyak sastrawan hadir, sampai-sampai kami para mahasiswa harus duduk lesehan dibawah untuk menyimak dua pembicara yang sudah go internasional di bidang sastra itu.

Acara semakin nyastra banget paska dibuka ada penampilan puisi yang berkisah tentang orang kecil dan orang besar dengan iringan biola. wow ! amazing !!!

Pramudya Ananta Toer adalah seorang penulis sastra serius, beraliran sosialis, bisa dibilang novelnya berat untuk dibaca, sebut saja empat buah novel pinjaman yang hinggap di rak buku kosan, baru saya sentuh satu bab. Namun tak dapat dipungkiri, sastra ini lebih teguh terhadap nilai dan tidak memikirkan aspek kapital. Mereka tidak peduli sedikit atau banyak yang akan membaca, hanya mencoba mencerahkan.

Selanjutnya, sebut saja Dewi Lestari dengan aliran feminisnya. Sastrawan beraliran liberal ini telah melahirkan banyak novel-novelnya yang cukup amazing dan booming pada masanya. novel ini cenderung fulgar berbicara dengan sudut feminisme. Saya pernah membaca satu novel yang berjudul "petir" dan memang ada adegan dengan tanda "kutip".

Membendung arus sastra feminis. Habiburrahman El-Shirazy hadir dengan novel berjudul ayat-ayat cinta. Sebuah novel percintaan dengan latar belakang Islam ini mampu leading untuk melahirkan novel-novel baru dengan genre serupa. Lalu apakah ini bagian dari dakwah islam ? hal inilah yang menggelitik di otak saya sekarang, karena biar bagaimanapun yang berdiri dibalik novel islami populer adalah seorang kapitalis yang mencoba meraup keuntungan lewat penjualan novel.

Berbeda dengan novelis serius seperti pram, para penulis novel populer cenderung memperhatikan aspek pasar ketimbang aspek muatan. Lalu bagaimana pendapat anda sebagai umat islam ? yahhh.... mungkin sekali-kali kita perlu melakukan kajian terkait ini dengan mengundang ustadz. bukankah kita tidak boleh menjual ayat Allah ???

Disatu pihak novel bergenre islam berperan membendung arus novel feminis, namun dilain pihak juga dipertanyakan konsep perdagannya.. Terlebih dengan kemasan sampul yang dibuat menjual dengan menampilkan keindahan mata seorang wanita, dll. 



Mungkin pernah ada satu hari dalam hidup kita dimana kita benar-benar tidak siap menghadapi pagi. Lilitan hutang, tuntutan tugas kuliah, setumpuk deadline pekerjaan yang belum selesai, semua begitu menyesakkan. 

Mungkin pernah juga satu hari dalam hidup kita dimana kita berimajinasi memiliki hidup yang tenang dan bahagia, berkecukupan, pekerjaan yang menyenangkan, lulus cumlaude, bisa bermanfaat bagi orang lain, dsb. Mungkin ini bisa menjadi sebuah impian hidup yang sempurna, namun apa jadinya jika tiba-tiba tsunami menerjang, atau api membakar rumah kita dan kita harus memulai dari nol lagi. Bisa jadi kita akan sangat stress karena biasa dimanjakan oleh hidup. 

Berbicara tentang orang-orang yang memiliki sejarah besar didunia ini. Siapakah Soekarno tanpa penjajahan di negeri ini ? hingga akhirnya ia dikenal sebagai bapak proklamasi. Siapakah Hatta tanpa kemiskinan ? hingga ia mencari solusi dan menjadi bapak koperasi. Siapakah Ahmad Dahlan tanpa kebodohan ? Hingga ia membangun Muhammadiyah. Merekalah orang-orang besar yang menjadi besar karena kesalahan yang ada pada masanya. 

Lalu, patutkah kita mengeluh karena tidak kuliah di kampus bonafit ? patutkah kita mengeluh karena himpitan ekonomi ? atau patutkah kita putus asa pada kesalahan-kesalahan kecil pribadi ? karena sejatinya “masalah” adalah sekolah kehidupan yang paling efektif untuk membentuk sebuah kepribadian manusia. Jadi bersyukurlah....



Mengapa anak-anak jalanan itu bodoh ? #karena mereka tidak sekolah, Mengapa penduduk pesisir cenderung memiliki tingkat ekonomi rendah, padalah laut adalah harta negara yang melimpah ? #karena mereka tidak sekolah. Seolah sekolah menjadi jawaban atas segala permasalahan, seolah sekolah menjadi tempat pembebasan yang paling humanis. Namun jika kita beranjak pada pertanyaan, “Mengapa tidak sekolah ? #karena tidak ada biaya”. Belum lagi kampus yang mencetak ribuan pengangguran setiap tahunnya.

Sekolah menjadi kambing hitam yang paling hitam, sekolah menjadi satu-satunya solusi. Padahal permasalahannya adalah terletak pada ‘belajar’ bukan ‘sekolah’. Apalah manfaat sekolah tanpa pembelajaran di dalamnya? Lagi-lagi ia akan mencetak pengangguran.

Kadang saya bertanya, mengapa pendidikan ini tidak ramah kepada kita, bukankah Tuhan menciptakan kita untuk belajar seumur hidup, namun mengapa kita hanya sekolah sampai SMA atau perguruan tinggi. Saya berfikir ruang-ruang pendidikan informal bisa menjadi alternatif yang baik untuk menjadi tempat pembelajaran masyarakat. Selain relatif lebih murah, juga tepat guna dengan keterbutuhan masyarakat. Dilain pihak, ruang pendidikan informal juga lebih aplikatif dibanding pendidikan formal.

Alasan itulah yang membuat saya lebih tertarik terhadap pendidikan - pendidikan informal dan bercita-cita menjadi ahli pendidikan informal. Semoga Allah memudahkan jalannya.



Perjalanan akhir pekan ke bukit kemuning menyisakan sebuah cerita tersendiri di dalam memory otak dan ruang di relung hati. Pahit jika harus mengingat kedepan kita akan menikah, membangun keluarga, dan hidup terpisah satu sama lain. Hari-hari yang pernah kita lalui bersama, aksi di bunderan gajah, mengelola pelatihan, diskusi-diskusi yang membangun keresahan, hingga debat-debat panas yang kadang mengundang keributan dan memancing emosi. Hari ini pernah ada mengisi masa muda kita. Entah sejak kapan kita saling mengenal, hingga tidak menyangka akan saling mengenal sejauh ini.

Yang paling memberatkan dalam sebuah perpisahan adalah “visi”. Kita yang hari ini hidup dalam sebuah visi yang sama, akankah selalu terjaga hingga akhir nanti ? sebuah visi besar yang hari ini telah menyatukan dan mengisi hari-hari kita.

Namun jika menoleh kebelakang, sahabatku hari ini tidak lain adalah orang asing yang saya ajak bicara, dan mencoba membuka hati untuknya. Sehingga diri ini harus mulai membiasakan diri dengan perpisahan dan pertemuan. Karena sesungguhnya Allah memberikan kita nikmat lupa, sehingga kita tidak harus merana berlama-lama dan segera menjalani kehidupan baru dengan orang-orang baru dan senyum-senyum baru.

Menjadi penting bagi kita untuk terus menjadi pribadi paripurna nan menyenangkan, sehingga kita akan menjadi sosok dinamis untuk masuk kedalam pergaulan-pergaulan baru. Mencoba mengajak bicara orang-orang asing baru dan mencoba membuka hati untuknya sehingga visi yang saya miliki mampu teradiasi.

Tentang sebuah visi yang akan terjaga sampai akhir, bukan pada alasan dimana saya, siapa teman saya, dan siapa lingkungan saya. Namun seberapa ideologis saya dan seberapa pandai saya membuka hati dan berbicara pada orang-orang baru, karena saya yakin mendapat teman baru adalah suatu hal yang menyenangkan untuk menorehkan tinta di lembaran baru.

Jumat, 02 November 2012






Sepulang dari Parlemen Muda saya banyak dibayang-banyangi oleh kata project sosial, sempat mengajukan sebuah proposal, namun setelah dijalankan juga.... menghadapi moment ujian nasional ini kami berharap mampu berbuat lebih bagi adik-adik yang akan menghadapinya..., bukan hanya membantu mereka dalam menghadapi Ujian Nasional secara gratis... namun juga merubah mindset adik-adik dalam memandang ujian nasional sebagai salah satu indikator pendidikan saja, bukan segalanya dalam pendidikan...