Minggu, 23 Maret 2014


Memang benar jika ada yang mengatakan bahwa, apa yang kita katakan hari ini pada akhirnya akan diuji. Seperti diriku yang begitu menyukai rumput, sebuah tanaman kecil yang sering diinjak, seolah tanpa nama, ada dan tiada namun memiliki peranan yang besar. Setidaknya rumput bisa sangat membantu dalam meredam laju respirasi ataupu sangat merusak dan menjadi gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman-tanaman besar. Rumput yang akarnya kemana-manapun akan semakin susah dicabut. 

Dua tahun yang lalu dengan gagahnya saya bilang, akan menjadi rumput yang tulus, akan berfikir seberapa besar kebermanfaatan, bersembunyi dan seolah tak ada untuk menjaga ketulusan itu. Hari ini aku benar-benar diuji. 

Setelah proses pembelajaran kepemimpinan yang saya lalui, dengan imu yang secuil dan sering merasa paling tahu, saya sampai pada proses refleksi bahwa Allah telah melimpahkan rizki pada setiap jengkal bumi-Nya. saya sadar betul bahwa New York memiliki nilai, namun pedalaman Sendang juga memiliki nilai khasnya tersendiri, tentang kesederhanaan, kesabaran, ketabahan, kesyukuran, dll. 

Namun dipungkiri atau tidak, New York dengan nilai'nya sebagai kota megapolitan yang sibuk, penuh tantangan, modern, mampu membranding dirinya dengan lebih baik. Saya khawatir sangat jika pada akhirnya harus terjebak pada arus itu. Saat prinsip itu semakin diuji, mata mulai melirik kemewahan dan ketenaran, dengan dalih akupun ingin hidup dengan nyaman bersama keluarga, bisa berbuat banyak, dll.

Ya Rabb.... ilmu dan skill yang engkau titipkan ini pada akhirnya juga akan engkau mintai pertanggungjawaban, jagalah tekad kuatku agar tak runtuh oleh ranjau-ranjau branding yang tak tau pada titik mana akan melumpuhkanku. Ajari aku agar tetap hidup dalam kesederhanaan dan kesabaran, mampu memandang sebuah nilai dengan lebih tulus, tapa kemasan manis bernama "branding".

  

#sebuah renungan kecil dari lingkaran proses kehidupan, bertemu dan berpisah, mengukir kisah.


Memiliki banyak teman memang sangat menyenangkan, bisa melakukan banyak hal bersama, bertukar pikiran dan hidup menjadi lebih hidup dan ramai. Pada awal memasuki dunia kampus, saya menjumpai sebuah pesan dari seorang teman saya "kamu benar-benar menemukan dunia yang kamu banget ya disana". Mungkin saat itu ia sedang merasa kesepian dan ternyata saya tidak kunjung mengerti bahwa ia sedang kehilangan. 

Dulu di SMA kami memang begitu akrab, kemana-mana bersama, bercengkrama dengan enam orang lainnya, namun pada akhirnya pilihan membuat kami terpisah, ada yang merajut mimpi menjadi ahli pangan, pendidik, budaya, dll. terpisahlah kami sampai pada langkah itu, bukan karena tidak ingin bersama, namun nurani lebih jujur memanggil kemana jiwa harus melangkah.

Lalu bertemu teman-teman baru sesama pecinta bahasa inggris, sebuah komunitas yang tidak diragukan lagi kekeluargannya, lambat laun kami berpisah juga pada apa yang dicintai oleh setiap orang. Lagi-lagi alasan yang menyatukan masih terlalu general "sama-sama suka bahasa inggris", namun setiap orang masih memiliki alasan yang berbeda mengapa harus belajar bahasa inggris. 

Menyatu lagi dengan sebuah keluarga yang sama-sama "rindu perubahan", hidup menjadi seperti utopis dan abadi dalam bingkai kebersamaan, mengukir perubahan hingga tua, berjuang pada jalan yang sama dan mati dalam keadaan yang baik. Namun "rindu perubahan" juga masih general, karena setiap individu punya difinisi perubahannya sendiri, dan memiliki cara yang berbeda. Lambat laun, nurani melangkahkan kaki, pada definisi kita masing-masing.

Dan terus memiliki pergaulan baru dengan persamaan yang semakin mengerucut, namun manusia adalah individu unik, yang memiliki irisan yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Nurani kembali memanggil hati masing-masing.

Hari ini aku melihat teman-teman mulai berkembang, aku, semakin menyukai dunia sosial, pengembangan SDM, pendidikan, dll. Teman-temanpun mulai melangkah dengan panggilan hati masing-masing, ada yang merajut karier internasional, memilih menjadi akdemisi, menjadi politisi di beberapa partai, kerja di perusahaan, menjadi wirausaha, menjadi ibu rumah tangga, melalui FB aku menyaksikan bagaimana mereka berjalan mengikuti hati kecil yang memanggil.

Manusia memang makhluk yang unik, memiliki hati kecil yang berbeda dan tidak bisa tertukar. Bukan tidak memungkinkan mereka yang menjadi ibu rumah tangga meniti karier menjadi diplomat, atau mereka yang menjadi diplomat menjadi wirausaha. Namun dengan uniknya, hati kecil memanggil setiap individu secara perlahan, kemana pada akhirnya semua pilihan bermuara, pada apa yang sejatinya mereka inginkan. 


Selasa, 11 Maret 2014


*edisi : life is hard but no choice to give up

Sudah dua hari ini Ria luar biasa kesal dengan teman satu kontrakannya, setidaknya akibat tiga hal, ya ! tiga hal yang menyebabkan Ria benar-benar kesal dengan Chika. Pertama, Chika datang sebagai penduduk kontrakan di tengah tahun dengan diantar keluarganya, dengan tiba-tiba langsung mensabotase alat masak, waktu memasak tanpa permisi apalagi kompromi. Belum selesai keanehan yang pertama esok harinya Chika memulai usaha piscok dengan memonopoli kompor dan dapur secara habis-habisan hingga penduduk satu kontrakan kelaparan. 

Kedua, alahal kulihal produksi piscok, sampah-sampah kulit pisang dan percikan minyak yang membuat lantai licin benar-benar membuat kesal, bukannya merasa tidak enak dengan yang lain justru keluar kalimat "mb... uang sampah bulan ini mb yang bayar ya ?" apa ??? rasanya aku ingin berteriak, memang kemarin-kemarin siapa yang bayar ??? wajar jika perusahaan besar berusaha sedemikian rupa untuk tidak mengeluarkan CSRnya, usaha kecilpun begini.

Ketiga kalinya ketika kompor rusak dan Chika hanya diam saja, baiklah... dan ternyata setelah dibetulkan, tanpa ba bi bu, bertanya habis berapa dan urunan berapa Chika kembali masak disana. Sudahlah... Tapi ??? mungkin berfikiran bahwa Chika adalah cucu kesayangan dari bapak kos, maka TV di ruang tengah ia bawa masuk ke dalam kamar. Terang kami dongkol setengah mati, apalagi dua hari kemuadian keluar kalimat "mb... listrik bulan ini mb yang bayar ya ????" aku tak tahan lagi ! aku mau pindah !

Siang ini Ria enggan pulang ke kontrakan setelah semua kejadian itu, ia memilih duduk di kampus menunggu jadwal kuliah selanjutnya. Baru beberapa saat ia menghabiskan bekal makannya datanglah seorang bapak tua dengan suara tidak parau tapi tidak juga merdu, tidak lantang namun tidak juga lemah, "es krim.... es krim... " setiap orang yang ada disitu nyaris tidak peduli. Ria berusaha keras memalingkan pendengaran dan penglihatannya. Tidak tega. Namun rasa penasaran kadang hadir dan memerintahkan otot leher untuk menengok, ah... bapak itu sedang duduk bersandar di tiang dengan sepeda tua yang diparkir sembari berteriak "es krim.... es krim...." Rasanya ingin segera beranjak pergi, tapi uang yang dimilikinyapun pas-pasan, belum lagi dia harus berbagi dengan adiknya.

Beberapa waktu kemudian bapak tua itu mengayuh sepeda tuanya, dengan tabah, tanpa kesedihan, ia menjadi simbol optimisme hidup. Ria tersadar, bahwa dari usianya bisa jadi bapak itu hidup di zaman perjuangan kemerdekaan, membela tanah ini dari penjajah, dan kini ketika semua sudah merdeka, tak ada satu anak mudapun yang peduli padanya. Ria nyaris menangis dan mengejar bapak tua yang sudah semakin jauh, tapi apa daya, ego untuk menyimpan uang demi keberlangsungan hidup di kosan lebih kuat ! Mungkin kini Ria sudah menjadi anak muda yang lebih tidak tau diri dari Chika.

Manusia modern hidup dalam keegoisan yang mendalam. Tekanan hidup yang mendalam membuat setiap individu semakin fokus terhadap dirinya sendiri, kejar setoran, pergi pagi pulang petang, setumpuk kerjaan, belum bayaran sekolah, kebutuhan untuk makan, tempat tinggal, hingga tagihan hutang. Setiap individu berjuang mati-matian, kaki di kepala, kepala di kaki entah kelak bagaimana lagi.



As soon as possible Insyaallah :)

Jumat, 28 Februari 2014

Namaku hijab, aku buruh pada tuanku sepanjang waktu, dari pagi hingga pagi lagi. Hampir 24 jam aku menghabiskan waktu dengan tuan-tuanku, menjaganya dari serangan mata – mata kaum Adam yang membara. Terkadang aku mendapat masa libur untuk beberapa saat, menyenangkan memang, ketika kau bisa merebahkan diri sejenak dan berendam bersama dengan busa sabun, setelahnya kita bebas berjemur dibawah sinar matahari seharian, dihangatkan oleh setrikaan dan disemprot parfum agar tidak digigit ngengat.
Aku menyayangi tuanku, karena ia menghargai keberadaanku, membuatku menjadi bernilai, menjadi prajurit penjaga Al-Maidah 54. Tak jarang ketika aku menemani tuanku ke kampus atau ruang kerja aku bertemu dengan buruh-buruh serupa denganku, mereka memiliki corak yang lebih ramai dan warna yang mencolok. Aku heran kadang, apa yang mereka lakukan, alih-alih melindungi, tapi buruh ini justru semakin menarik perhatian lelaki. Sekilas aku melirik pada tuan mereka, satu stel pembungkus badan yang ketat dan menunjukkan eksotisme lekukan tubuh perempuan. Rambut digelung keatas bak punuk unta yang bergoyang-goyang, seorang buruh memang perlu memilih tuan.
Malam itu tuanku belum juga pulang. Sang mentari telah kembali ke peraduan, aku tak lagi bermandi sinarnya namun menggigil melawan suhu malam yang mencekam. Kemana tuanku ? apakah ia sibuk dikantornya ? atau ada kuliah malam ? Tiba-tiba seorang bapak berpakian kumal menghampiriku, merenggutku dari tiang jemuran, aku ingin menjerit dan meronta, tapi tangannya mengenggam erat tak terelakkan. Aku pasrah.
Dibawanya aku ke gubuk tua di pinggir rel kereta. Sejenak sesungging senyum mengembang dari sudut bibir “Ayah membawakan jilbab untukmu !”. Sesosok anak usia belasan, melompat kegirangan ! diraihnya diriku, dibawanya kedepan kaca buram dan dikenakannya aku dengan berbagai gaya. Sejak hari itu, aku memiliki tuan yang baru.
Tuan baruku begitu sayang padaku, tidak seperti sebelumnya, aku jarang sekali mendapat libur, hanya ada tiga hijab yang buruh padanya, dan yang satupun sudah usang. Setiap aku selesai bermandi busa sabun dan berjemur, langsung esoknya aku kembali bekerja padanya. Taka da lagi parfum, hanya seonggok kapur barus putih yang tak sempat aku berkenalan dengannya.  Siang ini aku lelah sekali menghalau sinar matahari, aku ingin segera sampai di rumah dan berendam di ember busa sabun, tapi mataku tertuju pada satu sosok semampai, oh…. Aku ingin berlari dan memeluknya, aku merindukannya… tuanku… tuanku yang dulu.. tapi, tunggu dulu… kemana perginya gamis yang selalu menjadi patner kerjaku ? sudah pensiunkah dia ? aku tak habis pikir, karena ia kini mengenakan budak-budak barunya… blue jins dan blouse ketat, tiba-tiba kau merasa usang dan tidak percaya diri.

Aku ingin menjerit dalam lautan kerinduan, aku merindukan tuan lamaku, jauh sejak aku diangkut secara paksa dari tiang jemuran. Tapi kini aku bekerja dengan tuan baruku dengan permulaan yang berkecamuk. Ah, aku tak tau lagi, aku hanya berbisik, Hijab’pun bertuan… 


Sabtu, 28 Desember 2013



Karena selama hidup kita belajar, maka tak ada alasan untuk kita merasa tertinggal ataupun terlanjur salah. Kelemahan terbesar kebanyakan orang adalah ketika ia jatuh maka ia akan merasa bahwa itu adalah akhir dari segalanya. Mereka lupa bahwa kehidupan ini dinamis, bukan mereka yang diatas yang pada akhirnya mendapat hadiah berupa garis finish yang indah, tapi sosok-sosok pembelajarlah yang tidak pernah tenggelam tergilas oleh zaman.

Melalui tahun ini yang nyaris dipenuhi oleh kesalahan dari hari ke hari, mulai dari konflik di Speak Up, BLCN, project sampah, kuliah, gerakan, dan sederet kisah-kisah kelam yang terus merongrong integritas. Rasa-rasanya apa yang dilakukan selalu berakhir dengan konflik dan kesan yang buruk. Perlahan tapi pasti waktu akan memberikan jawaban bagi insan yang mau berbenah untuk lebih baik lagi.

Dulu, pertama kali masuk SMP, sama sekali tak bisa bahasa inggris, berkeringat ketika guru masuk, dan langsung ambil ancang-ancang untuk mencontek. Dulu ketika SMA ingin sekali disebut debater, dan sekali lagi mantra ini berhasil ‘never say never’, di awal kelas tiga saya menjuarai turnamen debat pertama saya. Hal yang awalnya terlihat mustahil, tak tau satu kosa kata bahasa inggrispun pada akhirnya bisa membuahkan hasil yang manis ketika kita sabar melewati prosesnya.

Dikala kecil, menyenangkan rasanya mendengar cerita saudara yang kesana kemari, punya program ini dan itu. Saat itu rasanya mustahil bagi saya untuk memiliki peluang yang sama, teman yang terbatas, akses yang sulit, hingga pada akhirnya perlahan tapi pasti dari satu fase organisasi satu ke yang lainnya, perlahan semua itu terwujud.

Tak ada yang tidak mungkin ketika kita sabar untuk berproses, tak ada yang tidak bisa dibuktikan ketika kita berusaha sekuat tenaga. Dan sama seperti hari ini, tak menyangka akan mendapatkan kenangan manis di penghujung tahun, mendapat keluarga baru yang membuat segalanya menjadi mungkin. Sebuah ‘dream team’ yang tidak pernah saya ekspektasikan untuk dijumpai lagi dimasa kampus ini. Rasanya segala kesalahan-kesalahan yang lewat terlalu sulit membuka pintu perbaikan.

Ketika detik terus berdetak, maka waktu menawarkan kesempatan manis bernama pembelajaran, memetik hikmah dalam dimensi kesalahan atapun keberhasilan. Kini, semua lebih dari sebuah tahap yang saya ekspektasikan, kembali merangkul rasa percaya diri, mendapatkan keberanian, berkumpul bersama teman-teman yang mampu menjadi lilin penerang menuju mimpi yang hampir saja pudar. Project-project gerakan yang pada akhirnya ‘I make it happen !’ this is not only a fairy tale.

Pembelajaran tidak berhenti disini, luasnya dunia menanti untuk diarungi, satu mimpi selanjutnya, ‘never say never’, reach it ! try it ! Sebuah bingkisan manis diujung 2013. Rasa syukur kepada Zat Yang Maha Agung atas berlimpahnya rizki yang ia anugerahkan, terimakasih untuk kawan-kawan yang terus menjadi lilin-lilin kecil dalam hampanya kegelapan. Togather we learn, togather we grow, to reach a better place in the future. 


Kamis, 26 Desember 2013




Tempo waktu IFL mengadakan seminar penulisan essay dan motivation letter untuk apply beasiswa keluar negeri. Setelah jauh saya merenung, seminar ini tidak sedangkal judulnya. Mengapa ? mari kita mulai dari sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh teman saya "ternyata aktivis itu nggak bisa lepas dari aktivitas-aktivitas seperti itu ya ?" pernyataan itu terlontar kepada saya tepat setelah konsultasi regional Parlemen Muda, dan pada kesempatan ini saya jawab, "why ? siapa yang bangga disebut mantan aktivis ?".

Kebanyakan dari aktivis kampus sangat gahar ketika masih di Universitas, namun perlahan memudar ketika mengenal dunia nyata, mulai mengambang dalam mengenali siapa dirinya dan langkah kelajutan apa yang akan dia ambil, dari 100% pelaku, tidak lebih dari 30% yang konsisten dengan pilihannya. Bisa jadi karena tuntutan zaman atau tidak terfasilitasi untuk menjadi diri sendiri. 

Saya punya sekelompok saudara , 'yang sampai kapanpun akan tetap menjadi saudara', kami sama-sama bermimpi pada forum-forum yang hidup hingga pagi. Tentang masa depan, bukan masa depan sederhana, masa depan Lampung, masa depan Indonesia, dan masa depan Dunia. Bak pembuat kebijakan atau think thank Bank Dunia yang memiliki kendali besar kami semangat berdiskusi, belajar merumuskan hal-hal besar, bersama di masa muda, kami menari-nari di bumi impian.

Kembali ke seminar essay IFL, setidaknya ketika kita menulis essay kita akan melalui beberapa tahap, 1. Mengenal diri kita dan eksplore lebih dalam lagi terkait hal-hal yang sudah kita lakukan, 2. Mengenal isu di daerah kita dan mencari isu-isu tertentu yang kita benar-benar tertarik di dalamnya, 3. Merencanakan masa depan tentang kita akan membawa diri kemana, sekolah pada bidang apa, dengan jurusan apa, riset apa, setelahnya akan berkarya bagaimana, memecahkan isu yang seperti apa, dan mengalurkannya lagi dengan aktivitas-aktivitas yang sudah kita lakukan sebelumnya.  

Rangkaian dari tiga poin itulah yang akan menjadi daya jual bagi pemberi beasiswa, semakin tajam dan impactfull diri kita, semakin berkualitas kampus yang akan kita dapat. Lebih dari itu, saya menyadari poin inilah yang hilang dari aktivis kampus. Kebanyakan dari mereka masih sekuler dengan pilihannya. Punya passion di bidang apa, kuliah dibidang apa, dan melakukan kegiatan aktivisme di bidang apa. Belum lagi isitilah kuliah dan aktivisme harus imbang, keduanya tidak perlu keseimbangan, namun keduanya adalah suatu kesatuan. Untuk yang sudah terlambat, jangan khawatir, ketika kita merenung atas apa yang kita lakukan, pasti akan juga ditemukan garis merah, selama sejauh ini kita jujur pada nurani.

Dari IFL saya belajar banyak, sebelum kami merancang program, kami bercerita tentang mimpi dan passion masing-masing, sehingga kedepannya, project yang berhubungan dengan pendidikan akan diserahkan ke yang berpassion pendidikan, ataupun lingkungan akan diserahkan ke yang berpassion linkungan, sehingga memiliki dua keuntungan, 1. Membuat individu berkembang sesuai dengan jati dirinya, menambah pengalaman dan link untuk bidang yang ia sukai, dan 2. Organisasi mendapatkan loyalitas yang lebih dari anggota karena anggota merasa banyak berkembang di dalamnya. Bekal-bekal ini juga yang dapat dipakai anggota untuk menapaki jenjang karier selanjutnya seperti study master atau kerja. Misal, kampus atau perusahaan mana yang menolak orang yang ekspert di bidangnya, tidak berhenti di tataran kampus, namun juga sudah mulai belajar merealisasikan di dunia nyata, sedikit demi sedikit mencoba menyelesaikan permasalahan yang ada disekitar. 

Lebih dari itu, di IFL segalanya jadi mungkin, batas negara menjadi lebih dekat, seperti Opin, Hetty, Desi yang terancam bolak-balik ke luar negeri, kami memiliki bekal yang tidak jauh beda, secara finansial, dll namun mereka mengajari saya untuk terus bekerja keras dan 'never say never'. 

Teringat saudara saya, "Candra sudah benar-benar move on dari........" , jawabannya tidak ! saya merindukan semuanya, sangat ! dua tahun ini IFL menjadi lilin untuk saya menemukan kembali puing-puing mimpi saya, memberi sedikit penerangan ditengah kegelapan. Saat-saat dimana saya dipaksa berenang dilautan bebas, nyaris tenggelam oleh konflik, nyaris bingung hendak kemana dan bagaimana. Hingga kini saya bersykur atas apa adanya diri saya. Menyusun kembali mimpi agar semua angan ini tidak pudar dihantam ombak. 

Tentang sebuah kerinduan akan mimpi yang kita semua pernah bicarakan hingga pagi, mungkin kini sebagian kita telah berserakan di dunia kerja, di dunia lain, namun kerinduan bernama ukhuwah tidak akan pernah bisa dikhianati. Mimpi-mimpi besar itu tak akan kita biarkan pudar begitu saja bukan ? kegalauan, ketakuatan, rintangan, itulah yang saya rasakan, namun bersama kita pernah menaklukkan rasa kantuk, mungkin bersama juga kita bisa melawan kejamnya dunia dan menjaga mimpi-mimpi ini tetap hidup.

Kita tak punya kekuatan untuk mengingkari takdir yang Maha Kuasa, tak punya sedikitpun bocoran bahwa saya, kamu dia, kita atau mereka akan konsisten, namun kita juga tidak punya alasan untuk tidak mencoba, mengeratkan kembali impian bersama, mengambil langkah, saling menguatkan dan memulai dengan sesuatu yang sederhana. Mulai untuk berenang mengarungi dunia nyata, mengenggam impian, terus berenang, berenang dan berenang, hingga kaki terasa mau patah ! break a leg !




Ketika saya kecil ibu saya selalu berkata, "orang-orang yang memperhatikan hal kecil akan juga peduli dengan hal-hal besar dan sebaliknya, orang yang luput dengan hal-hal kecil, akan semakin lalai dengan sesuatu yang lebih besar". Sebuah pelajaran sederhana yang tentu sangat susah diambil hikmahnya. Sama dengan bagaimana kita mempola hidup dan membuat dampak yang jauh lebih besar.

Sebut saja Jepang, Singapura, dan beberapa negara maju di Asia. Sudah dipastikan semua dari mereka peduli dengan hal-hal sederhana seperti kedisiplinan buang sampah di tempatnya, budaya antri, hingga disiplin menepati waktu. Sederhana memang, namun memberikan dampak yang sangat besar, Singapura tidak perlu lagi bergelut dengan permasalahan banjir akibat saluran air tersumbat sampah, Jepang tak perlu bergelut dengan kemacetan karena setiap kendaraan dijadwal dengan rapi, atau dikeduanya juga tidak terdengar ada korban meninggal ditengah antrian sembako, pembagian daging kurban, atau pembelian tiket bola.

Sederhana memang, namun berdampak sangat besar. Hari ini, teman-teman IFL Lampung seperti biasa berangkat ke pesisir untuk mengajar anak-anak disana. Entah ada radiasi apa, walau langit menumpahkan airnya kami tetap melaju. Saya sempat berteduh di depan hotel kurnia dua hingga Opin datang dengan setumpuk kotak sampah plastik. Dengan muka sumringah dia berkata "nanti mereka jangan langsung dibagi alat tulis ya ? kita bagi-bagi kotak sampah dulu, suruh mungutin sampah, baru deh... ntar gw videoin, ky semacan disaster education gitu" . 

Sempat berhenti sejenak di DCC, jemput Emi, Desi dan temannya Emi, lalu melaju ke gudang garam jemput Hetty dan Priska. dibawah guyuran hujan kami melaju ke Umbul Asem, namun Opin dan Hetty yang bermantel tak tega jua melihat kami basah kuyup dan berteduh sejenak. Sempat ada pertanyaan "tetep lanjut nie ?" dan "yo'a ! kapan lagi maen ujan..!"

Gracias ! sampai di pesisir hujan reda dan situasi alam benar-benar mendukung dengan tema pembelajaran hari ini. Disaster education ! air menggenang dimana-mana, sebagian masuk rumah, sampah mengambang dan sebagian menyumbat aliran air. Priska dengan gesit langsung mengumpulkan anak-anak dan menjelaskan hari ini kita akan belajar untuk membuang sampah ditempatnya, ditimpali dengan Hetty yang flash back tentang dongeng penyebab terjadinya banjir. 

"jadi kenapa bisa banjiiiiir ?????" "karena sampah numpuk, aer nggak bisa lewaaat..." "jadi kemana kita harus buang sampaaahhh ????" "ke tempat sampaaahhh....." dan satu anak nyeletuk "ke aeeeeer !!!" sambil nunjuk laut. Hahaha... kami berjalan menelusuri pemukiman padat penduduk, anak-anak itu tak kenal rasa jijik, mereka berlomba-lomba memenuhi kotak sampah masing-masing, padahal kami para volunteer agak ragu, duuuhhh itu air udah mengandung apa ajaaa ??? woles aja lah...

Ada satu genangan ari yang menarik perhatian saya, seperti kolam dengan percampuran sampah, diatasnya ada kandang ayam, menggenang karena banjir setelah hujan. Namun anak-anak tetap tanpa ragu masuk kesana dan membersihkan sampahnya. Benar-benar diluar ekspektasi, dan ada anak usia 3-4 tahunan mungkin, dengan keberatan mengangkat kotak sampah yang hampir penuh. seketika Hetty bilang, "sini kak Hetty bantu..." dan dengan ngotonya dia bilang "nggak usah kak... aku ajaaaaa...!"

Setelah semua kotak sampah penuh, tepat dipemukiman yang diatas laut, Priska memberikan edukasi sekali lagi untuk ndak buang sampah sembarangan, eh iya.... ada tepuk buang sampah yang kita buat dengan seketika, kurnag lebih bunyinya seperti ini... "ada sampah ?" plok plok plok "kita ambil !" plok plok plok "jangan buang !" plok plok plok "sembarangan !" plok plok plok "karena nanti !" plok plok plok "jadi banjir !".

Setelah itu kembali sudah kami ke gardu tempat biasa belajar, dan ternyata teman-teman dari ESo Unila sudah menunggu dengan beberapa keresek susu cair yang siap dibagikan, sebelumnya Uli dan Hetty memberi nasehat tentang pentingnya minum susu. selesai acara minum susu kami membagikan bingkisan dari Sekolah darma Bangsa yang belum selesai kami bagikan minggu lalu. Pokoknya sore ini benar-benar menyenangkan ! :)

Malam ini ketika saya menulis cerita ini di blog, saya sadar bahwa perubahan itu sederhana. Sesederhana mengajari anak-anak untuk buang sampah di tempatnya, sesederhana anak-anak ESo yang menyisihkan sebagian uang saku untuk berbagi susu, dan sesederhana adik-adik dari Sekolah Internasional Darma Bangsa yang belajar bersyukur dengan cara berbagi untuk saudara mereka yang kurang beruntung. Semoga kesederhanaan-kesederhanaan ini terus menjamur dimasyarakat kita, hingga suatu hari nanti tata masyarakat kita serapi dan semodern Jepang atau Singapura hari ini.


Selasa, 24 Desember 2013


Sebentar lagi 2013 akan segera berlalu dan berganti dengan penomoran tahun yang baru. Biasanya setiap orang memiliki aktivitas yang beragam, seperti pesta kembang api, bakar-bakar, atau menyambuut detik-detik pergantian tahun di tempat-tempat tertentu seperti pantai atau dataran tinggi. Pernah terfikir ndak si ? kalau itu semua terlalu mainstream. apalagi bagi anak muda yang terbilang gaul dan anti mainstream. Ide kreatif apa ya yang berbeda dan penuh makna ?

Tentang Keberadaan Mereka

Ada beberapa orang di Bandar Lampung yang mungkin keberadaanya sangat dinanti, seperti Pak Walikota, Pemilik Mal, Pak Rektor, dan orang-orang besar lain. Pernah ndak si kita merenung sejenak dan berfikir, apa jadinya Bandar Lampung tanpa petugas kebersihan, penjaga perlintasan kereta api, tukang parkir, dll. Bakal semrawut banget kali ya ? dan sayangnya selama ini kita tidak peduli dengan kehadiran mereka, padahal punya peran yang besar banget untuk merawat Bandar Lampung kita ? perlu juga ya sepertinya berhenti sejenak dari rutinitas kita dan mengkhusukan waktu untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas kinerja-kinerja mereka.

Tentang TPA Bakung yang Akan Segera Overload

Pernahkah kita peduli ? berapa jumlah sampah kita dalam satu hari ? ratusan ton pastinya ! dan itulah yang membuat TPA Bakung akan segera penuh dalam kurun waktu 2 hingga 3 tahun terakhir. Waduh gawat, kemana lagi ni kita buang sampah ? untuk sampah organik solusinya bisa dijadikan kompos atau biogas. Trus gimana dengan sampah plastik ? bakal makan waktu puluhan tahun untuk terurai. Inget ndak ? dulu zaman nenek-nenek kita kalau ke pasar bawa tas belanja, tapi sekarang, sekali ke mal, pasar, warung, kita tenteng banyak kantong kresek. Ide bagus ndak sie kalau kita diet kantong plastik dari sekarang ?

Tentang Angka Konsumsi Susu yang Rendah

Ada satu lagi ni fakta yang wow ! ternyata angka konsumsi susu di Indonesia ini terendah di Asia, apa kabar di Lampung yang merupakan provinsi termiskin kedua ? padahal nutrisi yang terkandung di susu itu sangat baik untuk pertumbuhan otak dan fisik. Mahal ndak sie harga susu ? sebenarnya ndak, apalagi sekarang ada susu kemasan ekonomis. Cukup dengan merogoh kocek beberapa rupiah saja sudah bisa mendapat sekotak susu berukuran 200 - 250 ml. Perlu edukasi ke masyarakat mungkin ya ? sepertinya iya !

IFL Lampung feat Gen BI

Naaaaah..... merangkum semua isu-isu diatas tadi, Generasi muda Bank Indonesia featuring IFL Lampung punya project yang keren punya, dimana kita akan kampanye #dietkantongplastik dan #gerakansadargizi dengan cara bagi-bagi tas ramah lingkungan dan susu cair ke pekerja-pekerja sosial di Bandar Lampung. Ada tujuh titik kecamatan yang nantinya akan kami tuju, mulai dari Rajabasa, Sukarame, hingga Teluk Betung. Gimana ? punya ide kreatif juga dan mau kolaborasi ???? Keren daaaahhh.... Yuk kolaborasi sama kita !



Senin, 23 Desember 2013



Beberapa bulan yang lewat saya melalui sebuah priceless moment di dalam proses pembentukan diri menjadi seorang pendidik. Pengalaman magang di desa yang jauh tertinggal membuat saya berfikir betapa sederhananya sebagian orang memandang hidup. Sebatas tumbuh dewasa, sekolah hingga SMA, merawat kebon karet atau kerja keluar negeri, membangun rumah, punya kendaraan dan semuanya selesai.

Namun sayangnya dunia luar tidak berfikir sesederhana itu, sebut saja pola pergaulan anak muda sana, mungkin sama sekali tidak mereka sadari, namun ada segolongan yang memetik keuntungan dari keluguan dan kesederhanaan itu. Menjadi korban dari marketisasi “cinta” dan segala aksesoris pelengkapnya seperti alcohol, drug, freesex, dsb.

Aneh memang, untuk mendapat kebutuhan hidup saja sulit, bahkan hanya ada satu mobil angkutan yang kerjanya setiap hari pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan hidup orang-orang sana. Namun bagaimana bisa barang-barang terlarang tersebut mendapat akses dengan sangat mudah.

Kegeraman ini memuncak setelah saya kembali ke Bandar Lampung dan memperhatikan pergaulan mereka di social media. Bahasan tidak jauh-jauh dari pacar, galau, patah hati, bahkan saya tak bisa menahan untuk berkomentar ketika mereka masuk ke dalam bahasan “virginity”, kontan saya langsung menulis komentar “lihatlah dunia luar, banyak hal menarik yang bisa kita jelajahi….”

Tetiba angan saya melayang ke kedua adik saya yang sedang menjalani usia remaja, setiap obrolan mereka tidak jauh-jauh dihiasi dengan angan masa depan, hal-hal yang mereka sukai, teknologi, aktivitas organisasi atau berita-berita baru. Berita paling menyakitkan yang saya dengar adalah mereka ingin meraih mimpi-mimpi namun harus menantang keterbatasan.

Kembali angan ini menari mengingat sederetan profil anak muda yang tergabung sebagai jawara lifeboy, nutrifood leadership award, ashoka young changemaker, global changemaker, AFS, sebagian dari mereka berfikir merubah dunia. Ada apa dengan anak-anak ini ? Mungkin mereka perlu melihat dunia luar agar pandangan hidupnya tidak seputar pacar, freesex, alcohol dan menjadi korban “pasar zaman”. Sebuah tempurung yang menutupi mereka harus dibuka, agar memiliki wawasan lebih luas dan melihat gemerlap dunia.

Namun sesaat saya tersadar, atas dasar apa saya mengklaim mereka terkungkung dalam sebuah kotak tempurung, bisa jadi justru saya yang sebenarnya terkungkung dalam tempurung dunia saya. Imajinasi langsung membuat visualisasi yang kreatif, bahwa ada banyak tempurung wawasan, pemikiran, dan sudut pandang di dunia ini, masing-masing dari tempurung itu memberi dunia bagi orang-orang yang hidup dibawahnya. Bisa saja ! kalau memang yang sebenarnya terjadi di dunia seperti itu, biarlah saya, keluarga, saudara, dan sahabat-sahabat saya hidup di tempurung kami.

Tempurung kami tidak mengajari kami tunduk pada “pasar zaman” yang menjajakan jajanan bernama cinta, walau kampanye besar-besaran telah dilakukan melalui film, lagu, stereotype, fashion. Namun di tempurung ini kami menyadari bahwa cinta tidak memilih, namun dipilih oleh Sang Pencipta untuk ditemukan dengan pasangannya, yang akan bersama melangkah untuk memperjuangkan dunia yang lebih baik. Mencoba membenahi dari berbagai aspek, ideology, pendidikan, teknologi, dll.


Di hari-hari lain mungkin kami perlu berwisata ke tempurung-tempurung lain guna melihat perkembangan mereka, membuka pikiran untuk hal-hal baru yang membawa kebaikan. Kami bisa membawakan oleh-oleh berupa pemikiran baru yang membawa kemaslahatan untuk penduduk tempurung kami, namun tidak sekali-kali untuk hal-hal yang lebih primitive. Disini, kami memiliki dasar yang pasti dan terukur, yang tak akan pernah lekang dimakan zaman, dan sebut itu …… “agama”.