Kamis, 14 Mei 2015


Secangkir kopi selalu memiliki kisahnya sendiri, seperti sore ini, ia memecah sunyi diantara kita yang berbulan-bulan tak bersua karena benua tak lagi sama. Kini aku paham mengapa starbuck bisa begitu mendunia, karena pada secangkir kopi itu tidak hanya tersimpan rasa, tapi juga asa dan cerita. Sementara hujan, mengayun merdu dengan melodi alam yang tak putus, seperti do’a yang selalu kupanjatkan untukmu atas semua kebaikan dan kenangan. Aku bebas menjadi diri sendiri kala senang dan marah, kala sedih dan pura-pura baik saja, pada Tuhanku aku jujur tentang warna hati yang tak selamanya dihiasi gradasi warna-warna indah, tapi pekat malam yang merindukan temaram cahaya lilin, dan kamu… mengajakku untuk menyalakanya, jauh di dasar hatiku.

Tak banyak yang mendengarkanku kala aku berkicau tentang Cordoba, Andalusia, juga celotahan dengan bahasa berat dan setengah-setengah, tapi secangkir kopi selalu punya tempat untuk siapa saja. Ia tidak pernah berkomentar tentang judul buku yang aku baca, dari novel ringan karya Andrea Hirata hingga Muqaddimah Ibnu Khaldun, dengan setia dia diam tapi ada, menemani dialektika baru yang tiba-tiba muncul kala lembar demi lembar terbuka. Juga ketika aku tiba-tiba mengagumi Al-azhar, Leiden, hingga Harvard, otakku tak dapat terbendung lagi untuk menumpahkan deret kata hasil olah imaji tetang dapur intelektual pada zaman yang berbeda, dia hanya tersenyum tenang dicangkirnya dan mengerdipkan mata pada gula pasir yang manis.

Ada kalanya aku penasaran pada Hunger Game, The Maze Runner, ataupun judul film lain yang tak sepopulis Fast Furious 7, dia sama sekali tak keberatan akan itu. Hanya ada jalan cerita dan aku di ruang teater, dan dia bercengkrama hangat di genggaman tangan bersama coklat yang membuatnya dikenal orang dengan sebutan moccacino.

Disebuah kota bersejarah yang melahirkan industri-industri besar dunia aku mencium aroma di setiap sudut kota, aroma yang akrab dengan keseharianku, dengan waktu-waktu terbaik yang pernah aku nikmati. Kutabambahkan beberapa sendok krim berwarna putih salju agar rasa pahit itu memudar, lalu aku duduk ditemani seacangkir kopi seharga $2  pada sebuah kafe kecil di lantai dasar sebuah bangunan yang kokoh, menunggu rekan kerja yang akan bersama membunuh hari yang berat, jam demi jam yang terasa cepat karena harus berjumpa dengan banyak kolega membicarakan bisnis dan juga kemanusiaan, hari dimana aku hanya sempat makan siang dengan sepotong sandwich karena dunia begitu cepat berputar dan menyisakan hanya dua pilihan, berhenti merajuk atau tertinggal.

Ini begitu sulit, dan aku ingin secangkir kopi saja yang menanyakannya, tapi ia tidak lebih dari benda mati yang menjadi saksi sejarah perjalanan penuh warna. Bersediakah kau menghabiskan cangkir demi cangkir kopimu bersamaku disepanjang hari yang tersisa hingga ajal menjemput ? Kita bisa berdisusi apa saja, di sudut-sudut Eropa hingga Asia, medengarkanku berkisah tentang jalan cerita di beberapa novel, menghabiskan waktu menyaksikan pemutaran film, sampai saat dimana sesekali kita berdebat panjang, saling diam, dan  terpaksa mengalah. Aku yang terlalu sederhana, tak tau tentang hari depan yang kau impikan, namun jika engkau bersedia, kau bisa ceritakan padaku dan izinkan aku membantumu meraihnya, memastikan bahwa penerusmu akan tumbuh dengan baik-baik saja, dan saling menguatkan dalam merajut keabadian di JannahNya. Jangan tertawa, karena aku tidak sedang bercanda. 




To whom it may concern;



I am writing this letter regarding Deni Burhasan application is sending your institutions. Absolutely, I understand your strange feeling on the first time you hear his name, but you will be more surprised after you start a conversation with him and discuss something.  When this world is full of narrow minded people who live in their own perspective and point of view or even love to put their self in their own box, Deni tries to hear other people arguments, thoughts, and jokes. That is showing clearly in my memories theater a moment at a night before Parlemen Muda Roadshow in Lampung. I  laid down in Hetty’s room to kill my fatigue after had three hours journey from my campus internship when suddenly Aris is calling me to join in a great discussion about democracy, government, prosperity, and youth movement. That was the first time i share idea with Deni and finally we entered in a long analytical discussion which successfully made us sleep at 3 am with a bunch of inspiration from each of us, I mean Deni, other friends, and me.

Entering a global community is a big problem for Indonesian youth, at least because of three reasons; (1) They cannot speak English which caused a big burden for them to communicate with foreigner, (2) They do not have enough background knowledge to talk about; it makes most of them insecure to have international friendship, and (3) They do not know any platform to go. Deni broke the limit by registered himself as a part of AIESEC although he knew clearly that he cannot speak English. Facilitate by google translate and supported by a strong eagerness, he started to speak and… voila ! nowadays, he is successfully become AIESEC ambassador and flight all over Indonesia to promote this exchange platform. Wait, do not stop here, he has a bunch of international friends in all over the world. It proven when he joined world international model united nations in Belgium and visited several countries in Europe, he successfully fight for ‘zero euro’ life because of friendship values (I am sorry to mention it). At least from this case you may see that Deni has a strong believe on what he dream about and persistent on the way how he fights to grab it.
   
Let me tell you the next chapter sir or madam… GoGoCampus is our dream for start up. This social enterprise aims to increase better access and better quality for higher education in Indonesia. A long day before, it’s name is Bedah Kampus, we changed the name for better branding because we wanted to propose $25K to the US embassy and successfully rejected in final assessment. Keep up your mind, this is not about how big GoGoCampus is, but a group of youth who want to turn on “hope button” in privilege societies. Deni, a group of friends and I conducted a school roadshow in East Lampung and Tanggamus, this is a long distance to go for promoting higher education access for senior High school students. Ones, we went by bus and the rest we went by motor cycle, we stayed for a night in a village, and arranged our tight schedule. Everything we did unpaid, even he should pay bus fee and others need by himself, Isn’t those voluntary activity look easy ? Yes ! if in your perspective; Deni comes from a rich family or at least middle income. But the fact is totally different (you may ask to him by yourself, because it is totally his right to tell about). The strong point that you should understand; he is the right candidate for the future leader. It is not because he is a part of Indonesian Future Leaders youth-led NGO, but in the perspective of helping other and creates an impact. We may find a big number of people who difficult to share something even they are available, but Deni break the limit and spare their time, energy, and money to help others. Can you imagine the condition when he has a better resource than ? I can guarantee that he gives bigger impact !

Sir and madam, an open minded people will learn faster than the close one, a persistent person will bring a dream into reality, and a respectful man is someone who we imagine to born in this world and make the worst condition become friendlier. Those three strong arguments should be your consideration to give Deni a chance to come in your institution. Talking about Deni is not only talking about himself, but also “a hope” for hundreds children. It means, when you give a chance for Deni you also successfully give a chance to transform this nation from zero to hero, that is why i could not find a reason why you should turn this perfect candidate down.



Warm regards


Candra




[ Have a good preparation for your 22nd year Deni, may Allah gives your age full of barakah, because give a surprise on the day or late after is too mainstream J  so, keep humble, grow faster and be a better person more than on what I write in this letter…. And as usual, sorry for a messy grammar :P ]



Rabu, 24 Desember 2014


Pejuang sejati boleh lelah, boleh lemah, tapi tidak dengan menyerah, kalaupun ia kalah, setidaknya menempuh cara yang terhormat, walau dia salah, setidaknya ada hikmah yang dipetik untuk masa depan. 2014 adalah tahun roller coaster, seketika berada dalam posisi paling bawah, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghitung rupiah demi rupiah, dan tak lama dari itu ada diantara world class leader. Seketika dihina dina dalam kesendirian, dan seketika dielu-elukan.  This is the real world ! bahwa tidak semua individu putih dengan ketulusan hati, namun juga tidak semua hitam tanpa nurani. Inilah kenyataan, sebuah ujian keimanan dari Yang Maha Kuasa. 

Teman datang dan pergi, materi datang dan hilang, tapi Ia tetap setia mendengar setiap keluhan dari hamba yang hina, setiap amarah yang membuncah, hingga perlahan Kau ajarkan aku membaca hikmah untuk sebuah kesyukuran yang mendalam, sungguh ditanganmu tiada yang tidak mungkin. Engkaulah satu-satunya alasan untuk berjuang.  

1. Malam Solidaritas Berbagi


This is a new way to start a new year, petcaaah !! malam solidaritas berbagi, kampanye diet kantong plastik, kampanye sadar gizi, and give a high appreciation for Bandar Lampung social workers in one night ! 
thank u gengs :) This is the first time when my father allow me to go out in new year night, because he knows "how impactfull what we did !"

2. Sumatera Peace Summit


Do you remember when we start to discuss about this place ? Yap ! a long converciation accompany our journey from kak Rasim weeding's to Bandar Lampung. Finally we realize it, how we learn about conflict resolution and working in pluralism society. How to create diplomacy words and actions togather with 50 youth peace ambassadors from all around the nation. A great momment in Balinuraga with "Sumatera Peace Summit".

3. Dukung Jilbab untuk Pelajar Bali


Thank you for big family of Pelajar Islam Indonesia who allow me to take a part in this campaign. This is nice to work togather with u all and ur media circle. 
see u later ! kagum dengan keberanian Anita :)

4. Bedah Kampus Goes to Lampung Timur



Thanks a bunch for Deni and friends who help us create an amazing Bedah Kampus roadshow in East Lampung. This momment meke three of us have a strong commitment to run Bedah Kampus professionally. We are the founder !

5. A Long Journey Start From the First Step



At the very first time i come to English Club, i never imagine this day. A day when two English Clubs which improve me a lot got general winner togather. Speechless :) Proud of u !

6. The Momment When Youth Land Born !



Minggu, 22 Juni 2014




Setiap manusia memiliki mimpi, tapi tidak semuanya benar-benar percaya pada apa yang diimpikannya. Setidaknya itulah kesimpulan sementara yang bisa saya simpulkan hari ini setelah 9 bulan perjalanan Bedah Kampus mendampingi adik - adik untuk memetakan hidup mereka. Betapa saya menyadari bahwa anak muda kita sangat membutuhkan pertolongan dari tsunami kegalauan menghadapi masa depan. Karena jika fenomena ini tidak segera diakhiri maka lambat laun generasi optimis akan punah dan bangsa ini kembali mengualang era sejarah masa lampau, kita akan kalah oleh bangsa lain dengan etos kerja yang jauh lebih baik !

Saya tidak ingin ikut-ikutan memberi motivasi dengan mengatakan 'ayolah..... semua itu mungkin.... toh perjalanan ke bulan juga berawal dari mimpi...' karena saya juga menyadari, bagi anak-anak yang tumbuh di lapisan masyarakat bawah, kata-kata itu sangat terdengar teoritis dan klise. Berikut adalah hasil pengamatan saya dari proses mentoring online dengan adik-adik SMA yang hendak ke PT, atau teman-taman yang sudah S1 yang berkeinginan untuk hendak S2 : 

Peta langkah yang mengawang.

Impian adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan khayalan buta. Impian memiliki target yang pasti dan terukur dalam menggapainya, sementara khayalan hanya angan-angan yang mengawang tanpa tindakan yang jelas. Bukan berarti mimpi yang realistis adalah sesuatu yang kecil. Misal bisa saja sekolah ke Harvard bagi seorang anak yang hidup di jalanan adalah hal yang realistis dan menjadi seorang pengusaha nasi goreng bagi lulusan Pasca Sarjana FE UI adalah khayalan. Setinggi apapun mimpi kita, ketika kita mampu memetakannya dengan jelas dan menurunkannya pada serentetan langkah nyata yang akan mengantarkan kita kesana itu realistis, dan sebaliknya, walau hal itu sederhana, jika tidak pernah direncanakan maka semua itu hanya sebuah khayalan besar. 

Pertanyaan yang hadir adalah bagaimana merencanakannya ? Kenali dulu Passion dan Purpose kita. Passion adalah hal yang kita sukai dan membuat kita bersemangat ketika melakukannya, bahkan saking besarnya rasa suka dan energi kita untuk hal tersebut kita rela untuk tidak dibayar. Cara menemukan passion ini juga tidak sederhana, kita bisa kontemplasi terhadap kejadian-kejadian besar dan kecil dimasa lalu dan mengingat bagaimana perasaan kita kala itu. 

Lalu apa itu purpose ? saya sedikit sulit menjelaskan hal abstrak yang juga baru saya pahami ini. Contoh sederhananya seperti ini, banyak orang mengenal komputer dan ahli dalam bidang tersebut, namun mengapa Bill Gates yang berjaya dengan microsoft ? atau Steve Jobs dengan Apple ?. Karena mereka tidak sekedar memandang komputer sebagai komputer, tapi komputer adalah alat elektronik luar biasa yang bisa dilakukan untuk melakukan perubahan besar, menolong banyak orang, memudahkan komunikasi, keamanan, mendorong kemajuan bisnis dan pertumbuhan ekonomi, bahka wajah dunia berubah 180 derajat dari era sebelum ada komputer. Itulah yang saya maksud dengan purpose. Memang sulit menentukannya, karena kita perlu energi yang besar dari dalam diri untuk menemukan hal tersebut. Itulah sebabnya ketika diawal saya menyarankan untuk menemukan passion terlebih dahulu, karena passion akan memudahkan kita untuk menemukan purpose yang realistis. 

Lalu yang terakhir buatlah sebuah kerangka logika yang akan kita ta'ati dengan disiplin kedepannya. Apakah itu kerangka logika ? secara sederhana itu adalah tahapan langkah yang harus kita lakukan untuk mengembangkan passion yang kita miliki menuju perpose yang kita inginkan. Kita bisa menuliskan poin-poin utama, lalu diturunkan mejadi langkah tahunan, bulanan, hingga mingguan, kalau perlu buat juga target harian. Sehingga semuanya jelas dan terukur. Selain itu, keseharian kita juga akan dipadati dengan aktivitas untuk melakukan kerangka logika yang sudah kia buat, hal ini memiliki peranan besar dalam mengurangi kegalauan, karena menurut saya, salah satu penyebab galau adalah kita bingung hendak melangkah kemana. 

Masuk ke dalam komunitas yang benar.

Di dalam islam, kita akan disarankan untuk berkumpul dengan orang-orang sholeh agar keimanan kita senantiasa terjaga. Begitu juga dalam menggapai impian, jika kita ingin menjadi pengusaha yang bergaul dengan pengusaha, jika kita ingin terjun ke dunia pendidikan yang bergabunglah dengan pakar di bidangnya. Hal ini akan menjaga motivasi kita sekaligus menjaga kefokusan langkah dan konsistensi terhadap kerangka logika yang sudah kita buat.

Suatu hal yang aneh menurut saya adalah ketika kita memiliki mimpi yang besar, namun kita bergaul dengan teman-teman yang memandang hidup hanya hari ini saja, yang penting nongkrong di mal, engga jomblo, dan punya BB untuk gaya-gaya'an. Menyesuaikan pergaulan menjadi sangat penting, jika kamu merasa tidak ada komunitas yang kamu inginkan di lingkungan tempat tinggalmu, jangan segan-segan mencari di dunia maya, karena sekarang banyak sekali komunitas yang mampu mengakomodir mimpi-mimpimu. Jangan pernah merasa takut untuk mengirimkan e-mail atau message ke seseorang atau komunitas yang kamu harapkan mampu menjadi lingkaran penjangan semangat juangmu. Takut ditolak ? kalau ditolak berterimakasihlan pada Allah, karen Ia menunjukkan bahwa orang atau komunitas yang ingin kamu jadikan sebagai lingkaran penjaga semangat adalah orang/komunitas yang salah. Saatnya mencari yang lain yang lebih tepat. Karena komunitas ini juga yang akan membukakan pintu link dan akses untuk langkah yang lebih baik dan maksimal kedepannya nanti. 

Budaya apresiasi dari pendidik.

Hal ini juga biasanya menjadi faktor penggugur semangat yang pertama, ketika kita sudah semangat empat lima, melakukan banyak hal, dan bermandikan peluh namun orang-orang disekitar kita seperti guru, orang tua, ataupun keluarga tidak pernah mengapresiasi apa yang kita kerjakan. Yang terjadi mereka justru memajokkan, memandang sebelah mata, memberikan tawaran yang menurut mereka realistis namun sama sekali bukan kita. Contohnya ketika kita merasa gerah dengan sistim pendidikan hari ini dan bercita-cita ingin merintis sekolah dengan kurikulum alternatif, kita memulainya dengan sesuatu yang sederhana dari merintis sebuah rumah belajar mungkin, namun orang tua kita bilang, sudahlah untuk apa repot-repot, kamu masih idealis sekarang... tapi bagaimana nanti... sudahlah PNS saja, dll. 

Bukan masalah yang besar ketika PNS adalah kesadaran dari hati kamu, namun akan sangat bermasalah ketika hal itu menjadi alasan untuk kamu menyerah. Semua orang berani bermimpi, tapi hanya sedikit yang benar-benar yakin dengan apa yang diimpikannya. Pada akhirnya mereka yang jumlahnya sedikit itulah yang berhasil menorehkan tinta sejarah, sebut saja Alva Edison yang udah gagal ratusan kali. Yang kedua ini adalah hidupmu, kamu harus berani mengambil keputusan dan bertanggungjawab atas keputusan tersebut, jika hal itu sudah di lalui, saat itulah kamu layak disebut dewasa.

Pada akhirnya semua keputusan kembali ke kita, ingin menyelesaikan hidup di dunia dengan cerita biasa atau sejarah yang mempesona. Karena sejatinya orang tua, guru, keluarga, teman-teman, bukan tidak mengapresiasi kita, namun mereka hanya tidak ingin melihat kita susah, percayalah ketika kita sudah berhasil mereka juga agar tersenyum dan berkata pada kita "kami bangga !"

Ada Allah yang Maha Segalanya.

Terkadang lelah akan melanda dan membuat apa yang akan kita tuju menjadi semakin jauh. Tapi ingatkah kita, saat baru terlahir dari rahim seorang ibu, apa yang kita bisa ? dan sekarang kamu sudah berdiri kokoh, cerdas, potensial, penuh energi dan bisa melakukan banyak hal. Lalu apalagi selain kita harus tawaqal... bersabar atas apa yang kita perjuangkan, just do it ! jangan bayangkan bagian sulitnya, dan tanpa terasa semua itu akan tercapai.

Apa yang terjadi ketika seorang bayi sudah membayangkan ujian masuk perguruan tinggi negeri, lowongan pekerjaan, tata ekonomi, manajemen bisnis, rumusan masalah suatu penelitian, sudah pasti mereka akan stress, karena berkata lapar saja mereka tidak bisa. Namun Allah membimbing bayi-bayi mungil untuk tawaqal, belajar setahap demi tahap, tengkurap, merangkak, duduk, berdiri, berjalan, berlari, hingga menjadi kamu yang sekarang. Sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan ketika bayi telah terjadi hari ini akibat kebesaran Allah. 

Bagaimana dengan hari ini ketika kamu lelah ? akankah putus asa ? sebaiknya jangan ! karena putus asa adalah milik mereka yang tidak peduli dengan kebesaran Allah, mereka lupa bahwa Allah mampu menciptakanmu dari setetes mani dan sel telur menjadi kamu yang sekarang. Halangan untuk meraih mimpimu jauh lebih tidak mustahil untuk Allah, hanya saja masalah waktu, kapan kamu layak menerima amanah itu, seperti kapan kamu layak bisa berjalan. Karena apapun itu, akan Allah mintai pertanggungjawaban di kemudian hari. Just do it ! do it ! do it ! do the best ! n Allah will cover the rest. Bissmillah. 


Minggu, 23 Maret 2014


Memang benar jika ada yang mengatakan bahwa, apa yang kita katakan hari ini pada akhirnya akan diuji. Seperti diriku yang begitu menyukai rumput, sebuah tanaman kecil yang sering diinjak, seolah tanpa nama, ada dan tiada namun memiliki peranan yang besar. Setidaknya rumput bisa sangat membantu dalam meredam laju respirasi ataupu sangat merusak dan menjadi gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman-tanaman besar. Rumput yang akarnya kemana-manapun akan semakin susah dicabut. 

Dua tahun yang lalu dengan gagahnya saya bilang, akan menjadi rumput yang tulus, akan berfikir seberapa besar kebermanfaatan, bersembunyi dan seolah tak ada untuk menjaga ketulusan itu. Hari ini aku benar-benar diuji. 

Setelah proses pembelajaran kepemimpinan yang saya lalui, dengan imu yang secuil dan sering merasa paling tahu, saya sampai pada proses refleksi bahwa Allah telah melimpahkan rizki pada setiap jengkal bumi-Nya. saya sadar betul bahwa New York memiliki nilai, namun pedalaman Sendang juga memiliki nilai khasnya tersendiri, tentang kesederhanaan, kesabaran, ketabahan, kesyukuran, dll. 

Namun dipungkiri atau tidak, New York dengan nilai'nya sebagai kota megapolitan yang sibuk, penuh tantangan, modern, mampu membranding dirinya dengan lebih baik. Saya khawatir sangat jika pada akhirnya harus terjebak pada arus itu. Saat prinsip itu semakin diuji, mata mulai melirik kemewahan dan ketenaran, dengan dalih akupun ingin hidup dengan nyaman bersama keluarga, bisa berbuat banyak, dll.

Ya Rabb.... ilmu dan skill yang engkau titipkan ini pada akhirnya juga akan engkau mintai pertanggungjawaban, jagalah tekad kuatku agar tak runtuh oleh ranjau-ranjau branding yang tak tau pada titik mana akan melumpuhkanku. Ajari aku agar tetap hidup dalam kesederhanaan dan kesabaran, mampu memandang sebuah nilai dengan lebih tulus, tapa kemasan manis bernama "branding".

  

#sebuah renungan kecil dari lingkaran proses kehidupan, bertemu dan berpisah, mengukir kisah.


Memiliki banyak teman memang sangat menyenangkan, bisa melakukan banyak hal bersama, bertukar pikiran dan hidup menjadi lebih hidup dan ramai. Pada awal memasuki dunia kampus, saya menjumpai sebuah pesan dari seorang teman saya "kamu benar-benar menemukan dunia yang kamu banget ya disana". Mungkin saat itu ia sedang merasa kesepian dan ternyata saya tidak kunjung mengerti bahwa ia sedang kehilangan. 

Dulu di SMA kami memang begitu akrab, kemana-mana bersama, bercengkrama dengan enam orang lainnya, namun pada akhirnya pilihan membuat kami terpisah, ada yang merajut mimpi menjadi ahli pangan, pendidik, budaya, dll. terpisahlah kami sampai pada langkah itu, bukan karena tidak ingin bersama, namun nurani lebih jujur memanggil kemana jiwa harus melangkah.

Lalu bertemu teman-teman baru sesama pecinta bahasa inggris, sebuah komunitas yang tidak diragukan lagi kekeluargannya, lambat laun kami berpisah juga pada apa yang dicintai oleh setiap orang. Lagi-lagi alasan yang menyatukan masih terlalu general "sama-sama suka bahasa inggris", namun setiap orang masih memiliki alasan yang berbeda mengapa harus belajar bahasa inggris. 

Menyatu lagi dengan sebuah keluarga yang sama-sama "rindu perubahan", hidup menjadi seperti utopis dan abadi dalam bingkai kebersamaan, mengukir perubahan hingga tua, berjuang pada jalan yang sama dan mati dalam keadaan yang baik. Namun "rindu perubahan" juga masih general, karena setiap individu punya difinisi perubahannya sendiri, dan memiliki cara yang berbeda. Lambat laun, nurani melangkahkan kaki, pada definisi kita masing-masing.

Dan terus memiliki pergaulan baru dengan persamaan yang semakin mengerucut, namun manusia adalah individu unik, yang memiliki irisan yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Nurani kembali memanggil hati masing-masing.

Hari ini aku melihat teman-teman mulai berkembang, aku, semakin menyukai dunia sosial, pengembangan SDM, pendidikan, dll. Teman-temanpun mulai melangkah dengan panggilan hati masing-masing, ada yang merajut karier internasional, memilih menjadi akdemisi, menjadi politisi di beberapa partai, kerja di perusahaan, menjadi wirausaha, menjadi ibu rumah tangga, melalui FB aku menyaksikan bagaimana mereka berjalan mengikuti hati kecil yang memanggil.

Manusia memang makhluk yang unik, memiliki hati kecil yang berbeda dan tidak bisa tertukar. Bukan tidak memungkinkan mereka yang menjadi ibu rumah tangga meniti karier menjadi diplomat, atau mereka yang menjadi diplomat menjadi wirausaha. Namun dengan uniknya, hati kecil memanggil setiap individu secara perlahan, kemana pada akhirnya semua pilihan bermuara, pada apa yang sejatinya mereka inginkan. 


Selasa, 11 Maret 2014


*edisi : life is hard but no choice to give up

Sudah dua hari ini Ria luar biasa kesal dengan teman satu kontrakannya, setidaknya akibat tiga hal, ya ! tiga hal yang menyebabkan Ria benar-benar kesal dengan Chika. Pertama, Chika datang sebagai penduduk kontrakan di tengah tahun dengan diantar keluarganya, dengan tiba-tiba langsung mensabotase alat masak, waktu memasak tanpa permisi apalagi kompromi. Belum selesai keanehan yang pertama esok harinya Chika memulai usaha piscok dengan memonopoli kompor dan dapur secara habis-habisan hingga penduduk satu kontrakan kelaparan. 

Kedua, alahal kulihal produksi piscok, sampah-sampah kulit pisang dan percikan minyak yang membuat lantai licin benar-benar membuat kesal, bukannya merasa tidak enak dengan yang lain justru keluar kalimat "mb... uang sampah bulan ini mb yang bayar ya ?" apa ??? rasanya aku ingin berteriak, memang kemarin-kemarin siapa yang bayar ??? wajar jika perusahaan besar berusaha sedemikian rupa untuk tidak mengeluarkan CSRnya, usaha kecilpun begini.

Ketiga kalinya ketika kompor rusak dan Chika hanya diam saja, baiklah... dan ternyata setelah dibetulkan, tanpa ba bi bu, bertanya habis berapa dan urunan berapa Chika kembali masak disana. Sudahlah... Tapi ??? mungkin berfikiran bahwa Chika adalah cucu kesayangan dari bapak kos, maka TV di ruang tengah ia bawa masuk ke dalam kamar. Terang kami dongkol setengah mati, apalagi dua hari kemuadian keluar kalimat "mb... listrik bulan ini mb yang bayar ya ????" aku tak tahan lagi ! aku mau pindah !

Siang ini Ria enggan pulang ke kontrakan setelah semua kejadian itu, ia memilih duduk di kampus menunggu jadwal kuliah selanjutnya. Baru beberapa saat ia menghabiskan bekal makannya datanglah seorang bapak tua dengan suara tidak parau tapi tidak juga merdu, tidak lantang namun tidak juga lemah, "es krim.... es krim... " setiap orang yang ada disitu nyaris tidak peduli. Ria berusaha keras memalingkan pendengaran dan penglihatannya. Tidak tega. Namun rasa penasaran kadang hadir dan memerintahkan otot leher untuk menengok, ah... bapak itu sedang duduk bersandar di tiang dengan sepeda tua yang diparkir sembari berteriak "es krim.... es krim...." Rasanya ingin segera beranjak pergi, tapi uang yang dimilikinyapun pas-pasan, belum lagi dia harus berbagi dengan adiknya.

Beberapa waktu kemudian bapak tua itu mengayuh sepeda tuanya, dengan tabah, tanpa kesedihan, ia menjadi simbol optimisme hidup. Ria tersadar, bahwa dari usianya bisa jadi bapak itu hidup di zaman perjuangan kemerdekaan, membela tanah ini dari penjajah, dan kini ketika semua sudah merdeka, tak ada satu anak mudapun yang peduli padanya. Ria nyaris menangis dan mengejar bapak tua yang sudah semakin jauh, tapi apa daya, ego untuk menyimpan uang demi keberlangsungan hidup di kosan lebih kuat ! Mungkin kini Ria sudah menjadi anak muda yang lebih tidak tau diri dari Chika.

Manusia modern hidup dalam keegoisan yang mendalam. Tekanan hidup yang mendalam membuat setiap individu semakin fokus terhadap dirinya sendiri, kejar setoran, pergi pagi pulang petang, setumpuk kerjaan, belum bayaran sekolah, kebutuhan untuk makan, tempat tinggal, hingga tagihan hutang. Setiap individu berjuang mati-matian, kaki di kepala, kepala di kaki entah kelak bagaimana lagi.



As soon as possible Insyaallah :)

Jumat, 28 Februari 2014

Namaku hijab, aku buruh pada tuanku sepanjang waktu, dari pagi hingga pagi lagi. Hampir 24 jam aku menghabiskan waktu dengan tuan-tuanku, menjaganya dari serangan mata – mata kaum Adam yang membara. Terkadang aku mendapat masa libur untuk beberapa saat, menyenangkan memang, ketika kau bisa merebahkan diri sejenak dan berendam bersama dengan busa sabun, setelahnya kita bebas berjemur dibawah sinar matahari seharian, dihangatkan oleh setrikaan dan disemprot parfum agar tidak digigit ngengat.
Aku menyayangi tuanku, karena ia menghargai keberadaanku, membuatku menjadi bernilai, menjadi prajurit penjaga Al-Maidah 54. Tak jarang ketika aku menemani tuanku ke kampus atau ruang kerja aku bertemu dengan buruh-buruh serupa denganku, mereka memiliki corak yang lebih ramai dan warna yang mencolok. Aku heran kadang, apa yang mereka lakukan, alih-alih melindungi, tapi buruh ini justru semakin menarik perhatian lelaki. Sekilas aku melirik pada tuan mereka, satu stel pembungkus badan yang ketat dan menunjukkan eksotisme lekukan tubuh perempuan. Rambut digelung keatas bak punuk unta yang bergoyang-goyang, seorang buruh memang perlu memilih tuan.
Malam itu tuanku belum juga pulang. Sang mentari telah kembali ke peraduan, aku tak lagi bermandi sinarnya namun menggigil melawan suhu malam yang mencekam. Kemana tuanku ? apakah ia sibuk dikantornya ? atau ada kuliah malam ? Tiba-tiba seorang bapak berpakian kumal menghampiriku, merenggutku dari tiang jemuran, aku ingin menjerit dan meronta, tapi tangannya mengenggam erat tak terelakkan. Aku pasrah.
Dibawanya aku ke gubuk tua di pinggir rel kereta. Sejenak sesungging senyum mengembang dari sudut bibir “Ayah membawakan jilbab untukmu !”. Sesosok anak usia belasan, melompat kegirangan ! diraihnya diriku, dibawanya kedepan kaca buram dan dikenakannya aku dengan berbagai gaya. Sejak hari itu, aku memiliki tuan yang baru.
Tuan baruku begitu sayang padaku, tidak seperti sebelumnya, aku jarang sekali mendapat libur, hanya ada tiga hijab yang buruh padanya, dan yang satupun sudah usang. Setiap aku selesai bermandi busa sabun dan berjemur, langsung esoknya aku kembali bekerja padanya. Taka da lagi parfum, hanya seonggok kapur barus putih yang tak sempat aku berkenalan dengannya.  Siang ini aku lelah sekali menghalau sinar matahari, aku ingin segera sampai di rumah dan berendam di ember busa sabun, tapi mataku tertuju pada satu sosok semampai, oh…. Aku ingin berlari dan memeluknya, aku merindukannya… tuanku… tuanku yang dulu.. tapi, tunggu dulu… kemana perginya gamis yang selalu menjadi patner kerjaku ? sudah pensiunkah dia ? aku tak habis pikir, karena ia kini mengenakan budak-budak barunya… blue jins dan blouse ketat, tiba-tiba kau merasa usang dan tidak percaya diri.

Aku ingin menjerit dalam lautan kerinduan, aku merindukan tuan lamaku, jauh sejak aku diangkut secara paksa dari tiang jemuran. Tapi kini aku bekerja dengan tuan baruku dengan permulaan yang berkecamuk. Ah, aku tak tau lagi, aku hanya berbisik, Hijab’pun bertuan… 


Sabtu, 28 Desember 2013



Karena selama hidup kita belajar, maka tak ada alasan untuk kita merasa tertinggal ataupun terlanjur salah. Kelemahan terbesar kebanyakan orang adalah ketika ia jatuh maka ia akan merasa bahwa itu adalah akhir dari segalanya. Mereka lupa bahwa kehidupan ini dinamis, bukan mereka yang diatas yang pada akhirnya mendapat hadiah berupa garis finish yang indah, tapi sosok-sosok pembelajarlah yang tidak pernah tenggelam tergilas oleh zaman.

Melalui tahun ini yang nyaris dipenuhi oleh kesalahan dari hari ke hari, mulai dari konflik di Speak Up, BLCN, project sampah, kuliah, gerakan, dan sederet kisah-kisah kelam yang terus merongrong integritas. Rasa-rasanya apa yang dilakukan selalu berakhir dengan konflik dan kesan yang buruk. Perlahan tapi pasti waktu akan memberikan jawaban bagi insan yang mau berbenah untuk lebih baik lagi.

Dulu, pertama kali masuk SMP, sama sekali tak bisa bahasa inggris, berkeringat ketika guru masuk, dan langsung ambil ancang-ancang untuk mencontek. Dulu ketika SMA ingin sekali disebut debater, dan sekali lagi mantra ini berhasil ‘never say never’, di awal kelas tiga saya menjuarai turnamen debat pertama saya. Hal yang awalnya terlihat mustahil, tak tau satu kosa kata bahasa inggrispun pada akhirnya bisa membuahkan hasil yang manis ketika kita sabar melewati prosesnya.

Dikala kecil, menyenangkan rasanya mendengar cerita saudara yang kesana kemari, punya program ini dan itu. Saat itu rasanya mustahil bagi saya untuk memiliki peluang yang sama, teman yang terbatas, akses yang sulit, hingga pada akhirnya perlahan tapi pasti dari satu fase organisasi satu ke yang lainnya, perlahan semua itu terwujud.

Tak ada yang tidak mungkin ketika kita sabar untuk berproses, tak ada yang tidak bisa dibuktikan ketika kita berusaha sekuat tenaga. Dan sama seperti hari ini, tak menyangka akan mendapatkan kenangan manis di penghujung tahun, mendapat keluarga baru yang membuat segalanya menjadi mungkin. Sebuah ‘dream team’ yang tidak pernah saya ekspektasikan untuk dijumpai lagi dimasa kampus ini. Rasanya segala kesalahan-kesalahan yang lewat terlalu sulit membuka pintu perbaikan.

Ketika detik terus berdetak, maka waktu menawarkan kesempatan manis bernama pembelajaran, memetik hikmah dalam dimensi kesalahan atapun keberhasilan. Kini, semua lebih dari sebuah tahap yang saya ekspektasikan, kembali merangkul rasa percaya diri, mendapatkan keberanian, berkumpul bersama teman-teman yang mampu menjadi lilin penerang menuju mimpi yang hampir saja pudar. Project-project gerakan yang pada akhirnya ‘I make it happen !’ this is not only a fairy tale.

Pembelajaran tidak berhenti disini, luasnya dunia menanti untuk diarungi, satu mimpi selanjutnya, ‘never say never’, reach it ! try it ! Sebuah bingkisan manis diujung 2013. Rasa syukur kepada Zat Yang Maha Agung atas berlimpahnya rizki yang ia anugerahkan, terimakasih untuk kawan-kawan yang terus menjadi lilin-lilin kecil dalam hampanya kegelapan. Togather we learn, togather we grow, to reach a better place in the future.