Rabu, 20 Maret 2013


We never know the secret of future, only God who create the secret who know it. Begitu juga dengan saya, yang tidak pernah membayangkan akan tersangkut di tempat ini, dengan kehidupan yang berubah 180 derajat. Dan saya yakin bahwa setiap individu pernah mengalami gelombang kehidupannya yang naik dan turun, dan satu-satunya yang mampu menakar kualitas diri kita adalah bagaimana kita menyikapi keduanya dengan bijak dan sadar bahwa semua ini adalah dunia fana tempat Tuhan menguji kualitas diri.

Pada masa kecil saya menjalani hari twenty four per seven dibawah settingan kedua orang tua saya, semua tergantung pada apa yang mereka persiapkan untuk saya, kapan dan apa yang harus saya pelajari, apa yang harus saya baca, apa yang harus saya pakai, hingga awal kelas satu SD saya sudah wisuda Taman Baca Alqur’an disaat teman-teman yang lain baru memulai. Diusia saya yang belum genap enam tahun saya ditawari pemotongan kelas, langsung ke kelas tiga, dari segi pemikiran saya juga sudah memahami konsep dasar pemikiran islam juga konsep-konsep dasar di alam. Dari segi kepemimpinan, saya sudah menjadi pemimpin di suatu organisasi dalam usia yang relatif belia untuk ukuran organisasi antar kelas, bahkan saya pernah terancam memenangkan beberapa cabang olimpiade seandainya saja saya boleh mengikuti lebih dari satu cabang.

Saya lahir dan besar di sebuah desa, namun dalam angan selalu membayangkan kalau suatu hari nanti saya akan menjadi salah satu dari anak-anak terpilih yang mampu merekayasa dunia, menata tatanan masyarakat dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masa depan anak-anak.

Kelas satu SMP saya tinggal sendiri dan dipisah dari orang tua, disini saya mulai meninggalkan bentuk-bentuk kedisiplinan yang diajarkan oleh orang tua, prestasi saya masih lumayan, namun perlahan dan pasti menurun, hingga paling terasa ketika saya memasuki perguruan tinggi.

Pola kehidupan saya berubah seratus delapan puluh derajat, saya yang dulu sering terancam menang, sekarang terancam DO. Akhirnya saya mengerti rasanya berada di bawah, menjadi siswa terbodoh, dipandang sebelah mata, mendapat kelompok sisa ketika harus mengerjakan tugas kelompok, perlahan rasa percaya diri sayapun berkurang. Saya yang dulu lihai sekali untuk “sell my self” sekarang lebih banyak diam, walau jelas disekitar saya ada yang mencari skill yang saya bisa.

Dalam kontemplasi saya diantara dua titik itu, saya menemukan dua buah cerita sederhana pada masing-masing titik ekstrim yang pernah saya alami. Dulu kala hidup saya seperti bintang yang begitu cerah, saya pernah mengikuti lomba puisi, dan itu pertama kalinya saya mendapat juara harapan dan keluar dari 3 besar pemenang, saya menangis sepanjang hari dan ayah saya hanya berkata “biarkan saja ia menangis, ia harus belajar untuk kalah”.

Lain cerita dengan ketika saya berada di titik ekstrim yang sebaliknya, saya belajar bahasa inggris dari nol, tertatih-tatih, melawan rasa bosan, hingga berkecibu dengan rasa malu saya mengikuti lomba debat bahasa inggris, beberapa kali saya bertanding dan tidak pernah berhasil, baru setelah pertandingan saya yang keberapa belas saya menang, karena terbiasa kalah sayapun lupa bagaimana rasanya menjadi pemenang.

Dulu saya belajar menjadi pemenang tapi tidak pernah belajar untuk kalah, dulu saya belajar bagaimana ada di posisi puncak yang senantiasa di elu-elukan tapi tidak pernah belajar bagaimana menjadi orang paling belakang yang keberadaannya antara ada dan tiada, semua itu, tanpa terkecuali ketika kita ingin menjadi lebih bijak dan dewasa dalam kehidupan harus dipelajari dengan baik dan tanpa terkecuali.

Kembali saya teringat pada ibu saya yang tidak pernanh mengizinkan saya untuk diakselerasi, karena ia mengatakan bahwa kedewasaan perlu berjalan dengan normal tanpa manipulasi apapun, ditempuh dengan kesabaran untuk mendapat suatu proses yang sempurna. Naik turun kehidupan, menang-kalah, atas-bawah, itu adalah rahasia masa depan, saya tidak pernah tau apa yang akan terjadi besok, namun setiap kita tau betul bahwa hari ini adalah ajang kerja keras dan ladang yang menanti untuk digarap dengan sebaik-baiknya, dengan penuh kediplisinan.

Selasa, 19 Maret 2013


Ide dari penulisan judul ini berawal setelah saya ujian di salah satu mata kuliah, make sure saya yakin dengan penguasaan konsep saya, bahkan saya berani turun lapang untuk menunjukkan ketrampilan saya. Namun saya merasa begitu sesak ketika di dalam ujiannya saya dihadapkan pada tipe soal dengan pilihan jawaban yang tertutup. Hal ini akan berbeda ketika saya mengerjakan sola essay, karena bagi saya tidak ada kebenaran mutlak dan kesalahan mutlak bagi pelajaran yang saya pelajari di kelas. Seandainya saya dihadapkan dengan esaay, saya masih bisa bermain dengan kreatifitas dan analysis saya. Namun, dengan pilihan ganda saya dihadapakan pada satu pilihan pasti dan empat pengacau.

Pendidikan dan Kreatifitas

Kelak, ketika saya sudah selesai dengan diri saya, sungguh ingin sekali saya membangun sebuah taman belajar yang mengembangkan kreatifitas. Karena manusia bukanlah robot yang memerlukan charger pengetahuan, namun pemilik akal yang perlu dikembangkan daya nalar, kritis, dan kreatifitasnya. Sehingga kelak ketika ia menjadi guru, ia menjadi guru yang kreatif dengan ide risetnya, pengembangan metode barunya, dan guru yang menghargai proses belajar siswa. Bukan guru yang terpaku dengan LKS dan buku paket kala belajar, bukan guru yang menjadikan UN tujuan akhir.

Begitu juga cerita ketika ia menjadi dokter, ia akan menjadi dokter dengan terobosan-terobosan baru, bahkan ia mampu mengantarkan kita pada tindakan preventif, pengolahan lingkungan sehat, seorang dokter yang mengajarkan kepada masyarakat bagaimana menjaga kesehatan, bukan dokter yang terpaku dengan jarum suntik, obat, dan infus.

Ada begitu banyak pekerjaan lain di dunia ini yang membutuhkan inovasi, kreatifitas, dan kekritisan. Namun untuk memiliki jiwa yang dinamis, tidak bisa dengan ujug-ujug datang begitu saja, perlu ada latihan semenjak dini, dan inilah yang tidak saya dapatkan dari multiple choice. Multiple choice memberi kita pilihan tertutup, kaku, dan sudah pasti itu, namun essay akan melatih kedinamisan kita dengan lebih indah, Lebih baik lagi, jika dosen atau guru memberi evalusi berupa studi kasus, sehingga bisa mencakup tiga aspek, afektif, kognitif, dan psikomotor.

Menghafal dan Memahami

Pilihan tertutup pada pilihan ganda, cenderung mengarahkan peserta didik untuk menghafal mata pelajaran, terutama untuk mata pelajaran seperti biology, sejarah, geografi, dll. Hal ini membuat siswa hafal diluar kepala dengan teorinya, namun kurang faham dalam pengaplikasian dari ilmu yang mereka pelajari.

Mungkin hipotesis sisngkat saya akan bermuara pada banyaknya pengangguran di negeri ini. Karena seharusnya pada tingkat pendidikan yang mereka miliki, mereka bisa melakukan sesuatu. Namun nyatanya mereka menunggu lowongan pekerjaan. Yang menjadi pertanyaan adalah ? kemana ilmu yang telah mereka pelajari ? mungkin disimpan rapi dalam otak.

Cap Cip Cup Kembang Kuncup

Fenomena ini merupakan fenomena unik dari pelajar di Indonesia, ketika mendapat soal pilihan ganda, banyak diantara siswa hanya cap cip cup kembang kuncup alias menebak jawabannya. Ini jauh lebih parah, sudah dihadapkan pada pilihan tertutup yang membatasi kreatifitas. E... ini justru btidak berusaha sama sekali dan bermodal cap-cip cup selesai mengerjakan ujian.

Jika efek dari pembatasan kretifitas saja berpengaruh besar terhadap proses pembangunan suatu bangsa, bagaimana dengan menghadirkan proses yang membuat siswa selalu berharap pada durian runtuh. Terang ini akan membentuk mental yang enggan menjemput bola.

Studi Kasus Bisa Menjadi Pilihan

Pada akhirnya semua pilihan kembali pada pendidik yang membuat soal itu sendiri. Mengoreksi soal pilihan ganda memang cenderung cepat, proses penilainnyapun tidak rumit, namun ini sebanding dengan mental yang akan dibentuk melaluinya.

Saya berharap, suatu hari nanti soal pilihan ganda ini mampu diganti dengan alternatif lain, seperti uraian singkat dan studi kasus. Dalam hal ini, saya sepakat jika studi kasus bisa menjadi pilihan. Karena studi kasus benar-benar menguji penguasaan konsep, dan ketrampilan dalam mengaplikasikan. Studi kasus juga mendekatkan kita dengan realitas dunia nyata yang sesungguhnya, sehingga kelak, ketika ia tamat sekolah, ia sudah memiliki bekal pengetahuan untuk menunjang hidupnya di dunia yang hingar bingar ini.


Mungkin ada kalanya diantara kita berfikir bahwa sebenarnya apa yang menjadi benar dan salah di dunia sekarang ini adalah konsensus mayoritas manusia menganggapnya apa. Contoh saja, seorang pelajar yang tidak lulus ujian nasional karena tidak mengikuti prosedur contek mencotek di sekolahnya, sudah bisa dipastikan teman-teman dan guru-gurunya akan menyalahkan tindakan bodohnya itu dan berdalih “ini kan demi kebaikanmu juga, kalau sudah begini bagaimana ? Bukankah mengulang sekolah satu tahun lagi lebih buruk? Belum lagi citra sekolah dan peluang kepercayaan perguruan tinggi ke sekolah”. Pengalaman di atas pernah terjadi pada salah seorang teman dekat saya, dan sebenarnya saya bingung, siapa yang sebenarnya salah ? karena menurut saya teman saya itu tidak salah sama sekali. Ia hanya mengaplikasikan sebuah pelajaran yang ia dapat dari TK, yaitu kejujuran dan tanggung jawab, ia jujur akan siapa dirinya dan bertanggung jawab atas nilai dirinya sendiri. Namun karena apa yang ia lakukan itu tidak umum di logika manusia yang menganggap tidak lulus UN itu adalah aib, maka orang-orang memandangnya salah.

Titik Ekstrim di Dalam Statistik Dianggap Tidak Ada
 

Hari ini saya mendapat sebuah pelajaran baru dari mata kuliah research, dan ada hal yang cukup menggelitik bagi saya untuk menuliskan ini. Kurva di dalam data statistik berpendapat bahwa jumlah orang bodoh di dunia ini ada 3 % , rata-rata 30 %, dan cerdas 3 %, penghubung diantara ketiganya sekitar 20%. Satu hal yang unik, statistik tidak menerima kondisi ekstrim yang langka dan hanya terjadi pada segelintir orang. Mari saya sederhanakan penjelasannya. Misal saja dalam sebuah ujian matematika, yang mendapat nilai 4 sebanyak 10 orang dan mendapat nilai 8 sebanyak 7 orang, sementara nilai rata-rata ujian tersebut adalah 6 dan 60% siswa berada pada titik rata-rata ini maka kurva berupa gunung dengan puncak di tengah mampu menggambarkannya, namun jika ternyata ada satu orang anak yang mendapat 100, maka satu anak itu tidak akan digambarkan di dalam kurva dan diperhitungkan oleh analisis statistik karena dianggap sebagai sebuah fenomena ekstrim dan langka terjadi.

Mendengar penjelasan dari dosen saya, ada dua nama yang melintas, yaitu Nabi Muhammad dan Einstein. Mari kita bahas Einstein terlebih dahulu, karena ia lebih mudah diterima logika manusia.

Ada dua jenis ekstrimis di dunia ini yang tidak mampu diterima oleh statistik, yaitu orang yang benar-benar idiot dan orang yang benar-benar jenius. Orang-orang yang berada dalam rentang kurva statistik cenderung sombong dang mengangap dua golongan ekstrim ini bodoh. Itulah yang berlaku pada Einstein, gurunya menganggap pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan itu tidak lebih dari pertanyaan idiot. Hingga akhirnya einstein menjadi sosok fenomenal pada akhirnya. Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak memberikan justifikasi bagi orang ekstrim begitu saja, karena logika kita yang tidak sampai padanya, jadi tidak sepatutnya kita mengukur sesuatu tanpa alat ukur.

Sosok kedua adalah Nabi Muhammad, diaman pada awal ia menyampaikan ajaran islam dianggap gila, anda tau mengapa ? karena Islam adalah ajaran untuk sebuah sisitim kehidupan yang terlampau sempurna untuk diterima logika manusia. Produk dari Sang Maha yang beyond of the logic. Jika anda penasaran, bisa mempelajarinya dan mohon ma’af saya tidak bisa membahas secara detail karena tidak akan cukup untuk dituliskan disini.

Demokrasi : Suara Rakyat Suara Tuhan

Mengingat ajaran Mostesque yaitu dari, oleh, dan untuk rakyat membuat saya berfokus pada sistim pemerintahan yang sedang in di Indonesia dan Amerika yang hari ini cukup menjadi kiblat peradaban dunia. Spirit di balik demokrasi adalah “rakyat” sekali lagi “rakyat”, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Itulah mengapa dalam mekanisme pengambilan keputusannya dilakukan voting, dan suara mayoritas akan menang.

Pelaku voting adalah rakyat itu sendiri, kumpulan manusia dimuka bumi yang sebelumnya kita analisis menggunakan kurva statistik. Hasil dari voting tersebut adalah suara mayoritas, sehingga suara mayoritas menjadi suara kebenaran, suara mayoraitas menjadi suara Tuhan, dan singkat cerita suara rakyat suara Tuhan. Yang menjadi masalah adalah di dalam kurva statistik, kemungkinan yang menduduki puncak kurva/populasi terbanyak, adalah sesuatu yang bisa diterima oleh akal manusia yang terbatas, sesuatu yang diterima dan disepakati mayoritas orang, bukan sesuatu yang berlandaskan pada kebenaran haqiqi. Apalagi bagi mereka yang menganut ajaran keTuhanan, akan cenderung sulit diterima kebenarannya, karena logika keTuhanan itu jauh diatas logika manusia.




Kebenaran Alqur’an Yang Haqiqi

Hal ini menarik, ketika saya menulis terkait Al-qur’an, karena kita akan kembali pada sosok bernama Muhammad SAW yang menerima setiap katanya dari Allah SWT. Awal perjalanan dakwah sang Nabi kerap dibilang sebagai orang gila, bagaimana tidak, mari kita bahas sebuah contoh yang sederhana, pada masa itu ilmu pengetahuan mengatakan bahwa bumi ini datar dan langit adalah atap yang disangga oleh gunung-gunung di ujung batas dunia. Namun hari itu Sang Nabi berkata “langit dan bumi dahulunya adalah sesuatu yang padu, kemudian Allah memisahkannya dalam tujuh masa”. Bagaimana Sang Nabi tidak dianggap gila, karena hari itu ilmu pengetahuan manusia belum ada pada titik tersebut. Baru beberapa tahun setelahnya Galileo-Galilei menemukan teleskop dan mengatakan bahwa bumi bulat, dan terus berkembang hingga dicetuskan teori big bang.

Fenomena ini mengajarkan kita dua hal, 1. Muhammad SAW adalah sesosok yang ekstrim dan berada diluar kurva statistik, dan 2. Apa yang disamapaikannya beberapa tahun silam, yang membuatnya dijuluki gila, bukanlah sesuatu yang salah karena pada akhirnya terbukti kebenarannya. Asumsi bahwa langit adalah atap yang disangga oleh gunungpun patah dan menjadi salah pada masa sekarang.

Jika pada awal paragraf saya berfikir bahwa kebenaran itu adalah suatu konsensus, pada akhir paragraf ini saya berkesimpulan bahwa kebenaran itu adalah suatu yang mutlak, dan konsensus bisa berubah. Saya juga menyadari bahwa ada pesan-pesan Tuhan di dalam Al-qur’an yang mampu menjadi alat ukur benar dan salah kita, menjadi petunjuk bagi sekalian alam. Memang ia sulit dipahami, namun akan menjadi mukjizat bagi ia yang berfikir. Wa’allahualam bi shawab.

Senin, 04 Maret 2013




After rainfall coming before morning
Looking sunshine inside of your charming
I’m asking my heart and please tell me why
When i see your face and i feel too shy

I ask to the night what are you doing
But the bright moon reject to answering
Waiting your coming in front of school’s race
I madly want to see your shining face

The wind whispering ridicolous thing
Oh God please tell me how to stop thinking
Stop to drinking blood like a vampire
I only can be your secret admire


*this poetry created by Elsye n me in poetry class, the title, how we create the meaning, and the tecnic to write guided by mam Ros, but the dictions edited by Mr. Rudi. I don’t know why i am falling in love with those twelve sentences.

Sabtu, 23 Februari 2013


Dunia tercipta lengkap dengan negasinya, ada hidup ada mati, ada merah ada putih, ada kanan ada kiri, ada sosialisme ada kapitalisme, ada hitam ada putih, ada timur ada barat. Banyak hal yang berlawanan, saking banyaknya semua kata itu dihimpun dalam satu kamus antonim.

Mungkin aku, kamu, kita, kami, kalian, atau mereka juga terjebak dalam negasi masing-masing. Satu hal yang lebih dari sekedar perbedaan, satu hal yang ditakdirkan bersebrangan, membutuhkan diplomat ulung untuk mencapai suatu nota kesepahaman. Karena sepertinya moderat sejati itu tidak pernah ada. Sama seperti hak asasi manusia yang klise. Aku percaya tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas, walau itu dibingkai dalam piagam hak asasi sekalipun, karena kebebasannmu bisa jadi menganggu kebebasanku.

Dunia diciptakan lengkap dengan porsi dan jua aturannya, Dialah yang menciptakan dunia yang mampu menciptakan aturan sejati. Dialah Maha Adil yang tak diragukan lagi.

Sosok kecil itu bernama manusia, luasnya dunia menyediakan ekosistem yang berbeda antara yang satu dan yang lainnya.  Sosok pemikir itu bernama manusia, ia terus bergerak menemukan makna diri, menciptakan tata kehidupan yang terbaik, bereksperimen dengan apa yang disebut pemikiran. Dari hari ke hari, hingga abad ke abad dunia terus berputar dengan sejarahnya, sebagai akibat dari pemikiran kreatif insan manusia.

Dalam petualangan menciptakan tatanan dunia itu mereka terus mencari, sebagian sampai pada Yang hakiki dan sebagian lagi terhenti. Pada suatu hari aku berkesimpulan, bukankah lebih indah ketika kita mempelajari pesan langit yang dikirim untuk makhluk bumi ?

Kesimpulan kecil bernama “tau diri” mengajakku berfikir bijak. Mengajarkanku menjadi diri sendiri yang terbebas dari nafsu ketenaran, kekuasaan, dan cinta insan manusia. Kesimpulan kecil bernama “tau diri” menjadi benteng atas rasa lemah dan lelah. Kesimpulan kecil bernama “tau diri” membuatku mengenal siapa diri ini dan siapa Yang Menciptakan diri ini. Karena padaNyalah aku berserah untuk hidup dan matiku.

Jumat, 22 Februari 2013



Pada tahun 2013 ini saya hanya memiliki satu resolusi, yaitu mengembangkan komunitas belajar “Speak Up” menjadi 25 titik. Jauh sebelum itu, saya menganggap ini seperti project sosial, dan bukan sebuah kursus bahasa inggris yang profit oriented. Just teaching for a better living ! Help them to find the key how to go to the global world. Entah mengapa atau apa yang terjadi, pergeseran itu terjadi secara perlahan, kami mengelolanya seperti sebuah bisnis, sampai akhirnya ada yang mengajak bekerjasama dan betapa bahagianya saya, karena kestrategisan lokasi baru tersebut.

Hari demi hari saya disibukkan oleh hal lain, karena merasa cabang baru sudah memiliki penanggungjawabnya sendiri saya pun tidak campur tangan lagi. Hingga ada suatu kejadian yang membuat saya harus take over dan ketika saya mencoba take over dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna, pihak mitra menggagalkan kerjasama.

Saya sempat terdiam sejenak ketika menerima kabar tersebut. Ada apa ini ? Saya yang biasa akan semakin keras ketika disepelekan berbisik, “mungkin beliau tidak akan pernah melihat saya lagi, kecuali suatu hari nanti di TV”. Namun beberapa menit setelah perenungan, saya menjadi teringat bagaimana sejarahnya dulu semua ini terbentuk, dari obrolan tentang kegiatan aktivisme, kemudian diajak menghidupkan aktivitas di komplek dan perlahan berubah menjadi “speak up” dengan konsep kursus bahasa inggris.

Ada sesuatu yang hilang... kemana konsep “teaching for a better living” saya ? Astaghfirullah... bahkan saya sempat menyesal putusnya kerjasama ini karena terancam hilangnya pundi-pundi pemasukan. Padahal seharusnya ketika saya masih berpijak pada konsep awal, semua itu “nothing to lose” bagi diri saya pribadi, hanya saya harus mengeveluasi dan memperbaikinya untuk pergerakan ke depan.
 

Tentang Belajar Menjadi Pemimpin Yang Sesungguhnya

Dulu ketika masih duduk di bangku SMA, saya tergabung dalam beberapa organisasi. Berbeda dengan SMA lain, guru kami memberikan kebebasan full untuk bertindak, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyelesaikan masalah. Jatuh bangunnya sungguh terasa, namun itu menjadi tempaan tersendiri yang menjadikan kita pribadi yang kuat dan siap bertarung di dunia yang terjal.

Setibanya di kampus saya melanjutkan karier organisasi saya, tahun-tahun pertama, all is well karena saya masih masuk kedalam organisasi hobi. Kemudian saya mulai tertantang untuk mencicipi organisasi lain. Pada suatu hari saya sadar ada sebuah invisible hand yang mengatur saya. Terkadang kami yang ada di organisasi ini memang tampil sebagai seorang pemimpin, namun bukan “the real leader” karena sesungguhnya “the real leader” adalah seseorang dibelakangnya. Dari sini saya lupa rasanya spekulasi untuk mengambil keputusan penuh dengan resiko penuh dan tanggung jawab penuh. Perlahan saya rindu dengan pelajaran masa-masa SMA yang lebih berjiwa muda dan menantang, dengan segudang hikmah yang menjadikan kita sosok yang matang.

I Ever Face The Worse !

Sedih memang melihat kondisi yang seperti ini. Ditinggalkan mitra, beberapa pengurus, itu menjadi teguran tersendiri untuk saya dan sayalah yang harus bertanggung jawab penuh atasnya tanpa menuntut siapapun. Ada sebab ada akibat.

Dahulu kala, ketika saya memimpin sebuah English Club saya pernah mengalami kondisi yang lebih buruk dari ini. Pihak sekolah yang kurang apresiasi, pendanaan, kapasitas anggota, hingga kurangnya mentor. Satu-satunya yang kami punya adalah pembina yang baik hati dengan dedikasinya yang penuh. Namun tak disangka, beliau pindah tugas dan betapa bercucurannya air mata saya kala itu. Kala itu beberapa tim kerja saya mengatakan “EC berakhir tanpa beliau”. Namun dengan berbekal keyakinan nothing to lose “toh ketika saya berhasil itu menjadi sejarah baik saya di SMA, dan ketika saya gagal, itu hanya masa lalu dimana saya akan segera meninggalkan SMA ini”. Berpijak pada prinsip itu saya berkata pada teman-teman “EC masih punya kita dan tidak akan berkahir di tangan kita”.

Ketika cobaan datang, itulah saat Allah ingin meningkatkan derajat kita. Tahun itu kami berhasil meletakkan pondasy untuk event bahasa inggris di kabupaten yang semakin besar saja di tahun-tahun depan dan Insyaallah masih eksis sampai sekarang, bahkan menjadi icon SMA dengan jangkauan yang lebih luas. Dulu, kami hanya menjadi EC pelengkap di Lampung, namun dengan kerja keras kami berhasil menjadi EC nomer satu dengan menyabet beberapa gelar juara umum.

Yahhh... i ever face the worse ! so, hari ini, saya bisa membangun speak up dengan ide-ide gila saya, toh apapun yang terjadi nanti, sukses, hancur berantakan atau semakin besar, nothing to lose untuk saya. Bissmillah.. You ever face the worse baby !

Rabu, 13 Februari 2013



Hoi... valentine is back ? serius ? demi apa ? demi hari kasih sayang doooooonnnggg !!!! Trus diluar 14 Februari bukan hari kasih sayang gituu ? Sungguh kalau aku boleh memilih aku tak mau 365 hari diganti hanya dalam satu hari, karena aku memiliki persediaan cinta yang begitu melimpah kalau hanya dihabiskan dalam satu hari. Aku memiliki persediaan untuk sepanjang tahun, bahkan sampai tahun depan dan depannya lagi.

Surely ! logika dan rasaku tak mampu menjangkaunya. Hari kasih sayang ? tapi masih banyak anak-anak tanpa harapan masa depan, ibu-ibu yang pergi mengais nasi ke negeri tetangga, mimpi mereka dibatasi, bahkan hidup disibukkan oleh urusan bertahan, jangankan merasakan perayaan hari kasih sayang, bermimpipun mereka dilarang.

Hari kasih sayang ? Rasa sayang mana yang dirayakan ? mari kita cari ada berapakah rumah sakit yang siap menerima pasien tanpa bayaran ? Apakah rasa kasih sayang itu hanya sebatas selebrasi. Kemana batinmu pergi ketika kau harus menyaksikan mereka kehilangan hak pengobatan, bahkan ketika mereka menahan sesak berjuang antara hidup dan mati.

Coklat ! Mawar ! Boneka ! Jalan-jalan ! mari kita jumlahkan pengeluaran yang dikeluarkan untuk selebrasi hari ini, cukup untuk membangun lapak-lapak baru bagi pedagang kaki lima yang kemarin digusur dan harus mendengar anak-istri mereka menangis dirumah. Tidakkah indah jika kita bersama membuat mereka tertata rapi, memberi sedikit harapan untuk sekedar memberi jaminan anti tangis kelaparan untuk anak istrinya.

Hari ini aku tau apa itu apatis, bodohnya aku dulu bahwa apatis adalah orang-orang sepertiku yang tak suka aksi di jalanan. Hari ini tertohok aku melihat sebuah selebrasi kosong tanpa makna hasil dari permainan issue pemilik industri cinta. Seapatis apa dirimu sehingga rela cintamu dikomoditaskan ?

Begitu sempit kasih sayang didefinisikan dalam bingkai hari valentine, begitu murah engkau mengekspresikannya, begitu singkat waktumu menikmatinya. Padahal Ia, Sang Maha Cinta memberimu cinta yang lebih agung, yang jauh lebih mewah dari selebrasi yang hanya diramaikan dengan boneka, bunga, coklat, dan beberapa patah rayuan. Padahal ia Sang Maha Cinta memberimu hari yang penuh dengan cinta sampai kiamat nanti.

Tidakkah merasa rugi atas selebrasi kosong yang hanya sehari. Tidakkah engkau kesal kepada pemilik industri yang hanya peduli dengan keuntungan materi. Sudahlah ! tak perlu berdebat, karena cinta yang agung tak perlu diperdebatkan lagi akan eksistensinya, forever and ever.......!

Biarkan saja,
Alam meramalkan cuaca !
Siapa ?
Ya !
Aku tau manusia melakukannya.

Terserah,
Apa definisiku,
Akupun tak punya definisi,
Tak berniat,
Jua tak layak mendefinisikan,

Praduga ???
Biarkan waktu membawa pada dimensi....
Oh, tidak
Belum tentu sampai sana

Lalu ?
Ya sudah !
Aku jengah.
Hmmmm
Enggan.
Negeri ini bagaikan tetesan keindahan surga yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada penduduk bumi. Dari Sabang hingga Merauke dengan bentang alam yang tiada duanya, ribuan gugus pulau, bermandikan cahaya matahari sepanjang tahun. Dibalik tanah dan airnya tersimpan kekayaan Tuhan yang siap menunjang proses kehidupan bagi umat manusia di atasnya. Sungguh miris, jika Indonesia dengan emas, timah, dan minyak bumi yang melimpah masih menyisakan anak-anak putus sekolah. Sungguh ironi, di negeri subur permai ini masih mengisahkan cerita kelaparan.

Sementara disana, dari negeri paman sam, atau tanah Jerman, kisah kesuksesan putra bangsa tak dapat dimunafikkan. Lagi-lagi Tuhan melengkapi anugerah surganya, dengan menghadirkan putra-putri bangsa yang cerdas ceria. Namun disayangkan, ibarat jutaan anugerah itu adalah lidi, hingga saat ini belum ada sosok pemimpin yang mampu menyatukannya menjadi sebuah sapu yang berguna.

Sebagai generasi muda yang tumbuh diaatas tanah ini, dan minum air dari bumi pertiwi. Saya merasa haru, melihat tingkah laku para pemimpin negeri. Gonjang-ganjing perebutan kursi 2014 lebih menarik ketimbang duduk satu meja memusyawarahkan nasib bersama. Satu persatu partai politik lenyap dari hingar bingar idealisme, keterlibatan bendahara umum partai demokrat dalam kasus hambalang, politisi PAN yang mendekati lingkaran obat terlarang, hingga diaulatnya presiden PKS sebagai tersangka proyek impor daging sapi, menjadi sederet kisah yang menyisakan luka bagi para pemupuk harapan di negeri ini.

Pada hingar-bingar reformasi 1998, semua orang berbicara tentang multipartai, dan mereka percaya bahwa partai mampu menjadi wadah pengkaderan pemimpin yang efektif. Namun fakta telah berbicara, bahwa kekuasaan telah membutakan mata. Pada siapa lagi dosa sejarah ini akan ditangguhkan ? tentu saja pada generasi muda yang akan segera tumbuh dewasa dan menggantikan posisi mereka, para generasi tua.

Melihat fakta ini, tiada pilihan lain anak muda harus mendapatkan perlakuan yang benar agar kelak mampu menjadi pemimpin yang besar. Menjadi pemimpin yang memiliki global capacity, sehingga bisa menerbangkan pesawat bernama Indonesia pada langit globalisasi. Juga menjadi pemimpin dengan grassroot understanding yang tidak diragukan, sehingga mereka tak lagi sibuk memikirkan hingar bingar politik praktis, mereka mampu membaca keterbutuhan masyarakat, mereka yang memiliki karakter untuk duduk bersama demi sebuah visi perbaikan.

Negeri ini memiliki wadah bernama institusi pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga Perguruan Tinggi. Tak dapat dimunafikkan, didalamnya berhimpun jutaan anak muda generasi penerus bangsa dengan potensi yang berlimpah. Jika hari ini mereka bersama berkomitmen untuk menciptakan pemimpin masa depan yang sama-sama kita impikan, maka berpeganglah pada optimisme bahwa negeri ini akan segera sembuh dari sakitnya. Namun jika institusi pendidikan hanya menjadi arena politik lain, jauh dari nuansa keilmuan yang ilmiah, menjadi kendaraan korupsi untuk kantong-kantong elit, mari sama-sama kita ucapkan wassalam pada kesembuahan yang sama-sama kita impikan.

Dahulu kala, pada masa Orede Baru, media tumbuh dalam kondisi terkekang. Namun kini ketika kebebasan itu diberikan, perlahan semua menjadi kebablasan. Stasiun TV, majalah, koran dan media lain berlomba-lomba para ranah komersil yang menghasilkan kapital. Seakan mereka lupa, bahwa apa yang mereka siarkan, cerita yang mereka tulis, menjadi konsumsi tunas-tunas baru bernama generasi muda. Masihkah kita bersama mengharap kesembuhan negeri ini, jika setiap hari anak muda disuguhi cemilan tak sehat dari insan media ?.

Insan dunia mengenal bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang ramah, namun itu dulu, cerita yang tersisa dari kakek dan nenek kita. Masyarakat kita adalah masyarakat yang angkuh. Saat ferari mewah berhenti di lampu merah, saat yang sama anak-anak kecil dengan lagu sendu menghimpun receh. Saat krisis negara distabilkan oleh pedagang kecil, maka makmur akan segera datang dengan pentungan yang menghampiri mereka dengan dalih ketertiban, keindahan dan kenyamanan. Orang tua yang dulu sempat bercengkrama dengan anak-anak mereka, sekarang disibukkan oleh tuntutan karier dan obsesi menghimpun uang. Kini seenaknya setiap anggota masyarakat menghujat tingkah laku buruk pemimpin mereka beramai-ramai, seolah mereka adalah hakim yang tersertifikasi oleh Tuhan. Padahal mereka lupa, jika perilaku masyarakat yang angkuh berpengaruh besar terhadap pembentukan mental kita. Bagaimana generasi kita tumbuh peka dalam gelanggang keangkuhan ? Bagaimana pemimpin kita mampu berjiwa besar ketika masyarakat memfasilitasi pembetukan karakter mereka dengan penuh keculasan.

Negeri kita yang bernama Indonesia, berada dalam kondisi yang setengah isi dan setengah kosong, tinggal bagaimana kita akan menyikapinya, apakah dipenuhi dengan air atau justru dibuang semuanya. Pada akhirnya, cara kita memandang arah kemana negeri ini akan berjalan menjadi awal dari sebuah perbaikan. Mari kita sudahi drama kejenuhan di negeri ini, merevolusi sudut pandang bahwa alat pencetak pemimpin tidaklah sesederhana partai politik atau institusi tertentu. Bangsa ini adalah kumpulan dari jutaan umat manusia, sehingga sudah sepatutnya kelahiran seorang pemimpin juga dilahirkan oleh jutaan manusia, semua terlibat dalam proses pembentukannya, institusi pendidikan, masyarakat, hingga media massa. Mari bersama kita ciptakan ladang yang baik untuk memanen pemimpin yang baik, pemimpin kita semua, yang kita ciptakan bersama, untuk menjadi pengikat bagi jutaan umat manusia, berjalan menuju visi kebangsaan yang besar.  Menjadi Indonesia baru yang maju dan mempesona.

Pertama kali saya mengenalnya bernama friendster. Sebuah media sosial yang menghubungkan antara saya dan senior SMA yang sudah diperguruan tinggi. Saya tahan duduk di warnet berjam-jam hanya untuk mendesain template atau sekedar upload foto ke dalamnya. Padahal harga warnet di Pringsewu kala itu cukup mahal, yaitu 4000 rupiah per jamnya dengan kecepatan yang super lelet.

Tidak lama dari itu, saya mengenal dunia kampus dengan huru-haranya, semakin menyenangkan bisa upload foto-foto yang bernuansa “hore - hore” dengan teman-teman, bisa dibilang “alay”, ke akun yang bernama friendster ini. Menjadi kepuasan tersendiri ketika ada teman yang membuka akun kita dan berkomentar. Namun cerita cinta saya dengan friendster tidak berlangsung lama, pertengahan tahun 2008, disaat teman-teman dikampus saya masih gandrung dengan Friendster, saya mulai beralih ke Facebook. Facebook menjadi jejaring sosial yang lebih menarik perhatian saya, karena ada fasilitas chatting secara langsung, ditambah waktu itu saya bisa ngobrol dengan bebas dengan senior saya yang masih diluar negeri, dimana sebelumnya saya harus berkomunikasi menggunakan e-mail.

Lambat laun Facebook menjadi jejaring sosial yang hits di kampus saya, anak-anak muda berbondong-bondong migrasi dari Friendster, mereka bisa bebas update status, share foto, saling mengomentari, dsb. Fasilitas ini bak gayung bersambut dengan alam perasaan anak muda yang lebih ingin eksis, huru-hara bersama teman-teman dan membutuhkan ruang untuk mencurahkan isi hati. Sehingga bukan hal yang aneh jika dalam beberapa bulan virus “galau” menjangkiti berbagai pengguna facebook. Termasuk saya salah satunya.

Awalnya saya menyangkal dan berjuang keras untuk tidak galau di Facebook, namun godaan zaman membuat saya luluh juga. Perlahan dan tak pasti, saya mulai menumpahkan keluh kesah, kebahagiaan, cerita, dan kerinduan saya di Facebook. Hingga pada akhirnya warnet menjadi sahabat dekat dikala lelah dengan perkuliahan dan aktivitas lain. Saya bisa menghabiskan puluhan ribu untuk duduk di warnet dan bermain Facebook.

Hingga pada suatu malam, melalui Facebook, saya bertemu dengan profil sesosok yang saya kenal komunitasnya. Beliau adalah pemenang ajang Duta Muda ASEAN yang saat itu saya juga mendaftar namun tidak lolos seleksi berkas. Satu hal yang menarik dari sosok ini adalah kepeduliannya. Biasanya, teman-teman saya yang prestasinya sudah kesana-kemari akan semakin fokus dengan dirinya dan lupa akan dunia sekitar, namun beliau berbeda.

Kebiasaan anak muda jika penasaran dengan seseorang adalah mengikuti setiap aktivitasnya di jejaring sosial alias “kepo”. Dari ke”kepo”an saya ini akhirnya saya tau bahwa beliau telah menginisiasi banyak perubahan sosial dan itu beliau galakkan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, You Tube, Blog, dsb. Beperapa project yang pernah beliau jalankan adalah Sea Change, School of Volunteers, Ayo Berbagi, Children Behind Us, Fireflies, dan termasuk Parlemen Muda Indonesia yang saat itu sedang membuka pendaftaran untuk kandidat wakil provinsi. Semua itu adalah proyek-proyek sosial yang ia lakukan bersama teman-teman karena mereka resah melihat kondisi sekitar, ada yang fokus pada isu pangan, anak, pendidikan, kesehatan, hingga lingkungan.

Merasa penasaran dan tertarik dengan Visi dan Misinya, sayapun mendaftar ajang Parlemen Muda Indonesia. Pendaftarannya saya lakukan melalui website, komunikasi dengan panitia melalui e-mail dan grup facebook, kemudian saya berkampanye menggunakan blog, youtube, fans page, dan media sosial lain. Hingga akhirnya, saya melewati sesi wawancara melalui twitter. Padahal saat itu saya belum terlalu familiar dengan media sosial lain selain Facebook dan Friendster, namun secara tidak langsung saya harus berlatih menggunakannya, dan tanpa disengaja saya menggunakannya untuk hal-hal yang positif.

Setelah saya dinyatakan lolos sebagai wakil provinsi, saya terbang ke Jakarta dan mengikuti rangkaian acara seperti konferensi Meet the Leaders, Sidang Parlemen Muda, advokasi ke beberapa lembaga negara, dan tentunya ada sebuah sesi Capacity Building yang didalamnya saya diajarkan berkampanye dengan menggunakan media sosial. Saat itu saya sempat terdiam karena pada sesi Meet the Leaders kami diberikan fasilitas bertanya hanya menggunakn twitter, namun saya belum begitu mahir menggunakannya, mendengar istilah hastackpun baru kali itu. Dari sinilah saya mencoba akrab dengan berbagai media sosial lain, dan inspiratifnya, nyaris para pembicara yang hadir menjadi pengisi acara, menggunakan media sosial untuk menunjang gerakan sosial yang mereka buat. Sebut saja sebuah platform online bernama Inspire Cast yang digawangioleh artis cantik Marshanda, kampanye teman-teman Indonesia Mengajar, kampanye Koperasi Kasih Indonesia, Ashoka Young Changemaker, TEDx, Unesco Youth Desk, juga beberapa gerakan sosial yang memiliki cabang di daerah seperti Koalisi Pemuda Hijau dan Indonesian Future Leadersyang memilih media sosial sebagai sarana kampanye dan komunikasi mereka. Sebuah pilihan cerdas, karena selain murah, juga tidak terbatas oleh jarak, baik di dalam maupun diluar negeri.

Itulah titik awal saya melihat peluang lain dari media sosial, selain saya memiliki ruang untuk berbagi curahan hati, ingin eksis, juga berjumpa dengan banyak teman dengan mudahnya, saya bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan lebih baik lagi untuk terinspirasi dan menginspirasi atau bahkan berkolaborasi dengan banyak orang dan komunitas. Lagi-lagi ke”kepo”an saya dengan komunitas-komunittas yang baru saya kenal ini menghantarkan saya dengan gerakan-gerakan yang lebih besar seperti Indonesia Young Changemakers, Indonesia Berkebun, Wirausaha Muda Mandiri, Hult Challange, Global Chagemaker, dll. Hingga saya melihat sebuah peluang emas dengan menyatukan antara tiga unsur, yaitu eksistensi anak muda, media sosial, dan perubahan sosial.

Rupanya bukan hanya saya yang berfikir demikian, huru-hara pilkada Jakarta juga ramai menggunakan media sosial, seperti Facebook dengan aplikasi game Jakarta Baru, twitter dengan akun @triomacan yang begitu aktif melakukan provokasi, blog salah satu artis yang produktif mendukung pasangan independent, Youtube yang menampilkan video klip kreatif versi kampanye, dll. Media sosial menjadi media kampanye yang murah dan lebih efektif, karena spanduk, TV, radio, dll hanya mampu menjadi media kampanye satu arah, namun media sosial mampu menjadi media kampanye dua arah dan memungkinkan pasangan calon untuk berdialog lebih dengan masyarakat. Uniknya fenomena ini juga terjadi di Amerika Serikat dalam kampanye presiden yang terakhir. Luar biasa, dari sebuah tindakan-tindakan kecil seperti update status, berkicau di twitter, upload foto, share video, bisa membawa dampak yang besar untuk masyarakat.

Masih juga terngiang dalam ingatan saya, fenomena Arab Spring yang belum begitu lama, revolusi Mesir dan gejolak negara-negara Timur Tengah akhir-akhir ini juga bermula dari media sosial. Mereka menggunakan media sosial untuk kampanye dan konsolidasi. Sudah tentu, provokasi dapat berjalan dengan sangat cepat dan murah dalam hitungan detik hingga akhirnya Mursi hadir sebagai sosok pemimpin baru di Mesir.

Semua itu menjadi kisah sederhana yang begitu bermakna dalam hidup saya. Sebuah hikmah yang luar biasa, dari kebiasaan eksis, galau dan kepo di Facebook yang kemudian mengenalkan saya dengan sebuah perubahan sosial dari tataran lingkungan sekitar, daerah, nasional, hingga isu-isu terkini di dunia internasional. Saya membayangkan, seandainya saja ada banyak sosok seperti Duta Muda ASEAN yang menginspirasi lewat media sosialnya mungkin akan semakin banyak orang-orang yang terbuka matanya seperti saya. Berani memulai untuk melakukan aktivitas sosial dan melakukan perubahan kecil di lingkunagn saya. Seandainya saya hari ini juga berani memulai untuk membagi cerita aktivitas sosial saya di facebook, twitter atau blog, maka saya akan menginspirasi orang lain, dan orang lain akan menginspirasi yang lainnya, dan yang lainnya akan menginspirasi yang lain lagi hingga jumlah yang tidak terhingga. Luar biasa ! Sebuah inspirasi maha dasyat, murah, cepat dan mudah.

Teringat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa sebuah perubahan besar dimulai dari satu langkah sederhana. Sosok Duta Muda ASEAN itu tidak pernah berfikir dampak dari status yang ia update, cerita yang ia bagi di blog, tweet yang ia ketik, dan hal-hal sederhana lain yang ia lakukan mampu merubah hidup dan pandangan orang lain, begitupun pilkada Jakarta, pemilu Amerika, dan revolusi Mesir yang begitu besar, jika kita sederhanakan, semua itu tidak lain dipengaruhi oleh tindakan-tindakan sederhana di media sosial kita. Jadi, tunggu apa lagi ? Yuk rubah kegalauan menjadi sebuah revolusi besar !

*) essay ini saya ikut sertakan di lomba essay natural unila dan berhasil masuk sebagai urutan ke-8, sebuah semangat baru untuk menulis lagi.